ALTEA

ALTEA
Caper? Cari perhatian?!



"Lo pada mau langsung pulang?" tanya Felix pada teman-temannya.


"Hm," sahut Ken. Mereka tetap berjalan menuju area parkiran gedung tempat gym yang biasa dia dan teman-temannya kunjungi.


"Zak, woy, itu kenapa?!" seru Alex pada Zaky di sampingnya saat di depan sana terlihat ada yang berkelahi. Ralat, seseorang tengah di pukuli.


Zaky memicing, menajamkan penglihatannya. Tampak seorang lelaki dengan rompi Petugas parkir sedang memukuli lelaki paruh baya dengan brutal, di samping gerobak dagangan.


Mereka melotot. Berlari cepat agar bisa segera menghentikan tukang parkir yang memukuli lelaki paruh baya yang terlihat tidak mampu melawan.


"BERHENTI!" bukan. Itu bukan teriakan salah satu dari mereka, tapi dari seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari gerobak dengan celana legging dan jaket tebal hitam yang melekat di tubuhnya.


Karena teriakan keras itu, Daren, Alex, Ken, Zaky dan Felix berhenti. Menyaksikan aksi heroik seorang gadis, menyelamatkan lelaki paruh baya yang tengah dirundung tukang parkir.


...…...


Altéa turun dari motor Vespa toska miliknya. Berjalan menuju pintu masuk Salon Kecantikan yang berdempetan dengan gedung tempat Gym. Tapi, Kejadian dihadapannya membuat Téa berhenti.


Saat tersadar, dengan refleks Téa berteriak meminta berhenti. Lalu, tanpa takut Tea memisahkan tukang parkir yang sedang memukuli orang itu dengan menyentaknya mundur.


Dia shock saat melihat keadaan pria paruh baya yang di pukuli itu. Parah, bahkan mata sebelah kiri Bapak itu terlihat tertutup dan mengeluarkan darah juga ada memar di beberapa bagian wajahnya.


"Bapak!" Tea berjongkok khawatir mencoba membantu Bapak itu untuk duduk.


Bapak itu tidak menjawab, melainkan menangis sambil meringis kesakitan. Bahkan, meracau minta maaf.


"Maaf, maaf, saya janji tidak akan sembarangan parkir gerobak di sini lagi, saya janji gak akan jualan di sini," ucap Bapak itu sambil menangis tersedu-sedu.


Mata Téa langsung berkaca-kaca, siap menumpahkan air matanya. Sungguh, dia adalah orang yang paling tidak kuat melihat hal seperti ini.


"Ke Rumah Sakit sekarang ya Pak. Tunggu, saya telepon siapa ya? Ini gimana?" Téa gemetaran takut dan bingung harus membantu dengan cara apa? Bagaimana menghubungi rumah sakit untuk meminta jemputan ambulans?


Di lain sisi, saat Téa sedang kebingungan mencari pertolongan, maka petugas parkir yang merundung Bapak itu ketakutan karena ada yang menyaksikan kelakuannya.


Saat akan memukul gadis itu dari belakang, seseorang menahan kedua tangannya.


"Pak! Mau ngapain?" tanya Alex yang mengunci pergerakan tangan petugas parkir itu.


"Gue bantu," ujar Ken yang ikut berjongkok di sebelah Téa dan menahan bobot tubuh bapak itu.


Téa lega saat sadar bahwa ada saksi selain dirinya yang melihat kejadian tadi. "Matanya berdarah," adu Téa pelan.


Ken mendengarnya, "Gak ada yang bawa mobil di sini. Ren, cepet panggil Ambulans," pintanya pada Daren.


"Udah, di jalan," jawab Daren memberitahu.


"Angkat dulu, buruan," tukas Zaky meminta agar menggotong bapak tadi ke tempat yang lebih layak, setidaknya tidak di aspal parkiran.


Akhirnya, mereka bersama menggotong bapak itu ke posko satpam di dekat pintu masuk gedung Gym.


Saat sampai di posko satpam, ada dua orang yang berjaga. Keduanya langsung menghampiri, "Ini kenapa?" tanyanya khawatir.


