
Dalam perjalanan pulang, Adel memilih tetap diam, gadis itu tidak menyangka jika Riana bisa berkata seperti itu. Adel akui saat mendengar Riana membentak dan memakinya sewaktu di toilet, matanya sudah berkaca-kaca, tapi dengan kuat Adel menahan air matanya agar tidak jatuh.
Sekuat dan setegarnya seseorang, pasti tetap akan merasa lemah dan rapuh juga. Begitu juga dengan Adel, kehidupannya sebelum menikah memang sangat sulit, tapi gadis itu tetap tegar.
Namun sekarang berbeda, meski hatinya terasa sakit, tapi demi drama yang ia perankan, Adel harus pintar bersandiwara.
Sementara itu, pikiran Farel masih kacau, ia tau, jika pernikahannya dengan Adel hanya sekedar sandiwara saja, pernikahan mereka berada di atas janji. Tapi entah kenapa, saat melihat Adel menangis dan sedih, Farel merasa kesal dan geram, seolah-olah ia tidak rela orang lain menyakiti Adel.
"Adel, kamu baik-baik saja kan?" pertanyaan itu terlontar, sekilas Farel melirik gadisnya itu.
Adel menganggukkan kepalanya. "Adel baik-baik saja kok Om." Gadis itu tersenyum getir.
Ingin rasanya Adel mempertanyakan tentang Riana dan wanita yang datang ke rumah. Tapi sekarang bukan saat yang tepat, Adel takut jika nanti emosi Farel tak terkendali, seperti saat di restoran, sedikit lagi lelaki itu akan mengamuk, meluapkan segala amarahnya.
Hati dan pikiran Adel sudah sangat lelah, tanpa hitungan menit Adel memejamkan matanya yang sudah sangat mengantuk.
***
Sepulangnya Adel dan Farel, kini Lidia dan Indra pun memutuskan untuk pulang. Mereka pun minta maaf atas keputusan yang Farel buat, mereka juga tidak menyangka jika Farel akan membatalkan kerja sama yang baru saja mereka bahas. Tapi Lidia tau, itu adalah keputusan yang tepat bagi Farel.
Sementara itu, Siska dan Irawan merasa geram dengan apa yang sudah Riana lakukan, putrinya sudah menggagalkan rencana yang telah Siska dan Irawan buat.
Mereka berdua sengaja mengajak Farel bekerja sama agar nantinya mereka akan mengambil keuntungan dari lelaki itu.
"Kamu itu memang bodoh ya, kamu sudah menggagalkan rencana mama sama papa," cerca Siska. Wanita itu benar-benar sudah dibuat geram oleh putrinya sendiri.
Sementara itu, Riana hanya terdiam, ia tidak menyangka dengan apa yang Adel lakukan. Riana pikir jika Adel hanya ABG polos yang tidak tau apa-apa, tapi ternyata dugaan Riana salah.
Adel tidak dapat diremehkan, Riana harus lebih pintar menghadapi gadis itu.
"Memangnya mama sama papa punya rencana apa?" dengan ragu-ragu Riana mempertanyakan rencana apa yang telah orang tuanya buat.
"Papa ingin menghancurkan keluarga Indra, karena dia sudah membuat perusahaan papa yang berada di Bandung bangkrut. Bukan itu saja, perkebunan yang berada di Bogor juga seperti itu, sudah beralih menjadi miliknya," jelas Irawan. Lelaki itu akhirnya memberitahu putrinya tentang masalahnya.
Riana nampak terkejut dengan apa ayahnya ceritakan, ternyata itu sebabnya ayah dan ibunya berpura-pura baik kepada keluarga Farel, karena ada maksud dan tujuan tertentu. Yaitu metebut semua yang telah Farel miliki, Sementara itu tujuan Riana adalah ingin memiliki Farel.
***
Adel dan Farel sudah tiba di rumah, melihat istrinya sudah tertidur, ia tidak tega jika harus membangunkannya.
Perlahan Farel memandangi wajah mungil istrinya itu, lelaki itu pun menyunggingkan senyumnya. Farel merasa tidak percaya jika dirinya sudah menikahi seorang ABG, yang usianya terpaut 10 tahun lebih muda.
Wajar saja jika Adel memanggilnya Om, karena dari segi umur, Adel lebih pantas menjadi adiknya, ataupun keponakannya, tapi ini menjadi istrinya.
