ALTEA

ALTEA
#12# Sampai di villa dan memasak bersama



03.00 am—Mansion Kyler


Sesuai kesepakatan, pukul 03.00 am semuanya telah berkumpul di mansion Kyler. Mobil yang akan mereka naiki sudah siap di halaman. Sebuah mobil berukuran cukup besar dan mampu menampung penumpang 7 orang.


Semuanya berkumpul di ruang tamu dengan barang bawaan mereka yang disatukan, yang nantinya akan dibawa oleh para maid dan bodyguard. Ana dan Tea masih mengantuk, menampilkan wajah menggemaskan andalan mereka. Ken juga sudah memakaikan jubah tebal ke tubuh Tea yang saat datang hanya mengenakan kaos putih polos.


“Gak ada yang ketinggalan kan?” tanya Alex memastikan sebelum mereka berangkat ke salah satu vila milik keluarga kyler yang ada di Bogor.


“Tea, lu gak lupa bawa kamera kan? Katanya mau sambil nge-vlog?” Tanya Aryn pada Tea yang masih bersandar di bahu Ken.


“Hem?” tanya Tea sambil mengusap mata dengan tangan kiri.


“Udah,” jawab Ken mewakilkan, tadi dia sudah mengecek tas Tea.


“Yaudah ayo. Woy! Ana bangun, lanjut tidur di mobil nanti.” Alex bangkit dan menepuk-nepuk kepala Ana yang tertidur.


Akhirnya setelah semua siap, mereka naik ke mobil. Tentunya ada beberapa mobil juga yang nantinya mengikuti di belakang bahkan di depan sudah ada mobil yang bergerak maju.


Mereka ikut untuk memastikan keamanan tuan dan nona muda, tentunya ini syarat yang di berikan para orangtua Ken dkk jika ingin berlibur ke villa. Teror batu, teror sekolah, teror papa Daren sudah membuktikan bahwa ada pihak yang berniat jahat pada mereka. Keadaan sedang berbahaya.


Saat matahari mulai muncul, satu persatu mulai kembali penuh dengan stamina. Tanpa jejak mengantuk. Perjalanan yang mereka tempuh hampir selesai. Sambil menunggu untuk sampai di villa, mereka melantunkan beberapa lagu bersama-sama.


“Nanti aku tidur dimana?” tanya Tea pada Ken, tentunya karena vila yang akan ditempati milik keluarga Kyler. Mereka berdua duduk berdampingan, Tea masih memakai jubah Ken yang berwarna mocca.


Tak disangka, Ken malah menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa dirinya tidak tahu dan tidak pernah ke vila keluarganya yang ada di Bogor.


Aryn yang memang menyukai hal berbau photografi mulai mengeluarkan kamera milik Tea dan merekam kegiatan menyanyi mereka.


Sambil merekam dia mengusulkan sesuatu. “Kalau udah sampai di vila, siapa cepat dia dapat pilih kamar sesukanya, oke?” usul Aryn. Mereka setuju, semuanya sepakat.


"Tapi gak seru kalau cuma itu, gimana waktu kita milih kamar jangan di cek dulu keadaan di dalamnya," usul Ana. Yang lainnya setuju-setuju saja.


Saat sampai semuanya bergegas turun. Para lelaki berjalan dengan santai tapi tidak dengan para perempuan yang berlari untuk melihat isi vila dan memilih kamar.


Villa ini ternyata berlantai 2 dan terdapat rooftof di atas. Dikelilingi pemandangan yang indah dan asri. Ada kolam renang luas dilengkapi seluncuran yang cukup tinggi dan panjang. Tak luput ada ember tumpah di kolam bagian kanan, seperti Waterboom.


“Gua lantai 2 oke!” teriak Aryn sambil membawa kamera yang masih merekam. Aryn berlari menaiki tangga menuju lantai dua.


“Gue juga,” sahut Ana ikut berlari, setiap ruangan terdapat papan tulisan sebagai keterangan, misalkan 'ruang gym'. Ternyata dilantai dua hanya terdapat satu kamar dan mereka bertiga berebutan untuk masuk ke kamar satu-satunya di lantai dua.


Entahlah, lantai dua selalu punya pelet yang membuat semuanya ingin tinggal di kamar lantai dua. Apakah kalian pun sama?


“Pokoknya aku disini! kalian ngalah,” keukeuh Tea yang mencoba masuk tapi di hadang.


“Ets... enak aja, lu baru sampai. Kita duluan yang udah ada disini,” protes Aryn


“Tea, lo di bawah aja gih biar deket kamar Ken,” ucap Ana namun ditolak tegas Tea dengan gelengan.


“Anjir, ah gua gak bisa tidur kalau di lantai satu.” Aryn juga keukeuh dan mencoba membuka pintu. Akhirnya pintu terbuka, mereka bertiga jatuh bersama dengan Tea yang menimpa Ana dan Aryn.


