ALTEA

ALTEA
#15# Tea sakit



“Ayo kamu minum dulu obatnya” ucap Ken saat salah satu bodyguard menyerahkan obat pesanannya.


“di redus dulu” ucap Tea mengingatkan Ken bahwa dirinya sampai saat ini masih belum bisa meminum obat dalam bentuk pil, harus dihancurkan dan dilarutkan terlebih dulu dengan air barulah dia bisa meminum obatnya.


Rasanya memang menjadi sangat pahit, maka dari itu ketika akan meminum obat, harus ada cemilan sehat manis yang bisa menyamarkan rasa pahit di mulutnya akibat obat.


“Sebentar” Ken beranjak menuju dapur dan mengambil sendok, dia mulai menghancurkan obatnya lalu mencampurkan sedikit air.


“gua siapin air hangat di gelas” ucap Aryn yang membantu menyiapkan Air untuk diminum Tea. Ana juga mulai menyiapkan cemilan manis.


Setelah semua persiapan selesai, Ken kembali dengan nampan berisi segelas air hangat, cemilan lalu sendok yang berisi obat yang sudah hancur dan larut dengan air.


“Ayo minum” ucap Ken mengarahkan sendok berisi obat yang telah larut ke depan mulut Tea.


“Sebentar” ucap Tea yang menggenggam erat gelas. Lalu, mulutnya bergerak melahap obat di sendok, tangannya bergerak cepat mengarahkan gelas ke bibirnya.


“Hah... Pahit” keluhnya menjulurkan lidah. Ken menyuapi camilan pada Tea agar rasa pahitnya segera hilang.


Setelah selesai meminum obat, Tea berbaring di pangkuan Ken, “Tea” lirih Ken melihat Tea yang terpejam di pangkuannya, tangannya tidak berhenti mengusap kening Tea agar terlelap dan berharap dapat mengurangi rasa pusingnya.


Setelah beberapa saat, akhirnya kerutan-kerutan di dahi Tea mulai hilang, nafasnya juga mulai teratur. Ken menghela nafas lega dan secara perlahan mulai memindahkan kepala Tea pada bantal empuk di sampingnya.


Tea terlihat mengerut dan mengeluarkan gumaman lirih. Ken panik melihat Tea terganggu dalam tidurnya, langsung saja dirinya berjongkok kembali di samping ranjang dan mengusap-usap kepala Tea untuk menenangkannya.


“Shut...” gumamnya


Setelah Tea benar-benar lelap, Ken beranjak keluar kamar. Ternyata, di luar semuanya telah berkumpul di sofa menunggunya.


“gimana keadaannya?” Tanya Ana langsung dengan cemas.


“Tidur” jawab Ken sedikit melenceng.


“Kita pulang jam 3 pagi kalian semuanya mending tidur” lanjutnya.


“Oke” ucap Ana dan tanpa basa-basi dia pergi menuju kamarnya untuk menyiapkan barang-barangnya lalu segera tidur agar nanti bisa bangun dengan cepat, semuanya mengikuti Ana untuk bersiap.


..........


“Yah, akhirnya liburan singkat di Bogor berakhir” Ana menghela nafas.


Saat ini mereka sudah berada diperjalanan pulang ke Jakarta, Tea pun terlihat duduk tenang di belakang bersama dengan Ken, badannya diselimuti selimut tipis beludru berwarna biru muda.


“badan gua pada sakit semua, pengen cepet sampe terus tidur” keluh Aryn


“Gue juga” setuju Ana.


“sekolah udah beres direnovasi jadi besok kita sekolah” ucap Daren yang baru mendapatkan kabar dari papanya.


“gue udah kangen Elin, 2 hari gue lupa nggak ngajak VC” cerita Alex.


“derita Lo” ejek Ana.


“Wah ngamok dong kak Elin” ucap Aryn.


“enggak lah dia kan pacar paling pengertian, gak kaya Lo semua” ejek Alex.


“berisik woi, gue pengen tidur dengan tenang” keluh Felix dengan nada meninggi, matanya tetap tertutup fokus ingin tertidur.