Farel tersenyum saat mengingat pertama kali mereka bertemu. Awalnya hanya untuk berpura-pura, tapi keadaan memaksa mereka harus menikah secara resmi.
Namun pernikahan yang mereka jalani berada di atas janji, di mana setelah satu tahun, Farel akan melepaskan Adel, ia akan membiarkan Adel memilih lelaki yang dicintainya. Farel sadar jika mereka menikah atas keterpaksaan, bukan karena cinta. Tapi meski begitu, Farel sudah mulai merasa ada perasaan aneh terhadap gadisnya itu.
"Apa aku sanggup jika setelah satu tahun bersama, dan kita harus berpisah," ujar Farel. Lelaki itu mendesah, ia terlihat sangat gusar saat memikirkan hal itu.
Perlahan Farel mengangkat tubuh mungil istrinya itu, dan membawanya masuk ke dalam.
Farel segera menuju ke kamarnya, setibanya di kamar Farel merebahkan tubuh Adel di atas ranjang. Tak lupa lelaki itu menyelimuti tubuh mungil istrinya itu.
Setelah itu Farel masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, agar badannya terasa segar, dan otaknya yang panas bisa fresh kembali.
Hanya butuh waktu 20 menit, Farel sudah selesai, kini ia tengah duduk di ranjang sembari memainkan ponselnya.
Hari yang sangat melelahkan buat Farel, hati dan pikirannya kembali berkecamuk, terlebih saat melihat Viona, mengingatkan akan masa lalu yang sangat pahit untuk dikenang. Di tambah kejadian di restoran, membuat emosi Farel tak terkendali.
***
Matahari telah terbit di ufuk timur sana, cahayanya yang terang menerobos masuk ke dalam, melalui celah-celah jendela.
Namun kedua insan itu masih terlelap dalam mimpi Indahnya, Adel dan Farel masih bersembunyi di balik selimut tebalnya.
Tidak ada tanda-tanda keduanya akan segera bangun dari tidurnya yang nyenyak itu. Hingga Farel merasa berat, seperti ada yang menindihnya.
Perlahan lelaki itu mengerjap-ngerjapkan matanya, meregangkan otot-ototnya dan mencoba mengumpulkan nyawanya.
Setelah kelopak matanya terbuka sempurna, Farel sangat terkejut saat melihat kaki Adel berada di atas dada bidangnya. Bukan itu saja, Farel juga merasa jika kaki kirinya tidak dapat digerakkan, lantaran sebagian tubuh Adel menindihnya.
Farel mendesah, lelaki itu tidak habis pikir, ternyata seperti ini kelakuan Adel saat tidur. Perlahan Farel menyingkirkan kaki Adel agar ia bisa bangkit. Tapi hal tak terduga terjadi, saat Farel berhasil memindahkan kaki istrinya itu, Adel merasa terusik, dengan reflek Adel menggerakkan dan mengangkat kakinya hingga mengenai wajah Farel.
Seketika Farel berteriak. "Adel." Lelaki itu memasang wajah garangnya.
Adel yang kaget, seketika terbangun. Gadis itu merasa bingung, bahkan ia celingukan tidak jelas.
"Om, Om di mana," ujar Adel. Gadis itu terus celingukan.
Setelah itu Adel baru sadar, jika dirinya masih menindih kaki suaminya itu. Adel pun membalikkan badannya dan melihat Farel yang tengah mendengus kesal.
Gadis itu hanya nyengir, setelah itu Adel bangkit dan duduk menghadap suaminya.
"Kenapa nyengir," Farel mendengus kesal.
"Maaf Om, Adel kalau tidur memang seperti ini," ucap Adel cengengesan.
Seketika keduanya teringat akan waktu, Adel dan Farel melirik jam yang bertengger di atas dinding secara bersamaan. Keduanya terkejut saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul 7, dengan cepat Adel dan Farel bangkit lalu berlari menyambar handuk, dan masuk ke dalam kamar mandi.
Namun di depan pintu keduanya berdebat, Adel yang memaksa ingin mandi terlebih dahulu, lantaran ia bisa terlambat datang ke sekolah. Tapi Farel juga tidak mau kalah, lelaki itu juga ingin mandi terlebih dahulu, karena Farel teringat ada meeting di kantor.
"Adel duluan Om, nanti Adel terlambat ke sekolah," Adel terus memaksa masuk, tapi Farel terus menghalanginya.
