ALTEA

ALTEA
#9# Papa Daren kecelakaan dan Teror sekolah



“Sial... Siapa yang berani rusak sekolah kita si.”


“*K*aca kelas gue pada pecah semua... Mana pecahannya berserakan semua lagi di kelas, bisa-bisa gue luka.”


“Lab 1 kebakar ya.”


“*I*ya, untung api nggak nyebar ke ruangan lain.”


“Dinding sekolah pada di filox, sebenernya ini ancaman buat siapa sih.”


“Gue denger bapaknya Daren kecelakaan anjir tadi pagi.”


“Eh eh ruangan pemilik sekolah di bobol katanya.”


“Ah sial terus kita gimana.”


“*P*ulang aja kali ya.”


“Ken...” panggil Tea pelan dan meremas ujung seragam Ken.


“shtt, bentar” ucap Ken menenangkan.


Di sepanjang jalan sekolah, semua murid berkumpul. Membicarakan kejadian MHS yang di teror. Terlebih, ada beberapa orang yang membicarakan pemilik sekolah mengalami kecelakaan.


Ken mengeluarkan handphone dan menghidupkannya. Semalam handphone-nya lowbat dan baru di cas tadi pagi. Tepat saat hp menyala, notifikasi—deretan pesan dan beberapa panggilan langsung bermunculan dengan informasi waktu pukul 03.17 WIB.


Memeriksa dan membaca beberapa pesan yang di terima, tangannya langsung meremas Hp. Ada deretan pesan dari Daren yang mengatakan papanya kecelakaan, lalu sekolahnya yang tiba-tiba di teror.


“Ken,” panggil Tea yang juga diam-diam membaca pesan dari hp Ken.


“Mereka dimana? Kita kesana,” ajak Tea, Ken mengangguk setuju dan berjalan mencari keberadaan sahabatnya sambil terus menggenggam tangan Tea dengan erat.


“Ken...” panggil Alex. Saat mereka berdua berjalan menuju ruang pemilik sekolah, Alex memanggil. Terlihat Alex, Felix dan Ana duduk di dekat di kursi yang ada di sekitar ruang pemilik sekolah.


Ken dan Tea mendekat. “Daren di mana?” tanya Ken tanpa basa-basi.


“Daren di rumah sakit, jagain papanya bareng Aryn,” jawab Felix.


“Jenapa papanya Daren bisa kecelakaan?” tanya Tea khawatir.


“Ini juga lagi cari tau,” jawab Alex, tiba-tiba Hp Felix berdering. Saat Felix melihat sederet nama di layar hpnya, dengan tergesa dia langsung mengangkat panggilan.


“Felix,” suara Aryn langsung terdengar di sebrang sana saat panggilan terhubung.


“Gimana? Om Thomas baik-baik aja kan?” tanya Felix.


“*T*angan sebelah kanan patah jadi di gips terus luka benturan di kepalanya juga di jahit yang lainnya luka luka ringan. Sekarang udah sadar,” Aryn merincikan keadaan papa Daren.


“Oh iya... Hampir lupa, gue tadi denger kalau papanya Daren kecelakaan gara-gara remnya blong,” cicit Aryn


“Remnya blong?” tanya Ana yang sebenarnya mendengar perkataan Aryn karena panggilan dalam mode loud speaker.


“Ana?” tanya Aryn


“Iya kita semua di sini,” jelas Ana.


“Oh... Bagus lah.”


“*K*ayaknya semua ini terencana, kalian tau kan? Sekolah kita di teror parah sampe lab kebakar, banyak kaca jendela pecah, dinding penuh coretan filox terus CCTV disana semua tiba-tiba error tadi pagi karena di hack, bersamaan sama papanya Daren yang kecelakaan karena rem-nya tiba-tiba rusak waktu pulang kerja,” Aryn mulai menjelaskan dugaannya.


“Ini memang gak masuk akal, rem blong tanpa alasan, sekolah di teror besar-besaran bahkan ruang pemilik sekolah di bobol, pasti ada tujuan dari ini semua,” Ken mengeluarkan kata-kata penjelas dengan panjang lebar.


“Hebat,” kagum Felix pada Ken.


“Mungkin ada sesuatu yang di cari peneror di ruang om Thomas,” tebak Tea.


"Lagian gak mungkin rem mobil blong, kaya orang miskin aja servis mobil gak mampu, nih orang ngadi-ngadi pasti," cibir Ana mengejek peneror.


“Perasaan di teror mulu kita,” desah Felix.


“Ryn, Daren oke kan?” tanya Alex.


“*D*ia gak papa, kalian gak perlu khawatir,” tenang Aryn.


“Dia lagi mikirin masalah ini kali, gue aja shock denger sekolah di teror.”


“*E*h udah dulu ya, gue di panggil Daren,” ucap Aryn.


“bilang gue minta maaf, hp gue lowbat dari semalam,” Titip Ken.


“Oke” tut—sambungan terputus.


“Katanya ruang papanya Daren di bobol?” perkataan Ana menjurus pada Pertanyaan karena belum pasti.


“Pintunya rusak,” cicit Tea melihat keadaan pintu kayu kokoh di hadapannya.


“Ayo masuk” ajak Felix yang diangguki semuanya. Sayangnya baru akan melangkah masuk, om Dion— kepala sekolah MHS tiba-tiba memanggil mereka dari belakang.


“Om Dion di sini?” tanya Felix yang diangguki om Dion.


“Kalian mau cek ruang bang Thomas kan?” tanyanya yang dibalas anggukan oleh semuanya.


