ALTEA

ALTEA
Dekat



"Kakak punya akun Twitter?" tanya Téa pada Ken yang duduk di sampingnya.


Mereka saat ini sedang berada di restoran bersama seluruh anggota ekstrakurikuler Beladiri. Ini merupakan acara makan bersama dengan tujuan untuk lebih mengenal dan dekat satu sama lain sebagai sesama anggota Beladiri.


"Punya, kenapa?" balas Ken sambil balik bertanya.


"Aku baru kemarin instal aplikasi twitter terus langsung buat akun. Kata Ana, main twitter seruu. Tapi aku coba main gak ngerti," cerita Téa sambil makan.


Semakin hari Téa dan Ken semakin dekat. Kedekatan mereka berdua terkait dengan betapa seringnya bertemu dan berinteraksi. Entah itu saat kumpulan ekstrakurikuler Beladiri, saat istirahat di kantin, saat berpapasan di lorong kelas IPS, atau bahkan saat di parkiran sekolah, mau itu ketika datang atau pulang sekolah.


Ken yang pada dasarnya pendiam, acuh, susah bergaul dengan orang baru saat ini dekat dengan Téa dan bahkan tak ragu untuk berlaku perhatian.


"Hm, gak seseru itu, kadang main twitter itu bahaya," ungkap Ken sambil menaruh kulit ayam miliknya ke piring Téa


"Bahaya? bahaya apanya?" tanya Téa tak mengerti maksud perkataan Ken.


"Kalau di twitter, banyak orang gak bisa ngendaliin ketikannya, bener-bener lepas dan gak ada beban buat keluarin kata-kata hinaan, ejekan, rasis, ceritain aibnya, kata-kata vulgar dan sejenisnya," jelas Ken.


"Gak baik kalau lo orangnya mudah terbawa arus buruk dan gak bisa ngefilter baik dan buruknya suatu hal," tambah Ken.


"Aku gak mudah terpengaruh lho," pungkas Téa.


"Iya," balas Ken.


"Makan," tegur Ken.


"Oke-oke." Téa memasukkan kulit ayam bersama nasi yang ada di piring ke mulutnya.


"Yummy," seru Téa menyukai rasa kulit ayam yang dimakannya. Ken mengambil timun yang ditelantarkan oleh Téa di piringnya dan memakannya.


"Duh itu dua anak … Udah berbagi makan aja, kapan jadiannya," decak Alex yang duduk di hadapan Ken dan Téa.


"Bisa jadi mereka udah official, cuma diem-diem, gak kasih tau orang," timpal Felix di samping Alex.


Alex melotot, "Nah, bisa jadi," berangnya dengan suara pelan.


Téa menyodorkan daging ayam ke hadapan Ken. Ken mendekat dan memasukkan ayam yang dipegang Téa ke mulutnya.


"Enak," ucap Ken sambil mengunyah ayam di mulutnya. Téa mengangguk dan kembali fokus makan.


"Kalian berdua!" Daren memanggil Ken dan Téa. Saat Ken dan Téa menoleh bersamaan, cahaya blitz langsung mengarah kepada mereka, disusul dengan suara kamera 'ckrek'.


Daren melihat hasil fotonya, "Cakep juga," ucapnya kemudian mencetaknya. Hasil potretnya langsung diberikan kepada Ken.


"Coba liat," pinta Téa langsung mendekat kepada Ken yang juga tengah melihat hasil jepretan Daren.


Ken menunjukkannya, "Bagus," tilainya. Téa mengangguk dan Ken langsung memasukan foto itu ke dalam saku celana miliknya.


Téa bangkit dari kursi, "Aku udah makannya, mau cuci tangan," beritahu Téa pada Ken.


Ken ikut bangkit dari duduknya. Mereka berjalan bersama menuju tempat cuci tangan.


"Sini." Téa menuangkan sabun cuci tangan ke tangan Ken.


Ken menggosok kedua tangannya lalu mengelap tangannya dengan tisu yang ada di samping wastafel.


Kemudian dia membantu menggulung lengan baju Téa agar tidak terkena air. Téa sedang sibuk mencuci tangan dan membasuh mukanya.


Kén menyusuri badan Téa. Kemudian menarik turun dress Téa yang tersingkap. Téa terperanjat oleh tindakan Ken.


"KEN," seru Téa kaget, matanya melotot lucu, ekspresi wajahnya menunjukkan keadaannya yang shock.


Ken merapikan dress Tea di bagian pinggul, paha dan pantat.


"Kesingkap Téa …" jelas Ken dengan suara rendah.