"Sebentar Pak," tahan Alex singkat.


Setelah meletakkan bapak yang dipukuli tadi di posisi yang aman, mereka menghadap ke dua satpam untuk menjelaskan kejadian tadi dengan detail.


Alex yang menahan petugas parkir langsung bertanya, "Jadi, bagaimana?" tanya Alex menjurus ke tindakan penyelesaian apa yang harus dilakukan.


Bagaimanapun ini terkait tempat gym ini, petugas parkir di sini juga karyawan gym disini, tapi yang salah harus tetap disalahkan. Keadilan harus tetap ditegakkan.


Alex sendiri ingin kejadian tadi langsung dilaporkan ke pihak berwajib (polisi). Dia yakin, temannya juga pasti setuju dengan pendapatnya.


"Bapak harap, kita cari tahu dulu penyebab di balik kejadian ini, nanti, saya juga harus membicarakan masalah ini dengan atasan, akan lebih baik diselesaikan secara kekeluargaan," jelas bapak satpam. Bagaimanapun kalau kejadian ini dilaporkan pasti berita tersebar dan nama baik gym ini akan tercemar.


Zaky tersenyum miring mendengar keputusan itu, "Baik, kita cari tau penyebab semua ini, tapi langsung lewat polisi," ucapnya.


Tea juga memprotes, "Saya mau ini tetap dilaporkan ke polisi," ucapnya keras kepala.


"Mereka kan bukan keluarga, jadi gak ada namanya penyelesaian secara kekeluargaan," lanjutnya mencibir pelan, Ken dan yang lainnya tentu mendengar cibiran itu.


"Nak—" suara satpam itu terpotong oleh sahutan Ken.


"Oke." Ken menyetujui kemauan Téa.


Téa yang mendengarnya tersenyum bahagia. "Saya siap jadi saksinya, bahkan biaya untuk proses penyelidikan juga gak masalah kalau saya yang tanggung," sela Tea saat satpam itu ingin membuka suara kembali.


"Tapi, ini masih berkaitan dengan mall ini."


"Gak peduli," dengus Téa tak suka.


"Untuk bapaknya …" Téa memicing menatap petugas parkir itu.


"Dia aman sama gue," sahut Alex.


Suara Ambulans langsung terdengar mendekat ke arah gerbang. Suara Ambulans tentu menarik banyak perhatian orang.


...…...


Saat mereka sibuk menggotong bapak yang diketahui bernama Yunus Abidin, pedagang telur gulung kaki lima. Téa baru sadar bahwa yang berhadapan dengannya ini pengurus inti klub Bela diri MHS.


"Baru sadar?" kekeh Alex bertanya.


Téa menggaruk keningnya yang mengerut bingung, "Beneran?" tanyanya tak percaya.


"Iya," ucap Zaky menjawab. Téa langsung berdiri canggung.


"Keluarga pasien?" Dokter yang memeriksa bapak Yunus keluar dan memanggil keluarga pasien.


"Gak ada, saya … eh siapanya pak Yunus ya?" Téa menyahut dengan perkataan konyolnya.


"Uh?" Téa tersadar dengan perkataan bodohnya dan melotot malu. Apalagi di belakangnya terdengar tawa tertahan, mungkin menertawai dirinya.


"Mohon maaf, tolong salah satu ikut saya untuk penjelasan terkait keadaan Bapak Yunus dengan detail," ucap Dokter itu.


"Biar saya dok," sahut Zaky.


Sebelum melangkah menjauh, Zaky menggerakan dagunya ke arah Téa sambil menatap Ken. Sebuah isyarat kecil.


Ken mengangguk pelan, tanda mengerti. "Lo pulang! Anter Ren, masalah ini biar kita yang urus," ujar Ken pada Tea.


Téa menggeleng tidak mau. Tubuhnya bergerak ingin masuk ke ruang UGD untuk melihat keadaan Pak Yunus. Sayangnya, tangannya ditarik Daren pergi menjauh.


...…...


