
Malam harinya, para lelaki sudah berkumpul di mansion Ken di tambah Tea yang memang sedari pulang sekolah sudah ada di mansion Kyler.
“Ken pakai yang ini ya” Tea merobek kemasan sheet mask yang merupakan hadiah dari Ken, meskipun hasil ujian belum keluar—tetap saja Ken luluh membelikan hadiah Tea lebih awal di banding pengumuman hasil rapot nanti.
“sebentar, mending pake exfoliating pad dulu biar debu dan kotorannya terangkat” Tea menyimpan sheet mask tadi yang sudah di robeknya ke meja lalu mulai beranjak menuju tumpukan kardus berisi hadiah-hadiah dari Ken sesuai list yang di berikannya minggu lalu.
Setelah menemukan barang yang di carinya, dia kembali ke sofa tempat Ken dengan membawa satu botol exfoliating pad, “yang varian lemon aja ya” Tea duduk dan membuka tutupnya lalu menarik satu lembar kapas exfoliating dan mulai mengusapkannya pada wajah tampan Ken.
Mulai dari jidat, pipi, berlama-lama di hidung supaya komedonya sedikit terangkat dan terakhir ke bagian dagu. Kegiatannya di lakukan berulang-ulang hingga 3 lembar exfoliating pad sudah di gunakan nya hanya untuk bagian wajah, lalu memakai kembali 2 lembar exfoliating pad pada bagian leher Ken.
Di saat itu Tea masih sempat menjahili Ken dengan berlama-lama mengusap kapas exfoliating nya pada bagian jakun, saat jakun bergerak— tangannya juga ikut bergerak mengikuti jakun Ken.
“Tea” suara rendah peringatan Ken terdengar seperti singa yang terbangun dari tidur karenanya.
“Maaf. Maaf” Tea menghentikan kejahilannya dengan terburu-buru saat mata Ken yang tertutup tiba-tiba terbuka dan menatapnya dengan mata yang menggelap.
“oke, rileks lagi, kita lanjut pakai sheet mask aja ya” lanjutnya sambil menyengir dan mengambil sheet mask yang sudah di robeknya tadi di atas meja.
Ken menurut, memilih bersandar kembali pada sandaran sofa sambil menutup matanya. Tea mulai memasangkan sheet mask emasnya dan mulai memijat wajah Ken dengan face messager—setelah memutar bagian bawah tungkai untuk mengaktifkan face messager agar bergerak otomatis.
“kenikmatan haqiqi itu” sindir Felix melihat Ken yang memejamkan mata dengan nyaman menikmati pijatan elektrik dari face messager yang di pegang Tea.
“kalau mau, tinggal ambil aja. Jangan ganggu” sindir Tea, memilih bersandar dan fokus dengan gerakan pijatan tangannya yang memegang face messager.
“tapi satu paket untuk bersama” lanjutnya yang melarang temannya itu untuk menghabiskan stok sheet mask Lipomask dari Ken.
“Gue mauuu” Ana tiba-tiba datang berlari dengan di ikuti Aryn dan beberapa pelayan di belakang. Tangannya menyimpan tas papper bag dengan asal dan memeluk satu kotak panjang sheet mask limited edition Lipomask yang collab dengan Disney.
“Ya Ampun! Satu paket buat gue, Lo masih punya banyak” Ana memeluk erat kardus kemasan berbentuk Minnie mouse yang berisi sheet mask, mengambil langkah mundur sambil menggeleng melihat Tea yang menggelengkan kepala—menolak permintaannya.
“Nggak boleh” Tea menggeleng keras, rambutnya yang di kucir dua ikut bergerak tak lupa Bandu khusus maskeran nya yang berwarna toska dan memiliki telinga kucing🐱 terlihat bergoyang.
“Nggak boleh pelit, iya kan Ken?” Ana meminta Ken untuk bergabung membujuk Tea, Sayangnya Ken tidak membantu dan tetap bergeming tak menjawab bahkan menoleh sedikit pun pada Ana—tetap memejamkan mata menikmati sensasi dingin nan sejuk dari sheet mask yang sedang pacar?! dan sepupunya problem kan.
“gua mau juga” belum juga Tea merelakan Sheet masknya yang di ambil Ana—Aryn datang dan ikut mengambil satu paket sheet mask itu dengan watados.
“Ken... nanti beli lagi” Tea memutuskan untuk menghiraukan keduanya dan mencoba meminta di belikan kembali pada Ken yang hanya berdehem pelan, mengangkat tangannya dan mengusap rambut Tea tanpa membuka matanya.
