
Minggu harinya—
“ini beneran alamatnya kan?” tanya Felix menata rumah kecil di hadapannya.
“Benar, tuan muda. Ini sesuai alamat yang kita cari” seorang pria paruh baya dengan badannya yang tinggi besar menjawab pertanyaan Felix.
“ya udah, ayo! Ngapain di sini nanti di kira maling kita” Felix mengajak teman-temannya agar segera berjalan menghampiri rumah di hadapan mereka.
Setelah semalam mereka berbicara mengenai pelaku yang membuat Ana alergi, mereka langsung mencari tempat tinggal Dino—murid MHS yang memegang hoddie hitam yang sama persis dengan pelaku yang mereka cari.
Mungkin saja, pelaku Minggu kemarin memang berhubungan dengan pelaku-pelaku sebelumnya yang sering meneror keluarga mereka.
“langsung masuk atau ketok pintu dulu?” tanya Felix berbalik menghadap para sahabatnya.
“Aneh aja Lo, ketok pintu dulu aja woy, kagak ada sopan-sopannya” dumel Alex.
“Kita kan di sini mau nangkep orang bukan silaturahmi” Felix kembali menghadap pintu tunggal di depannya lalu mengetuk pintu itu sebanyak 3 kali.
“gimana? Orangnya bakal denger kan kalau ada yang ngetuk? Kalau gak denger berarti tuli dia” Felix mundur beberapa langkah, ikut berdiri berdampingan dengan para sahabatnya.
Daren dan Ken tetap diam menunggu seseorang di dalam rumah membuka pintu, di belakang keempatnya para bodyguard berdiri tegak menunggu untuk melakukan aksi sesuai interupsi dari tuan muda mereka.
Cklek
“Siap—a ya?” Dino, ya dia berdiri mematung sambil memegang gagang pintu.
Sebelum dia bisa bertindak, dua bodyguard sudah menahan kedua lengannya, bodyguard lainnya masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan rumah.
“A-da apa ini?” Doni terlihat mencoba melepaskan cengkeraman di kedua tangannya, memberontak dan mencoba masuk ke dalam rumah—entah ada apa di dalam sana.
Keempat manusia tampan di sana saling memandang, lewat tatapan mereka mulai bertindak.
“Lo kenal gue kan?” Daren maju dan bertanya pada Doni.
“I-ya, apa mau kalian?” dia bertanya dengan ketakutan.
“ck, Lo nggak ingat? Kemarin sesuai apa yang Tea bilang, kalau Lo bohong in dia, Lo harus tahu akibatnya” decaknya kesal.
Doni langsung terlihat gemetar, “a-ku tidak bersalah, kumohon lepaskan!” pintanya memohon.
“masuk Lex!” Ken menginterupsi Alex agar masuk, di dalam terdengar keributan—entah apa yang terjadi sampai beberapa bodyguard bahkan belum keluar untuk memberi info.
“Oke” Alex langsung bergegas masuk.
“bawa dia ke mobil, jangan sampai kabur kalau perlu buat dia pingsan pakai obat bius” titah Ken.
“Felix...” dari dalam terdengar Alex memanggil Felix, Ken dan Daren saling menatap. Lewat tatapan, Ken mengarahkan dagunya ke arah mobil—pertanda agar Daren ikut menjaga Doni di sana.
Setelah itu, baru Ken dan Felix menyusul Alex masuk ke dalam.
“di mana cucuku? Ayo katakan!, Kami tidak punya apa-apa, tolong kembalikan cucuku” terlihat seorang wanita tua yang di pegang oleh dua orang bodyguard.
Wanita tua itu memberontak sambil meraung-raung memanggil cucunya, di sebelahnya terdapat anak kecil yang juga sedang menangis dan memberontak meminta turun dari gendongan Alex.
“Siapa mereka?” Felix berbisik pada Alex.
“Keluarga si Doni kayanya, kita lupa cari tahu tentang keluarganya” jawab Alex.
“bloon sih” hina Felix.
“berani Lo ngomong gitu depan dia?” tanya Alex tersenyum miring.
“Anjir, awas aja Lo kalau ngadu” ancam Felix.
“ni bocil nangis mulu, kudu di apain woy?” Alex menutup mulut anak lelaki di gendongannya agar tidak menangis lagi.
“jijik woy” Alex segera melepaskan tangannya dan mengusap telapak tangannya pada celana anak kecil di gendongannya, Sial sekali... Seorang Alex tampan terkena ingus dari bocah kecil.
