ALTEA

ALTEA
CCTV di Toilet Perempuan



"Kak, ini air mineral, biar gak haus," Rita menyodorkan botol minum ke arah Zaky. Zaky yang baru saja selesai olahraga hanya meliriknya dan pergi.


Rita tidak menyerah, dia tetap mengikuti langkah Zaky dan memaksa kakak kelas pujaannya itu untuk menerima botol minum pemberiannya.


Zaky jengah, dengan sekali sentak dia meraih botol minum itu dan melemparnya ke tong sampah dengan gerakan sembarang.


"Kak!" Rita berseru tak percaya.


"Kenapa di buang? Itu kan buat kak Zaky minum," ucapnya kecewa.


"Berheti ngikutin gue," tukas Zaky.


Téa yang berada tidak jauh dan akan melewati mereka berdua bersama Aryn pun membuka suara.


"Perempuan itu harus punya harga diri, jangan mengejar jika tidak di cari, kodratnya perempuan itu dikejar bukan mengejar. Jika sudah dibuang, tidak perlu lagi berjuang. Perempuan itu harus kuat, jangan rapuh. Nanti mahkotanya jatuh." Téa mendekati tong sampah tempat botol minum milik Rita yang Zaky buang.


"Nggak salah menyukai laki-laki, gak salah juga kok kalau mau ngejar cowok lebih dulu, yang jadi masalahnya itu, kenapa bisa kamu masih mau berjuang kalau cowoknya aja gak ngehargain kamu, jangan sampai gak punya harga diri, inget, R.A Kartini berjuang buat naikin derajat perempuan tapi perempuan sendiri berani hilangin harga dirinya hanya untuk laki-laki yang belum tentu jodoh kamu," ucap Téa sambil meraih botol minum Rita di tong sampah.


Téa berjalan mendekat ke arah Rita, menyerahkan botol minum itu kembali ke tangan Rita, setelah dia membersihkan botol itu menggunakan roknya.


"Kak Zaky gak salah buat gak suka kamu karena itu hak dia, tapi Kak Zaky salah karena sikapnya yang kasar dan gak ngehargain kamu. Kamu juga gak salah buat suka sama Kak Zaky tapi kamu salah ganggu privasi dia dengan ngejar-ngejar dia terus sampai buat dia jengah sendiri, ngejarnya kamu itu seakan memaksa Kak Zaky buat harus suka balik kamu. Perasaan gak bisa dipaksa," tukas Téa dengan senyum kecilnya.


Téa berbalik, berniat untuk melanjutkan jalannya. Tak jauh dari keberadaannya, Ken dan teman-temannya melihat aksi Téa sekaligus mendengar kata-kata bijaknya.


"Hebat!" Aryn berbisik dan meraih tangannya untuk segera ke kantin.


...…...


Zaky berdiri kaku saat mendengar kata-kata Téa yang menurutnya tidak asing.


Rita menunduk, menatap botol minumnya. Tangannya mencengkram kuat botol itu. Téa termasuk teman sekelasnya, tidak begitu dekat dengannya tapi tetap saling mengenal dan pernah berbincang.


"Definisi cewek bidadari dengan harga dirinya. Hebat!" Felix berdecak kagum.


"Cewek good looking dengan kesempurnaan karakternya," ucap Alex menyahut.


"Andai gue punya cewek sesempurna dia," Albert bergumam, matanya mengikuti langkah Téa berjalan.


Diam-diam Ken mengulas senyum kecil.


"Kata-kata Tante Dewi," beo Zaky yang baru teringat.


Ken menoleh, "Apa?" tanyanya saat mendengar gumaman tak jelas Zaky.


"Gak."


"Ck"


...…...


Ken menutup pintu khusus toilet laki-laki. Saat akan pergi matanya tak sengaja menatap Téa yang berdiri di depan pintu toilet perempuan dengan keadaan acak-acakan.


Niatnya dia hanya berjalan melewati Téa. Sayangnya, tatapan Téa yang terlihat sangat shock membuatnya bersimpati.


Ken mendekat pada Téa. "Kenapa?" tanya Ken to the point.


Téa mendongak, menatap Ken dengan terkejut. Matanya langsung mengalihkan pandangannya acak. "Anu, itu di toilet ada CCTV," beritahu Téa dengan berbisik pelan.


"CCTV di toilet?" Ken bertanya memastikan.


