Ahan

Ahan
Kembali_Dipertemukan_22



Adel tidak tahan lagi mendengar itu semua. Adel berharap jika itu adalah mimpi buruknya. Tapi semua itu terlihat sangat nyata. Adel pun berteriak sekeras mungkin, berharap kata-kata buruk itu tidak terdengar lagi.


Farel terbangun saat mendengar teriakkan Adel. Dengan wajah panik Farel menepuk-nepuk pipi Adel agar bangun dari tidurnya. Selang beberapa menit gadis itu terbangun. Melihat Farel berada di sampingnya, dengan cepat Adel memeluknya.


Nafas Adel masih memburu, bahkan detak jantungnya pun masih tak beraturan. Farel membalas pelukan gadisnya itu. Dengan lembut Farel membelai rambut panjangnya. Sesekali Farel juga mencium puncak kepala Adel.


"Sekarang tenang ya, kamu hanya mimpi buruk," ucap Farel yang terus mencoba menenangkan Adel.


"Adel takut Om," ujar Adel dengan suara yang gemetar dan tidak begitu jelas.


"Jangan takut. Aku akan selalu di sampingmu." Farel mencium kening Adel, agar gadis itu bisa tenang.


Setelah cukup lama, kini Adel mulai tenang. Perlahan Farel melepas pelukannya. Kedua mata sendu Adel menatap manik hitam milik sang suami.


Hatinya terasa sedikit tenang, karena semua itu hanya mimpi buruk saja.


Farel membingkai wajah Adel yang mungil itu. "Sudah tidak takut."


Adel hanya menggelengkan kepalanya, dan kembali memeluk erat tubuh suaminya itu. "Adel minta maaf Om."


Farel mengerutkan keningnya, lalu melepas pelukannya dan menatap lekat wajah sang istri. "Maaf untuk apa."


"Adel udah bohong, Adel enggak jujur sama Om." Air mata Adel kembali menetes.


Farel semakin bingung dengan apa yang Adel katakan. "Maksud kamu."


Adel menarik nafasnya dan membuangnya secara perlahan. "Adel enggak jujur soal Revan yang ngancam Adel Om."


Farel terkejut mendengar hal itu. Kemudian dengan perlahan Adel menceritakan tentang Revan yang telah mengancamnya. Lagi-lagi Farel terkejut, lelaki itu tidak menyangka jika Revan bisa senekat itu.


Farel bangkit dari tempat tidur, lelaki melangkahkan kakinya mendekati jendela kamarnya. Farel berdiri menghadap ke luar jendela. Matanya menatap jauh, pikirannya melayang, memikirkan masalah yang telah menimpa istrinya.


Farel terlihat frustasi, sesekali lelaki itu mendesah, dan mengusap wajahnya dengan kasar. Cukup lama Farel terdiam, Adel merasa khawatir jika Farel marah gara-gara dirinya baru bisa jujur. Akhirnya Adel bangkit dan menghampiri Farel.


Adel memeluk Farel dari belakang, awalnya Farel hanya diam. Tapi saat merasa tubuh Adel bergetar, Farel membalikkan badannya dan merengkuh tubuh mungil istrinya itu. Tangisan Adel kembali pecah, air matanya membasahi kaos yang Farel kenakan.


"Adel memang salah, Om boleh marah sama Adel." Adel semakin mempererat pelukannya.


"Sstt. Kamu tidak perlu menyalahkan diri kamu sendiri. Kamu tidak bersalah, kamu tenang saja ya. Aku akan segera membereskan masalah ini." Farel mencium puncak kepala Adel. Tangannya pun mengelus lembut rambut panjangnya.


"Sekarang kamu mandi ya, sudah siang nanti kamu bisa terlambat," ujar Farel mengingatkan.


Adel menggelengkan kepalanya. "Adel takut Om."


Farel melepas pelukannya, lalu memegang kedua bahu Adel. "Takut kenapa, hem."


"Kamu tidak perlu takut, karena kamu tidak bersalah. Sekarang kamu mandi, aku mau ke bawah dulu." Farel mencubit hidung Adel, dan mengacak-acak rambutnya.


Setelah farel keluar, dengan segera Adel masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi, Adel bergegas bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.


Adel turun dengan wajah yang sangat lesu, gadis itu masih memikirkan mimpinya. Adel takut jika nanti mimpinya menjadi kenyataan. Adel berjalan menuju ke meja makan. Adel duduk di samping Farel.


"Sarapan dulu, nanti baru berangkat ke sekolah," titah Farel. Tapi Adel hanya diam menatap makanan yang ada di meja.