"Udah, jangan main air," tukas Ken, mematikan air keran wastafel dan menarik Téa untuk kembali.


"Siapa yang main air ih?" sanggah Téa sambil mengerutkan hidungnya.


"Gak ada," balas Ken dengan asal.


"Sebel," gerutu Téa.


...…...


"Gaya formal dulu." Albert berseru meminta semua anggota Beladiri untuk jangan berpose bebas.


"Ayo lagi, sekarang baru pose bebas," ucap Albert.


Setelah acara makan bersama, seluruh anggota ekstrakurikuler Beladiri foto bersama di depan restoran tempat mereka makan.


Ken merapikan rambut Téa yang beterbangan karena angin yang sedikit kencang.


"Sweater lo ditinggalin di mobil," papar Ken sambil dengan perhatian merapikan rambut Téa kemudian merangkul bahunya.


"Iya, sweaternya di mobil, kalau dipake kan jadi gak keliatan dressnya," jelas Téa, teringat saat tadi mereka berdua berangkat bersama kesini, Ken menyuruhnya untuk memakai sweater. Téa memakainya saat berangkat tapi waktu sampai dia melepasnya.


...…...


"Pake lagi sweaternya," ucap Ken sambil memasang seatbelt.


"Iya bentar." Ken sibuk memasukkan lengan sweater ke lengannya.


"Gak mau beli apa-apa?" tanya Ken memastikan sambil menyetir mobil. Ken mengantar Téa pulang setelah acara ekstrakurikuler Beladiri selesai.


"Pengen bubur ketan, biasanya ada di pinggir jalan yang jual," ungkap Téa.


"Oke."


Tangan kiri Ken bergerak mengecilkan ac di mobil. "Tidur dulu aja, masih jauh ke apartemennya. Coba baringin kursinya," saran Ken.


Téa menurut, memang dasarnya dia sudah mengantuk. Jadi, lebih baik memanfaatkan waktu dengan tidur dibanding melihat kendaraan lalu-lalang.


...…...


Ken menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Melihat Téa yang masih tidur dia langsung keluar menuju gerobak yang menjual bubur kacang sekaligus bubur ketan.


"Pak, beli dua ya, satu bubur kacang yang satu lagi bubur ketan," ucap Ken.


"Siap," respon penjual bubur kacang tersebut.


Beberapa saat kemudian, Ken masuk ke mobil dan menaruh kresek yang berisi bubur kacang dan bubur ketan di dasbor mobil.


Ken menguyel pipi Téa yang chubby. "Eungh." Téa melenguh dalam tidurnya dan menyingkirkan tangan Ken yang mengganggu. Dia berbalik membelakangi Ken.


Baru melajukan mobil, Téa terbangun dan mengusap matanya. Wajahnya masih linglung. Setelah mendapatkan kesadarannya, dia melihat kresek di dasbor. 


Téa membuka kresek itu, "Wah, udah ada bubur ketannya," sanjung Téa dengan bahagia.


Ken mengulurkan tangan dan mengusap wajah Téa.


Téa protes, "Ihh kamu," decak Téa kesal.


"Di belakang kayaknya ada tempat makan," beritahu Ken.


Téa langsung berbalik dan mencari tempat makan yang dimaksud Ken. "Yang ini?" tanya Téa sambil menunjukan tempat makan berwarna putih.


"Iya yang itu," jawab Ken yang menoleh sekilas ke arah Téa.


Téa berbalik dan duduk kembali di kursi yang masih dibaringkan. Setelah memasukkan bubur ketan ke wadah. Dia fokus makan sambil bersenandung.


Téa bahkan tidak ragu untuk menyuapi Ken yang menyetir.


Ken mengantar pulang Téa sampai di depan pintu apartemen miliknya.


"Makasih Kak," ucap Téa dengan memasang senyum paling indah yang dimilikinya.


"Ya," balas Ken singkat. Tangannya menurup bibir Téa yang terus menerus tersenyum.


"Apa sih, gak boleh gitu lho Ken," protes Téa cemberut.


Satu hal yang perlu kalian ketahui, Téa sangat random memanggil Ken. Terkadang menggunakan Kak, Kakak, Ken, bahkan Kamu.


.........


Ken baru selesai mandi. Dia sibuk mengeringkan rambut dengan handuk. Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan masuk kembali ke kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi, dia memegang foto polaroid yang berisi potret dirinya dan Téa.


"Cantik," puji Ken sambil tersenyum saat melihat foto Téa.


Ken memasukkan polaroid itu ke dompet miliknya.