
Perlahan Farel menyibak selimut yang menjadi pertahanan Adel. Terlihat gadis itu menutup matanya.
Farel sudah tidak bisa mengontrol hasratnya lagi, dengan pelan lelaki itu mulai mendekatkan wajahnya, hingga tidak aja jarak lagi antara keduanya. Adel dapat merasakan hembusan nafas Farel yang menderu, menyapu wajah mungil gadis itu.
Saat benda kenyal itu akan bersentuhan, tiba-tiba terdengar suara Raka yang memanggil-manggil Farel.
"Argh shit, ganggu aja sih," Farel mendengus kesal. Gara-gara Raka, niatnya jadi gagal.
Farel segera bangkit, dan merapikan kemejanya. "Kamu tunggu di sini saja." Titahnya. Adel hanya mengangguk.
Farel segera keluar untuk menemui Raka. Sementara itu Adel bisa bernafas dengan lega, berkat Raka, ia terbebas dari Farel.
Setelah itu Adel memutuskan untuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, dan merapikan baju dan rambutnya.
Sementara di luar, Farel nampak menunjukkan wajah kesalnya. "Ada apa." Ujar Farel, lalu duduk di kursi kebesarannya.
"Ada berkas yang harus di tanda tangani," Raka meletakkan berkas tersebut di atas meja.
Dengan segera Farel menanda tangani berkas-berkas tersebut. Setelah selesai Farel menyerahkan berkas tersebut pada Raka.
"Apa ada lagi?" tanya Farel.
Belum sempat Raka menjawab, tiba-tiba terdengar suara jeritan Adel. Keduanya saling berpandangan, lalu dengan cepat Farel berlari masuk ke ruangan sebelah, dan diikuti oleh Raka.
Setibanya di dalam Farel segera menghampiri Adel yang berada di kamar mandi.
"Ada apa? Apa ada yang sakit, atau ada ular, kecoa, ulet bulu, tikus, cicak, atau apa," pertanyaan demi pertanyaan Farel lontarkan, lelaki itu nampak khawatir, tapi Adel hanya terdiam sembari menundukkan kepalanya.
Sementara Raka hanya berdiri di luar kamar mandi, lelaki itu ikut khawatir, takut terjadi apa-apa dengan istri bosnya itu.
"Adel Sayang, ada apa?" Farel kembali bertanya, kali Farel bertanya dengan lembut.
Adel mendongak dan mengangkat kepalanya, gadis itu menatap wajah suaminya yang tengah berdiri di hadapannya.
Lalu menarik bahu Farel agar membungkuk. Setelah itu Adel membisikkan sesuatu, dan hal itu seketika membuat Farel terkejut.
"Apa." Farel berseru lantaran merasa terkejut. Lelaki itu menatap gadisnya.
"Lalu." Ujar Farel. Matanya menatap intens manik Adel.
"Ya beliin Adel pembalut lah Om," tegas Adel. Gadis itu merasa kesal dengan sikap Farel yang menurutnya kurang peka.
Farel mengusap wajahnya, lalu berjalan keluar dari kamar mandi.
Sementara itu Raka terkekeh mendengar pembicaraan Adel dan Farel.
Raka membayangkan jika Farel benar-benar pergi ke supermarket untuk membeli pembalut. Bisa-bisa harga dirinya sebagai bos turun drastis.
Farel mendekati Raka yang masih berdiri. "Tolong panggilkan Santi, dan suruh datang ke sini." Titah Farel.
"Baik." Sahut Raka. Lelaki itu bergegas keluar dari ruangan Farel.
Sementara itu, Farel tengah mondar-mandir menunggu kedatangan Santi. Salah satu karyawan di perusahaan Farel.
Selang beberapa menit, Santi pun datang, dan segera masuk ke dalam.
"Santi sini," titah Farel. Lelaki itu menarik tangan Santi, lalu membisikkan sesuatu padanya.
Santi terkekeh mendengar perintah yang bosnya berikan. Sejenak wanita itu berfikir, untuk apa Farel menyuruhnya membeli pembalut.
Namun tiba-tiba Santi teringat akan gadis yang datang bersama dengan bosnya siang tadi.
"Ini uangnya," Farel memberikan 2 lembar uang seratus ribuan.
"Baik Pak. Oya Pak, pembalutnya yang pake sayap atau tidak?" pertanyaan Santi membuat Farel memutar otaknya.
Farel mengernyitkan keningnya. "Emang pembalut bisa terbang ya." Ujarnya. Raut wajahnya terlihat sangat bingung.
Santi tersenyum mendengar ucapan bosnya itu. "Maksud saya itu Pak .... "
"Kamu beli semuanya, entah itu yang pake sayap atau tidak. Udah buruan sana," tidak mau berfikir terlalu lama, akhirnya Farel memutuskan untuk membelinya semua.