"Adel enggak laper Om," jawab Adel. Bibirnya yang mungil mulai mengerucut.


Farel membuang nafas melihat istrinya yang seperti itu. Kemudian Farel meneggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Adel.


"Mau makan, atau mau aku cium." Mata Farel menatap lekat wajah sang istri.


Sementara Adel terdiam dan juga kesal mendengar apa yang Farel katakan. "Om nyebelin banget sih."


Karena kesal, Adel memukul dan mencubit lengan Farel. Lelaki itu hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu.


Dengan cepat Farel mencium bibir Adel. Seketika sang empu melotot. Sementara Farel tersenyum penuh kemenangan.


"Kenapa, mau lagi. Atau mau yang lebih lama," goda Farel. Seketika pipi Adel merah merona.


"Om apaan sih. Nyebelin banget." Adel beranjak dari duduknya. Tapi dengan cepat Farel menarik pinggang Adel hingga gadis itu jatuh di pangkuan Farel.


Dengan cepat Farel melingkarkan tangannya di perut Adel. Gadis itu berusaha untuk bangkit, tapi Farel terus menahannya.


"Om lepasin," pinta Adel.


"Enggak akan, kamu makan dulu, nanti aku lepasin," kekeh Farel.


Adel terdiam sejenak. "Tapi suapi Om."


"Ya udah, sini." Farel menggeser posisi badan Adel agar menghadapnya. Sementara gadis itu tetap berada di pangkuan Farel.


Farel mulai menyuapi Adel dengan telaten. Tangan Adel melingkar di leher Farel. Asisten rumah tangganya yang melihat itu hanya tersenyum. Sementara dua insan itu tengah asyik menikmati sarapan paginya.


"Om kok enggak makan," ujar Adel yang sedari tadi tidak melihat Farel menyantap sarapannya.


"Nanti, kamu aja dulu yang makan," jawab Farel, dengan tersenyum.


Adel merebut sendok yang Farel pegang. Kemudian Adel menyendok makanan yang ia makan, dan menyuapkan makanan itu kepada Farel. Dengan cepat Farel menerima suapan dari istri mungilnya itu.


Setelah selesai sarapan, Adel dan Farel bergegas pergi. Seperti biasa Farel akan mengantarkan Adel terlebih dahulu ke sekolahnya.


***


Mobil Farel berhenti di halaman sekolah. Tidak seperti biasanya, Farel masuk ke dalam, biasanya Farel hanya berhenti di depan gerbang. Hati Adel pun bertanya-tanya.


"Kok tumben Om berhenti di sini, biasanya juga di depan gerbang," ujar Adel yang merasa heran.


"Aku ada perlu sebentar," jawab Farel.


Keduanya pun turun dari mobil. Banyak mata yang memandang ke arah Adel dan juga Farel. Bahkan banyak para siswi yang memandang Farel dengan mata genitnya. Bahkan bisikan-bisikan yang mengatakan jika Farel ganteng lah, tampan lah, dan masih ada lagi.


"Om mau ngapain sih," bisik Adel.


"Nanti kamu juga tau. Sana masuk kelas." Farel menepuk bahu Adel dengan pelan. Setelah itu lelaki itu melangkah pergi.


Adel masih menatap kepergian Farel dengan penuh tanda tanya. Setelah itu gadis itu memilih untuk masuk ke kelasnya. Setibanya di kelas, Adel langsung diserbu berbagai pertanyaan dari teman-temannya.


Sementara itu, Farel sudah berada di ruangan Pak kepala sekolah. Farel dan Bapak kepala sekolah itu duduk berhadapan. Awalnya Farel ragu untuk datang ke sekolah Adel, tapi hal itu sangat penting dan tidak bisa Farel tunda-tunda lagi.


Farel memulai pembicaraannya. Lelaki itu mulai berbicara, apa maksud dan juga tujuannya. Pak kepala sekolah itu tercengang, dan juga terkejut setelah mendengar apa yang telah Farel katakan.


"Apa, jadi Adel dan Bapak sudah .... "


"Benar Pak. Bapak simpan dulu pertanyaan Bapak itu, saya akan menjelaskan kenapa saya dan Adel bisa menikah." Farel kembali menjelaskan. Sementara Bapak kepala sekolah itu kembali mendengarkan.


"Begitu Pak penjelasan yang sebenarnya," ucap Farel setelah selesai menjelaskan.


Bapak kepala sekolah itu mengangguk. Lalu membuang nafasnya. "Tadi pak Farel bilang, kalau ada yang mengancam Adel."


