
“Ken.” Suara Alex yang masuk ke ruang kerja Ken diikuti oleh Daren dan Felix. Mereka berempat duduk di sofa tempat biasanya bermain game.
“Maksud ucapan lo waktu sore itu apa?” tanya Daren. Felix mengangguk setuju mempertanyakan hal yang sama.
“Coba tanya Alex, kenapa dia gak terkejut sama sekali?” tanya Ken tenang. Perhatian mereka teralih pada Alex yang terdiam.
Menghela nafas. “Gue gak tau pasti masalah ini,” ucapnya mengalah dan mengatakan kejujuran.
“Gak tau?” tanya Felix.
“Tunggu! Maksudnya lo udah tau Alex? Kalian berdua udah tau tentang masalah ini, tapi gak kasih tau kita? lo bilang kemarin pelaku teror batu belum ketemu kan? yang gue pikirin sekarang, jangan bilang kalau lo sebenarnya udah nangkap pelaku teror batu?” tanya Daren panjang lebar dan tak percaya.
“Dia udah mati,” balas Ken cepat.
“Stop. Coba jelasin yang bener! gue belum paham,” tukas Felix ngegas.
“Dari Zaman kakek kita semua... Kyler, Kendrik, Leonard, Maier, Smith, dan Maheswari udah berhubungan erat bukan? dan hubungan erat itu masih berlanjut sampai sekarang. Bahkan kita yang sama-sama keturunannya bersahabatan. 6 keluarga besar kita juga termasuk keluarga kaya, wajar kalau punya banyak musuh dan salah satunya mungkin bos dari pelaku teror-teror kemarin,” Jelas Alex.
“Cuma itu yang gue tau dari penjelasan uncle Ex. Menurut gue, ini bukan masalah sepele. Pelaku di balik layar emang bener-bener ngincar kita semua—pewaris dari 6 keluarga yang jadi musuhnya,” lanjutnya.
“Ha!” desah Daren gusar dan tak percaya.
“Lo tau? 17 tahun yang lalu? Kalian gak lupa kan, dengan penculikan anak dari keluarga Kendrik dan hilangnya kembaran Ana?” Alex mencoba meyakinkan semuanya.
“Jadi, dia juga pelakunya. Masih orang yang sama?” tanya Daren mulai paham.
“Sial. Gue gak paham kenapa mereka seserius itu untuk ngebunuh anak-anak dari keluarga kita?” tanya Felix merutuki pelaku.
“Sebuah dendam?” tebak Ken terselip senyum miring dari bibirnya.
“Kenapa lo bisa tau?” tanya Alex, tentunya dia bisa tahu hanya karena penjelasan dari uncle-nya, sedangkan Ken?
“Lo pikir gue gak peduli Tea?” tanya Ken yang terdengar seperti melenceng dari arah pembicaraan, namun yang pasti tatapan tajam Ken membuat Alex mengerutkan kening tak paham.
“Gue tahu!” Sahut Ken mendengus.
“Kecelakaan Tea waktu kecil sampai koma, trauma atau apapun itu yang ngerubah Tea, bahkan sampai pindah ke Korea Selatan. Hubungannya berkaitan dengan ini bukan?” tanya Ken lugas, tapi Alex langsung melotot tak percaya.
“Kita lihat! Leonard—kecelakaan Tea, Maier—hancurnya sekolah, Kyler—penculikan kembaran Ana, Kendrik—hilangnya anak perempuan satu satunya. Lalu apa lagi?” sambung Ken
“Astaga, kenapa gue kaya orang bolot yang gak tau apa-apa?” seru Felix.
“Bukan cuma lo, gue juga gak tau apa-apa. Belajar dari sekarang, peduli kejadian di sekitar kita,” dengus Daren.
.........
8 tahun yang lalu—
Ken kecil hari ini berkunjung ke mansion Tea. Niatnya Ken, ingin mengajak bermain setelah beberapa lama Tea yang mengurung diri dirumah. Ken tidak mengerti mengapa rasanya Tea berubah—menjadi tertutup, murung, pendiam bahkan seperti ketakutan. Mengurung diri bahkan enggan bertemu siapapun termasuk dirinya.
“Tea...” panggil Ken sambil membuka kamar Tea setelah izin pada Vita dan Exel. Setengah tubuhnya timbul dari balik pintu. Tea terlihat berbaring dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.
Ken mendekat dan beranjak menaiki kasur. Bergerak sedikit menyentuh tubuh Tea untuk memastikan dimana bagian kepala Tea. Tangannya menarik selimut yang menutupi tubuh Tea. Tea yang merasa terganggu menurunkan selimut dan terpampang wajah imut nan cantik yang terlihat memerah dan sembab.
