ALTEA

ALTEA
#30# Aksi Hero Tea—menolong kakek pencuri



Prok prok prok


Tea, Ken dan yang lainnya langsung berdiri. Mendekat pada Ana yang baru turun dari panggung.


"Ana!" Panggil Tea cemas.


Ana mengerutkan keningnya. "Kenapa lo?" Tanyanya.


Tea berbisik. "Itu liat dibelakang!"


Ana menoleh kebelakang, matanya terpaku pada badan tegap seorang pria yang mengenakan jas.


"Itu El?!" Tanya Ana tak percaya.


"Buruan samperin bege! Malah ngebug lagi," protes Alex gemas pada Ana.


"Sana!" Titah Ken.


"Alamat hidup gue berakhir," miris Ana mengalihkan pandangan dari mata tajam El.


"Lo pada ada yang ngadu kan?! Ayo ngaku! Siapa sih yang punya dendam kesumat sama gue?" Ngegas Ana dengan wajah garang.


"Terus juga. Kenapa gak ada yang kasih tau gue kalau El disini sih?" Lanjut Ana mengomel.


"Gak ada yang laporin. Bang El udah jagonya kalau soal begini. Mending lo cepet-cepet samperin sana!" Balas Felix tidak mau mendengar omelan Ana.


Ana mengalah. Dia berjalan cepat mendekati El yang masih tetap berdiri sambil bersedekap dada.


"Kan! Firasat gue udah gak enak dari kemaren waktu si Ana sok-sokan ikut lomba duet nyanyi, mana lagunya marry you lagi. Edan dia," cibir Alex.


...…...


"Non Tea mau kemana?" Salah satu pelayan mansion bertanya saat melihat Tea menuruni tangga.


"Mau keluar sebentar, jangan bilang orang rumah ya!" Ucap Tea tersenyum kikuk. Orang rumah yang dimaksud adalah abangnya dan Alex.


"Mau cari udara segar. Buruh refreshing," lanjut Tea merentangkan kedua tangannya.


"Jalan kaki?" Tanya pelayan itu kembali.


Tea menggeleng. "Pakai sepeda."


"Tea berangkat ya," Tea berlari menuju parkiran.


Sampai di parkiran sepeda mansionnya. "Sepeda yang mana ya?" Gumamnya meneliti jajaran sepeda khusus untuknya.


"Yang hitam aja," Tea menyeret keluar sepeda yang dipilihnya.


Di Halaman, Tea langsung naik jok sepeda. "Woahh, seru," pekiknya.


Tea memakai helm sepeda yang terkait di jok belakang. "Berangkat," serunya dan mulai mengayuh sepeda.


Drtt drtt


"..." Ini siapa sih yang nelpon?


Tea berhenti mengayuh. Membuka resleting tas. Mengambil handphone. Melihat nama si pemanggil.


Tea melotot. "Ngapain nelpon?!" Tanyanya bengong.


Tea mengangkat panggilan dengan gerakan cepat.


"Ada apa Ken?" Tanya Tea saat panggilan terhubung.


"Ada apa?! Kamu dimana?" Tanya Ken sarkas.


Tea meringis. "Ken tau Tea keluar?" Tanyanya hati-hati.


"Iya."


"Aku cuma jalan-jalan naik sepeda." Baiklah, Tea memilih mengalah dan mengaku.


"Mau kemana?"


"Sebenarnya Tea juga gak tau mau kemana," jawab Tea menggaruk kepalanya.


"Bodoh," ejek Ken.


Tea melotot. "Ken! Tea itu jenius!" Balasnya tak terima.


"Pulang!"


Tea menggeleng keras. "Enak aja, gak mau," tolaknya ngegas.


"Tea!" Peringat Ken.


"Sebentar aja, gak jauh," janji Tea.


"Bohong."


"Beneran, udah ih nanti makin lama pulangnya," rengek Tea meminta berhenti berdebat dan segera akhiri panggilan.


"Oke." Sedikit tak percaya!


Tea memicing. "Jangan nyusul, awas aja!" Tegasnya setelah menebak liciknya Ken.


