ALTEA

ALTEA
#6# Hangout



Karena lengan atas Tea yang terluka, Ken tanpa izin membawa Tea ke mansionnya sendiri.


Saat sampai, ternyata sudah ada dokter yang akan memeriksa keadaannya. Tea hanya bisa meringis dalam hati. Ken ternyata sangat khawatir padanya, disaat dia sendiri bahkan tidak terlalu memperdulikan kejadian tadi.


Setelah pemeriksaan, ternyata tidak ada cedera serius. Lengannya nanti mungkin akan membengkak dan membiru. Dokter memberinya salep tak lupa memperingati agar lengannya tidak banyak bergerak dulu.


Kejadian tadi membuat Ken tak membiarkan Tea untuk ikut hangout, sayangnya... atas paksaan Tea rencana hangout pun terlaksana. Mereka semua janjian untuk berkumpul dulu di mansion orangtua Ken.


Sedari tadi Tea mengabaikan Ken dan dengan acuh mengobrol ria dengan Raline dan william—kedua orang tua Ken.


“Jadi waktu kamu di korea homeschooling?” tanya Raline, ibu Ken. Mereka berdua juga mengetahui kejadian tadi, bahkan Raline sangat heboh ketika melihat Tea yang terluka. Namun, Ken sudah memperingati mereka berdua untuk tidak membicarakan atau menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan kejadian tadi.


“Iya tan, makanya Tea pindah ke sini biar bisa sekolah umum, disana Tea disuruh homeschooling sama grandpa,” jawab Tea tersenyum lebar.


“Kamu sering jadi model brand pakaian mommy kamu kan?” tanya Raline kembali dengan antusias yang di jawab anggukan oleh Tea.


“Iya, karena penasaran jadi Tea sering coba-coba jadi modelnya mommy.”


“Boleh dong sekali-kali jadi model perhiasan terbaru tante,” ucap Raline membujuk.


“Kamu kan terkenal terus banyak fansnya, kali aja perhiasan tante di borong sama fans kamu,” lanjutnya mengingat banyaknya fans Tea, mau yang ada di Korea Selatan ataupun di Indonesia.


“Boleh, nanti tinggal dibicarakan dengan manajer Tea aja tan,” sahut Tea menyetujui.


“Wahh oke-oke,” ujar Raline antusias.


“Ekhem.” secara bersamaan Ken dan William berdehem mengganggu obrolan kedua ladys dihadapan mereka.


Mendengar itu, Tea memelototi Ken dan Raline mencubit pinggang suaminya.


“Ganggu aja!” ucap mereka bersamaan membuat kedua lelaki berbeda umur itu langsung memasang wajah datar andalan mereka.


“HOLLA—TANTE RAL HOW ARE YOU?” suara Felix terdengar menggema di ruang tamu dan tampak Felix serta teman-temannya datang sambil menggeleng-gelengkan kepala.


William menatap tajam pada anak sahabatnya yang memang sering mengganggu istri tercintanya.


“Felix!” geram Raline, bergerak menjewer telinga Felix karena kebiasaan dia yang sedikit mengganggunya—berteriak heboh saat berkunjung dan mengejutkannya.


“Aw aw aduh sakit tan,” rintihnya yang di hiraukan, sampai William menarik sang istri ke pelukannya dengan possesif. Beranjak pergi tanpa pamit.


“HEI LEPAS!” terdengar teriakan Raline yang meminta sang suami untuk melepaskan dirinya.


Emang ya, dasar pasangan pasutri yang sudah berumur tapi romantisnya rasa pacaran—


“Let’s go hangout!” teriak Tea heboh.


mereka menggelengkan kepala heran melihat tingkah Tea dan beranjak keluar bersama.


.........


Hangout kali ini, Tea menggunakan outfit simple dengan celana jeans biru serta sweater turtleneck panjang berwarna abu yang menutupi leher.


Untuk Ken sendiri, hanya mengenakan kaos abu lengan pendek yang di bagian dada kirinya terdapat tulisan custom Ken serta celana jeans hitam. Mereka berdua tampak serasi. Cantik dan Tampan.


“Ken... kesana!” ajak Tea menyeret tangan Ken menuju salah satu store pakaian, entah store ke-berapa yang sudah mereka kunjungi.