Ken ikut berbaring di samping Tea dan memperhatikan dengan detail wajah cantik Tea. Mengusap bagian mata Tea yang sembab. Raut wajah Ken terlihat khawatir.
“Tea kenapa?” tanyanya pelan dan hanya dijawab gelengan oleh Tea, tanpa terdengar suara sedikit pun dari mulutnya. Ken yang melihat reaksinya langsung merasa tak senang.
“Mau main?!” ajak Ken tak mau ditolak. Tanpa menunggu jawaban Tea, Ken menarik tangan Tea agar duduk. Rambut Tea terlihat berantakan tapi kesannya sangat imut.
Ken beranjak turun dari kasur, lalu berjalan menuju meja rias Tea dan mengambil sisir. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Ken kembali dan segera menyisir rambut Tea dengan hati-hati. Tea masih tetap bungkam.
Setelah selesai mengepang dua rambut Tea. Ken mengajak Tea untuk bermain di taman kompleks elit mansion Tea, jaraknya lumayan dekat. Mereka diantar supir pribadi Ken dengan mobil hitam mewahnya.
Sesampainya di taman. Keduanya duduk di ayunan. Akhirnya sedikit demi sedikit, Tea mau di ajak untuk mengobrol. Walaupun Ken hanya mendapatkan jawaban pelan dan singkat.
“Ken...” panggil Tea pelan.
“Ken gak akan sakitin Tea kan?” tanya Tea dengan ragu. Tangannya saling menggenggam, memainkan rok jeans pendek yang dikenakannya. Terlihat cemas dan khawatir.
“Tea kenapa? Gak mungkin Ken sakitin Tea,” balas Ken yang terdengar sedikit tak terima akan pertanyaan aneh Tea yang tiba-tiba.
“Sebenarnya Tea kenapa sih? Kenapa diemin semua orang? Daddy dan mommy Tea khawatir. Ken juga khawatir tapi Ken nanya aja Tea gak pernah jawab.” Tea menunduk, tidak mau menjawab perkataan Ken. Yang pasti matanya sudah mengeluarkan air mata.
“Hiks... Hiks.” tentunya isakan dari Tea mengejutkan Ken. Rautnya yang marah langsung berubah khawatir. Ken bergerak menepuk-nepuk kepala Tea.
"Ken salah. Maafin Ken ya. Jangan nangis," bujuk Ken merasa bersalah memarahi Tea.
“Ken sayang Tea?” tanya Tea dengan berlinang air mata. Ken mengangguk cepat, tangannya mengusap pipi gembil Tea yang merah dan basah karena menangis.
“Tea takut. Tapi Tea bingung jelasinnya gimana Ken...” lanjutnya menangis sesegukan. Ken memeluk Tea erat.
“Kita pulang aja ya?” ajak Ken yang khawatir dengan keadaan Tea.
Mereka berjalan ke pinggir jalan. Ken menggenggam tangan Tea sambil mengeluarkan handphone, berniat menghubungi supirnya agar cepat menjemputnya.
Sayangnya, keadaan tak mendukung mereka. Tea melepas genggaman Ken dan berjalan menyebrang jalan. Ken terkejut, berusaha untuk menyusul Tea.
Ken menoleh ke kanan, matanya membulat melihat sebuah mobil yang melaju cepat ke Tea. Ken bergerak cepat meraih Tea untuk membawanya ke pinggir. Mobil itu cepat dan cepat. Menabrak mereka berdua.
Ken terlambat menyelamatkan Tea, dia ikut tertabrak bersama Tea.
“TEA...” teriaknya yang hampir menyentuh tangan Tea tapi mobil mendahuluinya dengan badan depan mobil yang menabrak mereka berdua.
Saat kejadian itu juga, beberapa orang yang berada di taman melihat. Sang supir yang ditelepon Ken datang tepat saat kejadian tabrakan tadi. Banyak anak-anak yang berteriak melihat kejadian yang cukup mengerikan. Jalanan dipenuhi darah mereka.
Sang supir kaget tapi sesegera mungkin bergerak cepat menolong mereka untuk segera di bawa ke rumah sakit, tak lupa mengabarkan kedua orang tua Ken dan Altea.
.........
“Bagaimana ini bisa terjadi?” bentak Exel di ruang tunggu UGD, tempat Tea dan Ken tengah di periksa.
Saat ini kedua orang tua Tea dan Ken, El dan grandpa dan grandma Tea juga berada di ruang tunggu. Menunggu dengan cemas.