“Kalian!, Siapa lagi kalian? Ke mana cucuku?” Wanita tua itu berseru pada Ken, Alex dan Felix.
“ini harus di apa in Ken? Gak tega gue” Alex bertanya dengan muka memelas.
“Bawa mereka juga” titah Ken.
“Doni ada bersama saya, ibu mending ikut kami nanti kami akan jelaskan kenapa kami menangkap Doni, kami tidak punya niat jahat sebenarnya, kami terpaksa melakukan ini karena ada masalah yang kami hadapi berkaitan dengannya” jelas Alex dengan sesopan mungkin, bagaimanapun dia merasa bersalah menahan seorang wanita tua dan anak kecil yang tidak bersalah.
.......
...
“Jadi ini sesuai tebakan kita?” tanya Daren. Setelah menangkap keluarga Doni, mereka menginterogasinya dan mengancam untuk mengatakan kejujuran karena nenek dan adiknya berada di tangan mereka.
Akhirnya berbagai pertanyaan di jawab olehnya dengan rinci.
“Hoddie itu punya Aldi, dia teman sebangku dan juga satu-satunya teman sekelas yang mau dekat dengan orang miskin seperti aku. Sejak hebohnya berita Ana yang Alergi karena seseorang yang sengaja membuatnya makan cumi-cumi, sebenarnya... aku yang memakai hoddie itu dan memesan nasi goreng pesanan Ana agar di campur dengan cumi-cumi”
“Apa?” tanya Felix shock.
“ya, itu aku. Atas perintah dia, hari di mana sekolah di teror, aku menemukan dompet miliknya di lab yang terbakar, meskipun dompet itu sebagian sudah terbakar aku melihat nama dan sebagian fotonya di kartu identitas siswa yang juga ikut hancur terbakar api di dalam dompetnya”
“Aku pikir, mungkin hari-hari sebelumnya dia menjatuhkan dompet di sekitar lab, saat aku ingin memberitahunya soal dompet itu aku tidak menemukan Aldi ditambah karena suasana di sekolah tidak kondusif, aku berpikir untuk istirahat di taman dan ternyata Aldi juga di sana sedang berdiri dan berbicara lewat telepon”
“Aku mendekatinya tapi sebelum memanggil namanya, aku mendengar dia berkata ‘untunglah kita gak ninggalin jejak saat hancurin ni sekolah, dompet gue hilang awalnya gue pikir jatuh di sini tapi untunglah gak ada yang nemuin dompet gue, lagian kalau pun jatuh pasti udah habis ke bakar, gue kan bagian bakar lab bukan hancur in kaca atau coret tembok’ begitu aku mendengarnya, aku kaget dan takut akhirnya aku kembali secara diam-diam menuju tempat tasku di simpan”
“Waktu hari Ana alergi, aku tidak tahu itu pesanan nasi goreng Ana, aku hanya memesan pada petugas stan nasi goreng kalau pesanan no 11 di campur dengan cumi-cumi, soal no urutan— itu no urutan pesanan yang akan di masak oleh koki nasi goreng di sana, biasanya urutan itu di atur oleh petugas dari stan nya, Aldi bilang dia ingin memberi kejutan untuk pacarnya—karena pacarnya tidak suka cumi-cumi dan hari itu hari ulang tahunnya, dia berniat untuk membuat pacarnya kesal seharian dan akan membuat kejutan nanti di malam hari”
“aku mendapatkan uang darinya sebagai hadiah karena membantu membuat kejutan untuk pacarnya, saat kalian mencari pelaku itu aku kaget dan ketakutan, aku berusaha menghubungi Aldi tapi nomornya tidak aktif akhirnya saat bel pulang sekolah berbunyi aku bergegas pulang tapi Tea datang dan mencurigai ku, saat sadar bahwa hoddie itu masih di pegang di tanganku aku kaget, aku takut di tangkap dan di keluarkan dari sekolah jadi akhirnya memutuskan untuk berbohong”
“waktu di rumah, aku sadar kenapa Aldi menyuruh aku untuk melakukan itu, dia menjebak ku bahkan kalau di pikir-pikir kenapa dia hanya mengatakan no urutan pesanan bukan nama dari pacarnya”
“kenapa Lo sengaja pakai hoddie tertutup padahal cuma buat laku in hal sepele yang di suruh si Aldi itu?” tanya Alex.