“Hm.” Ken hanya mengikuti dari belakang dengan malas, sudah beberapa kali Tea memasuki store-store di sini namun ujung-ujungnya hanya keluar tanpa membeli satu pun barang.


kayak holang miskin aja Tea—


“Tunggu!” ucap Tea sembari mendudukkan Ken ke kursi yang ada di sana sedangkan Tea mulai menelusuri berbagai pakaian. Mencari sesuatu yang mungkin menarik perhatiannya.


“Nggak,”


“Yang ini lumayan tapi warnanya eum... gak jadi, gak jadi.”


“Ahh apa ya? HODDIE!” serunya teringat, lalu menelusuri jajaran hoddie dan mengambil sepasang hoddie berwarna putih.


Setelah itu dia menuju tempat Ken. “Udah ayo” ajaknya.


Ken menatap Tea dan barang yang dibawa di tangannya bergantian dengan datar. “Ayo,” ajaknya sambil menghembuskan nafas dan mengambil alih barang di tangan Tea. Menarik tangannya menuju kasir.


Tea yang paham gelagat Ken pun menahan bibirnya untuk tidak tersenyum geli.


“Maaf,” ucap Tea tanpa merasa bersalah, membuat Ken menatap Tea kesal.


Bagaimana tak kesal, dari tadi keliling tak membeli barang satu pun hanya membuang waktu dan tenaga, sekarang dengan cepat membeli tanpa pikir panjang, kenapa tidak dari awal seperti ini?


Mana cuma beli barang se-uprit lagi!!


Tea meringis melihat ekspresi Ken, dalam hatinya mengutuk usul jahil yang tiba-tiba muncul di otaknya. Karena dia tidak berniat membeli banyak barang. Kalaupun beli sesuatu yang sedang di inginkannya, dia tau store mana yang harus dikunjungi tanpa melihat lihat di store lain.


Jadi sebelum membeli barang yang di inginkan, Tea berniat menjahili Ken dengan menjelajahi satu persatu store yang ada di sekitarnya.


Akhirnya mereka melanjutkan shopping, membeli beberapa barang yang ingin dibeli Tea maupun Ken.


.........


Tepat pukul 19.00 WIB, mereka berkumpul di restoran tempat semuanya berjanjian untuk makan malam dan akan dilanjutkan menonton bioskop.


“Eh woi woi live ig dong,” ucap Ana.


“Pake hp siapa?” tanya Alex.


"Jangan gue," ucap Daren.


“Gua juga,” ucap Aryn menolak.


Ken menggelengkan kepala.


“Noo.” Tea menolak.


“Gue aja,” akhirnya Felix membuka suara menyetujui dan menyodorkan hpnya pada Ana.


“Thank you” ujar Ana tersenyum lebar.


“Ken... ice cream...” pinta Tea membujuk pada Ken yang dibalas senyum tipis serta anggukan dari sang pacar. Ken bergegas pergi memesan ice cream yang di inginkan Tea.


“Halah... si Daren juga pasti mau tuh jadi babu lo tinggal suruh-suruh aja,” celetuk Felix.


“Boro-boro,” ucap Aryn.


“Emang lo nyuruh gue?” tanya Daren pada Aryn.


“Paling nyuruh juga di tolak,” balas Aryn memutar bola matanya.


“Sok tau,” ejek Daren dan berlanjut suasana yang ramai dengan perdebatan mereka berdua.


Ya kapan sih Daren dan Aryn romantis, pacaran versi mereka memang beda. Anti-mainstream.


Ken akhirnya datang dengan ice cream stroberi dan langsung menyerahkannya pada Tea, yang langsung di sambut gembira olehnya.


“Kita nonton film horor aja oke?” tawar Aryn meminta persetujuan.


“Gak!” tolak Ana dan Felix bersamaan.


“Terus?” tanya Alex.


“Romance aja,” celetuk mereka bersamaan lagi. Jawaban dari Felix langsung membuat Daren dan Alex bergidik ngeri.


“Najis lo Lix” ucap Daren


.........


“Bentar, gue kebelet pengen ke toilet dulu.” Ana menghentikan teman-temannya yang ingin membeli tiket bioskop.


“Lo ke toilet aja, terus kalian duduk aja di sana. Gue yang beli tiketnya,” Felix menjawab dan mengatur semuanya.


“Oke,” ucap Ana.


“Aku temenin.” Tea langsung berjalan mendekati Ana.


“Gak!” sayangnya... Ken menghentikan dia dan menariknya mendekat, tangannya memegang erat tangan Tea.


