ALTEA

ALTEA
#21# Lomba Hias Taman Kelas



Dasarnya memang orang kaya—tidak perlu ada sapu dan pel karena sudah ada sweeper robot vakum cleaner, mereka juga tidak perlu bekerja keras membeli atau mempersiapkan perlengkapan dekor untuk waktu yang lama karena tinggal menyuruh bawahan orang tua mereka di rumah lewat ponsel.


Mungkin jika tidak ada larangan menggunakan jasa desain interior dan buruh bangunan saat perlombaan—mereka sudah menggunakan jasa itu tanpa perlu repot-repot bekerja. Orang berduit mah bebas ya bund😛.


“polos banget ini Kelas” ucap salah satu siswa kelas XI IPA-2.


Kelas mereka telah selesai di renovasi, hanya mungkin sesuai apa yang di katakan siswa tadi—dinding-dinding kelas kosong melompong tanpa sentuhan apa pun.


“Tambahin beberapa kaktus kecil di jendela” sahut Tina memegang kotak berisi tanaman kaktus di pot kecil.


“sana! Bantuin, jangan leha-leha” Aryn menyenggol Daren agar beranjak membantu meletakkan beberapa tanaman kaktus kecil di jendela.


Kaktus termasuk tanaman yang hemat air jadi tidak perlu repot untuk sering menyiramnya di tambah tanamannya yang memang tidak mudah tumbuh atau membesar. Sangat menguntungkan bukan?


“cuma begini?” tanya Felix menyusuri tiap sudut kelasnya.


“lukis pulau Indonesia di board cream yang belakang gimana?” usul Tea pelan.


“bagus, sedikit di variasi in oke tuh” putus Arif menyetujui usulan Tea.


“di sini siapa yang jago ngelukis?” tanya Ana


“nah dia jago” Tirah menunjuk salah satu siswa lelaki yang berada di sampingnya.


“bisa kan?” tanya Arif meminta persetujuan sang empunya, untungnya mereka mendapatkan anggukan santai dari siswa yang di tunjuk untuk melukis—menandakan dia mampu dan mau.


“gitu aja, jangan ada tambahan nanti rame kaya anak paud” ucap Dareen merasa jangan ada tambahan dekorasi lainnya.


“Bener” sahut Alex menyetujui.


“tinggal renovasi taman bagian kelas kita, udah siang mending makan dulu” Arif menyarankan teman-temannya agar istirahat dan makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan kegiatan menjadi kuli kebun.


“kantin penuh, males gue. Mending pesen makanan minuman—kolektif” usul salah satu siswa perempuan yang duduk dan memegang kipas kecil.


“gue pesen in” ucap Daren mengeluarkan handphone-nya.


.......


...


“Kenyang” Tea mengelap keringat di pelipisnya dengan tangan yang dalam keadaan kotor—bekas makanan.


“cuci tangan dulu” Aryn mengajak Tea dan Ana ke bagian wastafel yang ada di luar kelas mereka.


“yang udah selesai, cepat ke bagian taman kelas kita, jangan lupa bawa peralatan yang nanti kita butuh in di sana” instruksi dari Arif membuat yang lainnya mengangguk mengerti dan mempercepat acara makan dan minum mereka.


“cangkul... mana cangkul?” terlihat seorang lelaki menghampiri tumpukan peralatan, mencari cangkul yang nanti pasti dibutuhkan untuk mengolah tanah di taman mereka.


“yang jago lukis diam di kelas, lukis pot-pot yang ada di sana, sebagus mungkin. Jangan biarin kelas lain lihat, biar surprise” peringat Arif.


“Rif. Kalo perlu, batu juga warna in biar kayak Upin Ipin” nyinyir seorang perempuan yang terlihat kesal dengan kebawelan ketua kelas mereka.


“Jangan niru Upin Ipin, gak level pake barang bekas” sahut seorang laki-laki tak terima jika nantinya mereka meniru taman yang Upin Ipin hias dengan memanfaatkan barang bekas.


“Huss, jangan begitu” perempuan di samping cowok itu menggeplak kepalanya dengan buku yang lumayan tebal, rasanya beuhh sakittt.


.......


...


