ALTEA

ALTEA
#23# Tea ikut lomba dance & memanah, Ken ikut lomba Sepak bola



Keesokan harinya, Hari selasa—


“Woi, pengumuman penting” Arif berdiri di depan kelas sambil memegang selembar kertas.


“Jadi, Minggu depan PORSENI bakal di mulai—awalnya bakal perlombaan seni dulu, ada beberapa macam lomba, melukis, nyanyi solo, puisi, dan dance” lomba terakhir yang di sebutkan oleh Arif membuat Tea mengangkat kedua tangannya dan berpekik gembira.


“hari Rabu, di lanjut lomba kategori Olahraga memanah, taekwondo, renang dan voli”


“hari Kamis, Sepak bola, Basket dan final Lomba kategori seni”


“Jumat, finalnya semua lomba Olahraga dan Sabtu pengumuman pemenang perlombaan dan penutupan PORSENI tahun , sekaligus pembagian rapot” Arif mengakhiri pengumumannya dan mendongak—menatap semua temannya lalu bergerak menyimpan selembar kertas yang di pegangnya di salah satu meja.


“sekarang kira tentu in siswa yang bakal ikut lomba” tukasnya menarik kursi dan duduk.


“Kita tentu in dulu siapa yang ikut lomba seni” ucap Tirah


“Aku ikut lomba Dance, titik” Tea menjunjung-junjung kedua tangannya ke atas dengan penuh antusias.


“Iya iya yang pro-dance mah langsung lolos ikut” jengah Arif lalu menulis nama Altea di lembar yang ada di meja.


Ken menarik Tea untuk mendekat, “emang di izin in hm?” Ken mengusap kedua sisi rambut Tea yang di pakai hiasan rambut berbentuk lingkaran kecil berwarna toska.


Tea yang melihat tatapan Ken hanya meneguk saliva karena tersadar tidak izin pada sang kanjeng rajanya.


“shtt, maaf” Tea meringis, tangannya bergerak saling menggenggam lalu si arahkan ke arah Ken, wajahnya di buat seimut mungkin agar Ken luluh.


“Dasar bocil” Felix mencibir di belakang bangku Ken dan Tea.


“Diem” Tea menyipitkan mata pada Felix tanda peringatan.


“Si Tea kan jagonya dance jadi Lo izin in dia ya buat ikut lomba, demi kesuksesan kelas kita” Arif menyahut ikut membujuk Ken agar Tea di izinkan.


“cuma kali ini” Ken mengerutkan kening dan mengizinkan Tea dengan enggan.


“Yes, huhuhu” Tea berteriak girang.


“Yang nyanyi solo itu dua orang, satu nyanyi yang satu lagi main musik” Arif memberitahu lomba selanjutnya yang besok akan di perlombakan.


“Pasangan laki cewek?” tanya Ana.


“iya” jawab Arif.


Tea yang mengetahui Ken jago menyanyi langsung meraih tangan Ken dan menggeleng keras tanda tidak setuju jika Ken ikut lomba, apalagi berpasangan dengan cewek selain dirinya.


“Ken jago nyanyi, suaranya beuh menggetarkan hati para hawa” tukas Feli yang membuat Tea memelototinya dengan tajam.


“gimana Ken?” Arif meminta pendapat dari Ken, sedangkan Tea menggeleng panik yang membuat Ken mengulas senyum tipis dan merapikan surai Tea.


“lewat, gua gak mau” putusnya yang membuat Tea tersenyum puas.


“yah...” terdengar suara keluhan dari banyak orang di ruang kelas XI IPA-2.


“Tea izin in Ken dong, Lo yang main musik dah” bujuk Tirah pada Tea.


“nggak” tidak berarti tidak, keputusan Tea sudah final tidak bisa di ganggu gugat.


“Kenapa gak di izin in?” tanya Ana dari samping dengan suara pelan.


“nanti heboh lagi, di sini perempuannya pada alay genit ih” keluh Tea dengan ngeri mengungkapkan penyebabnya.


“Apalagi kalau nanti Ken di pasangin sama perempuan lain—tidak” Tea menggeleng mengusir pikiran buruknya, mengingat dirinya sudah ikut lomba dance mana bisa dia ikut lagi lomba—di kira maruk nanti—eh bukan itu, dia sudah mengincar lomba yang lain yang pasti dia tidak mau main musik atau nyanyi.


“yang lain juga banyak yang bisa nyanyi” tukas Tea kekeh dengan keputusannya, memangnya siapa yang bisa membantah? Ken? No. Daren? Ada Ken yang siap melawannya untuk Tea.


“Oke skip” putus Arif


“gue ikut main musik deh, gitar atau piano—gue bisa main 2 alat musik itu” ucap Ana menengahi.


“Ketahuan duet panggung sama laki lain, habis Lo An” Alex menakuti Ana namun hanya putaran bola mata yang jadi balasannya.