Dibagian belakang, Ken menghiraukan semuanya dan fokus mengusap kening Tea, walaupun sudah dilarang Tea, dirinya tetap bersikeras memijat pelan kening dan pelipis Tea.


“Ayolah, Ken... Gak usah... Lepas” keluh Tea, entah sudah berapa Lama Ken memijit kepalanya. Pasti tangannya pegal, tapi ucapannya tetap dihiraukan.


“Astaga” tiba-tiba Ana yang tadi asik bermain hp memekik kaget.


“dasar” keluh Felix yang tadinya mulai terlelap kini mengusap dadanya karena kaget dengan suara Ana.


“maksudnya apa ini miskah?” Ana berucap heboh, matanya tetap terfokus pada hp.


“apa sih lu, heboh banget” gedeuk Aryn.


“Lol, masa kita sekolah di jaga bodyguard? Risih banget coba!” ucap Ana menyerahkan hpnya pada Aryn yang sedari tadi digenggam erat.


Semuanya mendekat pada Aryn untuk melihat apa yang membuat Ana kesal, termasuk Tea yang membiarkan selimut mehongnya tergeletak di bawah menutupi sandalnya.


“Ini gak bener” nyolot Aryn.


masing-masing dari mereka akan diikuti bodyguard selama disekolah atau bahkan ketika bepergian, itu adalah keputusan mutlak dari kesepakatan semua orang tua mereka.


“Gue gak mau, kaya bocil aja dijagain bodyguard segala” ucap Felix yang merinding membayangkan dirinya yang diikuti terus-menerus oleh seorang bodyguard pria berseragam hitam dan berbadan besar nan tinggi.


“mungkin aja ini karena berhubungan dengan kasus kemarin, kayanya orangtua kita tahu sesuatu dan bisa buat kita dalam bahaya, bahkan mereka aja sampai renggut kebebasan kita, sampai-sampai siapin bodyguard” Tea membuka suara dengan pelan.


“Tapi ini keterlaluan, kalo kalian bertiga itu masih wajar, tapi untuk kita? Kita laki, mana mau pake bodyguard sedangkan kita bisa jaga diri sendiri” ucap Dareen kesal yang disetujui Felix.


“malu gue, kalo gue jalan terus di belakang ada bodyguard yang terus ngintilin gue, cupu itu” Kesal Alex, memang menurutnya perintah orangtuanya sama saja dengan meremehkan dirinya, jelas! egonya terluka.


“Lo gimana Ken?” Tanya Dareen, yang ditanya terlihat mengerutkan kening.


“Gue gak suka dan gak setuju” ucap Ken, membuat yang lainnya menghela nafas lega. Selama Ken punya pendapat yang sama dengan mereka, keputusan para orangtua mereka masih bisa dibantah.


“syukurlah” gumam Aryn.


Berbeda dari yang lainnya, Tea termenung teringat akan janjinya pada grandma Cia yang ada di Korea Selatan.


“Ah sudahlah” batinnya.


..........


“Pak, Jangan sampai ada yang ketinggalan barang-barang saya ya!” peringatnya pada bodyguard yang diutus dari mansion-nya.


Semuanya telah sampai di mansion Ken, dari kediaman mereka masing-masing sudah ada bodyguard yang diutus untuk menjemput pulang.


“gua langsung pulang, pengen rebahan” lanjutnya pada teman-temannya yang lain.


“hati-hati” peringat Ana.


“Ya” ucap singkat Aryn, sebelum pulang dia memeluk Daren singkat lalu berlari masuk ke mobilnya.


“huuuu” Felix terlihat sebal dengan semua temannya yang bermesraan.


“Yaudahlah Yo semuanya balik” lanjutnya.


“kamu di sini sebentar ya?” bujuk Ken pada Tea yang dibalas gelengan.


“Nooo” tegasnya.


“Aku pulang ya, udah gak sakit kok” lanjutnya memeluk Ken, tangannya melingkari leher Ken.