"Tidak bisa, pagi ini aku ada meeting," begitu juga dengan Farel. Ia mencoba menerobos masuk, tapi Adel terus menarik-narik tangan Farel agar mau keluar.
Cukup lama keduanya berdebat. Hingga akhirnya Adel dan Farel memutuskan untuk suit. Siapa yang menang, maka dia yang akan mandi terlebih dahulu.
Dengan hitungan satu sampai tiga, Adel dan Farel memulai suitnya. Farel bersorak saat mendapati dirinya yang menang, sementara Adel merasa sangat kesal.
Namun saat Farel hendak masuk ke dalam, ide jail Adel muncul. "Tunggu Om." Adel menarik tangan Farel.
"Kenapa? Kamu udah kalah, jadi kamu mandinya nanti," Farel mencoba masuk, tapi Adel menariknya kembali.
"Itu di tengkuk Om kayak ada binatang kecil gitu," Adel menunjuk tengkuk Farel dan bergidik ngeri, seketika Farel menegang.
"Jangan bohong kamu, pasti mau ngerjain saya kan," Farel menerka, jika itu adalah akal-akalan Adel saja.
Tapi bukan Adel namanya jika tidak bisa meyakinkan lawannya. "Adel enggak bohong Om, makanya Om sini dulu." Adel kembali menarik tangan Farel.
"Sekarang Om hadap sana dan nunduk, biar Adel ambil dulu," gadis itu memutar tubuh Farel agar memunggunginya.
Entah kenapa Farel hanya menurut saja, lelaki itu berdiri memunggungi Adel, lalu menundukkan kepalanya.
Setelah itu, Adel menerobos masuk ke dalam kamar mandi, dan membiarkan Farel dengan posisinya. Sadar jika tidak ada pergerakan dari Adel, lelaki itu mendongak dan membalikkan tubuhnya.
Seketika Farel berteriak geram. "Adel." Gadis itu berhasil menipu dirinya.
Sementara Adel terkikik di dalam sana, gadis itu merasa puas bisa mengerjai suaminya itu. "Maaf ya Om, Om ngalah dulu." Teriaknya dari dalam.
Merasa percuma berdebat dengan istri kecilnya itu. Farel memutuskan untuk mandi di kamar mandi yang berada di kamar sebelahnya.
Jika menunggu Adel kelar, nanti Farel bisa-bisa terlambat ke kantor.
Keduanya kini sudah selesai bersiap-siap. Adel sudah siap dengan seragam sekolahnya, begitu juga dengan Farel yang sudah siap dengan baju kerjanya.
Mereka segera turun ke bawah menuju ke meja makan, tapi di sana kosong, hanya ada bi Mirna, asisten rumah tangga keluarga Farel.
"Loh Bi, mama sama papa mana?" tanya Farel. Lalu lelaki itu duduk untuk menikmati sarapan.
"Tuan sudah pergi ke restoran, kalau Nyonya pergi ke butik Den," jawab bi Mirna.
"Oh." Sahut Farel. Lelaki itu segera memulai sarapannya, sementara Adel memilih untuk meminum susu saja.
"Ini Non, Bibi udah siapin bekel buat non Adel," bi Mirna menyerahkan kotak bekal yang biasa Adel bawa.
"Wah makasih banget ya Bi," Adel menerima kotak bekal itu, gadis itu tersenyum.
"Ayo Om buruan berangkat, nanti Adel terlambat," ajak Adel, seraya memasukkan kotak bekal itu ke dalam tasnya.
"Iya bentar dulu," sahut Farel. Lelaki itu segera meneguk susu yang di hadapannya hingga habis.
Adel berdecak kesal. "Ih, Om kelamaan." Gadis itu menarik paksa tangan Farel.
Seketika Farel pun bangkit dari duduknya. "Bawel banget sih jadi cewek." Dengan cepat Farel menyambar roti yang masih tersisa di piringnya.
Adel tak mendengarkan omelan Farel, gadis itu langsung menarik keras lelaki itu. Melihat Farel yang masih berdiri sembari menikmati rotinya, dengan cepat Adel menarik dasi yang melilit leher Farel.
Bi Mirna yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya.
Adel terus menariknya hingga keluar dari rumah, sementara Farel hanya diam, lelaki itu masih menikmati rotinya.