ALTEA

ALTEA
#29# Lomba duet nyanyi dan yel-yel legend XI IPA-2



Selasa, perlombaan Melukis dan Duet menyanyi.


Ana menggunakan kemeja putih dipadu dengan vest rajut berwarna Lilac dan rok jeans putih pendek.


Sedangkan Agus hanya memakai kaos hitam yang bertebaran tulisan kecil 'Christian Dior' dan 'ATELIER' secara acak. Dipadu dengan kalung rantai perak di lehernya dan celana jeans biru robek-robek. Terlihat Macho.


"HEH! dengerin semuanya, jadi… gue udah buat yel-yel yang top-markotop buat nanti pas perwakilan kita tampil," jelas Arif menepuk dadanya dengan bangga.


"Gue juga ikut ya waktu buat yel-yelnya pas malem," protes Gina karena namanya tidak diikut sertakan.


"Iya, maksudnya buatan gue sama elo! Udahlah males debat gue," ucap Arif mengalah.


"Kita contohin, lo semua dengerin baik-baik dan hafal. Oke?!" Seru Gina.


"Yo mulai, hiji, dua, tilu," aba-aba Arif.


"Amerika, Australia, India Acha-acha, Papua Aha-aha, China Koshi pacai, Malaysia Upin-ipin, Selamat pagi cé'gu lima jari, ketik tiga, nelpon pacar gak ada pulsa, minta Oma-minta Opa, Oppa gamnam star. Eeeee…" Arif dan Gina menyanyikan yel-yel dengan gerakan tangan dan nada main-main.


Begitu yel-yel selesai. Seluruh siswa kelas XI IPA-2 langsung bertepuk tangan dan bersorak memuji yel-yel buatan mereka berdua yang memang sangat unik.


"Wow, seru nih pasti," ucap Felix dengan heboh. Tangannya bergerak mengobrak-abrik tas mengeluarkan buka dan pulpen untuk mencatat lirik yel-yel buatan Arif dan Gina.


"Buruan tulis di papan tulis Gin! Yo, semuanya harus hafal, pasti heboh kalau kita nyanyiin yel-yel ini," seru Felix dengan heboh.


"Oke, sabar onyon!" Gerutu Gina yang kaget karena Felix tiba-tiba menarik paksa tangannya dan menyerahkan spidol papan tulis.


"Unik banget yel-yelnya," ucap Tea tersenyum lebar.


"Ini harus diabadikan di video content lo, Tea!" Seru Ana ikut antusias.


"Gak bawa kamera," sahut Tea lesu.


"Yah… gimana dong?" Kata Ana mengeluh.


Ken tersenyum melihat wajah Tea yang langsung lesu. "Tinggal suruh orang rumah buat ambil kamera, masih ada waktu sebelum lomba dimulai," ungkap Ken mengeluarkan solusi.


Tea menepuk dahinya. "Iya juga ya."


"Bego," umpat Ana pada dirinya. Kenapa harus Ken lagi sih yang terlihat keren dan pintar dengan kata-katanya.


"Udah lengkap ada Aha-aha, Acha-acha. Tinggal narinya doang," cibir Aryn. Entahlah, kenapa juga dia merasa geli dengan yel-yel aneh dari Arif dan Gina.


"Tomboy! Lo diem ya!" Seru Ana tak mau mendengarkan pendapat Aryn.


"Shttt, kan yel-yelnya ada gerakan. Semuanya juga harus hafal gerakannya. Jadi, peragain semua yang gue contohin ya!" Titah Gina.


Gina memperagakan yel-yel yang dibuatnya dengan pelan agar semuanya dapat segera hafal.


Lihat gambar di bawah ini ya!













Seluruh siswa kelas XI IPA-2 beriringan menuju Aula musik dimana tempat lomba duet nyanyi diadakan.


Di Barisan pertama ada Felix yang memegang gitar Ana dan Alex yang memegang kamera, siap merekam aktifitas mereka hari ini.


Diikuti Aryn dan Daren, lalu Ken dan Tea. Yusuf dan yang lainnya sibuk menghafal yel-yel yang ditulis di selembar kertas kecil di masing-masing siswa.


"Deg-degan ih anjir," gerutu Ana kesal.


"Sabar, wajarlah deg-degan, orang lu mau tampil," jengah Aryn.


"Bener, lo dari tadi berisik mulu, deg-degan lah, nervous lah, gemetaran lah, apalagi ya? Pokoknya lo udah berulang kali ngeluh," cibir Alex.


"Yeee, orang gue lagi gugup lo malah ngejek," toyor Ana pada Alex.


"Gak sopan Ana," ucap Alex melotot.


"Heh, dari tadi gue hafalin ini yel-yel berasa lagi keliling dunia. Muter-muter! Ini lagi, ini lagi," ucap Yusuf mengeluh.


"Ya elu otaknya pas-pasan," jengkel Aryn.


"Jangan ngejek," ucap Daren menoyor pelan kening Aryn.


"Namanya bercanda Daren," kilah Aryn.


"Terserah."


"Tolong fotoin Alex," pinta Tea. Tangannya melingkari lengan Ken.


"Oke."


"Bentar. 1 2 3 cekrek," tahan Alex.


"Lagi?" Tanya Alex. Tea mengangguk.


"Apa lagi?" Tanya Tea memikirkan posisi bagaimana yang cocok.


Ken meraih pinggang Tea. Membawa Tea ke pelukan. Tangannya mengusap rambut Tea, membawa helaian rambut ke belakang telinga.


Cekrek


...…...