Alis Ken menyatu, matanya menyusuri Téa dari atas sampai bawah. Baju seragam putih dan celana olahraga.


Téa juga ikut menyusuri tubuhnya. Setelah sadar, matanya membola shock. "Berarti tadi aku buka baju kerekam CCTV?!" Téa menjerit.


Ken mengalihkan pandangannya. Kemudian bergerak mengurung Téa. Tangannya mengancingkan dua kancing teratas seragam Téa yang terbuka, sehingga, bagian atas dada dan bra terlihat.


Téa menggigit bibirnya. Benar-benar malu. Tapi sekarang itu tidak penting. Téa masih bersyukur, ini kali pertama dia masuk toilet perempuan, dia tidak pernah buang air di sekolah, hanya ganti seragam dan bahkan tadi pagi begitupun sekarang, tubuhnya yang terekspos CCTV hanya tubuh bagian atas yang terbalut bra dan tanktop, untuk bagian bawahnya pun Téa memakai celana olahraganya dulu baru membuka rok.


Meskipun begitu, Téa tetap geram dengan oknum yang berani memasang CCTV di bilik toilet perempuan. Téa masih bisa bersyukur, tapi, bagaimana dengan siswa perempuan lain yang buang air dan ganti baju dengan membuka keseluruhan seragamnya di toilet?!


Téa mencengkram baju seragam Ken. "Kak, bantu cek," pinta Téa melas.


Ken berdehem dan menarik Téa untuk masuk ke dalam toilet. Ken dan Téa sama-sama mulai menyusuri toilet dari bagian luarnya sampai bilik ke bilik.


Bagian luar bilik toilet atau tempat wastafel dan cermin, tidak ada CCTV yang terdeteksi lewat aplikasi deteksi CCTV di hp Ken. Sayangnya, di setiap bilik ternyata terdeteksi CCTV.


Di bagian bilik yang di pakai Téa. Téa menemukan CCTV itu karena awalnya melihat-lihat dinding bilik tetapi ada bagian menonjol di dinding. Saat Téa usil memegang dan memainkannya di bagian atas pojok dinding sambil naik kloset, ternyata itu CCTV super kecil yang dikelilingi double tip yang dibalut lem kayu. Sehingga, samar-samar itu hanya terlihat dinding putih yang menonjol.


Ken memerintahkan Téa untuk merekam sebagai bukti dan Ken sibuk membongkar semua CCTV yang di temukannya.


...…...


"Kak, ini di daerah sini beneran gak ada CCTV?" Téa bertanya dengan ragu sambil menyipitkan matanya menyusuri dinding di sekitar wastafel.


"Gak ada," ucap Ken.


Téa menatap sekilas mata Ken yang punya sorot tajam. Tangannya menarik ujung baju seragam Ken kembali, "Tunggu sebentar," tahan Téa agar Ken tidak pergi.


Ken menatapnya, "Kenapa?" tanyanya sambil mendengus.


"Tungguin aku pakai rok," papar Téa menampilkan senyum lebar.


Ken menyorot tajam, "waras?!" tanyanya.


"Eh?" Téa kebingungan kenapa kakak kelas di hadapannya ini tiba-tiba sarkas.


Matanya melotot, "Oh! Maksudnya tunggu dulu, Jagain. Hadap sana, aku cuma mau pake rok. Tenang, gak akan lepas celana kok, walaupun di lepas dalemnya pake hotpants," papar Téa meluruskan kesalahpahaman.


Ken menggertakkan gigi gerahamnya. Meskipun Téa bilang begitu, memangnya pantas meminta bantuan pada Laki-laki?! Tidak.


"Gak ada CCTV, cepet." Ken mengalah, tubuhnya langsung berbalik membelakangi Téa.


"Makasih," bisik Téa.


"Hm," dehem Ken menanggapi.


NOTE PENULIS


Halo teman-teman semuanya👋🏻


Apa ada yang baca cerita aku? kalau ada terima kasih banyak🙏🏻


Mohon bantuannya, bila ada beberapa kata atau tulisan yang pengetikannya salah atau bahasanya kurang enak atau tidak cocok mohon di beri tahu dengan kata kata yang tidak menyakiti hati atau menyinggung🙏🏻


Satu lagi, saya menulis ketika sedang ada ide baru dituangkan kedalam tulisan, ini merupakan pertama kalinya saya membuat cerita novel, maka dari itu mohon di maklumi🙏🏻


Sekian, Terima kasih👋🏻