Ken membalasnya dengan kecupan ringan di pipi, tak luput tersenyum tipis—terlihat tatapan tulus serta sayangnya pada Tea. Tangannya mengusap-usap pinggang Tea sebentar sebelum melepas pelukan.


“jaga kesehatan oke?” bisiknya di pipi setelah mengecup ringan tulang pipi Tea.


“Siap” jawab Tea yang tersenyum manis pada Ken.


..........


“Tea gak papa kan?” tanya Vita memeluk dan mengecup pipi Tea.


Tea, Ana dan Alex baru saja tiba di mansion. Sudah ada Vita, Exel dan El yang menunggu. Ternyata mereka sudah mendapat kabar bahwa Anemia Tea kambuh, tentunya mereka khawatir dengan keadaan Tea.


Pekerjaan Vita dan Exel di New York sudah selesai, jadi mereka pulang ke Jakarta.


“Tea gak papa, udah mendingan” jawab Tea tersenyum manis.


“Yaudah kamu langsung ke kamar, istirahat!” perintah Exel.


“Kalian juga!” lanjutnya pada Alex dan Ana. Ana terlihat sedang berpelukan mesra dengan El.


..........


Saat ini Tea berada di privat jet menuju Korea Selatan untuk menemui grandpa dan grandma-nya. Tetapi, ternyata kondisi tubuhnya belum membaik, sekarang saja dia sedang di infus karena kekurangan cairan di tubuh.


Kejadian sebelumnya


Setibanya Tea di kamar, dia langsung menelepon grandma Cia.


“Grandma, Tea mau kesana sekarang tapi gimana caranya Tea ijin ke mom and dad?” tanya Tea yang baru kepikiran akan masalah ini yang bisa menghambat rencananya pergi ke Korea Selatan.


“Grandma sudah menyiapkan privat jet di bandara pribadi, kamu pergi kesana biar grandma yang ijin pada orangtua mu” ujar grandma Cia.


“Ah tidak perlu, biar Tea yang ijin. Sekarang Tea mau siap-siap untuk ke bandara” jawab Tea dengan cepat.


“Baiklah, buat alasan yang masuk akal” peringat grandma Cia.


“Oke, Tea ingat” sahut Tea.


“kamu hubungi Calo, dia yang grandma suruh menyiapkan Privat jet disana”


“terimakasih grandma” sambungan tertutup.



“bisa gawat kalo grandma dan mom tahu aku nekat kesana” ucap Tea. Mengingat kondisinya sekarang, mana mungkin mereka mengijinkannya untuk bepergian, tapi yasudahlah—


“Oke ayo kita cepat-cepat bersiap Tea!” ucapnya pada diri sendiri.


Dengan cepat Tea mem-paking beberapa barang yang menurutnya akan diperlukannya nanti saat di Korea. Tak lupa, dia meninggalkan hpnya di bawah bantal dan mengeluarkan hp satunya lagi yang bisa dikatakan rahasia, tidak di ketahui oleh orang rumah di sini.


Tea menempelkan sticky not yang berupa ijinnya untuk pergi ke Korea Selatan, pada sandaran tempat tidur.


Tea juga menghubungi asisten grandpanya yaitu Calo yang ditugaskan untuk menyiapkan privat jet dan menunggunya di bandara pribadi.


“Semuanya selesai, ayo berangkat” ucapnya. Yang diam-diam kabur dari mansion.


..........


“paman disini ada dokter?” tanya Tea yang duduk di sofa privat jet.


“Kenapa nona?” tanya Calo


“Tea pengen di infus, ah sebentar! paman jangan kasih tahu siapapun” peringat Tea.


“nona sakit?” tanya Calo memastikan.


Tea bersandar di sofa, matanya terpejam mencoba mengurangi pusing yang menyerang kepalanya, badannya juga terasa mati rasa.


Merasa pertanyaannya tidak dijawab dan hanya dibalas cebikkan bibir dari Tea, Calo menghela nafas dan memainkan iPad-nya memanggil dokter.


Akhirnya Tea berakhir dengan di infus.