Tea mungkin tidak paham, Ken sebenarnya tidak begitu menikmati hangout kali ini yang ada hanya gelisah dan khawatir jika ada seseorang yang mengikuti mereka yang berniat meneror atau bahkan mencelakai mereka kembali. Seperti sebelumnya.


“Pengen cuci muka, ngantuk,” Tea langsung membujuk Ken.


“Gua juga ikut,” Aryn langsung menyahut.


“Lu tenang aja, kita gak bakal kenapa-napa. Ya kan An?” tanya Aryn pada Ana, atas kode Daren Aryn mencoba membujuk Ken yang sedang dalam suasana buruk.


“Iya,” Ana yang mengerti langsung mengiyakan.


“Hm.” Ken melepaskan pegangannya di tangan Tea.


“Hati-hati” lanjutnya mengacak rambut Tea.


.........


“Tea, Ken dari tadi bad mood. Hari ini lu udah luka dua kali. Ken mungkin ngerasa gak becus jagain lu. Gua aja masih kesel soal teror batu itu. Maunya itu orang apa ya?” Tea, Ana, dan Aryn saat ini sedang mencuci muka bersama.


“Hah? Aku mana tau,” Tea berkata dengan polos.


“Eh, mereka niatnya pengen ngelempar batu ke siap—AKHH.” Aryn belum sempat menyelesaikan ucapannya karena terkejut dengan lemparan batu dari pintu masuk-keluar toilet wanita yang mengenai kaca di sampingnya.


Untungnya Ana yang dekat dengan Aryn dengan cepat menarik Aryn menjauh dari pecahan kaca yang berhamburan.


*Un*tungnya tidak ada yang terluka.


Mendengar keributan dari toilet, beberapa orang keluar dari kabin toilet dengan segera. Banyak orang di sekitar toilet berdatangan untuk melihat apa yang terjadi. Tea, Ana, dan Aryn segera beranjak keluar.


“HEI... Itu pelakunya bukan?” teriak seseorang, semua mengalihkan pandangan pada seseorang yang berlari cepat dengan pakaian serba hitam. Postur tubuh seorang lelaki.


Melihat pelaku pelempar batu yang memiliki perawakan seperti pelaku teror batu saat di parkiran sekolah. Tea, Ana, dan Aryn tidak bisa tidak saling memandang lalu dengan segera meninggalkan tempat kejadian dengan cepat.


Tanpa peduli apa yang selanjutnya di lakukan orang-orang yang ribut di belakang mereka. Mau lapor keamanan mall atau apapun itu. Yang penting sekarang adalah pergi menemui Ken dan yang lainnya.


.........


“Daren,” Aryn tidak tahan untuk tidak memanggil pacarnya saat sampai di dekat tempat mereka janjian sebelumnya.


Mendengar nada cemas dari Aryn, Daren langsung mengerutkan kening, dia tau betul karakter dari Aryn yang terbilang sedikit tomboy dan gengsi untuk bersikap seperti perempuan yang lemah lembut dan penakut yang hanya bergantung pada pasangannya.


Di belakang, Tea dan Ana mengikuti langkah Aryn dengan murung. Sama sekali tidak berniat menjelaskan. Ken yang dari tadi khawatir pun langsung menghampiri Tea dan menariknya dalam rangkulan.


Ana diam tak mau membuka suara, wajahnya rumit tampak berpikir keras. Akhirnya Aryn memilih menceritakan kejadian yang di alami mereka, termasuk pelaku yang terlihat persis sama dengan pelempar batu tadi siang di sekolah.


Alex dan Felix baru datang setelah memesan tiket bioskop, tapi melihat situasi yang berbeda dan suram, mereka merasa heran.


“Pulang!” tekan Ken dengan dingin, tak mau di bantah. Wajahnya suram dan suram.


Niat Felix untuk bertanya di urungkan melihat Ken yang suram dan dingin, lalu mereka pergi bersama untuk pulang tanpa ada yang membuka suara sedikitpun.


Disisi Tea, dia merasakan tangan besar yang semakin menggenggam erat tangan mungilnya. Tapi tak berniat membuka suara.


.........


“Cari tahu pelakunya segera,” ucap dingin Ken pada seseorang di sebrang telepon.


“.....”


“Ya, cepat.”


“.....”


“Bunuh mereka.”


“.....”


“Bagus,” ujarnya dingin dan mematikan sambungan telepon.