ALTEA

ALTEA
#28# Tarian menakjubkan Tea



"Di cariin dari tadi ternyata di sini." Ana sedikit menggebrak meja kantin yang ditempati Tea dan Ken.


"Bentar lagi urutan lo. Ayo gas ke Aula," lanjut Ana menjelaskan sebelum mendapatkan semprotan pedas dari Ken karena mengganggu waktu mereka.


"Yaudah, ayo Ken," ajak Tea sembari bangkit dari duduknya.


Ken hanya mengangguk menurut, tangannya bergerak mengambil jajanan Tea yang ada di meja. Persiapan jika nanti di Aula, Tea tiba-tiba ingin mengemil.


Mereka berjalan menuju Aula tempat lomba dance di adakan.


"Lo tau gak? Tadi gue lewat Aula, beuhh semua pesertanya rata-rata pake kostum minim-minim semua." Ana mulai mengeluarkan bahan gosipan barunya.


"Banyak laki yang nonton cuma buat liat body cewek doang. Emang ya, mata laki keranjang semua," cerocos Ana.


"Yah, pengap dong?" tanya Tea lemas.


"Iya, yang bukan peserta aja ikut nonton. Kebanyakan cowok, ngomongnya mau dukung perwakilan kelas masing-masing. Eh aslinya, sibuk foto-foto lekuk badan cewek yang lagi dance," seru Ana sambil bergidik.


Ken yang mendengarnya langsung mendengus, menjadi was-was sendiri mendengar banyaknya laki-laki yang menonton acara lomba dance.


"Jurusan IPS lomba dance nya juga hari ini?" tanya Tea mengingat kegiatan lomba PORSENI diadakan secara terpisah sesuai jurusan masing-masing. Jadi nanti akan ada pemenang dari jurusan IPA dan IPS.


"Iya, di Aula musik," jawab Ana.


...…...


"Pengap," keluh Tea sambil mengipas wajahnya menggunakan topi.


"Katanya bentar lagi urutan aku. Masih lama ini ih," rengek Tea menggerak-gerakkan tangan Ken.


"Sebentar lagi. Sabar," ucap Ken mengusap pelan rambut Tea. Matanya melihat ke sekeliling yang dipenuhi banyak orang. Heboh dengan sorakan penuh godaan laki-laki pada peserta yang tengah menampilkan dance-nya.


Ken membuka bungkus mochi, menyerahkannya pada Tea. "Ini, makan dulu."


Tea membuka mulutnya meminta di suapi. Ken menurut, mulai menyuapi Tea dengan sabar.


Beberapa saat kemudian. "Kepada peserta lomba no.urut 07 silahkan ke backstage untuk persiapan," ucap pembawa acara yang memegang selembar kertas daftar peserta lomba dance.


"Huh. Akhirnya… Tea ke belakang dulu ya," izin Tea pada Ken. Menggembungkan pipinya dan beranjak berdiri.


"Ayo." Ken ikut bangkit berniat menemani Tea bersiap.


"No! Tunggu di sini aja, jangan lupa harus fokus nonton dance aku, oke?" cegah Tea menahan Ken untuk duduk kembali.


Ken mendengus geli. "Sana!" tukasnya bossy.


Tea menatap sekitar. Beberapa orang diam-diam melirik dan menyimak percakapan mereka. Dengan nekat, Tea mengecup pipi kanan Ken secepat kilat dan berlari kecil ke belakang stage. Menghiraukan Ken yang termangu dan orang-orang di sekitar yang melotot melihat tindakan Tea.


"Ck," decak Ken mencoba menutupi rasa malunya. Sayangnya, pipi dan telinganya memerah, tidak bisa diajak berkompromi.


Di belakang stage~


"Setelah ini, bagian lo. Siap-siap oke?!" ucap panitia sembari menuntun tea menuju ruangan untuk bersiap.


"Ada yang mau dibantu?" tawarnya bila ingin merapikan makeup atau rambut.


"Siap-siap sendiri aja kak," tolak Tea secara halus dengan memasang sopan.


"Oke," tukasnya.


Tangannya bergerak meraih berbagai gantungan flashdisk yang di ikat di pinggangnya. Mengambil salah satu flashdisk yang bertuliskan XI IPA-2.


"Flashdisk file lagunya yang ini kan?" tanyanya memastikan, takut tertukar atau ada masalah dengan flashdisk nya.


"Iya," jawab Tea.