"Benar Pak, dia salah satu siswa di sekolah ini. Gara-gara ancaman itu Adel hampir saja tidak mau masuk sekolah, Adel takut jika berita itu sampai tersebar," jelas Farel.


"Apa pak Farel tau, siapa yang sudah mengancam Adel. Pihak sekolah akan lebih mudah menindak lanjuti masalah ini jika kita sudah tau siapa pelakunya," tukas Pak kepala sekolah.


Farel terdiam sejenak. "Revan Pak."


Bapak kepala sekolah itu terkejut saat mendengar jika Revan pelakunya. "Revan."


Farel hanya mengangguk. Sementara Bapak kepala sekolah itu kembali terdiam. Beliau tengah berfikir bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah itu.


"Baik, pak Farel tenang saja. Kami akan segera menindak lanjuti masalah ini. Dan saya jamin Adel tetap bisa bersekolah," terang Pak kepala sekolah itu.


"Memang itu yang saya harapkan Pak. Jika samping Adel dikeluarkan dari sekolah, saya tidak segan-segan untuk menutup sekolah ini." Mata Farel menatap tajam ke arah Bapak kepala sekolah tersebut.


Bapak kepala sekolah itu tersenyum. "Ah, itu tidak mungkin terjadi Pak. Tapi pak Farel dan Adel belum .... "


Farel tau apa maksud dari ucapan Pak kepala sekolah itu, seketika Farel tertawa. "Haaa, Bapak tenang saja. Saya belum membuka segelnya kok. Saya akan membukanya nanti, setelah Adel lulus sekolah."


Pak kepala sekolah itu hanya tersenyum. "Baiklah pak Farel, saya percaya itu.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu." Farel menjabat tangan Bapak kepala sekolah itu, dan bergegas bangkit dari duduknya.


"Iya Pak." Bapak kepala sekolah itu membalas jabatan tangan Farel.


Setelah itu Farel keluar dari ruangan kepala sekolah tersebut. Farel merasa lega, lantaran masalah Adel sudah dapat ia selesaikan. Lebih lega lagi saat melihat kondisi sekolah sepi.


Semua siswa-siswi sudah masuk ke kelasnya masing-masing. Hal itu membuat Farel bisa berjalan dengan santai, karena tidak ada para ABG labil yang mengganggunya.


***


Waktu berjalan begitu cepat, kini Adel dan Farel sudah berada di rumah. Adel nampak tengah serius belajar, sementara Farel terlihat sedang bersiap-siap. Entah mau kemana tuh om Farel.


"Mau kemana Om, rapi banget?" tanya Adel. Gadis itu memperhatikan sang suami.


"Aku mau keluar sebentar Del. Kamu mau ikut apa enggak," ujar Farel, seraya memakai arloji di pergelangan tangannya.


"Lama apa enggak Om," sahut Adel.


Adel terdiam sejenak. "Ikut Om."


"Ya sudah, ayo." Farel berjalan mengambil kunci mobilnya.


Tanpa membereskan meja belajarnya terlebih dahulu, Adel bergegas siap-siap.


Setelah itu Adel turun ke bawah, di mana Farel tengah menunggunya. Setelah Adel turun, mereka pun bergegas pergi.


Dalam perjalanan, Farel memilih fokus untuk menyetir, sementara Adel lebih suka melihat pemandangan malam ke luar jendela. Lampu yang berkelap-kelip menambah suasana malam semakin indah.


"Om tadi pagi habis ngapain di sekolahan Adel?" tanya Adel.


Farel menoleh sekilas. "Habis beresin masalah kamu."


Adel terlonjak kaget mendengar hal itu. "Serius Om."


Farel hanya mengangguk dengan tersenyum. Saking senangnya Adel langsung memeluk tubuh suaminya itu dari samping. Sedangkan Farel hanya menggelengkan kepalanya.


"Makasih ya Om," ucap Adel. "Jadi Pak kepala sekolah udah tau dong, kalau Adel sama Om udah nikah."


"Ya tau lah." Farel mencubit hidung Adel dengan gemas.


"Bapak kepala sekolah tidak marah Om?" tanya Adel.


"Enggak. Yang penting segel kamu masih aman, sampai lulus sekolah," jawab Farel.


Adel menautkan kedua alisnya. "Segel apaan Om."


Farel menggelengkan kepalanya, dan menepuk jidatnya. "Nanti kamu juga akan tau."


Farel kembali fokus menyetir, sementara Adel masih berfikir keras dengan apa yang Farel ucapkan tadi.


Farel lupa kalau dirinya menikah dengan ABG polos, segel saja tidak tau, apa lagi yang lain.


