
Setelah Alex mendengar bahwa pacarnya terluka dan bergerak dengan cepat menuju UKS, rupanya Elina sudah terlihat duduk bersandar di blankar dengan siku tangan kirinya yang di balut perban sedangkan tangan kanannya memegang handphone.
.........
“Elin,” panggil Alex mendekat dengan ekspresi yang jelas kentara khawatir, namun sayang Elina bahkan terlihat santai dan acuh terhadap lukanya.
“Eh? Alex?” Elina mendongak dari hp dan menatap Alex terkejut dan heran.
“Ngapain disini?” tanyanya kembali saat Alex duduk di kursi samping blankar.
“Kenapa bisa luka?” Tanya Alex menarik pelan tangan kiri Elina yang terluka di bagian sikunya.
“Biasa, kena pecahan kaca waktu duduk di meja kelas” jawabnya menyengir lebar. Alex hanya menggeleng heran. Masih sempatnya tersenyum. Elina ini banyak tingkahnya.
“Disini.” dengan manja Elina bergeser dan meminta Alex untuk naik ke blankar. Alex menurut. Setelah itu Elina bersandar manja di bahu Alex dan Alex hanya membiarkannya.
“Lain kali hati-hati jangan ceroboh, lebih teliti lihat lingkungan sekitar kamu,” nasihat Alex dengan dewasa.
“Okay,” jawab Elina tersenyum senang merasa di perhatikan.
“tes... tes OKE PERHATIAN UNTUK SEMUA SISWA SISWI MHS—MAIER HIGH SCHOOL, GERBANG SUDAH DIBUKA, KALIAN BISA PULANG SEKARANG. JANGAN LUPA UNTUK HATI-HATI DAN NANTI PIHAK SEKOLAH AKAN MENGABARKAN APAKAH BESOK SEKOLAH TETAP LANJUT ATAU DILIBURKAN.” suara seorang petugas piket menggema di seluruh wilayah sekolah, pemberitahuan dari pihak sekolah.
“Pulang?” tanya Elina lebih ke mengajak yang tentunya langsung diangguki Alex.
“Bentar, chat temen dulu,” ijin Alex mengeluarkan hpnya dan mulai mengutak-atik, memberi pesan pada para kembarannya.
“Tadinya kamu mau kemana?” tanya Elina santai.
“Ke rumah sakit, jenguk papanya Daren,” jelas Alex tanpa menutupi, alis Elina langsung mengerut.
“Kecelakaannya karena apa?” awalnya Elina sudah mendengar gosip tentang kecelakaan yang menimpa pemilik sekolah, namun namanya gosip yang memang kenyataannya belum tentu benar jadi dia mengacuhkan.
Tapi, Setelah mendengar pernyataan Alex, dia tentunya langsung percaya mengingat persahabatan antara Alex dan Daren dkk.
“Gak papa?” tanyanya khawatir mengganggu yang dibalas gelengan.
“Bentaran doang, cuma ijin nganter kamu pulang” tenang Alex yang hanya diangguki oleh Elin.
.........
“Alex katanya nganterin kak Elina pulang dulu” ucap Ana setelah membaca pesan dari Alex.
“Kita langsung pergi ke rumah sakit aja,” ajak Felix yang disetujui. Mereka pergi ke Rumah sakit Kartini dengan Tea yang ikut Ken dan Ana ikut Felix.
.........
“Aku pusing,” keluh Tea manja saat mobil dalam perjalanan menuju RS. Ken mengangkat tangan kirinya lalu memeriksa dahi Tea.
“Agak hangat. Mau pulang?” tanya Ken khawatir yang tentunya langsung di balas gelengan tegas oleh Tea.
“Gak bisa gitu dong,” protesnya. Bagaimanapun Daren adalah teman mereka. Rasanya tidak etis kalau tidak menjenguk.
Tea hanya bersandar di sandaran Kursi mobil dengan bantal yang ada di pahanya. Ken juga memijat pelan dahi Tea tanpa banyak kata. Tea tersenyum tipis lalu meraih tangan Ken dan mengecupnya. Ken tentunya kaget.
Ken tidak tahu saja, Tea mengeluh sakit kepala memang meminta perhatian bukan meminta di pulang kan.
BIASA... caper dulu dikit sama Ken! Masa gak boleh—
“Lanjutin...” pinta Tea manja, mengarahkan kembali tangan Ken pada keningnya. Ken hanya menuruti.
.........
Saat Ana dan Felix bersiap naik mobil Felix—
Baru tangan Ana ingin membuka pintu belakang mobil Felix, tangannya sudah di tepis oleh Felix yang terlihat jelek.