“kalau gak ada yang ngadu, dia gak akan marah karena gak tahu” cibirnya menyindir Alex yang terlihat sekali ingin mengadu pada El.


“gak jadi, peace”


“berarti yang nyanyi jadi....” mereka melanjutkan diskusi sampai menghasilkan beberapa siswa yang jadi perwakilan dari kelas XI IPA-2 untuk perlombaan minggu depan.


“lukisan yang di kelas bagus woi, jadi dia aja yang ikut lomba” puji Tirah.


“bebas, Lo sama Ana tinggal diskusi, nanti kalau udah sepakat mau lagu apa bilang gue” balas Arif.


“yo, semuanya fighting—Tea Lo tentu in mau dance cover lagu apa” lanjutnya.


“Sisa perlombaan lainnya biar gue urus” ucap Tirah mulai sibuk mengisi kolom nama yang akan ikut perlombaan.


.........


“jadi, Ken sama Daren ikut sepak bola, Alex basket dan Felix renang” Ana mengangguk-angguk sambil diam-diam memuji para CS nya yang ternyata berbakat semua.


“Gua sama Arif taekwondo woi, hebat gak tuh” puji Aryn pada dirinya sendiri.


“Iya yang jago udah diem” tukas Felix melirik Ana.


“Aku jadi ikut lomba panah kan Ken?” Tea bertanya sebab tadi dia mengadu pada Ken bahwa dia sangat ingin mengikuti kedua lomba itu.


“nge borong Lo, maruk namanya” protes Felix.


“Yang anak pemilik sekolah aja fine-fine aja tuh” sergah Tea menunjuk Dareen.


“itu karena kanjeng raja Lo... bocil” balas Felix.


“biar, Ken kan emang mau ikut in perkataan aku” kekeh nya.


“Iya, jadi” Ken melerai percekcokan di hadapannya yang mengganggu.


“bagus” Tea memberi Ken jempol dan menggigit hidung Ken kecil-kecil.


“Astaga” kaget Felix melihat kelakuan Tea.


“sadar woi” Alex menarik Tea agar menjauh dari Ken.


Sedangkan Ken sendiri terkekeh dan tak merasa masalah dengan kelakuan Tea—justru itu sangat menggemaskan dan gigitan di hidungnya tak terasa sakit sama sekali.


“udah biasa gitu” ucap Tea pada Alex.


“Dasar betina” Felix berucap keras tak habis pikir.


“Lo aja yang ketinggalan zaman, sampai sekarang masih jomblo padahal wajah Lo lumayan good looking” sindir nna.


“bengek woi” Aryn tertawa terbahak-bahak dan memukul meja berulang kali.


“jadi cewek yang kalem” Daren menghentikan kelakuan pacarnya.


“Dia gak bisa kalem”


“Siem lu Felix, gua gampar mau?” ancam Aryn melotot.


.........


“woi, kelas XI IPA-4 lagi heboh” Tirah masuk ke kelas dengan suara hebohnya.


“Lo tahu gak? Mereka di serbu kelas lain karena kedapetan curang, mereka suruh orang buat ngurus kelasnya, semua murid di kelasnya gak ada yang mau kerja—katanya gak level orang kaya raya bersih-bersih” cerocosnya.


“baguslah kalau semua orang pada protes, biar di semua perlombaan mereka di D.O” tukas seseorang yang mendengar gosip dari Tirah.


“gue jahat banget ya, ngerasa bahagia banget kelas mereka di hina-hina” seseorang ikut menyahut dan tertawa.


“sok paling kaya mereka, Gedeg gue kalau liat tingkah mereka, mana murid ceweknya pada sok cakep semua—padahal cakepan gue ke mana-mana” seorang cewek yang sedang membenarkan makeup-nya ikut menyahut.


“guru udah pada tahu?” tanya Daren.


“udah, sekarang guru yang jadi juri lomba kelas dan taman lagi keliling nilai satu persatu kelas dan taman, makanya heboh karena waktu penilaian di kelas XI IPA-4 banyak siswa kelas lain datang dan ngadu” sahut Tirah.


“parahnya, wali kelas mereka bilang harusnya gak ada peraturan kaya gitu, bilang wajarlah namanya juga siswa orang kaya mana mau jadi tukang babu kayak gini” cibir Tirah.


“gurunya langsung out dong dari MHS, untung sekolah ini adil” tawa Tirah yang merasa bahagia di atas penderitaan orang lain.


“guru sama muridnya sefrekuensi banget ya”


“lomba lainnya mereka masih bisa ikut?” tanya seorang siswa di pojok.


“ikut, katanya karena ini pertama kali mereka curang mereka di kasih kesempatan—tapi kita harus waspada sama tuh kelas” Tirah menjawab dengan ekspresi tak senang.