ALTEA

ALTEA
#24# Montero or I'm better?



Hari Rabu—


Karena sedang mengadakan perlombaan, Siswa MHS di perbolehkan menggunakan pakaian bebas ke sekolah. Tentunya, kesempatan itu tak di sia-siakan oleh semua orang, sedari pagi banyak siswa yang datang dengan berbagai style dan warna pakaian yang berbeda-beda—tentunya rata-rata pakaian yang di pakai branded semua, meskipun banyak lelaki hanya mengenakan kaos oblong.


Di kelas XI IPA-2—semuanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing, ada yang berlatih untuk perlombaan nanti, ada yang berbaring di lantai sambil memainkan handphone nya, dan tentunya banyak yang sedang bergosip ria.


“Mending pakai lagu yang mana?” Tea meminta pendapat pada Ken agar memilih salah satu lagu yang akan di pakai untuk dance nya nanti.


“antara yang Montero atau I’m better?” tanya Tea menunjukkan salah satu video orang yang dance menggunakan kedua lagu itu.


“Bentar, Montero Lil nas itu kan?” tanya Ana memastikan.


“Iya, itu lagu yang lagi terkenal kan? Rencananya mau milih salah satu di antara dua lagu itu” jawab Tea.


“Nah, udah Montero aja, candu banget tuh lagu apalagi kalau di pake dance cocok banget, anj*r Te mending udah itu aja” ucap Ana.


“iya enak lagunya emang cocok buat dance” ucap Tea setuju.


“Jadi gimana?” tanya Tea menoleh pada Ken.


“Coba denger dulu” Ken meminta untuk mendengarkan lagunya dulu.


Tea menekan tanda play pada video yang ada di layar iPad nya. “ini yang montero” ucapnya.


“anjir, suka gue nih lagu” ucap Ana bersikeras.


“Iya, tahu. Dari tadi Lo ngomong suka, candu nyenyenyee~” cibir Felix.


“Berisik, serah gue ah”


“coba yang ke dua” pinta Ken agar memutar video yang kedua.


“Iya, nah ini lagi I’m better, awalannya enak—ada patah-patahnya” Tea mulai memutar video kedua.


“wow, enak juga” puji Ana.


“Gak tahu awalnya itu liriknya gimana, tapi enak ‘row erow row row’, ada yang We’eee” Ana mencontohkan bagian lagu I’m better yang terdengar di telinganya.


“mana mungkin gitu bege, udah, gak bisa diem aja” ejek Alex menepuk jidat Ana.


“Sakit oy”


“Tahu, ah gue mau latihan dulu. Pokoknya fav gue tetep Montero, yang itu lirik kesannya horor anjir” Ana bangkit mengambil gitarnya yang di sandarkan pada dinding.


“lu udah tentuin lagunya?” Tanya Aryn.


“udah dong, yang it’s a beautiful night we’re looking for something dumb to do. HEY BEYBEE” Ana bernyanyi salah satu lirik lagu yang akan di pakai duet dengan Agus—partner lombanya.


“Heh, dia nyanyi lagu apa? firasat gue gak enak denger lagu yang ada lirik hey BEYBEE” tanya Alex menoleh pada teman-temannya.


“pernah denger, itu... Ken pernah nyanyi itu kan?” tanya Tea dengan ragu, menatap Ken dengan mata menyipit.


Ken menipiskan bibirnya sebelum menjawab, “Marry You—Bruno mars” jawabnya.


“mampus” sentak Alex mendengar judul lagu yang di sebutkan oleh Ken.


“mau mancing bang El tuh anak” lanjutnya membayangkan teman sekelasnya, Agus yang bernyanyi lalu di sampingnya ada Ana yang bermain gitar, tak lupa scene saling menatap terus diam-diam El lihat tunangannya nyanyi mesra bareng laki lain—wahhh sudah-sudah.


“Woi, bayangin apaan Lo?” sentak Daren menimpuk wajah Alex dengan buku.


“shtt sakit” Alex mengusap wajahnya yang terasa perih.


“jadinya mau dance lagu apa?” Ken bertanya dengan tangannya yang mengusap surai Tea dengan lembut.


“montero aja” putus Tea mengikuti saran Ana.


