ALTEA

ALTEA
#7# Nostalgia—masa kecil Kenan & Altea



Di tengah malam yang sunyi, Ken duduk di kursi belajarnya sembari memegang kotak yang isinya ternyata beberapa ikat rambut, jepit dan hiasan rambut lainnya yang berwarna-warni, mulai bernostalgia akan masa kecilnya.


Mengusap-usap ikat rambut itu dengan mata sendu ketika mengenang hal-hal bahagia yang telah dilaluinya dengan Altea.


Sedari dulu Tea mempunyai hobi mengoleksi aksesoris rambut, dia sangat senang menghias rambutnya, karena menurutnya dia akan semakin cantik jika memakai aksesoris kepala.


Ken masih ingat ketika dia berusaha keras belajar mengepang rambut dengan menonton YouTube, lalu membeli berbagai hiasan sebagai hadiah untuk Tea. Tea selalu menyambut hadiahnya dengan antusias lalu memperlihatkan pada keluarganya.


Flashback


“Sayang, lagi apa hm?” tanya Raline—ibu Ken. Ken kecil yang tengah fokus menonton YouTube merasakan usapan di rambutnya.


“Ma, jangan ganggu Ken,” rengek anak lelaki itu sambil menjauhkan kepalanya dari jangkauan tangan mamanya. Fokus kembali menonton video berbagai tutorial cara mengepang rambut dengan berbagai gaya.


Raline mengernyit heran melihat betapa fokus anak semata wayangnya pada iPad. Saat menatap apa yang dilihat putranya, sebuah video yang menampilkan seseorang tengah mengepang rambut.


"kepang rambut?” gumamnya memastikan, beberapa kali matanya berkedip namun tak ada yang berubah dengan pemandangan di layar iPad putranya.


Gumaman kecil Raline ternyata masih terdengar di telinga Ken. Jadi, Ken merespon dengan anggukan antusias, tanpa berniat menoleh pada ibunya.


"Ken mau belajar kepang rambut, Tea kan suka di kepang rambutnya. Jadi Ken nanti mau kepangin rambut Tea yang bagus,” ucap Ken sambil menunjuk video di iPad-nya.


Raline yang mendengarnya hanya merasa bingung karena putranya selalu menjadi pengikut setia Tea dan semua yang berhubungan dengan Tea pasti membuatnya langsung antusias. Belum sempat menyahut, Ken membuka suaranya kembali.


“Yang cocok di Tea yang mana ya? Ini atau ini?” tanya Ken pada mamanya dengan antusias.


“Hm yang pertama kayanya deh Ken, nanti kelihatannya imut di Tea,” jawab Raline menunjuk gambar pertama yang diangguki antusias oleh Ken.


“Mah, jepitan yang diminta Ken udah ada?” tanya Ken menengadahkan tangannya, Raline mengangguk dan berjalan keluar menuju kamarnya sendiri yang di ikuti Ken.


“Ini sayang, buat Tea kan?” Raline menyodorkan kotak aksesoris rambut pada Ken yang disambut tangan Ken dengan cepat.


Ken mengecup pipi Raline dengan gembira. “Nanti kalau Ken udah besar terus kerja dan dapat uang banyak. Ken mau beli banyak hiasan rambut buat Tea pakai uang Ken sendiri,” ucapnya dan berlari keluar menuju supir yang ada di mansionnya agar segera berangkat menuju mansion Tea.


Di belakang, bunda Ken hanya tertawa geli akan tingkah anaknya. Cool, lalu pendiam, tapi kalau sudah bahas Tea—hilang susah image cool dan pendiamnya.


.........


“Tea...” panggil Ken sambil berlari ditaman belakang mansion Tea, mencari keberadaan pasti Tea.


“Tea disini Ken,” Tea balas berteriak dari arah bangku taman. Ken dengan segera menghampirinya dan ikut duduk bersama.


Tampak Tea kecil sedang duduk dengan kucing putih yang berbaring di pangkuannya—membuat Ken cemberut.


Memang, Ken selalu kesal ketika kucing Tea yang sering dipanggil Katty itu bergelayut manja dengan Tea. Menurutnya, Tea hanya boleh dekat dengan Ken tidak boleh dengan yang lain.


Dengan segera Ken mengambil alih Katty dan dengan kesal menurunkannya ke bawah, mengusirnya agar menjauh dan tak mengganggu dirinya untuk berduaan dengan Tea.


Tea yang melihatnya hanya mengerucut kesal.


“Ken punya hadiah untuk Tea,” ucap Ken dan mengambil kotak yang tadi di simpan di sampingnya pada Tea.


