ALTEA

ALTEA
Rumah Sakit dan Kantor polisi



Téa berdiri dengan gelisah di samping motor Vespa nya. Pembelajaran sudah selesai. Sekolah juga sudah sepi, hampir seluruh murid sudah pulang kerumahnya.


Sebenarnya Téa ingin segera pulang. Tapi masalah yang terjadi tadi malam membuatnya gelisah sepanjang hari. Apakah kakak kelasnya itu (Ken dkk) benar-benar membantu mengurus permasalahan Pak Yunus sampai ke jalur hukum? takutnya, mereka tidak bertanggungjawab.


Niatnya ingin menghubungi salah satu diantara Ken, Felix, Zaky, Daren, Albert dan Alex, tapi tidak punya nomor telephone, apalagi alamat rumah mereka.


Pagi tadi, Téa sudah menyuruh seseorang untuk menjenguk Pak Yunus. Tapi, pihak Rumah Sakit bilang bahwa pasien atas nama Bapak Yunus sudah dipindahkan ke Rumah Sakit yang lebih baik sebagai tindak lanjut perawatan Bapak Yunus.


Tadi pagi dia tidak bisa menemui Ken. Ingin menemui yang lain, tapi tidak berani. Sudah kapok dengan respon murid perempuan di kelas mereka.


Nasib buruk memang.


Téa menunggu di parkiran karena motor Ken dan yang lainnya masih stay di parkiran sekolah. Sudah mencoba menyusuri sekolah, mulai dari kantin, perpustakaan, taman bahkan belakang sekolah, tetap tidak ada.


"..." benar-benar menyebalkan, batin Téa mengomel.


Beberapa waktu setelahnya, akhirnya Ken dan yang lainnya terlihat berjalan menuju motor mereka. Téa langsung bergegas berdiri di dekat motor mereka yang berjajar.


...…...


Ken mengerutkan dahi melihat gadis bule yang melakukan aksi hero semalam.


Kenapa berdiri di dekat motornya? begitulah isi pikirannya.


"Kenapa di sini?" Zaky bertanya pada Téa yang masih berdiri sambil memegang outer rajut creamnya.


Tea memainkan jarinya gugup. Kenapa harus Zaky yang nanya sih? jeritnya dalam hati.


"Anu… soal Pak Yunus yang semalam, sekarang di rawat dimana? Keadaannya gimana? Udah laporan ke polisi? Urusannya sama polisi udah beres, kan? atau ada masalah?" Téa bertanya secara beruntun. Terobos aja, nyali kuatin aja dulu.


"Gue bilang, biar kita yang ngurus soal itu," dengus Ken.


"Tapi pengen tau," cicit Téa menunduk. Kenapa mereka menyeramkan? pikirnya.


"Udahlah, soal kemarin, ternyata keadaan Pak Yunus di luar dugaan, karena pukulan di mata, jadi, sebelah matanya gak bisa melihat," jelas Alex.


Mulut Téa terbuka sedikit. "Buta?" beonya tak percaya. Pipinya mengembung, matanya berkaca-kaca, siap menangis.


"Njir, anak orang itu mau nangis," berang Felix dekat telinga Alex.


"Terus gimana?" Téa menarik-narik kemeja seragam Ken.


Yang lainnya membeo tak percaya dengan tingkah Téa yang berani memegang seragam Ken. Kalau-kalau di tempeleng, siapa yang tanggungjawab?


Ken membiarkan tingkah Téa. "Besok operasi, tenang aja, masalah tadi malam semuanya udah beres. Pelaku udah di penjara. Kalau mau jenguk Pak Yunus, dia di rawat di Rumah Sakit R.A. Kartini," papar Ken, melepas tangan Tea lalu beranjak menaiki motornya.


...…...


Yunus Abidin, nama lengkap seorang Bapak pedagang telur gulung keliling. Umurnya sudah 60 tahun lebih, dengan pekerjaannya, dia menafkahi sang istri dan cucunya yang ternyata masih sekolah dasar kelas 4, masih kecil.


Pak Yunus berdagang dengan mendorong gerobak. Biasanya berhenti di pinggir jalan atau trotoar jalanan yang lokasinya cocok untuk berjualan, bahkan, beberapa kali beliau berdagang di tempat parkir kios atau toko orang. Biasanya itu tidak ada masalah, sebelum kejadian tadi malam, dimana Pak Yunus berdagang dan memarkirkan grobaknya di depan gedung Gym.


