ALTEA

ALTEA
#26# Latihan memanah



Setelah sound selesai, orang di sekitar mereka bersorak dan tertawa mendengar sindiran dari kedelapan perempuan cantik di kelas mereka.


“Mau apa lu?” Aryn tersentak dan bertanya pada Daren yang tiba-tiba menariknya dengan sedikit kasar.


“Pake nanya lagi, maksudnya apa ngomong kayak tadi ha?” Sentak Daren dengan sinis.


“Ngomong apaan njir?, gua gak paham” ucap Aryn protes dengan ucapan Daren yang menurutnya tidak nyambung.


Daren mendengus, “Yang tadi Lo omongin itu di tiktok maksudnya apaan? Gue nggak pernah ya jadiin Lo pelampiasan”


“heh, Lu sehat kan? Itu kan cuma buat konten tiktok, namanya juga seru-seruan” jelas Aryn tak percaya saat mendengar ucapan Daren.


Daren memiringkan bibirnya “Gak suka gue, jangan ikutan buat video kayak gitu lagi, mending jadi tomboy lagi aja”


Aryn memutar bola matanya, “lagian siapa juga yang mau buat video kayak begitu lagi, gue tadi ikut Cuma karena penasaran” ucapnya mencoba menjelaskan bahwa mana mungkin dia jadi cewek alay yang buat video cinta-cinta an, goyang-goyangan dan video sejenisnya yang hanya membuat mual—amit-amit.


“Gue pegang ucap Lo ya” ancam Daren kemudian memerangkap kepala Aryn dengan kedua tangannya.


“Iya, lepas!” Aryn mencoba lepas dari kungkungan tangan Daren, tapi tetap saja tak berhasil.


.........


“Kenapa?” Tanya Tea saat dirinya di tatap tajam oleh Ken.


“Jangan ikut-ikutan buat video kayak begitu lagi” tegas Ken.


“eum, beneran tadi itu cuma main-main aja, jangan di anggap serius” jelas Tea.


“Iya, asal jangan di ulangi, kalau perlu jauh-jauh aja dari mereka” ucap Ken.


“ih, Ken jangan ngomong begitu, mereka kan temen sekelas kita” ucap Tea dengan kesal.


“Di bilang kalau perlu, makanya jangan ikut-ikutan hal aneh” peringatnya.


“heem”


“emang bilang apa tadi?” Ken bertanya memastikan jika Tea mendengarkan ucapannya dengan benar.


“iya, gak buat video aneh layak begitu lagi” jawab Tea sambil mengerutkan bibirnya.


.........


“Tea, Lo tahu lagu yang di tiktok itu gak? Yang ini” Ana memutar video seseorang yang menyanyi di bagian nada tinggi.


“I’m trying hard to trust you when you say ‘Give me your hand’ baby I’m falling... I hope you catch me when I land... I think, I’m in love again... hu...yeah” begitulah potongan lirik lagu yang di dapat Ana dari tiktok.


“coba tanya Google pake fitur voice telusuri lagu” saran Tea sambil menyalakan handphone nya dan membuka aplikasi google.


“hitungan ketiga coba putar lagi lagunya” Tea mendekat dan bersiap menekan tombol voice atau lambang mic.


“nah. Bisa ternyata” pekik Ana melihat layar handphone Tea langsung menampilkan judul, penyanyi serta lirik lagu yang diinginkan nya.


“Coba ss terus kirim ke gue Te” pinta Ana pada Tea.


“iya” tangan Tea langsung berselancar mengirim gambar yang tadi di screenshot.


“udah di send ya”


“Oke, makasih”


.........


“olahraga memanah membutuhkan konsentrasi serta keseimbangan supaya bisa lebih fokus dan tembakan panah tepat sasaran! Kamu sekarang kurang fokus. Istirahat 15 menit, nanti kita lanjutkan latihan kembali” jelas Redit—pelatih Tea.


“Makasih” gumam Tea pelan dan segera beranjak ke pinggir ruangan.


“hah, capeknya” desah Tea mengusap peluh di pelipisnya. Tangannya bergerak membuka tutup botol air mineral yang di sediakan oleh pelayan mansion nya.


“Ken masih latihan sepak bola gak ya?” tanya Tea pada dirinya sendiri. Tangannya sudah mengetik beberapa kata yang siap di kirim ke pemilik kontak bernama ‘Kenan🖤'.


“semoga cepet di baca” harapnya sambil menekan ikon bentuk pesawat di pinggir keyboard handphone nya.


Beberapa menit kemudian~


“Tea... Ayo latihan kembali, sebentar lagi lomba akan di adakan. Latih lebih keras lagi” peringat om Redit dengan tegas. Tea hanya mengangguk dan mengambil busur dan panah miliknya yang tergeletak di lantai.


“bidik pakai mata dominan kamu, bukankah kamu sudah bilang kalau mata kanan kamu yang lebih lebih dominan. Ayo mulai dan fokus” om Redit mengambil langkah mundur dan bertepuk tangan beberapa kali sebagai penyemangat untuk Tea.


