
Untuk kasus ini, Ken segera melapor ke BK. Tapi, entah kenapa berita itu cepat menyebar dari kelas ke kelas. Suasana sekolah menjadi ricuh. Bahkan, beberapa siswa perempuan sudah ada yang memprotes dan menangis malu.
"Untung gue gak pernah ke toilet di sekolah." Aryn mendekat ke telinga Téa dan berbisik lirih.
Téa menoleh sedikit, "Kamu kan kalau ganti baju di kelas terus gak pernah kebelet di sekolah."
Aryn melotot, "Nah, apa kan gue bilang, harusnya dari kemaren lo ganti baju di kelas, mojok tuh di sana," tunjuk nya ke arah pojok kelas.
"Kamu kan bisa ganti bajunya gitu, aku gak bisa. Lagian dulu aku pikir, lebih safety di toilet. Mana kamu kalau mau ganti baju ngusir semua cowok keluar lagi." Téa menghela napas. Aryn nyengir.
"Yang pertama kali nemu itu SSTV siapa ya? eh, lo kan ganti baju di sana berarti tubuh lo ke ekspos dong, kok bisa sih masih tenang begini?! mereka udah pada nangis histeris tuh," tunjuk Téa ke arah teman-teman perempuan sekelasnya yang berkumpul sambil menggosip tentang berita ini.
Téa berbisik di telinga Aryn, "Aku kan yang nemu kamera CCTV itu."
"WTF! Anj-- kok bisa?!" Aryn bangkit dan menjerit.
Téa menarik lengan Aryn agar duduk kembali, "Shutt … jangan sampai orang lain tau."
"Jelasin!" Aryn menggoyang-goyangkan bahu Téa, memaksa agar cepat bercerita.
"Tadi kan selesai olahraga ganti seragam, cuma waktu pakai kemeja putih di pojok atas dinding ada benjolan putih. Iseng aja di sentuh, ternyata itu kamera CCTV, ukurannya kecil banget," jelas Téa.
"Kebetulan di luar ada Kak Ken sekalian minta tolong," lanjutnya.
"Jadi, lo berduaan di toilet bareng Ken?" Téa melotot lucu menanggapi ceplosan Aryn. Tangannya memukul pelan lengan Aryn.
"Bercanda!" Aryn menghentikan tangan Téa yang terus memukulnya.
...…...
Drrttt
Aryn yang sedang mengunyah makanannya segera berhenti. "Hp lo bunyi," ucapnya memberitahu.
Téa menatap layar handphonenya. Keningnya mengerut saat melihat nama si penelepon.
"Halo."
"Ke ruang BK sekarang!"
"Mau apa?"
"Sekarang!" Tut …
"Siapa?" tanya Aryn dengan mata menyipit.
"Kak Ken."
"Apa katanya?" tanya Aryn dengan kepo.
"Di suruh ke BK," beritahu Téa
"Wah, fiks lo bakal di interogasi soal CCTV di toilet itu, lo kan terlibat bareng si Ken," tukas Aryn dengan jari telunjuk yang terus bergerak mengarah pada Téa.
"Aku kesana sekarang ya," pamit Téa dan berdiri. Aryn mengangguk sambil menggerakkan dagunya tanda agar segera pergi.
"Gak usah gugup," seru Aryn saat Téa beranjak pergi.
Téa menoleh ke belakang. Bibirnya merapat. "Siapa yang gugup?!" geram Téa gemas dan berbalik pergi dengan langkah cepat.
...…...
"Kamu yang pertama kali menemukan CCTV itu?" tanya Bu Meta.
Téa mengangguk mantap.
"Bagaimana kamu bisa menemukan CCTV yang berukuran sangat kecil di toilet?"
"Waktu saya ganti baju selesai olahraga saya tidak sengaja menemukan benjolan kecil di dinding atas bagian pojok. Karena penasaran saya coba naik kloset dan menyentuhnya. Awalnya, saya mengira itu bagian dinding yang tidak rata, ternyata itu CCTV yang berukuran sangat kecil dibalut double tip dan lem," jelas Téa yang berusaha menjelaskan sedetail mungkin.
Di sampingnya Ken mengangguk luas dengan jawaban Téa. Sama seperti yang dia katakan padanya.
"Baik, bukti sudah ada, saksi juga sudah ada, kasus ini nanti pihak sekolah yang akan menindaklanjuti, kami akan mencari tahu siapa yang berani memasang CCTV di toilet."
"Tunggu sebentar. Téa, saya ingin tanya, kamu yang menyebarluaskan berita tentang masalah ini? Karena berita sudah tersebar luas, keadaan menjadi kacau."
Téa menggelang tegas. Kepalanya menoleh pada Ken yang juga sedang menatapnya. Téa menggeleng berulang kali menyatakan bahwa dia sama sekali tidak menyebarluaskan berita tentang penemuan CCTV di toilet perempuan.
