
Grup
Beladiri MHS
Kak Zaky
Pengumuman!
Dengan hormat, berhubungan akan diadakannya kumpulan rutin, maka dengan ini kami bermaksud akan melaksanakan kumpulan yang akan dilaksanakan pada:
Hari, Tanggal: Selasa, 15 Juli 2022
Check-in: 14.30-15.00
Tempat: Aula olahraga
Berkenaan dengan hal diatas, dimohon kepada rekan-rekan untuk hadir pada kumpulan tersebut, atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.
+62 821____
Semuanya besok wajib hadir!
Tepat waktu!
Ana
Siap kak🔥
^^^Anda^^^
^^^Baik kak^^^
...…...
Pukul 14.51
Téa masuk Aula Beladiri, sudah banyak yang hadir untuk mengikuti kumpulan ekstrakurikuler seni Bela Diri
"Ayo, isi daftar hadir dulu," ucap Anita yang bertugas di pintu masuk.
Téa mengangguk dan langsung mengisi lembar daftar hadir yang ada di meja di hadapannya.
Téa menulis nama lengkap, waktu check-in dan juga tanda tangan. "Udah kak, ijin masuk ya," beritahu Téa sambil memasang senyum lebar.
Anita langsung mengangguk dan membalas senyum Téa.
Téa mengedarkan pandangannya mencari sosok Ana yang dari semalam sudah janjian untuk duduk bersebelahan.
"Sini!" Ana sedikit berseru saat melihat kedatangan Téa.
Téa menoleh saat mendengar suara khas Ana, saat melihat posisi Ana Téa langsung mendekat.
"Duduk disini," ucap Ana dan menepuk-nepuk lantai di samping kirinya. Téa langsung duduk sesuai permintaan Ana.
Beberapa saat kemudian …
"Baik, karena ini sudah jam 3 sore, saya langsung mulai kumpulan hari ini ya," ucap Zaky di depan semua anggotanya.
"Sebelum kita kumpulan, kita berdo'a terlebih dahulu sesuai kepercayaan masing-masing, berdoa … dimulai." Zaky memimpin do'a.
"Berdoa selesai,"
"Jadwal kita hari ini akan mengenal kembali mengenai Apa itu Beladiri,"
"Kita ketahui, bahwa Bela diri merupakan olahraga yang memadukan aktivitas fisik dan seni, teknik untuk membela atau melindungi diri, dan olah batin.Â
Kemudian, olahraga beladiri ini menyehatkan tubuh tapi juga bisa menjaga kondisi psikis seseorang dalam keadaan stabil.Â
Bela diri ini bukan hanya bisa dilakukan oleh pria, tapi perempuan juga bisa ikut belajar beladiri." Zaky menjelaskan di depan dengan suara yang jelas.
"Lanjut, kalian semua pastinya sudah tahu bahwa di MHS (Maier High School) ekstrakurikuler Bela diri punya empat cabang beladiri yang kita pelajari.
Terdiri dari, Judo, Taekwondo, Kick Boxing dan Pencak silat.
Saya akan menjelaskan satu-satu …
1. Judo
Judo termasuk pada beladiri yang mengkombinasikan waktu, teknik, dan juga keterampilan seseorang saat melakukannya. Selain ketangkasan, dalam Judo ketepatan juga penting.
2. Taekwondo
Dalam prakteknya, Taekwondo membutuhkan tingkat disiplin dan kesabaran yang tinggi. Fokus pada beladiri yang satu ini ada pada keterampilan serta kecepatan kaki.
Kickboxing adalah seni bela diri yang menggabungkan gerakan menendang dan meninju. Kickboxing ini mengandalkan kontak fisik secara intens seperti menendang, meninju, dan menghindari pukulan sehingga membutuhkan fisik dan stamina yang kuat.
4. Pencak silat
Pencak silat merupakan salah satu beladiri dari Indonesia yang fokusnya ada pada koordinasi antara otak dan gerakan tubuh. Bagus dalam meningkatkan fokus dan respon tubuh. Tubuh jadi lebih tangkas dan memiliki gerakan yang cepat dan tepat terutama dalam menghadapi bahaya."
"Semuanya berdiri," perintah Ken. Semuanya langsung bangkit.
"Buat lingkaran besar, ayo cepat!" jelas Ken kembali.
Semuanya merentangkan tangan sebagai jarak. Kemudian mulai mundur perlahan dan membuat formasi lingkaran.