“Di depan, Lo kira gue sopir Lo gitu?” sewotnya tak terima.
“Pokoknya ini mobil gue, jadi lo harus ikutin kata-kata gue!” ucap Felix angkuh yang di balas delikan maut Ana.
“Mobil karatan aja bangga, paling harganya gak nyampe make up mahal gue,” cibirnya Meskipun begitu Ana segera membuka pintu mobil depan Felix.
Felix menggeram tak terima mobil mewahnya dihina karatan dan murahan, apalagi di banding-bandingkan dengan alat ondel-ondel para ciwi. Meskipun begitu dia langsung bergerak ke arah kemudi karena sadar ini bukan waktunya berdebat.
.........
Mereka sampai di parkiran rumah sakit secara bersamaan dan menuju lantai teratas tempat papa Daren di rawat. Dari luar ruangan beberapa bodyguard tengah berjaga.
Mereka masuk tanpa suara, ketika mereka masuk—pandangan langsung jatuh pada Daren dan Aryn yang tidur saling memeluk di sofa. Ruang inap berfasilitas VVIP ini dalam satu ruangan terdapat Sofa, kasur untuk beristirahat, blankar tempat papa Daren yang ternyata dihalangi sekat gorden, televisi dan toilet.
“Mereka romantis banget,” ucap Ana geli.
“Bukannya lo sama El tiap hari romantisan ya,” ucap Felix mengejek, Ana mendelik.
“Tentu dong!” bangganya lalu terdengar sibakan gorden yang membuat mereka mengalihkan pandangan.
“Wah teman-teman Daren rupanya Pa...” ucap seorang wanita yang terdengar girang, ternyata mama Daren.
“Tante Sinta...” sapa mereka lalu mendekat ke arah blankar, tempat papa Daren berbaring setengah duduk mengunyah makanan. Om Thomas mengangguk-angguk pada mereka.
“Oh... Mau jengukin saya,” mangutnya.
“Alhamdulillah saya sehat wal'afiat, tidak sekarat,” candanya yang segera di pukul ringan oleh istrinya.
“Thom!” peringkatnya. Ingat kan? Ucapan itu adalah do’a.
“kalian, ayo duduk-duduk,” ucap Sinta—mama Daren.
Ana juga menyerahkan bingkisan buah-buahan dan beberapa makanan yang sempat mereka beli sebelum sampai di rumah sakit.
“Om, kenapa bisa rem mobil tiba-tiba blong?” tanya Alex serius.
“Hm... gak tahu kenapa bisa-bisanya mobil om di sabotase, apalagi apa motif mereka melakukan ini. Bahkan sekolah pun jadi incaran mereka. Awalnya, om kemarin dapat teror surat dengan tulisan 'keluarga kalian semua akan mati' tapi belum sempat om cari tahu, om malah kecelakaan,” jelasnya panjang lebar.
“Teror lagi?” tanya mereka tak percaya.
“Jangan-jangan pelaku teror ke kita kemarin juga dari bos yang sama, tapi anehnya waktu itu kan Ana, Tea dan Aryn juga di teror bertiga di toilet. Target mereka itu siapa? Keluarga Maier atau... ah iya! Aryn kan pacarnya Daren ya? bisa jadi berarti ini teror untuk keluarga Maier,” ungkap Felix kebingungan.
“Ini gak sesederhana itu,” ucap Alex membuat Tea dan Ana diam-diam saling melirik, om Thomas dan Sinta juga memandang Alex.
“Kamu tahu sesuatu?” tanya Thomas serius membuat Alex kaget ditanya seperti itu.
“Ah?”
“Kalian disini?” Daren memotong perkataan Alex dan muncul secara tiba-tiba.
“Oh lo udah bangun, Aryn mana?” tanya Felix.
“Udah,” jawabnya yang disusul dengan munculnya Aryn. Mukanya terlihat basah. Mereka berdua lalu ikut duduk.
“jadi...?” tanya Thomas pada Alex, membuat Alex bingung harus menjelaskan seperti apa.
“Target mereka bukan Maier tapi kita semua!” ucap Ken tiba-tiba membuat mereka menatapnya.
“Kamu...” ucap Thomas menggantung
“Semua?” gumam Daren tak paham. Tea menegang mulai berayal-ayal bahwa Ken mengetahui masalah ini.
“Kyler, Kendrik, Leonard, Maier, Smith, dan Maheswari,” ucapnya tak mau menjelaskan lebih jauh.
“Apa?!” semua orang kaget akan jawaban Ken.