“Aldi bilang, seharian dia menghindar dari pacarnya kalau pacarnya melihat aku saat ke kantin, pasti pacarnya menanyakan keberadaan dia jadi dia menyuruhku untuk pakai hoddie yang bisa menutupi sebagian wajahku, agar tidak di kenali pacarnya”
“dia bikin alasan itu buat pacarnya, apa Lo tahu dia punya pacar, Lo tahu pacarnya siapa?” tanya Daren yang di jawab gelengan kepala.
“bodoh” tukas Ken.
“Jadi Tupperware yang di bawa dia ke toilet itu isinya beneran hoddie dan dia ngasih tuh hoddie ke Lo di toilet perempuan deket kantin?” tanya Daren setelah menganalisa semua yang di ucapkan Doni.
“dia memang kasih itu hoddie di depan toilet perempuan tapi aku tidak tahu kalau dia tadinya bawa hoddie itu di dalam Tupperware” jelas Doni dengan muka kebingungan mengingat kejadian saat di toilet.
“Oke, ini udah jelas. Lo selamat karena gak salah. Lain kali jangan jadi orang bodoh yang mau dimanfaat in orang, untuk keluarga Lo—mereka aman” ucap Ken
“Lo aman dari kita, bukan berarti lo bisa pulang bisa aja Lo di incar Aldi atau bisa jadi perkataan Lo bohong” peringat Ken.
“tinggal di sini, hidup Lo bakal aman selama ucapan Lo tadi bener” putus Ken.
Di belakang mansion ada bangunan khusus untuk para pekerja, mau pelayan, bodyguard, sopir, tukang kebun dan pekerja mansion lainnya.
“jadi kita susah-susah cari tahu pelakunya ternyata cuma sesederhana dengerin ucapan murid yang kita tanya” kesal Felix.
“nggak, dia sengaja lakuin ini buat kita sibuk sedangkan dia kabur, nomor gak aktif, rumah kosong” jelas Daren.
“latar belakangnya susah kita lacak, terlalu misterius, dia berarti dari awal kayanya emang berhubungan dengan teror-teror sebelumnya” sahut Alex
“kita harus segera cari tahu latar belakangnya” tukas Ken memutuskan hal apa yang harus mereka fokuskan untuk ke depannya.
..........
Setelah seminggu murid MHS sibuk dengan Ujian Kenaikan Kelas (UKK). Senin pagi ini, mereka berbondong-bondong ke lapangan upacara dan berbaris rapi—bersiap melakukan upacara bendera.
Banyak dari anggota kepengurusan OSIS, MPK, PASKIBRA, POLSIS dan PMR yang sibuk mempersiapkan upacara bendera—di mulai dari anggota OSIS yang mengarahkan salah satu kelas yang akan menjadi petugas upacara sesuai jadwal, anggota PASKIBRA yang sedang geladi dengan mengentak-entakan kaki mereka menuju tiang bendera dengan salah satu anggota yang membawa bendera di nampan,
Lalu ada POLSIS yang bergerak mondar-mandir berpatroli di barisan para siswa tak lupa sentakan mereka apabila melihat seseorang yang tidak memakai seragam dengan lengkap seperti dasi, sabuk, topi, dll.
Kemudian anggota PMR yang sibuk di ruang UKS—mempersiapkan atau mengecek p3k, obat-obatan umum seperti obat pusing dan mag, tisu, minyak balur, teh hangat, tandu untuk mengangkat orang yang pingsan bahkan ada pembalut untuk murid perempuan yang biasanya pms mendadak.
Berpindah dari kesibukan murid MHS yang aktif di keorganisasian atau ekstrakurikuler, Tea dan yang lainnya malah sibuk dengan rasa pegal dan panas yang mereka rasakan.
“parah. Belum juga di mulai, udah panas, bau ketek, pegel lagi” Aryn mengeluh sambil melepas topinya dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain mengelap keringat yang mengucur di dahinya.
“padahal hari ini gue udah pakai parfum banyak-banyak, sia-sia... wangi ini parfum hilang tersengat matahari” bahkan seorang Felix yang mempunyai badan macho pun mengeluhkan wangi parfumnya yang mulai hilang karena terpapar sinar matahari☀️.
“Skincare aku juga terkikis karena matahari, nggak bawa sunscreen lagi—padahal itu yang paling penting” Tea merapatkan wajahnya pada punggung Ken, menjadikannya tameng agar terhindar dari sinar laknat itu.
“Makeup gue juga udah mulai luntur, untung bawa Liptin mehong gue di saku” Ana ikut mengeluh sambil mengeluarkan Liptin berukuran kecil yang ada di sakunya—mulai memoles bibirnya dengan Liptin berwarna merah segar yang di pegangnya.