Konflik kemarin ternyata karena petugas parkir tempat gym itu yang tidak mengijinkan pak Yunus untuk berdagang di sana, kecuali jika membayar parkiran sebesar Rp.30.000. Pak Yunus menolak membayar biaya parkir, karena, 30 ribu itu menurutnya sangat mahal, dimana, bahkan dirinya baru mulai berjualan dan keadaan ekonominya juga tidak baik.


Niatnya, Pak Yunus ingin pergi karena tidak sanggup membayar parkir, tetapi, petugas parkir ini malah memukulnya.


Menurut Téa ini berlebihan.


Sangat berlebihan.


"..." dimana otak tukang parkirnya, ini cuma masalah sepele, kenapa harus main pukul😐


"Pengen pukul mukanya," geram Téa tidak tahan.


Untungnya masalah ini sudah beres. Ken dan yang lainnya benar-benar menyelesaikan masalah sampai keakar-akarnya. Buktinya, sekarang petugas parkir itu sudah berada di sel penjara.


Untuk kali ini, biarkan Téa tertawa jahat, berbahagia ria atas nasib yang menimpa petugas parkir itu.


...…...


"Iya, makasih nak, terima kasih banyak ya!" Pak Yunus menyahut dengan lirih.


Téa tersenyum tipis dan beranjak keluar dari ruang rawat.


Sebelum pulang, dia ingin berkunjung sebentar ke kantor polisi untuk melihat keadaan tukang parkir yang menjadi pelaku perundungan kepada Pak Yunus.


Saat sampai dan menunggu di kursi yang ada di kantor polisi. Matanya menyusuri seluruh ruangan. Tatapannya jatuh pada meja yang berisi dua orang polisi dan berhadapan dengan seorang pria tua yang terlihat bersedekap di meja sambil melamun.


Téa peka dengan ekspresi pria tua itu yang menurutnya sedang mengalami kesulitan.


"Pak, ada apa?" Téa bertanya dengan pelan.


"Tidak ada, kenapa kesini, tadi ingin berkunjung siapa?" tanya salah satu polisi itu.


"Eum, gak jadi, maaf, ini bapaknya kenapa ya bisa ada di kantor polisi?" dengan pelan Téa mencoba menanyakan ada masalah apa terkait dengan Bapak tua yang ada disampingnya.


Téa tersenyum membalas senyuman tipis Bapak yang sedang bersedekap di sampingnya.


"Masalah pencarian 8 ekor kambing yang dicuri."


"Kambing?" tanya Téa


"Iya." Bapak tua itu menyahut dengan pelan.


"Kambing punya bapak?"


"Bukan, punya orang yang dititipin ke saya, saya kerja ngurusin kambing titipan orang."


"Jadi bagaimana? Malingnya udah ketemu?"


"Belum, bapak ini diminta tanggung jawab oleh pemilik kambing untuk mengganti rugi," jelas Pak polisi.


"Biar saya yang ganti rugi," tukas Téa dengan senyum lebar.


"Apa?" mereka semua tak percaya dengan omongan Téa.


"Bapak tolong hubungkan saya dengan pemilik kambing itu, tolong tulis no rekeningnya dan berapa yang harus saya bayar nanti langsung saya transfer," ucap Téa.


"Neng, nggak usah." Bapak tua itu langsung meraih tangan Téa.


Téa meraih pelan tangan ringkih itu, "Gak papa Pak, ini sedikit bantuan dari saya, Bapak jadi gak perlu khawatir gimana cara ganti ruginya," bisik Téa pelan.


Bapak itu langsung meluruh dan menangis haru. "Terima kasih, terima kasih."


Setelah sepakat, Téa langsung mentransfer ke no rekening pemilik kambing itu.


"Kalau begitu, saya harap masalah ini tetap diselesaikan, mau kambingnya ada atau tidak itu sudah jadi hak milik bapak ini ya," pesan Téa dengan senyum tulusnya.


"Baik, baik." Bapak polisi langsung berdiri dan berjabat tangan.


"Terus berbuat baik seperti ini ya nak," titip pesan Pak polisi itu dengan senyum sumringahnya.


Téa tertawa pelan. "Siap!"


Tea duduk kembali ke tempat dan mengeluarkan secarik kertas dan pulpen. Mulai menulis kata demi kata. Saat selesai, tangannya bergerak melipat surat itu dan menitipkannya ke salah satu petugas polisi untuk menyampaikan surat tersebut kepada tukang parkir yang bermasalah kemarin.


Téa langsung pamit pergi dan pulang.


Surat tadi, hanya sebuah kalimat bijak yang diharapkannya bisa membuat tukang parkir itu menjadi lebih baik.


Tadinya ingin mengatakan langsung, tapi dipikir-pikir, belum tentu saat dia berbicara akan didengarkan, bisa saja tukang parkir itu malah emosi.