"Hadap kiri! Lari dua puluh putaran, SIAP … Mulai!" Alex berkomando.
Semuanya mulai berlari.
"Téa," panggil Ana dari belakang.
"Iyaa?" Téa menoleh ke belakang dengan posisi masih berlari.
"Muka lo pucet, mata lo juga sayu, sakit?" tanya Ana yang merasa kondisi Téa sedang tidak sehat.
"Ohh, ini kayaknya karena semalem begadang, biasanya emang begini kok, gapapa," jelas Téa.
"Yakin? Kalau gak kuat jangan dipaksain," nasehat Ana.
"Oke," ucap Téa sambil membentuk simbol O dengan tangan kanannya yang dihadapkan ke belakang.
Beberapa saat kemudian …
"Kalian bisa duduk, kalau haus minum, duduk sesuai Beladiri masing-masing," tukas Alex.
Ken menghampiri kelompok anggota Taekwondo dengan membawa kardus air mineral. Saat sampai dia langsung menaruh kardus air mineral itu di tengah.
Harusnya Albert yang menangani ini sebagai leader Taekwondo. Tapi karena sedang dirawat di Rumah sakit, dia yang mengambil alih.
"Minumnya," jelas Ken singkat kemudian ikut duduk.
"Tolong ambilin." Téa meminta bantuan kepada Ana. Ana mengangguk dan mengambil dua botol air mineral dan memberikan satu botol pada Téa.
"Makasih." Ana mengangguk.
Ken memperhatikan wajah Téa yang terasa lebih putih, tepatnya pucat. Terutama bibirnya yang terlihat memutih. Ken jelas-jelas sadar bahwa Téa sedang sakit. Ingin bertanya tapi diurungkan.
Téa yang sadar ditatap begitu oleh Ken langsung canggung dan berniat untuk ijin ke toilet.
"Kak ijin ke toilet ya," ucap Téa pelan kepada Ken yang ada di seberangnya.
Ken mengangguk, Téa langsung berdiri. Tangannya ditahan Ana. "Mau dianterin?" tawar Ana.
"Nggak usah." Téa menolak dengan halus sambil melemparkan senyum dan berlalu pergi ke toilet.
"Uh." Téa memegang hidungnya saat merasa ada yang mengalir keluar. Tangannya bergetar saat menyentuh darah.
Téa mempercepat langkahnya menuju toilet. Setelah sampai di bagian wastafel, Téa membasuh hidung dan mulutnya yang berlumuran darah.
"Aduh … ini gimana." dengan cemas Téa terus-menerus membasuh rahangnya. Badannya terasa lemas, hidungnya juga terasa perih.
Téa tidak sadar bahwa pintu toilet dibuka dari luar. Ken masuk ke toilet dan langsung melihat Téa dari cermin di hadapannya.
Sedangkan Téa sendiri tidak sadar, bahkan tidak melihat cermin yang menampilkan sosok tegap Ken.
Ken menyentuh bahu sebelah kanan Téa dan memutar badannya sehingga mereka berhadapan. Téa kaget saat ada yang menariknya ke belakang.
Ken tidak menghiraukan Téa yang kaget. Dia sibuk melepaskan kain bandana di lehernya. Setelah terlepas, kain bandana itu ia basuh dengan air dan mulai menyeka bagian rahang Téa yang masih terdapat darah, hidungnya pun masih mengeluarkan darah dari kedua lubang hidungnya.
Téa semakin lemas, tidak punya tenaga untuk berdiri. Tanpa sadar menyandarkan tubuhnya ke dada Ken. Ken sendiri tidak mempermasalahkan itu.
"Kak …" Téa berbisik lirih, ingin bertanya tapi tak kuat untuk berbicara.
"Hm …" Ken hanya berdehem dan tetap fokus menyeka darah di hidung Téa.
Ken menahan kain bandananya di hidung Téa kemudian mengangkat tubuh Téa dan berjalan keluar dari toilet.
"Mau kemana?" tanya Téa dengan lirih. Ken tidak menjawab. Téa memejamkan matanya saat kepalanya terasa berat dan pandangannya menggelap.
"Téa …" Ken memanggil saat merasa tubuh Téa melemas di gendongannya. Saat sadar Téa pingsan, Ken mempercepat langkahnya.
Ken mengambil handphone yang ada di saku celananya dan menelepon Zaky. "Téa pingsan, gue ke Rumah sakit sekarang," ucapnya dan langsung menutup telepon.