***


Kini mobil Farel sudah berhenti di depan resto miliknya. Setelah memarkirkan mobilnya, Adel dan Farel segera turun. Keduanya bergegas masuk ke dalam resto. Farel menggenggam tangan Adel dan berjalan menuju yang berada di dalam.


Tempat khusus yang selalu Farel gunakan jika ada pertemuan penting dengan klien atau rekan bisnisnya. Di sana sudah ada Raka dan tentunya dengan kliennya, pak Ferdy. Farel dan Adel bergegas menuju ke meja tersebut.


"Malam Pak, maaf saya sedikit terlambat." Farel menjabat tangan Ferdy.


"Tidak masalah Pak, saya juga baru datang," ujar Ferdy dengan tersenyum.


"Aku loh, yang nunggunya lama. Malah nggak ditanyain," celetuk Raka. Mimik wajahnya menunjukkan rasa kesal.


"Haha, sorry Ka. Kamu sih datangnya kecepeten." Farel menarik kursi untuk Adel duduki. Sementara dirinya duduk di samping istrinya itu.


Setelah itu, mereka pun mulai membahas masalah pekerjaan. Adel hanya mendengar sembari memakan makanan yang sudah Farel pesan sebelumnya. Hampir setengah jam Farel, Raka dan pak Ferdy membahas pekerjaan.


Sedangkan Adel sudah mulai merasa bosan. Gadis itu sudah banyak menghabiskan makanan yang ada di meja. Dari mulai kue, kentang goreng, dessert, puding, dan masih ada lagi. Perut kecil Adel terasa sudah penuh.


Gadis itu beralih untuk meminum juice yang berada di hadapan Farel. Adel menyenggol lengan Farel, untuk memberi kode. Farel yang melihatnya segera menganggukkan kepalanya. Dengan cepat Adel menyerobot juice tersebut, yang seharusnya untuk Farel.


Adel sudah bosan, makan udah, minum juga udah. Tapi hampir satu jam suaminya belum kelar bahas masalah pekerjaannya. Adel membuang nafas, lalu menyenderkan kepalanya di pundak Farel.


"Kenapa, hem," bisik Farel.


"Capek." Sahut Adel.


"Ya sudah, sebentar lagi juga selesai," balas Farel.


Lelaki itu pun segera menyelesaikan urusannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, pantas saja Adel sudah merengek. Biasanya jam segitu Adel sudah berada di alam mimpi. Selang beberapa menit Farel telah selesai dengan urusannya.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu ya Pak." Pak Ferdy menjabat tangan Farel.


"Baik Pak," sahut Farel.


Tak lupa, Ferdy juga menjabat tangan Raka. Setelah itu ia bergegas pergi. Raka menyeruput secara kopi yang sudah dingin. Matanya melotot saat melihat sudah tidak ada makanan yang tersisa di atas piring.


"Gila kamu Del. Kecil-kecil tapi makannya banyak." Raka menggelengkan kepalanya, heran.


"Biarin, salah sendiri Om sibuk ngobrol," ujar Adel. Gadis itu masih menyenderkan kepalanya di pundak Farel.


"Kalau mau, persen lagi aja," timpal Farel. Lelaki itu meminum juice yang setengahnya sudah Adel minum.


"Enggak ah. Udah malam mau balik aja. Duluan ya." Raka bangkit dari duduknya, dan bergegas pergi.


"Pulang sekarang?" tanya Farel, dan dibalas dengan anggukan oleh Adel.


Keduanya bergegas bangkit dari duduknya. Belum sempat Farel dan Adel melangkahkan kakinya untuk pulang. Tiba-tiba Farel tidak sengaja menabrak seorang perempuan. Seketika Farel menoleh, ia terkejut saat melihat perempuan yang tidak sengaja ditabraknya itu.


"Anggia." Desis Farel.


"Mas Farel." Tanpa rasa malu perempuan itu memeluk Farel yang masih berdiri mematung.


Adel terkejut saat melihat perempuan yang sama sekali tidak ia kenal, dengan seenak jidat memeluk laki-laki yang sudah beristri. Mata Adel memanas, dadanya pun naik-turun menahan emosinya.


Dengan cepat Farel mendorong tubuh perempuan itu, yang tak lain adalah Anggia, mantan kekasihnya dulu. Anggia terperanjat, saat mendapat perlakuan seperti itu dari Farel.


"Kenapa Mas, apa Mas sudah lupa dengan saya," ujar Anggia. Tatapan matanya sangat tajam.