Brak
Daren menyimpan iPad-nya di atas meja dengan sedikit kasar yang membuat perhatian semua orang tertuju padanya.
“kali ini kalian jangan usaha sendiri-sendiri, mending kerja sama biar masalah ini cepat selesai” Daren membuka suara entah mengacu ke mana, tapi selanjutnya dia menunjukan data diri seseorang yang terpampang di layar iPad-nya.
“ini orang yang tadi bukan?” tanya Daren dengan tatapan tertuju pada Tea.
Tea mencoba mendekat untuk memperjelas apa yang di lihatnya, sampai—matanya membulat dan menatap Daren, “itu...” Tea terlihat bingung mau mengatakan apa.
“ini ada apa? Tea?” Ken bertanya karena merasa tak senang Tea menyembunyikan sesuatu lagi padanya.
“Apa lagi gue, ini suasana kok jadi serius gini sih” gerutu Ana.
“Dia ngejar orang yang megang hoddie hitam yang persis di pakai pelaku penyebab alergi Ana” jelas Daren. Pandangan semua orang jatuh pada Tea.
“Lo juga kenapa bisa tau Tea ngejar orang itu?” tanya Alex tak terima karena merasa sahabatnya ini tak mengajaknya.
“gue lihat dia waktu keluar dari ruang guru, mana sempat gue kasih tahu kalian” ucap Daren meluruskan kesalahpahaman dari Alex.
“Tea... Kamu-” entahlah Ken sulit mengeluarkan amarahnya pada Tea.
“Lanjutin penjelasannya, gue kurang ngerti masalah ini” ucap Ana menuntut.
“Tanya Tea” Alex menggerakkan dagunya ke arah Tea, karena Ana malah menodong penjelasan padanya yang tidak tahu apa-apa.
“tadi itu ada murid yang lewat pegang hoddie yang sama persis dengan pelaku yang buat Ana Alergi, Aku ikut in dia sampai parkiran, aku coba henti in dia dan tanya, ‘Punya siapa itu hoddie?’ Katanya dia dapat dari tong sampah dekat toilet pria kelas XI IPA, dia bilang ada orang yang buang hoddie yang ternyata masih bagus dan dapat di pakai, jadi dia ambil—aku tanya lagi ‘siapa yang buang itu hoddie?’ Tapi dia bilang gak lihat wajahnya cuma punggungnya doang, awalnya ngerasa kasihan tapi kalau di teliti ngerasa ada yang ganjal jadi curiga dong” jelas Tea menggebu-gebu.
“parahnya dia narik kerah tuh anak cuma buat lihat name tag identitasnya di batu seragam” Daren menyahut penjelasan dari Tea.
“enak aja” kilah Tea tak terima di bilang ganas.
“Dia juga datang langsung ke toilet yang di sebut in cowok culun itu, dan bilang sekolah gue gak modal karena gak ada SSTV di daerah sana” lanjutnya sambil menyindir ucapan Tea.
Tea meringis—merasa tersindir dan baru sadar bahwa Daren mengikutinya tadi saat di sekolah.
“siapa namanya?” tanya Ken, tangannya terus menggenggam erat lengan Tea.
“Dino Adriana siswa IPA kelas XI, aku nggak tahu pastinya... dia di kelas berapa” cicit Tea.
“XI IPA-5” sahut Daren.
“Kebetulan gue udah dapet kesaksian dari beberapa murid yang lihat orang yang pakai hoddie itu” Daren meraih iPad-nya kembali dan mengutak-atiknya.
“Lihat! Ini beberapa siswa yang lihat pelaku itu dan kebanyakan mereka bilang gak tahu itu siapa, tapi ada yang bilang dia mirip murid dari XI IPA-5” Daren menscroll beberapa gambar siswa MHS yang melihat pelaku kemarin kemudian berpindah pada identitas seorang murid lelaki yang memakai kaca mata.
“Namanya Aldi Ramdan, murid yang terkenal introvert dan ternyata dia berteman dengan Dino Adriana” ucap Daren dengan mata yang mengisyaratkan bahwa mereka dapat petunjuk.
“dari beberapa SSTV, nggak ada yang menunjukkan murid berhoddie hitam itu, tapi waktu gue periksa SSTV berulang-ulang mulai dari daerah kelas XI IPA-5—gue lihat si Aldi ini jalan lewat kantin sambil bawa kotak makanan”
“mungkin orang lain pikir itu kotak makanan, tapi menurut gue kotak makanan yang di bawanya cuma kotak Tupperware yang besar dan emang sebanyak apa makanannya sampe di simpen di Tupperware segede ini—kalau pun dia bawa makanan sebanyak itu memang habis di makan sendirian? Apalagi dia bukan orang kaya yang bisa seenaknya hamburin makanan atau punya banyak makanan” Daren melanjutkan penjelasannya lalu menzoom kotak makan yang di bawa murid bernama Aldi itu.