“Sini Tea, gue pakein liptin—bibir Lo pucat” Ana menarik Tea agar keluar dari punggung Ken yang menjadi persembunyiannya. Tea menurut membuka sedikit bibirnya agar Ana memoles bibirnya dengan Liptin.
“jangan banyak-banyak” Ken menarik Tea agar menjauh dari Ana, menghadapkan tubuhnya agar saling berhadapan. Jemarinya merapikan Liptin yang ada di bibir Tea.
“Baurin” titah Ken memeragakan gerakan bibir membaurkan Liptin. Tea mengikuti perintah Ken dengan lesu dan tanpa malu memeluk Ken di hadapan banyak orang.
Tak sadar saja, sedari tadi orang-orang di sekitar sudah heboh ketika Ken meluncurkan jari-jari kokohnya di bibir manis Tea.
“gua mau sedikit dong” Aryn mendekat pada Ana dan meminta bibirnya untuk di poles, sayangnya tak terlaksana karena Daren menariknya.
“jangan aneh-aneh Lo” dengus Daren, melepas topi Aryn dan membawa helaian-helaian rambutnya ke belakang dengan menggunakan jarinya.
“nasib... Jomblo” Felix mengelus dadanya mencoba bersabar dengan tingkah bucin para sahabatnya.
“Mana Elin bentar lagi lulus terus kuliah, jadi susah mesraan” gumam Alex yang memang akhir-akhir ini galau karena kekasihnya yaitu Elina sebentar lagi lulus dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah. Meskipun tidak di luar negeri, tapi tetap saja saat ini meskipun mereka satu sekolah tapi mereka sudah jarang bertemu apalagi nanti kalau sudah kuliah.
“Cukup, Upacara mau di mulai tuh” lerai Felix yang bergerak ke belakang—tempatnya berbaris.
.......
...
“Jadi anak-anak, di masa guru merekap nilai rapot dan ujian kalian—seperti kegiatan tahunan sebelumnya, mulai hari ini kalian akan melaksanakan lomba kebersihan kelas dan keindahan taman kelas, dan minggu depannya akan di laksanakan PORSENI (Pekan olahraga dan kesenian), untuk detail lebih lanjutnya nanti akan di jelaskan oleh wali kelas masing-masing” ucap Pembina upacara atau guru WAKASEK pendidikan mengumumkan kegiatan perlombaan yang akan di mulai dari hari ini.
Banyak yang bersorak, karena biasanya kegiatan tahunan ini sangat seru—di mana setiap siswa dari kelasnya masing-masing berlomba untuk mendapatkan beberapa piala🏆.
Setelah upacara selesai, banyak murid yang berdesakan keluar dari gerbang lapangan dengan tujuan berbagai tempat mulai dari toilet, kantin atau kelasnya masing-masing. Terlihat juga beberapa siswa yang berteriak di depan pintu kelas memerintahkan teman sekelasnya agar segera berkumpul untuk berdiskusi tentang lomba yang akan mereka lakukan. Termasuk kelas XI IPA-2—kelasnya Ken dan kawan-kawan.
“Woi yang merasa jadi siswa kelas XI IPA-2 sini kumpul, Woi... Cepet napa! Jangan lelet!” Arif atau ketua kelas XI IPA-2 yang mempunyai nama lengkap Syarifudin ini berteriak di depan pintu kelas dengan raut wajah konyolnya itu. Niatnya mau muka ala-ala tegas cool gitu tapi jadinya malah amburadul.
“Apa Lu?” tanya Aryn saat mereka tiba dengan dagu terangkat angkuh. Kedatangan Ken dan teman-temannya membuat sang ketua kelas itu meringis.
“ayo-ayo masuk” ucap Arif membuka kedua pintu dengan lebar mempersilahkan mereka untuk masuk agar segera ikut berdiskusi dengan teman sekelas lainnya.
Sambil berjalan masuk, Ana mengibaskan rambutnya pada wajah Arif. “sorry, rambut simering gue gatel pengen garuk wajah buruk rupa Lo” canda Ana berjalan masuk ke kelas menghiraukan wajah kesal Arif.
“Ai sia ku naon” Arif merutuki Ana dengan pelan menggunakan bahasa daerahnya—Sunda. Tangannya mengusap wajahnya sambil menunduk.
Tea yang melihatnya meringis—kasihan dengan korban dari tingkah bar-bar calon kakak iparnya itu. “maafin ya” ucap Tea dan bergegas masuk.