“Sini, di pake in ya” Tea menarik lengan Ken dan memasangkan sarung tangan khusus berkebun—menyelimuti jari-jemari Ken.


“yang nyangkul cepet dong” protes Aryn yang bersiap memindahkan tanah ke dalam pot putih. Memang sebagian pot akan ada yang di lukis dan ada sebagian yang tidak.


Di sisi lain terlihat beberapa orang yang menggali tanah lumayan besar untuk tempat pohon yang mereka beli dengan tingginya sudah satu meter lebih.


“Kenapa beli pohon yang besar sih?” tanya Lelaki itu yang sudah ikut memegang pohon yang ternyata memang berat.


“kalau semuanya tanaman kecil, nanti taman kita kelihatan hampa” celetuk Arif.


“emang bakal tumbuh?” tanya yang lain.


“kalau rawatnya yang bener mah, nanti juga nge geudean” Arif menjawab dengan kesal karena repot dengan berbagai pertanyaan yang tak penting dari temannya.


“kalau udah di pindah in, pake tongkat buat penumpu nya” salah satu siswa yang mengerti pasal tumbuh-tumbuhan menyahut—ikut membantu Arif yang kerepotan.


“yang lain ayo pasang hijang nya” kalian tahu hijang kan? Atau nama lainnya mesh board—rak besi kotak-kotak yang biasanya di pakai sebagai tempat pot atau kalau di kamar bisa di jadikan tempat menempelkan jadwal-jadwal atau sticky not.


“Sekalian tiang besi buat jadi tempat gantung pot nanti”


“AYO SEMUANYA KERJA WOI” Arif berteriak meminta semua anggota kelasnya saling membantu agar tugas cepat selesai.


.......


...


Mereka kerja sampai sore hari, pot yang di lukis juga sudah kering, hijang dan tiang-tiang besi sudah di pasang di beberapa sudut taman bagian mereka, beberapa tanaman yang di tanam langsung di tanah juga telah selesai, petak-petak tanah sudah terisi tanaman dengan beberapa warna—tampak indah dan se iras.


Hanya tinggal sentuhan di hijang yang akan mereka jadikan tempat tanaman rambat, tak lupa pot-pot gantung yang sudah di ikat dengan tali goni estetik dan ada beberapa tanaman yang menjadikan karung goni kecil warna cream sebagai pot dan ikut di gantung dengan tali goni—hanya tinggal di pasangkan pada tiang-tiang.


“campur in pupuk sama tanahnya Ana” ucap Tea.


“jijik gue”


“jangan banyak ngeluh” nasihat Tea.


“Kerja, biar cepet selesai makanya” ejek Ken.


“bau, minta masker” Tea meminta masker pada Ken saat dia akan memindahkan tanah yang sudah di campur pupuk pada pot yang di lukis.


“gak mau tugas yang lain?” tanya Ken menawarkan tugas yang lain asalkan bukan tugas yang berkaitan dengan pupuk😛.


“nggak usah, gampang kok ini” Tea berucap seperti meyakinkan pada dirinya bahwa ini hanya tugas mudah.


“ya udah”


“pot nya Aryn” Tea menyerahkan pot yang sudah di isi tanah pada Aryn yang bertugas menanam tanaman pada pot.


“susun langsung” Aryn menyerahkan tanamannya satu persatu pada teman perempuan yang lain agar menyusun peletakan pot.


Ini memang tinggal tugas perempuan yang sebenarnya sedikit lebih ringan—di banding siswa laki-laki yang memasang tiang, hijang, menanam pohon-pohon yang berukuran cukup besar dan menggali tanah dengan cangkul.


Setelah beberapa saat...


“Akhirnya... beres juga” Tea bersandar pada Ken dengan nyaman, karena akhirnya taman buatan mereka telah jadi. Dan hasilnya menurut mereka sudah memuaskan.


“mungkin tambah sedikit lampu bohlam di ujung tiang biar estetik” tukas Arif melihat taman buatan mereka.


“tambahin kursi kayu juga oke tuh” usul yang lain.


“itu nanti gue yang urus” ucap Daren.


“mari kita pulanggg, hari sudah soreee” seseorang memainkan nada ucapannya mengajak agar segera pulang—karena memang hari sudah sangat sore.