Tut


Panggilan langsung dimatikan oleh Ken. Benar-benar mengesalkan. Tea mendumel sepanjang mengayuh sepedanya dengan penuh emosi.


...…...


"Itu ada apa?" Tea bergumam melihat kerumunan di Alfamart.


Tea berhenti mengayuh. Turun dari sepedanya dan melepaskan helm.


"Lagi ada diskon besar-besaran ya?" Gumam Tea kembali.


Tapi melihat banyaknya orang yang berkumpul dan merekam, dugaannya pasti salah.


Saking penasarannya, dengan nekat Tea mengangkat sepedanya. Melewati pembatas antara jalan di luar perumahannya dan jalan raya yang berseliweran kendaraan.


"Ih sepedanya berat," keluh Tea mengusap peluh setelah berhasil melewati pembatas yang dipenuhi jajaran pohon besar.


"Ini gimana nyebrangnya," ringis Tea menoleh kanan-kiri sambil berharap ada celah untuk dirinya bisa menyebrang.


"Nah, nah mulai kosong. Ayo nyebrang," seru Tea semangat.


"Sebentar ya, ijin nyebrang," pekik Tea dan berlari menyeberang sambil menuntun sepeda.


Tea menyebrang dengan mulus. "Akhirnya," desahnya lega.


Tes mencari lahan kosong yang bisa dijadikan tempatnya menyimpan sepeda. Setelah selesai menempatkan sepeda, Tea bergerak mendekati kerumunan.


Dengan berani Tea menepuk pundak seseorang. Saat orang itu menoleh padanya, Tea tersenyum manis menebar pesona.


"Ini ada apa ya?" Tanya Tea.


Orang itu langsung kikuk melihat kecantikan Tea. "Itu… ada yang mencuri," ucapnya pelan.


Tea melongo. "Mencuri? Woah."


Tea langsung melewati kerumunan. Menyempil melewati badan-badan yang menurutnya besar dan bau keringat.


Saat pandangannya ke depan, matanya melotot horor. "Kenapa dipukul," pekiknya yang menarik perhatian beberapa orang.


Tea langsung suram melihat kekerasan warga yang memukuli seorang kakek gemuk. Mungkinkan kakek itu yang mencuri? Memangnya mencuri apa sampai dikeroyok banyak orang.


"Kenapa gak ditolongin?" Seru Tea marah pada orang disekitarnya yang diam dan malah sibuk merekam.


"Gila! Gak punya hati!" Marah Tea saat tidak ada yang menanggapi, bahkan tidak ada raut kasihan dari mereka.


"Dek mending pergi, udah malem. Mending pulang cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi terus tidur," kata seorang lelaki.


Tea tidak menanggapi, dengan nekat Tea mendekati kerumunan orang yang sedang mengeroyok seorang kakek-kakek. Dengan kekuatannya Tea menarik mundur seorang pemuda yang ikut mengeroyok.


Tea menendang area sensitif pemuda itu. "Berhenti," teriaknya marah dengan bibir mencebik.


"Awsh," pemuda tadi jatuh dan langsung memegang asetnya yang terasa sangat sakit.


"Anak kecil mending pergi!" Satu orang menyentak pundak Tea dengan kasar, berniat menjatuhkan Tea. Tapi gagal. Tea hanya sedikit terdorong ke belakang.


Tea memicing, menyusuri wajah orang-orang keji yang mengeroyok seorang kakek malang.


"Emang kakek ini curi apa sih? Berapa?" Tanya Tea. Bibirnya tertarik ke samping, pundaknya ikut bergerak. Meremehkan orang-orang disekitarnya.


Tea menarik kasar kerah orang yang tadi mendorongnya. Tangannya bergerak menonjok bagian hidung dengan gerakan mulus.


Tea tersenyum mendengar ringisan dan darah yang mulai mengalir dari lubang hidungnya. "Sakit? Coba bayangin kalau kamu jadi kakek ini yang dikeroyok ramai-ramai!"


"Manusia kok gak punya hati. Di negara ini ada polisi, terus apa gunanya polisi kalau kalian menghakimi pencuri secara sepihak." Omel Tea.


