ALTEA

ALTEA
Prolog



|1| Status murid baru MHS


"PERHATIAN! Dimohon untuk seluruh murid MHS agar segera ke lapangan upacara untuk melaksanakan upacara bendera hari Senin."


"Sekali lagi, di mohon untuk …."


Altéa menoleh ke kanan-kiri, bingung harus kemana. Dia murid angkatan baru, sayangnya kemarin tidak ikut kegiatan MPLS. Ini hari pertamanya sekolah, Téa berangkat hanya dengan informasi bahwa dia masuk kelas X IPS 1.


Mau bertanya tapi lingkungan di sekitarnya sudah sepi.


"Ngapain berdiri di sana?" Téa terlonjak kaget saat seorang guru bertanya dan menghampirinya.


"Langsung ke lapangan upacara. Sekarang!" titah guru perempuan itu dengan sedikit lonjakan suara.


Téa menunduk sopan, "Maaf Bu, saya murid baru di sini. Kemarin saya tidak ikut MPLS. Jadi, tidak tahu dimana letak kelas saya," jelas Téa.


"Kelas berapa kamu?" tanya guru perempuan itu kembali.


"X IPS 1," jawab Téa.


"Ayo, ikut saya." Bu guru itu langsung berjalan mendahului menuju kelas X IPS 1. Téa mengikuti dari belakang.


"Di sini kelasnya. Ayo, simpan tas terus langsung ke lapangan upacara." Téa berjalan cepat masuk ke kelas dan menyimpan tasnya di kursi yang masih kosong, tidak ada barang.


"Terima kasih Bu." Téa menunduk dan berjalan menuju lapangan upacara sesuai arah telunjuk Ibu Meta.


Meta Karmila S.pd. Nama itu yang tertulis di name tag seragam guru yang tadi mengantarnya ke kelas.


...…...


"Ini jajaran X IPS 1 di mana ya?" Téa bergumam menyusuri barisan murid di hadapannya.


"Maaf, jajaran X IPS 1 di mana ya?" Téa bertanya pada salah satu murid laki-laki yang berdiri di baris belakang.


Merasa ditanya, lelaki tinggi itu menoleh. "Di sana, paling pojok," tunjuknya.


"Oke, makasih." Téa berlalu pergi ke arah yang ditunjuk lelaki itu.


"Lah?" lelaki yang tadi ditanyai oleh Tea langsung tercengang.


"Gue kira tuh adik kelas mau caper," ucapnya pelan.


"Tapi dia cantik banget anjir," lanjutnya memuji.


...…...


"Nama lo Altéa?"


"Iya, cukup panggil aku Téa," jawab Téa sambil mengangguk.


"Oke, inget-inget nama gue Aryn," ucap Aryn mengingatkan.


"Udah isi kertas pendaftaran ekstrakurikuler?" tanya Aryn.


"Udah." Téa menunjukkan kertas pendaftaran ekstrakurikuler yang telah diisinya.


"Masuk Bela diri," ujar Téa sebelum Aryn bertanya.


"Wow, jago Bela diri? Atau baru mau belajar bela diri?" tanya Aryn.


"Dari kecil udah belajar bela diri, jadi, aku jago kalau soal bela diri," jawab Téa tersenyum membanggakan kemampuannya.


"Sombong lo!" cibir Aryn.


"Gue ikut MPK," ucap Aryn memberitahu tanpa Téa bertanya.


"Oh."


"Si anying, malah oh doang lagi," ngegas Aryn.


...…...


"Jadi, kalian semua pengen masuk klub Beladiri?" tanya Lelaki tampan yang berdiri di hadapan para siswa yang mendaftar masuk ke ekstrakurikuler Bela diri.


"Oke, gue yakin dari semua yang daftar masuk ke klub Beladiri, ada yang emang dari awalnya udah belajar bela diri dan ada yang sama sekali belum pernah belajar bela diri," ungkap lelaki tampan itu.


"Sekarang, gue minta di antara kriteria yang gue sebutin tadi, pisah!" titahnya.


"Yang udah belajar sebelah kanan, yang belum pernah belajar bela diri sebelah kiri," lanjutnya.


Téa memicingkan matanya, mengira-ngira berapa jumlah siswa yang mendaftar masuk klub Beladiri. dua ratus? Mungkin lebih!


Apa memang banyak yang berminat masuk klub Beladiri? Téa tidak menyangka, apalagi kebanyakan yang mendaftar itu murid perempuan.


Tapi, setelah instruksi dari kakak kelas tadi, hampir sepertiga siswa bergerak ke arah kiri. Téa mengerjap tidak percaya melihat hampir semua perempuan berjajar di sebelah kiri.


"Kayak gerombolan semut." Téa menggelengkan kepala takjub.


Téa berjalan ke arah kanan. Hampir semuanya laki-laki, dihitung-hitung kembali, hanya enam orang perempuan yang masuk barisan kanan.


"Aneh banget."