"Baik Pak, permisi," Santi buru-buru keluar dari ruangan bosnya itu.
Santi segera pergi ke supermarket yang letaknya tidak jauh dari kantor tempat ia bekerja.
Tak butuh waktu lama Santi sudah kembali ke kantor dengan membawa satu keresek berukuran besar. Wanita itu bergegas menuju ke ruangan bosnya, meski banyak teman kerjanya yang mempertanyakan apa yang ia beli, tapi Santi memilih untuk diam.
Santi segera mengetuk pintu, lalu bergegas masuk ke dalam. Wanita itu menyerahkan keresek tersebut pada bosnya yang tengah duduk di sofa.
"Ini pak," ucap Santi.
Farel menerimanya. "Ok, terima kasih. Kamu boleh kembali bekerja." Titahnya.
"Baik Pak, permisi," Santi pun undur diri. Wanita itu segera keluar dan kembali ke meja kerjanya.
Farel segera masuk ke ruangan sebelah, ia menyerahkan keresek tersebut pada Adel yang sedari tadi sudah menunggu di dalam kamar mandi.
"Ini, buruan pake," titah Farel, sembari menyerahkan keresek tersebut.
Adel menerimanya, gadis itu terkejut saat melihat isinya. "Astaga, banyak banget Om." Pekiknya.
"Udah buruan pake, enggak usah banyak protes," ujar Farel. Ia pun memilih duduk di tepi ranjang, untuk menunggu Adel.
Tak butuh waktu lama, Adel pun keluar, gadis itu terlihat sedikit gugup. Adel masih teringat kejadian tadi, di mana Farel ingin memaksa Adel untuk memenuhi hasratnya.
"Makasih ya Om," ucap Adel. Ia menatap wajah Farel yang terlihat lesu.
"Sama-sama," sahut Farel. "Aku juga minta maaf, tadi sudah terbawa nafsu." Sambungnya. Matanya menatap wajah Adel secara lekat.
"I-iya Om, itu salah Adel juga. Karena secara tidak sengaja, Adel yang sudah memancingnya," ujar Adel. Gadis itu langsung menundukkan kepalanya.
Farel tersenyum, lalu menarik tangan Adel, dan menuntunnya untuk duduk di sebelahnya. "Tadi akting kamu sangat bagus, aku suka." Ujarnya.
Adel nyengir. "Kalau tidak seperti itu, nanti tuh Tante-Tante gangguin Om terus." Ujarnya dengan tersenyum.
"Ya, ya, ya, ya, kamu memang pintar," Farel mengacak-acak rambut Adel dengan gemas.
Farel kembali menarik tubuh mungil Adel dalam dekapannya. Adel berusaha untuk memberontak, gadis itu takut jika Farel akan berbuat yang tidak-tidak.
Namun Farel sama sekali tidak memberikan ruang untuk Adel bergerak.
"Sstt, tetap seperti ini," ujar Farel, lelaki itu semakin erat mendekap tubuh mungil Adel.
Adel hanya diam dan menurut, kedua tangan Farel melingkar di perut Adel. Gadis itu bisa merasakan detak jantung Farel. Tapi entah kenapa Adel sangat suka dengan posisi seperti itu.
Adel merasakan nyaman dalam dekapan Farel.
Perlahan Adel mendongakkan kepalanya, lalu menatap wajah Farel.
Lelaki itu nampak memejamkan matanya, mungkin dia tengah merasakan kenyamanan seperti yang Adel rasakan.
Memang tidak dapat di pungkiri, Adel pun merasa begitu nyaman.
Adel kembali menundukkan kepalanya, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Bahkan Adel juga ikut melingkarkan kedua tangannya di pinggang Farel.
Lelaki itu tersenyum dengan apa yang Adel lakukan.
***
Riana juga heran, untuk membuat bocah ABG itu merasa cemburu sangat sulit, ia pikir menyingkirkan ABG labil seperti Adel mudah, tapi ternyata tak semudah yang ia bayangkan.
Setelah cukup lama berfikir, akhirnya Riana menemukan ide, bagaimana cara yang tepat untuk membuat Adel dan Farel berpisah.
Ia memutuskan untuk sementara waktu menjauh dari kedua insan itu, dan yang akan melakukan rencananya adalah salah satu sahabatnya.
Rencana Riana akan di mulai malam ini juga.
Tepat di mana Adel dan Farel tengah makan malam di restoran ternama, yang tak lain adalah milik Farel sendiri.
Keduanya terlihat sangat bahagia, sebagai pelengkap drama yang Adel perankan, gadis itu selalu bersikap manja kepada Farel saat mereka sedang berada di luar rumah.