Topinya juga ikut dia lepaskan. Merapikan rambutnya yang sedikit kusut juga mengelap keringat di sekitar pelipisnya. "Sisir dimana ya?" Tangannya bergerak membuka laci meja rias.


"Nah. Rambut udah rapi. Apalagi ya?"


"Oh… mukanya kelihatan pucat, harus pakai tinted lip balm dan bedak." Tea merogoh tinted lip balm dan bedak dari saku celana sportnya.


"Mm mm mm." Tea menggerakan bibirnya, meratakan tinted lipbalm yang di pakainya.


"Oke. Cukup!"


"Ini di simpan di sini aja dulu ya," gumam Tea menatap dua alat makeup andalannya.


...…...


Tea berdiri di belakang tirai panggung, bersiap maju saat namanya dipanggil.


"Penampilan dance selanjutnya yaitu dari perwakilan kelas XI IPA-2, kita panggil ALTEA!" seru pembawa acara diiringi tepuk tangan meriah dari penonton.


"Tea!"


"Tea!"


"Ayo Altea!" suara teriakan saling bersahutan memanggil nama Altea.


Mendengar namanya sudah di panggil, Tea menghela nafas sebentar dan maju melewati tirai yang terbuka. Berjalan dengan percaya diri, aura khas nya langsung menguar. Pesonanya di atas panggung tidak diragukan, sangat kuat dan dominan.


"Ya ampunnnn," teriak salah satu penonton dengan histeris.


Berdiri di tengah panggung, lampu menyorot tubuhnya. Saat intro lagu Montero mulai berputar, tangannya langsung mengayun ke atas-ke bawah. Membuka lebar kakinya, sedikit menekuk ke bawah, mengarahkan tangannya ke samping. Berayun-ayun dengan tempo pas sesuai irama lagu. Flexible.


Rambut panjangnya yang terurai ikut bergerak sesuai gerakan tariannya, menambah aura badas dan cool. Melangkah ke kanan-kiri, naik-turun, maju-mundur dengan tangan yang ikut bergerak indah. Menghadap samping, melakukan roll tubuh. Menunjukkan tubuh lentur bakat tarinya, badan ramping sexy nya sangat pas saat melakukan gerakan roll.


"Amsyonggg," pekik Arif melihat gerakan tarian luar biasa yang dilakukan Tea.


"Gila, gila. Adik ipar gue itu!" teriak Ana keras, tangannya melingkar di sekitar mulut agar suaranya terdengar lebih keras.


"Astatatang! Teman gue itu!" teriak Gina heboh, mulutnya ditutupi kertas puisi yang tadi ditampilkan nya.


"Emang bakat alami," gumam Alex.


"Geli gua liat Tea nari," ringis Aryn.


Daren merapatkan mulut melihat reaksi pacarnya. "Bakat tomboy alami dari bayi," cibirnya.


"Fix. Kelas kita pasti menang, Tea gak ada lawan njir." tawa Felix menggema, bangga membayangkan kelasnya memenangkan kejuaraan di berbagai perlombaan.


Hati Ken langsung masam mendengar banyak orang di sekitarnya memuji Tea, bahkan para lelaki tidak segan-segan bersiul dan bersorak menggoda Tea.


Awas saja!


Seseorang yang tadinya bersorak pada Tea merasakan dingin di belakang lehernya. Saat menoleh, tubuhnya langsung kaku saat melihat wajah rupawan Ken. Matanya melotot, tangannya menyenggol teman-teman di sampingnya dengan panik.


Saat mereka menoleh mengikuti arah pandang lelaki itu, mulut mereka langsung kelu. Bergidik ngeri merasakan peringatan bahaya, lewat tatapan mereka langsung terbirit-birit menerobos kerumunan, sesegera mungkin meninggalkan aula lomba dance.


"Hahaha," tawa Ana menyembur keluar melihat tingkah para lelaki bajingan itu.


"Fokus, nonton yang bener," tukas Ken.


Mereka fokus kembali ke depan, melihat Tea yang masih bergerak dengan irama pas yang menakjubkan. Tapi entah sejak kapan, jaket yang dipakai Tea telah terbuka dan tersingkap di kedua lengan atas Tea.


"Gini aja udah luar biasa heboh, gimana kalau dia pake baju sexy coba," heran Tirah penuh kekaguman.


"Tea aja bisa tampil hebat hari ini. Besok pasti gue gak akan kalah sama Tea, gue tunjukin kemampuan tersembunyi, main musik legendaris gue," ungkap Ana menepuk dadanya sombong, sangat percaya diri.