“boleh, asal jangan ada gerakan yang aneh-aneh” peringat Ken, takutnya Tea membuat gerakan yang arrggh, sudahlah susah di jelaskan pokoknya gerakan dance yang ada unsur menggoda. Ngerti kan?


“siap”


“pulang sekolah aku latihan, ikut?” tanya Ken mengingat sepulang sekolah dia dan teman sekelas lainnya yang sudah di tugaskan ikut pertandingan olahraga akan berlatih.


“Nggak, gak papa kan? Mau buat koreografi dance terus mommy juga bilang nanti pelatih panah datang ke mansion jadi nanti sore jadwalnya latihan panah buat tanding” ucap Tea meminta izin.


Ken mengangguk, “Hm, gak papa.”


.........


“Lo yakin mau pake lagu ini?” tanya Agus memastikan pada Ana bahwa memang benar lagu ini yang mereka pakai untuk lomba.


“iyalah, enakkan lagunya?” tanya Ana meminta pendapat.


“emang iya, tapi kok gue ragu ya?” ucap Agus karena jujur firasatnya tak enak.


“oke oke, langsung aja kita coba sekarang” ajak Agus yang mulai takut mood Ana anjlok.


Mereka berdua mulai berlatih terutama menyelaraskan nyanyian Agus dengan nada yang keluar dari gesekan jari Ana pada gitar.


“It’s a beautiful night, we’re looking for something dumb to do🎵


Hey baby, I think I wanna marry you🎵


Is it the look in your eyes or is it this dancing juice?🎵


Who cares, baby, I think I wanna marry you🎵


Well, I know this little chapel on the boulevard we can go🎵


No one will know, oh, come on girl🎵


Who cares if we’re trashed, got a pocket full of cash we can blow🎵


Shots of patron and it’s on, girl🎵


Don’t say no, no, no, no, no🎵


Just say yeah, yeah, yeah, yeah, yeah🎵


And we’ll go, go, go, go, go🎵


If you’re ready, like I’m ready🎵


‘Cause it’s a beautiful night, we’re looking for something dumb to do🎵


Hey baby, I think I wanna marry you🎵


Is it the look in your eyes or is it this dancing juice?🎵


Who cares, baby, I think I wanna marry you, oh🎵


I’ll go get a ring, let the choir…🎵”


“Wow, akhirnya” desah Ana menggerakkan jarinya yang terasa kaku dan kebas karena terus menerus memainkan gitar.


“beberapa kali latihan lagi juga udah cukup” ucap Agus mengingat hasil kinerja latihan mereka yang memuaskan.


“Baguslah”


.........


“Ken...” Tea menarik ujung kaos yang di pakai Ken.


Ken menoleh menghadap wajah cantik dengan mata yang berbinar menatapnya, “Kenapa?” tanya Ken dengan lembut.


“huhuhu, Ken pengen kalung kayak gini” pintanya manja.


“coba liat deh, bagus kan? Kalung couple, bentuk bulat sama bulan sabit terus kalo dua-duanya di deketin bisa nempel karena ada magnetnya, apalagi di tengahnya ada hiasan warna hitam kalo di deketin keliatan ada tulisan I LOVE YOU di dalamnya” jelas Tea memutar video kalung yang di dapat dari tiktok.



“Bagus kan?” tanya Tea mendongak menatap wajah Ken, beberapa kali matanya sengaja berkedip lucu—kali aja Ken luluh terus di beli in itu kalung.


“Bagus” Ken mengangguk setuju.


“Yess, nanti aku yang bulat, Ken yang bulan sabit” Tea mengepalkan kedua tangannya ke atas dengan bahagia.


“oke, tapi nanti”


“gak papa, yang penting harus punya kalung kayak gini, bagus banget”


“kalau bisa, rubah tulisan yang di dalem hiasan hitamnya ya, jadi yang bulan sabit I love You Tea, terus yang bulat I love You Ken” pintanya.


“Iya nanti di rubah”


“Bagus” Tea bergelayut manja pada dada Ken yang bidang.


“kalau udah jadi, harus di pakai tiap hari” ucap Tea.


“Hm”


“Jangan lama-lama” peringat Tea.


“Iya.. Tea nya Ken, tolong sabar ya” ucap Ken sambil tersenyum lembut.


“Ah, bilang apa tadi? Baperrr” pekik Tea loncat.