"Lo beneran bisa bela diri?" seorang perempuan disampingnya bertanya.


Téa mengangguk, "Iya."


"Sedikit gak percaya gue. Gue kira cewek kayak lo cuman keganjenan sama pengurus inti Beladiri yang ganteng," dengusnya geli.


"Kayak aku?" tanya Tea bingung. Memangnya dirinya seperti apa? Tea menatap dirinya sendiri dari bawah ke atas.


Perempuan di depannya memutar bola mata. "Iya, yang cantik, mulus, keliatan lemah lembut, gak ada sangarnya sama sekali, kayak lo, biasanya lemah, gak bisa bela diri, jadi paling daftar ke sini cuman mau caper sama pengurus inti ekstra Beladiri," jelasnya.


Tea mengerutkan hidung, tak suka dengan perkataan Ana. Tapi pengurus inti bela diri itu apa?


"Pengurus inti?" tanya Téa bingung.


Perempuan di hadapannya hanya tersenyum kecil dan mengulurkan tangan, "Liana Alexander Kyler, panggil aja Ana," ucapnya memperkenalkan diri.


Tea membalas uluran tangan Ana, "Altéa, panggil aku Téa ya."


"Lo cantik banget," puji Ana pada Téa.


"Namanya juga cewek," balas balik Téa sambil terkekeh.


Ana tertawa, "Wajah lo bule banget, apalagi rambut pirang lo."


Téa menyentuh rambut pirangnya, "Aneh ya?" tanya.


"Nggak, lo liat aja, dari tadi banyak yang lirik lo, kagum mereka." Ana menggerakkan dagunya ke arah lelaki di sekitar Téa.


Memang benar, ternyata mereka sesekali melirik wajahnya. Bahkan kakak kelas yang berdiri di depan juga melirik Téa sambil bwrsiul dari jauh.


Téa baru sadar, ternyata dia diperhatikan banyak orang sedari tadi.


"Huh." Téa mendengus tak suka. Tea memilih fokus kembali ke depan.


Alex tersenyum culas melihat para perempuan berbondong-bondong masuk ke jajaran kiri.


"Angkatan sekarang ceweknya makin keganjenan ya," cemooh Daren yang berdiri di belakang Alex.


"Ilfil gue liat mereka," ujar Alex jijik.


"Mereka semua bakal diterima ke klub bela diri?" tanya Daren.


"Yang rambutnya pirang itu siapa? Cantik banget," puji Daren saat melihat rupa Téa.


"Murid baru dia, adik kelas. Tadi pagi gue sempet ditanya letak barisan tempat upacara kelas X IPS 1," cerita Alex.


"Terus-terus?" tanya Daren penasaran.


"Gak ada terusnya. Gak mempan ketampanan gue di mata dia. Malu banget kalau di pikir-pikir, tadi gue PD ngira dia mau caper, eh ternyata murni cuman nanya di mana barisan kelas X IPS 1. Mana langsung pergi lagi, gak ada say hi atau ngajak kenalan," kesal Alex mengingat kejadian tadi pagi saat bertemu dengan Téa.


"Tapi mirip Zaky ya, sama-sama bule," ujar Daren membandingkan wajah Tea dan Zaky.


"Ayo, urus mereka dulu." Zaky menepuk pundak Alex dan menunjuk barisan murid.


"Zak, dia cantik banget kan?" tanya Daren mengarah pada Téa.


"Iya," balas Zaky pendek.


"Cocok kali sama lo, sama-sama bule," goda Daren.


"Udah, lo bantuin Alex sana!" titah Zaky tidak berminat menanggapi godaan Daren.


"Ken, ikut gak?" tanya Daren.


"Ya."


...…...


"Yang bagian kiri! Kalian lari keliling lapangan 15 kali, Sekarang!" Instruksi Alex tanpa peduli wajah kaget orang-orang yang tadinya berdiri sambil mengeluh panas.


Akhirnya, barisan kumpulan perempuan itu berlari memutari lapangan dengan raut putus asa.


"Bagian sini, baris yang rapi di tengah!" titah Daren pada kumpulan barisan kanan.


"Woi yang lain bantuin sini!" Daren berseru meminta anggota bela diri yang lain ikut membantu.


"Bantuin apaan?" tanya salah satu di antara mereka.


"Liatin dulu," jawab Daren singkat.


"Sebagian liat yang lari," ujar Ken.


"Kalian boleh duduk," ujar Zaki.


"Mulai perkenalan diri dari ujung sini, sebutin nama, kelas, bela diri apa yang dikuasai, sama sampe batas mana kemampuan bela diri kalian," jelas Daren.


Dengan patuh, satu-persatu bangkit berdiri dan memperkenalkan diri. Begitu giliran Tea …


"Nama saya Altéa, biasa dipanggil Tea. Dari kelas X IPS 1, bisa bela diri Taekwondo, sabuk hitam," ucap Tea dengan senyuman cantiknya.