“Sebenarnya memang awalnya pintu ini sudah di bobol, tapi karena om datang ke sini dan melihat pelakunya, pelaku itu kabur,” jelasnya, om Dion ini kepala sekolah disini sekaligus adik dari Thomas—papanya Daren.


“Jadi gak ada sesuatu yang hilang?” tanya Tea memastikan.


“Tidak, sudah om cek tapi kalau kalian penasaran. Ayo masuk,” ajak om Dion. Satu persatu mereka masuk ke ruangan yang ternyata di dalamnya masih rapih, tak ada sedikitpun yang rusak atau berada tidak pada tempatnya.


Mereka berpencar untuk mengecek semua sudut ruangan untuk mencari petunjuk yang bisa mereka dapatkan. Sampai beberapa saat kemudian mereka menyerah karena tak menemukan satu pun petunjuk.


“Kita tetep sekolah atau ke rumah sakit nyusul Aryn?” tanya Felix membuat semuanya berpikir.


“Sekolah, gak ada gunanya kita disana. Mending liat situasi sekolah” usul Alex, mereka mengangguk tanda setuju.


“Ayo,” ajak Felix bangkit dari sofa yang mereka tempati dan beranjak keluar.


“Banyak kaca pecah,” ucap Ana.


“Yang neror bukan satu dua orang, banyak! Wajar sekolah kita rusak parah,” ucap Alex.


“Mana dinding sekolah semua di filox lagi,” keluh Felix melihat tempat belajarnya yang elit jadi hancur dan berantakan.


Tea mendekat pada jajaran jendela sekolah yang pecah dan dengan penasaran mengulurkan tangannya, apakah masih ada kaca atau tangannya langsung tembus karena sudah tidak ada kaca yang menghalangi.


Di bawah kakinya berserakan serpihan kaca. Saat tangannya sudah terulur ke arah jendela seseorang menariknya mundur menjauh dan menabrak dada kiri yang terasa kuat dan berotot.


“Gegabah,” cecar Ken pelan, menarik Tea untuk menjauh dari daerah kaca yang berserakan dan mendekapnya. Tak lupa dia juga mengecup pelipis Tea yang sedikit berkeringat dan beberapa helai rambut yang menempel.


Tea hanya cemberut dan tak menjawab, hanya tangannya bergerak untuk mencengkram seragam sekolah Ken. Rasanya masih sama, gelisah dan pikirannya berkeliaran kemana-mana, menebak-nebak rasanya semua kejadian di sekitarnya akhir-akhir ini terasa ganjal.


Dia juga berpikir apakah akan langsung menelepon Daddy, mommy atau abangnya tentang kejadian di sekolah atau tidak!? mengingat apa yang di peringatkan Daddy-nya pagi tadi.


“Gue laper,” celetuk Ana tiba-tiba, Tea bergerak menjauh namun sayangnya Ken masih tetap merangkulnya.


“Kita ke kantin,” ucap Alex yang disetujui semuanya.


.........


“Aku pengen ikan dori crispy,” ucap Tea mengadu pada Ken.


“Minumnya Cheese Thai tea Boba ya,” tambahnya. Ken mengangguk, langsung pergi memesan makanan. Padahal sebenarnya cukup memanggil pelayan di kantin.


“Gue samain sama Tea aja,” ucap Ana yang sibuk berfoto ria dengan filter terbaru di Instagram untuk kebutuhan instastory nya.


“Gue Cilok goang terus Es teh manis,” ucap Felix.


Setelah semuanya memesan makanan, beberapa saat kemudian makanan sudah tiba dan siap untuk di makan. Ken juga sudah kembali dengan membawa makanan di nampan.


“Kantin penuh banget,” keluh Ana mengipasi dirinya sendiri dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya terus menyuapi mulutnya dengan nasi.


“Untung kantin masih sehat,” sahut Felix yang mengarah pada keadaan kantin yang mulus tanpa cedera.


“Bokap nyokap lo pada udah tau?” tanya Alex


“Iya, mami papi gue heboh anjir” ucap Felix. Ken tak menanggapi sedangkan Ana dan Tea tak berniat membuka suara, sibuk menikmati makanan.


Diam-diam Ana sudah memberitahu keadaan sekolahnya pada El, karena sudah dipastikan Tea tidak mau memberitahu orang dirumah.


“Pulang sekolah langsung ke rumah sakit!” ucap Ken yang baru membuka suara setelah sekian lama hanya diam.


Ketika semuanya mengobrol, seseorang yang pernah di lihat Alex langsung menarik perhatiannya.


“Risti,” panggil Alex, mengabaikan bahwa seseorang yang di panggilnya ini kakak kelas nya.


“ya?” tanyanya


“Elin mana?” tanya Alex tanpa basa basi menanyakan keberadaan pacar yang sedari malam tak aktif wa.


“UKS, kena pecahan kaca,” ucapnya membuat Alex mengernyit khawatir lalu beranjak.


“Gue ke UKS” pamitnya dan berlalu pergi dengan cepat.


“tes... tes OKE PERHATIAN UNTUK SEMUA SISWA SISWI MHS—MAIER HIGH SCHOOL, GERBANG SUDAH DIBUKA, KALIAN BISA PULANG SEKARANG. JANGAN LUPA UNTUK HATI-HATI DAN NANTI PIHAK SEKOLAH AKAN MENGABARKAN APAKAH BESOK TETAP SEKOLAH TETAP LANJUT ATAU DILIBURKAN” suara seorang petugas piket menggema di seluruh wilayah sekolah lewat speaker yang di pasang di beberapa sudut sekolah, mengenai informasi pemberitahuan dari pihak sekolah.


Dan sejak suara itu menggema, banyak siswa yang berbondong bondong untuk segera pulang atau pun menongkrong bersama teman-temannya.