Keesokan harinya, Téa berangkat ke sekolah dengan tergesa-gesa.


Setelah memarkirkan motor Vespanya, Téa berlari menuju kelasnya, X IPS 1. Cepat-cepat menyimpan tasnya, lalu keluar mencari letak kelas XI IPS 1.


Saat sampai …


"Kak, Kak Kenan nya udah datang?" tanya Téa sopan pada salah satu siswi kelas XI IPS 1 yang sedang duduk di depan kelas.


"Belum, kenapa emangnya?" tanya balik kakak kelas itu.


"Eum ada urusan," jawab Téa dengan canggung.


Kakak kelas di hadapan Téa menahan tawanya, semacam mengejek. "Gak ada Ken, udah, sana mending balik ke kelas, belajar yang rajin, jangan caper ke kakak kelas, jangan kira karena lo bule cantik, coba-coba narik perhatian orang, mana targetnya langsung seorang Kenan Kyler lagi, halu lo," cibirnya panjang lebar.


Mulut Téa terbuka sedikit, bingung dengan perkataan Kakak kelas dihadapannya. Matanya mengerjap, apa yang salah dengan dirinya yang bule? Caper? Cari perhatian?! Tidak pernah terpikirkan bahwa datang berkunjung ke kelas Kenan untuk menanyakan terkait masalah tadi malam membuatnya di cap caper.


Lebih baik mencari aman, Téa tersenyum canggung. "Iya," ucapnya lalu segera berbalik cepat-cepat pergi.


"Nyesel ih, tadi ke sini," gerutu Téa selama perjalanan menuju kelasnya.


...…...


Téa sedang bersama Aryn di kantin dengan memegang nampan berisi peralatan makan. Tiba-tiba tubuhnya terlonjak kaget karena ada yang menyentuhnya.


"Hey ..." seseorang menyentuh lengan atas Téa dari belakang.


Téa langsung menoleh ke belakang, "Eum ... Ana?" tanya Téa sedikit ragu.


"Iya, ini gue, Ana," balas Ana tersenyum lebar.


"Mau makan kan, ayo, ke sana." Ana menunjuk jajaran makanan yang tersusun rapi di meja.


Jangan harap kantin di MHS seperti kantin pada umumnya. Disini, kantin memakai cara seperti prasmanan. Kalian mengantri dan mengambil menu makanan yang kalian mau di meja panjang, yang sudah tersusun berbagai makanan sehat.


Tidak ada pembayaran, karena biaya makan sudah ada tagihannya yang harus dibayar perbulan, seperti SPP.


"Lo ... siapa?" tanya Aryn.


"Oh, Ana, dari kelas X IPA 1," ucap Ana memperkenalkan diri.


"Oke."


"Mau makan bareng?"


"Boleh?" tanya Ana.


"Bolehlah," tukas Aryn sambil tertawa ngakak.


"Ayo, mumpung sepi antrian," ajak Aryn yang mulai beranjak mendekati jajaran makanan.


Ana dan Tea mengikuti langkah Aryn. Masing-masing dari mereka sudah mengambil perlengkapan makan, terdiri dari nampan, piring, gelas, sendok, garpu, sumpit, pisau dan tisu.


Perlengkapan makan terletak di rak dekat pintu masuk kantin. Jadi, saat masuk ke kantin, semua siswa langsung mengambil alat makan di rak, lalu berjalan menuju meja panjang yang penuh dengan makanan, di ujung jajaran makanan ada rak yang khusus untuk siswa menyimpan alat makan yang tidak digunakan.


Misalkan, saat siswa mengantri untuk mengambil makanan, kalian memilih makanan yang dimakan cukup menggunakan sendok dan garpu. Maka, pisau dan sumpit bisa di simpan di rak terakhir jajaran makanan.


Barulah, setelah itu kalian bisa langsung makan di meja kantin yang sudah disiapkan. Meja kantin MHS pun tidak seperti meja kantin pada umumnya, lebih seperti meja restaurant. Suasana kantin MHS juga seperti restaurant atau bahkan ada bagian kantin yang punya suasana seperti cafe.