"Geser sedikit woy," seru Yusuf meminta teman sekelasnya agar menggeser kursi.


"Heh, geseran dikit."


"Gina, geseran kursi lo sedikit, kurang tempat disini."


"Bentar elah," gerutu Gina menyimpan cermin kecil dan lip balmnya ke saku.


"Dandan mulu perasaan," gumam Yusuf keheranan.


"Nah, kan gini enak," desah Yusuf setelah memiliki ruang untuk kursi tempatnya duduk.


"Urutan berapa?" Tanya Ken pada Ana.


Melirik sekilas name tag di dadanya. "No.3," jawab Ana.


"Ini udah penuh, kenapa belum dimulai ya?" Tanya Tea heran.


"Gak tau gue, coba tanya panitia," ucap Ana.


"Gak usah, bentar lagi juga dimulai," sahut Daren.


"Ini AC nya nyala gak sih? Kepanasan gue," kata Ana mengeluh.


Daren memutar matanya jengah. Melihat jajaran AC di Aula musik.


"Tuh, nyala kan?!" Tunjuk Daren dengan sedikit penekanan.


"Sensi banget, orang cuma nanya. Bukan ngeledek," gumamnya tak mau didengar Daren.


"Tes… halo semuanya, kita akan mulai lombanya. Jadi, tolong masing-masing perwakilan duduk di depan. Kami telah menyiapkan kursi khusus untuk peserta lomba, jangan lupa untuk membawa alat musik yang kalian siapkan. Untuk peserta yang kemarin konfirmasi mau pakai alat musik milik sekolah, tolong ke belakang stage untuk daftar dan mengambil alat musiknya," ucap panitia lomba.


"Langsung kedepan gih," suruh Alex menepuk pundak Ana.


"Ayo!" Ajak Agus. Ana mengangguk dan berdiri.


"Fighting! 💪🔥" Dukung Tea.


Ana mengambil gitar dari Felix. Mereka berjalan dan duduk di kursi sesuai no.urutan.


"Lo jangan tegang," peringat Agus, dirinya terkekeh pelan melihat wajah tegang Ana.


"Jangan sampai lupa kunci nanti," goda Agus kembali.


"Sungkem lo," delik Ana sebal meminta Agus untuk diam.


"Karena semua sudah siap, kita langsung mulai dari urutan no.1: kelas XI IPA-5." Suara tepukan tangan langsung bersahutan saat peserta lomba dari kelas XI IPA-5 maju ke panggung.


"Perasaan tadi gak ada pembukaan dah. Kenapa langsung dimulai? Gak ada basa-basi sama sekali?" Tanya Aryn tak percaya.


Daren mendengus. "Pembukaan udah selesai waktu kita datang," jelasnya.


"Ohh, pantes" mangut Aryn paham.


...…...


"Selanjutnya yaitu penampilan dari perwakilan kelas XI IPA-2."


Woahhhh


Semuanya bertepuk tangan heboh. "Yooo kelas IPA-2," seru Arif.


"Heh, ayo nyanyi yel-yel," bisik Gina.


"Aba-aba dong," sahut Felix.


"Biar gue aja," sahut Felix kembali dengan cepat.


"1, 2, 3. Mulai!"


"Amerika, Australia, India Acha-acha, Papua Aha-aha, China Koshi pacai, Malaysia Upin-ipin, Selamat pagi cé'gu lima jari, ketik 3, nelpon pacar gak ada pulsa, minta Oma-minta Opa, Oppa gamnam star."


"Eeeeee," sorak seluruh murid kelas XI IPA-2.


"HAHAHAHA."


Yel-yel mereka disambut tawa keras dari siswa kelas lain. Banyak pujian dan candaan dilontarkan mereka.


Aryn langsung menutup wajahnya malu. "Gua malu, sumpah!" Ucapnya sebal.


"Bagus tau," bela Tea.


"Fokus," kata Alex. Mereka semua langsung memperhatikan Ana dan Agus yang sudah duduk di kursi panggung. Ana memegang gitar, siap memetik senar. Agus pun sudah memegang mic.


Bersamaan dengan intro lagu Marry you terdengar, Ana juga mulai memetik senar gitarnya. Agus memandang Ana dan menyanyikan lagunya dengan penuh penghayatan.


Ketukan dan nyanyian lagu yang enak didengar membuat banyak orang langsung mengetuk-ngetukan kakinya ke lantai. Tangan yang ikut bergerak naik-turun sesuai nada lagu. Bahkan banyak yang mungkin hafal dengan lagu ini langsung bergumam ikut menyanyi.


Ana dan Agus sukses tampil duet dengan memukau.


Ken menatap ke satu titik. El, abang Tea itu berada disini. Dengan tampilan formal. Melihat penampilan Ana di panggung dengan lelaki lain.


Ken menyeringai. Pasti setelah ini, Ana berada dalam bahaya. Hatinya langsung bersorak, ikut senang membayangkan penderitaan Ana, nantinya.


Ken menggerakan kepala Tea untuk melihat abangnya. Tea yang melihat El langsung melotot lucu.


"Itu Abang El?" Tanyanya tak percaya.


"Emang siapa lagi?" Balas Ken sambil tersenyum.


Alex yang berada di samping Tea ikut menoleh saat mendengar seruan Tea. "Bang El?" Gumamnya lalu meringis.


Mata abangnya ini sudah terlihat berapi-api menonton pertunjukan duet Ana dan Agus.


"Gue gak khawatir sih kalau si Ana. Masalahnya, nasib si Agus gimana ya?" Tanyanya pada diri sendiri.