“Mohon maaf, saya hanya melihat nona dan tuan kecil sudah tergeletak bersimpuh darah saat datang,” jawab supir keluarga Ken sambil menunduk sebagai permintaan maaf.
William—papa Ken mengusap wajah dengan kasar. Kejadian tak terduga hari ini tentunya membuat mereka sebagai sosok orangtua Ken sangat shock, terutama istrinya.
Saat ini pun Vita dan Raline masih tetap menangis.
“Kalian urus tempat kejadian, cari plat nomor pelaku. Jangan sampai tidak di temukan!” perintah William menggelegar.
Suara pintu yang terbuka dari ruang UGD langsung menarik perhatian mereka. “Bagaimana keadaan mereka?” tanya Vita mencoba mengontrol tangisannya.
“Nyonya, luka akibat kecelakaannya sedikit parah. Syukurnya tidak sampai koma, mungkin beberapa saat mereka akan sadar,” jelas sang dokter.
"Hanya ada sedikit masalah dengan keadaan pasien atas nama Altea. Trauma atau gangguan mental atas kejadian yang menurutnya mengerikan," lanjut sang dokter.
“Tea...?” tanya Exel dan Vita.
“Benar... Bukan fisik tapi gangguan mental berat yang di derita seorang anak kecil. Saya rasa ada hal yang sepertinya mengganggu mentalnya,” jelasnya menjabarkan keadaan Tea dengan teliti.
“Apa? Gangguan mental?” tanya Raline tak percaya. Vita terlihat linglung dan hampir jatuh.
“Baiklah dokter, tolong rawat mereka dengan baik, sisanya nanti kita bicarakan,” putus grandpa Tea—Sakti mardhika Leonard, sang istri juga ikut mengangguk setuju.
“Exel... Bawa istri kamu pulang, istirahat. Tea biar ibu yang jaga. Cepat!” Tukas sang grandma Tea—Glachia Leonard.
.........
Setelah kecelakaan itu terjadi, Ken menjadi murung dan tak mau menampakkan dirinya di depan Tea karena merasa tak bisa menjaganya dengan baik. Ken hanya mengatakan pada orangtuanya bahwa dia sedang membutuhkan waktu sendiri.
Setelah beberapa Minggu, Ken mulai mau menghubungi Tea. Sayangnya Ken langsung marah saat mendapat kabar, bahwa Tea ikut tinggal di Korea Selatan bersama grandpa dan grandma-nya. Ken mengamuk karena tidak ada yang memberitahunya. Tentunya dia juga marah pada Tea karena tidak izin dan pamit terlebih dulu padanya.
Ken tidak mau makan apapun selama dua hari. Mendiamkan papa dan mamanya. Terkadang menangis dan meraung menyebut nama Tea berulangkali. Suhu tubuhnya naik dan akhirnya papa Ken membawa Ken paksa untuk dirawat di Rumah sakit.
Orangtua Ken tidak pernah membahas tentang pelaku dari tabrak lari itu. Yang pasti, itu sudah diurus papanya.
Ken juga merasa menyesal karena belum sempat melepas rindu dengan Tea. Bahkan Tea tidak memberinya kabar setelah pindahan ke Korea. Entah apa alasannya yang pasti tak ada yang mau menjelaskan.
Setelah beberapa tahun, mereka berdua sempat beberapa kali berkomunikasi lewat Instagram ataupun telepon. Hubungan mereka saat itu menjadi canggung. Ingin sekali Ken meraung pada Tea, kenapa tidak ada kabar sama sekali dan baru menghubunginya setelah lewat beberapa tahun. Melakukan VC pun Tea tidak mau. Hanya mengatakan 'Sebenarnya Tea menggunakan HP grandma, Tea tidak punya handphone'
Tidak masuk akal. Tidak punya HP dan perangkat gadget lain. Lalu bagaimana Tea bisa aktif di Instagram dengan pengikut yang banyak bahkan punya akun YouTube yang dipakai untuk meng-upload video dancenya.
Kenangan 8 tahun yang lalu—selesai.
.........
|Cantik dan tampan—Right?|
Ana😍
Karena besok kita libur karena sekolah lagi renov, go to villa okay? Refreshing otak
Altea😉
Villa mana?
Aryn😎
Anjir seru tuh kemana?
Felix
Ngikut, yang lain gimana?
Alex
Tanya Daren
Daren
Ayo, villa Kenan?!
Altea😉
Boleh kan Ken?😳
Kenan
Oke
Altea😉
Yeyyyyy