Seperti saat ini, Adel yang meminta Farel untuk menyuapinya dengan makanan yang telah mereka pesan.
Banyak pasang mata yang memperhatikan kedua insan ini, tapi Farel maupun Adel tak menghiraukannya, mereka tetap asyik menebar kemesraan.
Tiba-tiba saat Farel hendak menyiapkan makanan ke mulut Adel, ia di kagetkan oleh seorang perempuan.
Alhasil, makanan yang hendak masuk ke mulut jatuh.
"Farel." Seru perempuan itu. Seketika Adel dan Farel menoleh ke sumber suara tersebut.
Keduanya terperangah, terutama Adel. Sementara Farel mengerutkan keningnya, laleki itu seperti ingat siapa perempuan yang berhasil mengagetkannya.
"Kamu Farel kan, kamu masih ingat sama aku kan," perempuan itu terus mencecar Farel.
Sementara Farel terdiam dan sejenak berfikir. "Kamu Dewi." Terkanya. Seketika Farel bangkit dari duduknya.
"Iya aku Dewi," tanpa diduga, Dewi memeluk Farel dengan begitu erat.
Sontak Adel terkejut dengan apa yang perempuan itu lakukan, sementara Farel hanya diam, terlalu cepat pergerakan Dewi, sehingga Farel tidak dapat menghindar.
Farel memilih untuk diam, tanpa membalas pelukan dari temannya itu.
Sekilas lelaki itu melirik Adel yang hanya diam, tapi raut wajahnya menunjukkan rasa tidak suka.
Mata Adel memanas, hatinya pun terasa sakit melihat perempuan itu dengan seenaknya memeluk Farel.
Cemburu, mungkin itu yang tengah Adel rasakan.
Merasa tak tahan, Adel pun bangkit dan berniat untuk pergi, tapi saat Adel hendak melangkah, sebuah tangan menahannya.
Adel menoleh, ternyata Farel yang telah menahannya, lelaki itu memberi isyarat agar Adel tetap berada di tempat.
Dengan terpaksa Adel pun mengurungkan niatnya. Gadis itu memalingkan wajahnya untuk menyeka air matanya yang sempat menetes.
Dengan segera Farel melepas pelukan sahabatnya itu. "Dewi lepas." Titahnya.
"Eh iya, maaf ya, saking senengnya," perempuan itu tersenyum tanpa merasa bersalah, lantaran telah membuat satu hati terluka.
"Oya, kenalin ini Adel istri aku," Farel merangkul pinggang ramping Adel, lalu memperkenalkannya pada Dewi.
Seketika perempuan itu terdiam, Dewi memperhatikan penampilan Adel dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Dewi tidak menyangka jika Farel menikahi gadis labil seperti Adel.
Dalam hatinya ia merasa kecewa, tapi dengan terpaksa Dewi tersenyum untuk menutupinya.
"Hai, aku Dewi teman kuliah Farel," Dewi mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya.
Dengan ragu Adel membalas uluran tangan perempuan itu. "Adel." Ucapnya.
Adel pun kembali duduk, tapi kali ini gadis itu memilih untuk diam. Sementara Dewi dan Farel nampak asyik mengobrol, maklum, teman lama yang baru saja bertemu.
Namun seolah-olah Dewi membuat Farel melupakan akan Adel di sisinya. Keduanya sangat asyik bercerita pengalaman dan mungkin masa saat mereka kuliah dulu.
Entah kenapa Adel seperti tidak ada keberanian terhadap perempuan itu. Apa karena Dewi adalah sahabat Farel, dan lelaki itu tidak membencinya, tidak seperti kepada Riana. Yang jelas-jelas Farel sangat membencinya.
Ada kalanya seorang wanita menunjukkan keberaniannya, tapi seorang wanita juga memiliki hati yang kapan saja akan merasa rapuh.
Merasa tidak tahan dengan pemandangan yang Farel dan Dewi ciptakan, Adel memutuskan untuk ke toilet terlebih dahulu.
"Maaf, Mas aku ke toilet dulu," Farel hanya mengangguk dan tersenyum, tanpa merasa curiga jika Adel telah membendung air matanya.
Adel pun bangkit dari duduknya dan bergegas menuju ke kamar mandi.
Dewi tersenyum licik melihat kepergian Adel. Entah apa yang ada di dalam otak perempuan itu.
Setibanya di toilet, Adel langsung menumpahkan air matanya, gadis itu menangis sejadi-jadinya, meski tidak mengeluarkan suara, tapi air mata itu begitu deras mengalir.
Hati Adel sangat sakit melihat Farel dekat dengan perempuan lain, entah kenapa Adel merasa rapuh, padahal sebelumnya gadis itu selalu tangguh dengan segala cobaan yang menghampirinya.