“Teaa,” pekik Ana yang tertimpa tubuh Tea.


Terdengar suara cekikikan dari belakang, Ken dan yang lainnya ternyata menyusul naik ke lantai dua dan melihat perdebatan Tea, Aryn dan Ana. Ken mendekat dan membantu Tea untuk bangkit.


Setelah mereka bertiga bangkit, Felix dengan muka mengejek dan alis yang dinaik-turunkan mengarahkan dagunya menunjuk ke dalam kamar.


Speechless—


“Gila.”


“Setan.”


“Astaga.”


Begitulah suara pertama yang di keluarkan Aryn, Ana dan Tea setelah sadar dari speechless-nya. Felix, Daren dan Alex tertawa terbahak bahak melihat ekspresi sad dari ketiganya.


“KENAPA GAK BILANG DARI TADI!” pekik mereka bertiga bersamaan lalu menunjukkan ekspresi super kesal dan jengkelnya.


Tea melingkarkan kedua tangannya ke perut Ken, wajahnya menyamping dan mulai mengeluarkan keluhan.


“Huhuhu kenapa gak dari tadi kasih tau, jadi aku gak usah ikut rebutan.” rengekan manja yang di keluarkan Tea dibalas senyuman indah dari Ken, tangannya mengangkat tubuh Tea sedikit dan menurunkannya kembali.


“Udah, taruh barang kalian. Kumpul di ruang tamu, kita sarapan,” ucap Ken. Barang yang dimaksud adalah tas selempang mereka bertiga yang menyimpan handphone dan barang-barang kecil yang biasanya diperlukan.


“Kita masak apa?” tanya Ana.


Ana ini bisa dibilang jago masak, sesekali dia sering belajar dari koki yang ada di mansionnya.


Tapi kali ini, semua turun langsung ke dapur. Para lelaki berniat untuk membantu memasak. Bahan-bahan dan Alat memasak di vila ini terbilang lengkap karena sudah di sediakan oleh pengurus vila.


Beberapa Bodyguard yang datang bersama mereka juga tinggal di vila samping. Mereka sudah di sediakan makanan oleh pengurus vila. Sayangnya, untuk saat ini Tea dan yang lainnya ingin membuat sarapan sendiri.


“Kalian buat makanan simpel aja. Nasi goreng, sandwich atau outmeal. Gue mau buat macaron, kemaren-kemaren gue baru aja belajar buat ini resep,” kata Ana.


“Karena gua laper, mending masak nasi goreng, biar kenyang,” ungkap Aryn berjongkok membuka lemari, mencari wajan.


“Mau masak apa hm?” tanya Ken sambil memainkan rambut Tea.


“Sandwich?” ucap Tea seperti meminta persetujuan. Ken mengangguk, asalkan Tea kenyang kenapa tidak?


Para lelaki selain Ken sepakat ingin memakan nasi goreng. Aryn setuju dan meminta mereka membantunya memasak.


“Gue potong bawang sama cabai,” ucap Felix terdengar angkuh dan mulai mengambil talenan, pisau serta bawang dan beberapa cabai merah. Bersiap ingin memotong.


“Jangan nangis lu,” sahut Aryn sambil menuangkan minyak ke wajan.


“Telurnya jangan dicampur nasi. Pisah aja, gue yang goreng telur mata sapi,” ucap Alex yang diketahui kurang suka dengan nasi goreng yang dicampur langsung dengan telur.


Daren mendekati Aryn, berinisiatif membantunya memasak. Sayangnya, Aryn menyerahkan kamera dan menyuruhnya untuk merekam kegiatan masak mereka saja. Daren hanya menuruti. Semuanya mulai sibuk sesuai tugas masing-masing. Keadaan dapur seperti kapal pecah.


“Ren!” panggil Felix supaya kamera menyorotinya.


Setelah kamera tertuju padanya, Felix mulai memeragakan gerakan memotong cabai dan bawang. Mencincang daging dengan banyak gaya. Tak lupa potongan sosis yang ia buat sebagus mungkin. Yah, no bad.


Aryn mulai menumis bahan-bahan yang di potong Felix. Lalu memasukkan nasi dengan jumlah yang banyak. Setelah beberapa saat, dia menuangkan kecap dan kaldu ayam lalu mengaduknya.


“Sedikit lagi,” ucap Felix meminta Aryn menambahkan kecap lagi. Aryn menurut.


Berpindah posisi kepada Alex yang tengah memasak beberapa telur mata sapi. Katanya. Ya! Katanya, karena telur itu tak seperti mata sapi, hanya telur goreng berantakan. It’s oke, ini masih bisa di makan. Daren terkekeh melihat bentuk telur buatan Alex.


“Huh, akhirnya telur mata sapi-kuuu,” gumam Alex sambil menata beberapa telur di piring, di tata seindah mungkin.