“Hadiah buat Tea? mana? mana?” Tea langsung antusias mendengar ada kata Hadiah.


“Ini apa?” tanya Tea sambil mengambil alih kotak dari tangan Ken. Mendekatkan kotak itu ke telinganya dan menggoyang-goyangkan kotak itu dengan pelan. Mulai menebak apa isinya.


“Ayo buka!” suruh Ken yang membuat Tea langsung membuka kotak pemberian Ken tanpa pikir panjang.


“Woahhh,” Tea berpekik gembira melihat hadiah pemberian dari Ken.


“Coba Tea duduk, Ken mau kepangin rambut Tea!” perintah Ken agar Tea duduk di bawah kursi taman. Tepatnya di atas rumput hijau yang bersih dan segar.


“Emang Ken bisa? Tea aja baru bisa yang biasa. itu juga sulit terus kadang lupa,” curhat Tea mengeluh betapa sulitnya ia belajar mengepang rambut.


Ken langsung menepuk dadanya menggunakan tangan dengan bangga. “Ken bisa Tea, gampang,” ucapnya.


Dengan segera Ken menarik Tea agar duduk di bawah dan mulai merapihkan rambut Tea. Dari mulai perlahan-lahan memisahkan rambut Tea menjadi beberapa bagian dan mulai menyusun rambutnya sesuai langkah-langkah yang di tonton nya dari YouTube.


“Selesai,” ucap Ken tersenyum bahagia saat melihat bentuk kepangan rambut Tea yang terlihat bagus dan rapi.


“Eum sebentar, pakai jepitnya warna biru biar samaan sama baju Tea,” lanjutnya memilih jepit kecil yang akan di pasangkan di rambut Tea.


Pandangannya jatuh di jepit berwarna biru dan mengambil dua buah jepit yang sama serta memakaikannya di bagian sebelah kanan rambut Tea.


Tea langsung berdiri dan berlari kedalam mansion yang disusul Ken dari belakang.


“Hati-hati Tea,” teriak Ken mengingatkan dari belakang.


Tea tak mengindahkan hanya berlari menuju kamarnya lalu menaiki kursi untuk bercermin


“wahh bagus kepangan nya, Tea jadi cantik deh,” ucap Tea gembira sambil memegang jepit rambut di kepalanya.


Baru saja Ken masuk ke kamar, Tea sudah berlari keluar kembali dan berteriak memanggil mommy dan Daddy-nya dengan semangat 45.


“Iya sayang, ada apa?” tepat saat Tea memasuki area ruang keluarga. Terlihat Vita—mommy Tea yang menatapnya dan bertanya dengan lemah lembut.


Tea dengan segera menghampiri kedua orangtuanya dan menyelinap duduk di antara mereka berdua.


“Lihat! Ken kepangin rambut Tea mom, bagus kan?” tanya Tea penasaran bagaimana reaksi kedua orangtuanya setelah melihat hasil kepangan rambut Ken.


Kedua orangtuanya hanya mengernyit tak percaya dan melihat kepangan rambut Tea,


“Wah... Ken jago kepang rambut ya. Padahal anak laki lho, Tea aja kalah,” ejek Vita bercanda yang langsung membuat Tea menggembungkan pipinya.


Sedangkan Daddy nya hanya mengusap rambut Tea pelan. “Daddy juga bisa kok, ini mah kecil,” ucap Exel meremehkan keterampilan kepang rambut Ken.


Tak lama Ken muncul dan berjalan santai untuk duduk di salah satu sofa, membuat Tea berpindah duduk ke sisi Ken.


“Ken kayak nya sayang banget ya sama Tea,” goda Vita yang ternyata langsung di angguki Ken.


“Ken sayang banget sama Tea, jadi Tea gak boleh jauh-jauh dari Ken!” jawabnya lugas.


Tak menyangka akan mendengar pernyataan blak-blakan dari ken, Vita langsung terbahak mendengarnya. Anak kecil sudah bucin ya Bosque.


“Dengerin tuh Tea,” ucap Vita.


“Tea juga sayanggg banget sama Ken mom,” jawab Tea dan langsung menggelayuti tangan kanan Ken. Ken membalasnya dengan mengusap surai Tea dengan penuh kelembutan.


“Ex kamu kalah romantis sama anak kecil,” tukas Vita pada suaminya.


“Kata siapa?” tanya Exel tak terima dan langsung menarik tangan istrinya agar masuk kedelapannya dengan erat.


Flashback off


“Andai aja dulu aku bisa jagain kamu,” ucap pelan Ken sambil terkekeh miris.


“Gak akan terulang lagi Tea!” lanjutnya tersenyum tipis dengan tatapan penuh tekad.