“Ambil posisi menembak yang benar, pegang handel busur dengan benar jangan bergerak-gerak, tegakkan badan kamu jangan tegang, bayangkan garis lintang imajiner dari tubuh ke sasaran”


“gunakan otot untuk menarik anak panah ke titik jangkar atau anchor point (titik untuk menghentikan tarikan tali busur dan menahannya di sana). Kencangkan pantat sehingga panggul tertarik ke depan” om Redit terus mengoceh membeberkan poin-poin penting yang perlu di perhatikan dan di lakukan saat memanah.


Tea memutar matanya jengah, “udah tahu, berapa kali coba om ngomong begitu terus” gerutunya pelan.


“Tea... Dengarkan saya dengan benar. Ayo Pasang anak panahnya. Arahkan busur ke bawah dan tempatkan batang (shaft) anak panah di arrow rest (benda untuk meletakkan anak panah), Tancapkan bagian belakang anak panah ke tali busur dengan nock (komponen kecil dari plastik yang memiliki lekukan untuk dipasang ke tali busur)” jelas om Redit dengan ngegas.


“ayo mulai, fokus. Ingat. Fokus!” titahnya tegas.


Akhirnya Tea menarik nafas panjang dan mengambil posisi sesuai yang di pelajarinya, dia mulai melakukan langkah demi langkah cara memanah dengan hati-hati dan... HYATT~


Tepat di tengah sasaran.


Baru saja ingin bersorak, om Redit sudah menginterupsi kembali. “sekarang coba lakukan dengan gerakan lebih cepat tapi tepat, lakukan tiga kali berturut-turut” titahnya dengan suara keras.


“sabar, biarin Tea cantik ini senang dulu om...” gumamnya mengeluh dengan pelan.


“Cepat! Cepat!”


“IYA” Tea berteriak dengan heboh.


Tea menembakkan anak panahnya kembali dengan gerakan yang lebih luwes, gesit dan cepat. 1. 2. 3. Tea menembakkan 3 anak panah berturut-turut. 2 anak panah beruntung tepat di tengah sasaran sedangkan 1 anak panah lainnya berada di satu baris lingkaran sebelum tengah sasaran.


“Yah... sayang banget tinggal satu lagi tepat di tengah” kesal Tea dengan cemberut.


Tapi tanpa di sangka Tea, om Redit bertepuk tangan dan berjalan menghampiri dirinya.


“bagus, setidaknya gerakan kamu sudah nyaman di lihat mata saya, tinggal usaha lebih fokus dan jangan tegang. Hal itu yang buat anak panah pertama kamu tidak tepat sasaran, istilahnya terlalu deg-degan” jelas om Redit mengomentari.


“makasih” seru Tea dengan senyum lebarnya.


“Hari ini latihan kita selesai” ucap om Redit yang terkekeh.


.........


“hari ini gimana latihannya?” tanya Tea pada Ken. Mereka sedang melakukan VC, saling menanyakan bagaimana latihan mereka.


“biasa, gak ada yang spesial” jawab Ken.


Tea bangkit dari tengkurapnya, berjalan menuju meja rias tempatnya berada. “gak ada perempuan centil kan?” tanyanya cemberut.


“yang bener aja” protes Ken, matanya mendelik.


“bercanda” Tea menunjukkan 2 jari tanda peace dan menampilkan gigi rapinya.


“dance nya udah jadi?” tanya Ken. Di layar terlihat Ken berjalanan menuruni tangga dan duduk di meja makan.


Terdengar Ken mengatakan sesuatu pada entah pada siapa, mungkin pelayan. “tolong buat havermut” pintanya.


Tea mengerutkan alisnya, menatap jam weker yang berada di meja rias. “udah malam, Ken belum makan?” tanyanya.


“belum” Ken menjawab dengan tangan yang tiba-tiba menarik mangkuk berisi havermut ke hadapannya.


“jangan biasa in telat makan” nasihat Tea perhatian. Tea mengambil bergerak mengambil produk perawatan bibirnya. Mulai bergerak memakai lip scrab, lip Terapy, dan magic liptin nya.


“Iya, bibirnya jangan di main in Tea!” perintah Ken.


“Kebiasaan, titah-titah mulu” cibir Tea.


“Havermut nya udah habis?” tanya Tea memastikan. Ken mengangguk menunjukkan mangkok kosong yang tadi berisi havermut.


Tea membuka mulutnya tak percaya dan bertanya, “Jadi ceritanya, ngajak video call cuma buat nemenin makan?”


“bisa di bilang gitu” jawab Ken mangut-mangut.


“ih dasar” dumel Tea.


“Sana tidur, udah malem ini” titah Ken yang berjalan menuju lift yang mengarah ke lantai tempat kamarnya.


Tea memutus sambungan VC tanpa pamit. Hitung-hitung sebagai kode ngambek.