“iya-iya demi orang cantik dah” sabar Arif mengusap dadanya berharap jadi lapang. Canda boss—
.......
...
“Woi, ini si vakum cleaner nya nakal” salah seorang siswa berteriak karena kaget saat dia mengangkat kursi tiba-tiba ada sesuatu yang menyenggol kakinya, ternyata sweeper robot vakum cleaner yang bergerak sendiri membersihkan lantai.
“Geserin sedikit, nanti juga jalan sendiri” salah satu murid perempuan menyahut dan melanjutkan kembali kegiatan menghapus tulisan spidol di papan tulis.
“tirah, cetna geus aya can?” tanya Arif pada Tirah menanyakan keberadaan suruhan Tirah yang di perintahkan membawa cat dinding dan perlengkapan lainnya untuk kebutuhan mendekor kelas.
“Sebentar, gue telepon dulu” jawab Tirah bergerak mengeluarkan HP-nya, menghubungi bawahannya di rumah yang tadi di tugaskan membeli dan membawakan beberapa bahan dan peralatan untuk mendekor ulang ruangan kelas.
“Ini tirainya mau di ganti atau cuci-pakai ulang?” tanya Felix pada teman sekelasnya setelah melaksanakan tugasnya—yaitu melepas tirai jendela kelas.
“Ganti, udah buluk” jawab salah satu murid lelaki yang bermain game online di pojok.
“oke”
“pembersih kaca di mana?” tanya Aryn, seseorang mengambilkannya alat pembersih kaca serta spraynya yang di ambil dari lemari dan memberikannya pada Aryn yang sedang berdiri di atas kursi—bersiap membersihkan kaca.
“thank you”
“Aku kerja apa?” Tea berbisik pada Ken menanyakan dirinya harus melakukan apa untuk membantu teman sekelasnya yang tengah heboh.
“Gak usah, nanti cape” larang Ken yang membuat Tea melotot dan menggeleng tanda tak setuju.
“gak boleh gitu, gak enak, orang lain kerja masa aku diem aja” bisik Tea memperhatikan sekitar.
“barang-barang udah nyampe nih” Tirah masuk di ikuti beberapa orang yang membawa perlengkapan yang mereka butuh kan.
“di sini simpennya, makasih ya mang” ucapnya saat bawahannya pamit pergi.
Tea melihat beberapa barang itu, tatapannya terjatuh pada salah satu barang. Lalu menengok pada Ken dengan tatapan berbinar nya, “boleh cat tembok?” tanyanya pelan meminta ijin.
“Gak papa kan baju kotor?” lanjutnya yang berharap diizinkan. Tentunya setelah melihat anggukan dari Ken dia berdiri dan melompat bahagia, tangannya bergerak mengambil alat rol cat dan seember kecil cat putih.
“Aku cat tembok” ucapnya dan bergerak ke pojok di ikuti Ken. Tenang saja, untuk tugas mengecat kelas bukan hanya satu orang tapi banyak, bagaimanapun dinding tembok itu luas.
“kertas korannya mana?” tanya Ken menoleh pada Tirah sambil menghentikan Tea yang mencoba membuka tutup ember cat.
“ini” Tirah memberikan se-pack koran untuk alas lantai.
“Lepas jasnya dulu” tangan Ken bergerak membuka kancing almamater Tea, menggerakkan tubuh kekasihnya agar berbalik dan mengikat rambutnya kucir satu.
“Mau kucir dua boleh?” tanya Tea yang di jawab gelengan oleh Ken, bahaya! Tea terlalu imut kalau mengucir dua rambutnya—mana mau dia, bisa-bisa orang langsung klepek-klepek lihat Tea begitu imut.
“yah, gak papa deh” pasrah Tea.
“Ayo mulai” ucap Ken membuka tutup ember dan menumpahkan sebagian cat pada wadah datar tempat rol cat yang Tea pegang.
“tipis-tipis dulu nanti juga ada yang cat layer ke dua” Peringat Ken karena memang bagusnya mengecat dinding itu secara bertahap dan berlapis-lapis, untuk cat lapisan kedua—itu tugas siswa yang lain.
“Gak ada acara naik meja” tambah Ken tegas, menolak jika Tea ingin mengecat dinding bagian atas dan perlu menaiki meja. Tidak! Dia tidak mengizinkannya.
“Iya” Tea hanya menggembungkan pipinya dan kembali fokus mengecat dinding dengan hati-hati, begitu pun Ken yang berjongkok membantu melapisi lantai dengan koran.