Tak sedikit yang menggodanya dengan sorakan-sorakan dan huitan.


"Wow, sabuk hitam cuy."


"Cantik banget sih."


"Tinggal di mana?"


"Beneran nih sabuk hitam? Kagak percaya gue."


"Cewek secantik ini jago bela diri."


"Udah paket lengkap ini ye gak?"


"Berisik. Ayo lanjut!" titah Zaky.


Setelah semuanya memperkenalkan diri, mereka dibagi sesuai ilmu beladiri yang dikuasai.


Taekwondo, Pencak Silat, Judo, dan Kick Boxing.


"Kita bakal tes kemampuan bela diri kalian, kalau kalian bener-bener bisa, kalian langsung keterima masuk klub Beladiri MHS," tukas Daren memperjelas.


"Yang gak bisa di bagian ini, kalian langsung di blacklist, karena dari awal gak jujur."


Anggota bela diri yang dari tadi menonton langsung melakukan tugas mereka. Mengecek kemampuan bela diri calon anggota. Tidak ada duel, cukup anggota baru menunjukkan gerakan-gerakan bela diri yang mereka kuasai.


...…...


"Oke, cukup. Emang gak salah kalau lo ngomong udah sabuk hitam, jago juga," puji Felix yang mengetes kemampuan Altéa.


Téa tersenyum bangga. "Emang udah jago dari kecil, orang-orang gak percayaan banget aku jago bela diri," cibir Téa pelan.


"Apa?" Felix bertanya saat mendengar ucapan Téa yang kurang jelas. Mungkin saja mau bertanya sesuatu padanya.


"Oh, nggak apa-apa," balas Téa canggung.


"Lo boleh ke pinggir untuk istirahat sebentar," kata Felix mengizinkan Téa untuk rehat.


"Makasih," ucap Téa tulus.


...…...


"Oke, karena semuanya udah kumpul. Langsung aja, gue bakal umumin siapa yang lolos masuk klub Bela diri." Begitulah pembukaan dari Zaki selaku Leader utama klub Bela diri.


"Yang tadi kebagian lari dan gak lari sampe tuntas, boleh langsung pergi, karena pastinya gak ada peluang buat masuk klub," jelas Alex.


Yang merasa gagal langsung mundur dari tengah lapangan. Pergi dengan raut lesu karena lelah dan tidak lolos seleksi.


Kegiatan di lanjut dengan pengumuman yang lolos seleksi dan sedikit perkenalan dari pengurus inti klub Bela diri.


"Halo, perkenalkan nama gue Anita dari kelas XII IPA 8, di sini gue yang akan kenalin satu-satu pengurus inti klub Bela diri MHS." salah satu anggota perempuan klub Beladiri maju dan membuka suara.


Anggota yang lainnya duduk di depan, samping kanan dan kiri, memperhatikan Anita. Lima laki-laki kekar dengan seragam kebanggaannya berdiri gagah. Siap diperkenalkan diri dengan jabatannya di klub Beladiri.


"Yang sebelah sini, namanya Felix Evander Smith dari kelas XII IPS 2, Leader Judo."


"Yang kedua, Alex Leonard Kyler dari kelas XI IPA 1, Leader Pencak Silat."


"Yang di tengah, ini Leader utama klub bela diri, Elzaky Blaugrafi Kendrick, dari kelas XII IPA 1."


"Elzaky Kendrick?" gumam Téa pelan.


Ana yang mendengarnya langsung menoleh, "Dia ganteng banget 'kan? Bule kayak lo," ucap Ana kembali menatap Zaky dengan mata berbinar.


Téa menatap Ana dari samping, "Dia dari keluarga Kendrick?" tanyanya pelan.


Ana mengangguk, "Heem."


"Nama orangtuanya siapa?" tanya Téa kembali dengan suara yang semakin pelan.


Ana mengerutkan kening, "Nama orang tua Kak Zaky? eum, Exel Kendrick dan Vitalia Kendrick. Emangnya kenapa?" tanya Ana.


"Enggak." Tea menggeleng lemah dan fokus kembali ke depan.


"Di samping Zaky, namanya Kenan Adya Ansel Kyler, sepupu Alex, Wakil Leader utama, dari kelas XI IPS 1, Kenan ini juga calon Leader utama klub Bela diri angkatan selanjutnya," ucap Anita.


"Lebih ganteng dia," gumam Tea tanpa sadar saat menatap wajah rupawan Kenan.


Untung Ana masih fokus memperhatikan wajah rupawan Zaky.


"Nah terakhir, Daren Bright Maier, marganya gak asing lagi untuk kita 'kan? Daren ini anak pemilik MHS (Maier High School), dari kelas XI IPS 1, Leader Kick Boxing."


"Untuk Leader Taekwondo, namanya Albert Separo Maheswari, dari kelas XII IPA 1, hari ini dia gak dateng karena ada urusan," ucap Anita mengakhiri perkenalan.