"Coba kalian yang cuma diam, malah ngerekam lagi. Emang hasil rekamannya mau dikemanain? Kalian YouTuber?"


"Bisa aja kalian saya laporkan satu-satu atas tindak kekerasan. Hei kamu! Kamu petugas Alfamart kan? Saya tanya, apa yang kakek ini curi?" Tanya Tea mengarah pada beberapa orang yang berdiri sambil memakai seragam kerja.


Mereka saling menatap. "Satu pack kayu putih," jawab salah satu petugas itu.


"Satu pack kayu putih?!" Ucap Tea tak percaya.


"Berapa?" Tanya Tea kesal.


"Apa?" Tanya petugas itu tak mengerti.


"Berapa harga satu pack kayu putih? 10 juta atau 100 juta," tanya Tea terkekeh miris.


Tea meraih tas di pinggangnya. Mengambil dompet dan meraih salah satu kartu debit hitam miliknya. Tanpa segan Tea melempar kartu itu tepat dimuka petugas Alfamart.


"Banyar curian kakek ini pakai kartu itu! Atau masih kurang? Perlu berapa kartu lagi?" Tanya Tea sarkas.


Tea melempar kembali beberapa kartu debit miliknya dengan emosi. "Udah beres kan?" Tanya Tea dan mendekat pada kakek yang dikeroyok. Kakek itu menangis ketakutan sambil menutup kepala dan wajahnya.


Tea berjongkok khawatir. "Kakek gak apa-apa kan?" Tanyanya.


"S-saya minta maaf. Saya mencuri ini untuk istri saya, dia sedang sakit. Tolong maafkan saya," ucap kakek itu masih tetap menangis.


Tea mencebikkan bibirnya ke bawah, matanya berkaca-kaca. Terharu dengan alasan kakek ini yang mencuri. Banyak orang di dunia ini yang tidak mempunyai uang, bahkan harus mencuri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Banyak orang yang masih kurang bersyukur dan mengeluh dengan hidupnya tanpa membayangkan orang-orang yang berada dibawahnya. Orang-orang yang menjalani hidupnya sangat sulit.


Handphonenya tiba-tiba berdering. Tea mengangkat panggilan dari Ken.


"Tea," suara serak Ken langsung terdengar lewat pendengarannya.


Tea bergerak sedikit. "Iy—" ucapannya terhenti saat melihat Ken yang berada di samping sepeda miliknya.


"Ken?" Tanyanya tak percaya.


Saat Tea berdiri. Beberapa orang di belakang Ken bergerak membubarkan orang yang tadi menonton tindakan bar-bar Tea. Bahkan orang suruhan Ken tak segan menahan warga yang ikut terlibat memukuli kakek pencuri kayu putih.


Tut


Sambungan terputus. Ken mendekat pada Tea. Beberapa pelaku pengeroyokan memberontak minta dilepaskan. Bodyguard Ken tetap menahan mereka.


Mobil polisi dan ambulans menyusul datang. Salah satu bodyguard Ken langsung bergerak mengarahkan polisi untuk menahan warga yang melakukan pengeroyokan. Sedangkan kakek tadi langsung diangkat ke brankar dan dibawa ke mobil ambulans.


Tea menggeleng takjub dan bertepuk tangan ria. Ken memang selalu hebat dan diandalkan.


"Ayo pulang," ajak Ken menarik tangan Tea.


"Sebentar. Haus, pengen beli minum dulu," Tea menarik tangan Ken menuju pintu Alfamart.


Tea tiba-tiba berhenti. Menatap Ken dengan mulut menganga seakan teringat sesuatu.


"Ken! Kartu debit Tea gimana?" Seru Tea panik.


Ken mengangkat alisnya geli. " Bukannya tadi dilempar?" Tanya Ken.


"Ken… cari! nanti Tea hidup pake apa?" Tanya Tea lebay dengan wajah memelas.


"Tuh," tunjuk Ken ke belakang.


Tea menoleh. Seorang bodyguard menyodorkan beberapa kartu debit Tea. Tea mendesah lega, menyimpan kembali kartu debitnya ke dompet.


"Ken terbaik," puji Tea tersenyum lebar, tak segan memeluk badan Ken dengan erat.