“Lihat! Kotak makannya sedikit menggembung, mungkin isinya hoddie hitam yang di paksa masuk di kotak makannya” seru Ana mengutarakan pendapatnya.
“dia bawa kotak makanan tapi gak ke kantin, dia makan di mana coba? Setelah kantin kan cuma satu kelas dan toilet perempuan terus jalan buntu” gerutu Felix.
“Sialnya... gak ada SSTV di sekitar luar toilet perempuan di sana, maksudnya di toilet mana pun—tapi gue yakin dia ke toilet cewek yang dekat kelas samping kantin” ucap Alex sambil menyinggung soal tidak adanya SSTV di sekitar toilet mana pun di penjuru sekolah.
“nyindir gue?” tanya Daren dengan sonis pada Alex.
“lah gue kan cuma ngomong FAKTA” bela Alex dan menekankan kaya fakta.
“kalau perlu, gue pasang 5 SSTV sekaligus di setiap toilet biar Lo puas” sarkas Daren.
Memang MHS awalnya sengaja meniadakan SSTV di luar toilet mana pun, karena banyak keluhan yang mengatakan risi dan malu kalau semisal siswa ke toilet ada SSTV yang mengawasi terutama kalau misalnya mereka ke toilet lama pasti yang cek SSTV tau mereka sedang bab.😳
“itu bisa jadi, dia bawa kotak makan tapi gak ke kantin terus mau ke mana? dan sampai jam istirahat habis pun dia sama sekali gak masuk ke kantin” Felix seperti menyetujui pendapat Daren setelah melihat video SSTV yang di tampilkan di iPad milik Daren.
“lagian kalau pake logika, dia gak muncul-muncul ke toilet tapi setelah itu kelihatan si siswa yang pake hoddie hitam itu masuk kantin dan cuma duduk nunduk, tapi waktu kita udah mesen makanan dia langsung dateng ke stan nasi goreng cuma buat minta campurin cumi ke nadi goreng pesanan Ana” ucap Aryn ikut membuka suara.
“pelaku yang pakai hoddie itu juga masuk dari arah kelas samping kantin, postur badan keduanya juga sama” lanjutnya.
“Di lihat dari video, pelaku itu juga balik ke arah toilet tempat di buangnya hoddie itu” ucap Tea.
“mungkin... Si Dion ini tahu yang punya hoddie hitam itu temennya, tapi dia bilang gak lihat muka orang yang buang hoddie itu. Bener sih, berita minggu kemarin heboh, banyak orang tahu kejadiannya, mungkin aja dia tahu masalah kita dan takut sahabatnya di tangkep” ucap Daren sambil menatap Ken meminta pendapat.
“Hoddie udah ada di Lo kan?” tanya Daren pada Tea.
“Nah, coba kita cek sidik jari di hoddie itu” Felix menjentikkan jarinya merasa dia sangat jenius karena mendapat ide untuk mengecek sidik jari di hoddie hitam itu.
Tea yang mendengarnya langsung mencebikkan bibirnya dan menatap Ken dengan raut wajahnya yang mirip balita, “kenapa?” tanya Ken.
“udah cek sidik jari tapi cuma sidik jari si Dino itu sama sidik jari aku, kayanya dia pake sarung tangan khusus” kesalnya.
“yah” Felix langsung menurunkan bahunya, terlihat lemas lesu
“hm, yah memang kita kekurangan bukti” ucap Daren.
“Kasih aku hoddie itu” pinta Ken pada Tea.
“Ke depannya, kamu harus mau kerja sama dengan yang lain, kalau ada apa-apa atau dapat sesuatu bukti kamu kasih tahu yang lain, jangan usaha sendiri. Ini juga masalah keluarga kita semua, bukan cuma keluarga kamu” nasihat Ken pada Tea, tangannya mengusap pelan lengan atas Tea dengan lembut agar Tea paham maksud perkataannya juga merupakan yang terbaik untuk semua orang.
Dia dan yang lainnya selalu berusaha mencari petunjuk sekecil apa pun, tapi entah kenapa selalu Tea yang mendapat petunjuk mau itu sengaja atau tanpa di sengaja.
“oke” akhirnya Tea hanya mengangguk kecil menuruti perkataan Ken.