Bu Meta mengangguk, "Baik, masalah ini saya minta tolong agar kamu bisa mencari tahu siapa yang menyebarkan. Kalau bukan kalian berdua, berarti kemungkinan ada orang yang melihat kalian saat membongkar CCTV di toilet," jelasnya dan meminta Ken agar segera mencari tahu siapa yang menyebarkan. Ken hanya mengangguk menyanggupi.
"Ya sudah, kalian boleh kembali ke kelas."
Ken dan Téa berjalan keluar dari ruangan BK. Saat Téa akan memisahkan diri dengan Ken dan menuju kelasnya. Tangannya ditahan Ken.
"Ikut gue!" tekan Ken tak menerima bantahan.
Alis Téa mengerut dan menarik sudut bibirnya ke samping kanan. "Kenapa harus ikut kamu?" tanyanya heran.
Tanpa banyak bicara, Ken menyeret Téa untuk mengikuti langkahnya. Sedangkan Téa di belakang hanya bisa pasrah mengikuti dengan langkah terseok-seok, protesnya sama sekali tidak di tanggapi oleh Ken.
Ternyata Ken membawa Téa ke ruangan ekstrakurikuler Bela diri. Teman-teman Ken juga sedang mengumpul di sana, termasuk Elzaky.
"Kenapa?" tanya Téa.
"Ck." Ken memainkan hpnya sebentar lalu langsung menunjukkan layar hp nya tepat di depan Téa.
Téa menyipitkan matanya, tangannya meraih handphone Ken. Setelah melihat apa yang ditunjukkan Ken, matanya membola kaget.
Sebuah postingan Instagram yang memperlihatkan Ken dan Téa sedang bersama di toilet perempuan. Téa sedang memakai roknya dan Ken yang membelakangi Téa dengan tangan bersedekap.
Postingan itu diposting pada saat Ken memanggil Téa ke ruang BK.
Caption-nya 'Mereka bersama di toilet. Hoho Apakah mereka baru saja melakukan sesuatu di toilet? Ada hubungan khusus yang disembunyikan?'
Téa menggelengkan kepala dengan panik. Dia juga melihat komentar yang ada di postingan itu.
'Yah, mungkin Ken tergoda dengan kecantikan Téa'.
'Cewek ******, terlalu murahan'
'Dia menggoda Ken dengan kecantikannya, menjijikkan'
'Astaga, Ken gue ternodai, dasar cewek murahan😡'
Ken merebut ponselnya yang berada di tangan Téa. "Baru tau?" desis Ken.
Téa mengangguk dengan gelagapan. "Kak, cepet sanggah, jelasin yang sebenarnya, semua orang udah salah paham," cetus Téa dengan mata bersinar menatap Ken yang jauh lebih tinggi darinya.
"Maksudnya 'jelasin yang sebenernya' itu yang gimana hm?" tukas Ken geram.
"Eum, itu … kamu jelasin kalau itu salah paham dan kamu cuma bantu jaga aku waktu ganti rok, kamu juga jelasin kalau waktu aku pake rok tetep pake celana panjang," papar Téa.
"Lo waras?! Bukannya penjelasan itu bakal bikin orang tambah salah paham? Maksudnya, gue itu punya hubungan sama lo sampe bahkan lo ganti baju aja gue jagain?!" sarkas Ken.
"Aduh … terus harus gimana?!" balas Téa dengan berseru keras.
"Lo sengaja kan?! waktu itu minta gue jagain lo ganti baju supaya orang suruhan lo bisa foto kita berdua dan di sebar luas," fitnah Ken.
"Mana ada, ngapain aku buat skenario aneh begitu, manfaatnya apa? kalaupun iya, motif aku ngelakuin itu apa?" seru Téa dengan ekspresi sebal.
Téa memalingkan wajahnya dan bergumam kecil, "Sok ganteng, sok terkenal!" cibirnya.
Ken memandang tajam Téa, "Bilang apa?!"
"Nggak!" sahut Téa dengan gelagapan.
Teman-teman Ken hanya menyimak perseteruan Ken dan Téa.
Téa menunduk dan berpikir keras bagaimana solusi menyelesaikan masalah ini.
"Admin akun yang posting foto itu siapa?" tanya Téa sambil mendongak.
"Cari tau, terus suruh hapus postingan itu sambil klarifikasi pake kata-kata yang gak buat orang lain tambah salah paham, kalau dia gak mau hapus postingannya, ancam aja sekalian, kalian—termasuk Kak Ken lebih dari mampu buat ngelakuin itu, secara ini kan cuma masalah sepele, gunain kekuasaan kalian," ceplos Téa dengan ekspresi sebal kemudian mengambil langkah kabur saat Ken susah siap membantah.
"Kece banget ini cewek," puji Felix sambil bertepuk tangan.
Tangannya langsung berhenti dengan kaku saat semua mata sahabatnya memandang dirinya dengan tajam.
"Bercanda."
"Ya udah, lakuin yang dia ucapin," tukas Zaky sambil mengangkat bahunya acuh.