Tapi untuk kali ini Adel merasa tidak kuat, andai ia bisa lari, pasti Adel memilih untuk lari dari kenyataan pahit itu.
Selang beberapa menit, Dewi datang. "Kenapa menangis, kaget dengan kehadiran aku." Suara itu berhasil membuat Adel tersentak kaget.
Buru-buru Adel menyeka air matanya, gadis itu menatap nanar perempuan yang berdiri di hadapannya.
Adel tidak menyangka, jika perempuan asing itu berhasil membuat ia menangis, dan merasakan sakit di hatinya.
"Aku enggak nyangka, kalau Farel bisa menikahi gadis labil seperti kamu, apa sih hebatnya kamu, sampai-sampai Farel memperistri bocah sepertimu. Apa kamu begitu jago di atas ranjang, sehingga Farel tergila-gila sama kamu. Biasanya hanya wanita jal*ng yang seperti itu, demi mendapatkan uang yang banyak. Kamu itu tak lebih dari seorang pelakor." Dewi terus menyakiti Adel dengan kata-katanya yang begitu menyakitkan. Perempuan itu berjalan mengelilingi Adel, layaknya seorang polisi yang tengah mengintrogasi penjahat.
Sesekali Dewi mendekati Adel dan menekan kata-katanya. Mata Adel kembali memanas, dadanya pun naik-turun menahan emosinya.
Hatinya terasa sakit, sudah dua kali dirinya di sebut seorang jal*ng dan pelakor. Kata-kata itu sangat menyayat hati, lebih baik fisiknya yang terluka, dari pada batinnya.
"Kenapa diem, dasar pe-la-kor," merasa tidak tahan lagi, tiba-tiba Adel melayangkan satu tamparan tepat di pipi kanan Dewi.
Perempuan itu tersenyum sinis, sementara Adel mencoba untuk mengontrol emosinya. Adel tidak menyangka jika dirinya bisa melakukan itu.
Sementara Farel tengah gelisah, karena hampir setengah jam dua wanita itu belum kembali juga. Merasa khawatir, akhirnya Farel memutuskan untuk menyusul mereka ke toilet.
Farel segera bangkit dan beranjak menuju ke toilet.
Di lain sisi, Dewi melihat kedatangan Farel. Tiba-tiba saja hal tak terduga terjadi, Dewi menjatuhkan dirinya ke lantai, perempuan itu berakting seolah-olah Adel yang telah mendorongnya.
Farel yang melihat Dewi terjatuh dengan cepat menghampirinya. Lelaki itu nampak kesal saat melihat Adel yang berdiri terdiam, dengan tangan kanan yang sedikit terangkat.
"Adel, apa yang kamu lakukan," Adel terkejut mendengar suara itu. Perlahan gadis itu menoleh ke sumber suara tersebut.
Adel terperangah melihat Farel yang terlihat marah kepadanya. "A-aku ... aku tidak melakukan apa-apa." Suara Adel bergetar. Gadis itu sangat gugup, ia tidak menyangka jika Dewi melakukan itu.
"Lalu kenapa Dewi sampai terjatuh," Farel terus mencecar Adel. Lelaki itu nampak kecewa dengan sikap yang Adel tunjukkan.
"Aku, aku tidak melakukan apa-apa Mas, dia hanya berpura-pura. Dia sama saja seperti Riana. Dia juga menuduhku wanita jal*ng dan juga pelakor. Dia pasti sekongkol dengan Riana." Dengan segala keberaniannya, Adel mengatakan apa yang perempuan itu katakan.
"Dewi tidak seperti itu, Dewi berbeda dengan Riana," Adel tidak menyangka kalau Farel lebih membela perempuan itu dari pada dirinya.
Adel menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Mas itu tidak melihatnya, Mas tidak melihat apa yang perempuan itu lakukan." Serunya. Adel benar-benar tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini.
"Cukup Adel!" Adel tersentak kaget, saat Farel membentaknya. Seketika bulir bening itu lolos, Adel tidak bisa menahan air matanya lagi.
Dengan perasaan yang hancur, Adel pergi meninggalkan Farel. Sementara lelaki itu masih terdiam di tempat. Farel nampak merasa bersalah karena telah membentak Adel. Tapi apa yang Adel lakukan sangat tidak Farel sukai.
Sadar Adel telah pergi, Farel berniat untuk mengejarnya, tapi tangan Dewi menahannya.
Perempuan itu menunjukkan wajah sedihnya, agar Farel mau mengurungkan niatnya untuk mengejar Adel.
Farel benar-benar dalam keadaan bimbang, ia harus mengejar Adel, yang jelas-jelas istrinya, atau menolong Dewi, yang tak lain sahabatnya sendiri.