"Maaf Anggia, aku tidak lupa. Tapi aku tau batasan, aku tidak mau menyakiti gadis yang sangat aku cintai." Farel merangkul pinggang Adel.


Seketika pandangan Anggia menuju ke arah Adel. Sementara Adel mencoba untuk tersenyum. Meski hatinya terasa bergejolak, tapi sebisa mungkin Adel bersikap tenang.


"Siapa dia," ujar Anggia, telunjuknya mengarah ke Adel.


"Dia istriku," jawab Farel.


Anggia terlonjak kaget. "Jadi kamu sudah menikah."


"Iya, aku sudah menikah." Farel mempererat rangkulannya.


"Apa kamu sudah melupakan kenangan kita dulu, saat kita .... "


"Cukup Anggia, jangan kamu ungkit kembali masa lalu kita. Hubungan kita sudah berakhir, hubungan kita sudah selesai. Jadi aku harap, tolong kamu lupakan masa lalu kita," potong Farel dengan cepat.


"Aku tidak menyangka, sekarang kamu seperti ini," sambungnya, Farel merasa miris melihat penampilan Anggia yang sekarang.


"Aku seperti ini juga gara-gara kamu, kamu yang sudah membuat aku berubah." Mata Anggia menatap tajam ke arah Farel.


Farel terdiam sejenak. "Aku minta maaf, kalau aku sudah membuat kamu seperti ini. Tapi seharusnya kamu tidak perlu berubah kayak gini."


"Kamu pikir dengan maaf bisa mengembalikan semuanya, iya." Anggia benar-benar sudah tersulut emosi.


Tiba-tiba Anggia melayangkan tamparannya tepat di pipi kanan Farel. Lelaki itu tetap diam, Farel sama sekali tidak membalasnya. Sementara Adel terkejut dengan apa yang telah Anggia lakukan.


Adel tidak tau harus berbuat apa, sementara mereka sudah menjadi pusat perhatian dari pengunjung yang datang.


Semuanya menatap dengan tatapan yang berbeda-beda.


"Stop. Kalian tidak malu apa jadi pusat perhatian seperti ini. Aku tidak tau apa masalah kalian, tapi setidaknya jangan mempermalukan diri sendiri di tempat umum seperti ini." Adel melangkah pergi setelah mengatakan itu semua.


Farel terkejut mendengar perkataan Adel. Tapi yang Adel katakan memang benar. Tidak seharusnya mempermalukan diri sendiri di tempat umum seperti ini. Melihat Adel pergi, dengan cepat Farel mengejarnya.


"Adel tunggu." Farel berlari keluar mengejar istrinya itu.


Anggia terlihat kesal melihat Farel yang lebih peduli dengan istrinya itu, dari pada dengan dirinya.


Sementara itu, Adel langsung naik ke mobil, di mobil Adel menangis sejadi-jadinya.


Selang beberapa menit, Farel tiba di parkiran. Lelaki itu segera menuju ke mobil dan terdengar isakan tangis Adel dari dalam mobil. Dengan cepat Farel masuk ke dalam, dan benar saja Adel tengah menangis.


Farel langsung menarik tubuh mungil Adel dalam dekapannya. Awalnya Adel menolak dan berusaha memberontak, tapi tenaga Farel lebih kuat. Farel semakin mempererat dekapannya.


"Sayang, aku mohon kamu jangan menangis. Aku minta maaf karena sudah membuat kamu sedih. Tapi percayalah, aku dengan Anggia sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Dia hanya masa laluku." Farel mencium puncak kepala Adel.


Adel hanya diam, gadis itu tidak menyangka jika masa lalu suaminya hadir kembali. Farel dan Anggia dipertemukan kembali, tapi kenapa Adel harus menyaksikannya. Setelah cukup tenang, Farel melepaskan dekapannya.


Adel menatap wajah suaminya itu. "Apa Om akan kembali padanya, dan meninggalkan aku."


Farel meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir mungil Adel. "Sst, jangan pernah berkata seperti itu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan kamu."


Adel menghambur ke pelukan suaminya itu. "Om tidak bohong kan."


"Tidak Sayang, aku hanya mencintai kamu. Aku akan sangat bodoh, jika harus melepaskan sesuatu yang sudah sepenuhnya menjadi milikku." Farel kembali mencium puncak kepala istrinya itu.


"Makasih ya Om," ucap Adel.


"Sama-sama Sayang," sahut Farel.


Farel semakin mempererat pelukannya, Adel begitu nyaman dalam pelukan hangat suaminya itu. Hatinya merasa lega dengan pernyataan yang Farel ucapkan. Setidaknya pikiran Adel tidak terlalu terbebani.