Ahan

Ahan
Pernyataan_Cinta_19



Sejak kejadian itu, Farel yakin jika perempuan yang ia lihat adalah Anggia. Tapi Farel belum begitu yakin, lantaran saat melihat caranya berpakaian sangat bertolak belakang dengan Anggia.


Farel pun memutuskan menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki apa benar dia adalah Anggia atau bukan. Kini Farel tengah sibuk dengan beberapa berkas yang menumpuk di hadapannya.


Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan di pintu ruangannya. Farel pun menyuruh orang tersebut untuk masuk ke dalam.


"Masuk." Ujar Farel.


Pintu ruangan terbuka. Seorang pria tinggi dan wajah yang terlihat sangat masuk ke dalam. Pria itu adalah Boby orang suruhan Farel. Pria itu duduk di hadapan Farel, lalu menyerahkan map berwarna merah.


"Itu adalah bukti yang berhasil saya dapatkan bos," ujar Boby.


Farel mengambil map tersebut. Dengan perlahan Farel membuka map berwarna merah itu. Terlihat beberapa foto dan juga berkas. Farel membuka berkas-berkas itu lalu membacanya.


Dada Farel terasa sakit setelah membaca berkas-berkas tersebut. Terutama saat melihat foto-foto itu. Farel tidak menyangka kalau wanita yang dulunya lembut dan taat beribadah bisa berubah drastis seperti itu.


"Anggia, kenapa kamu melakukan ini," lirih Farel. Lelaki itu benar-benar sedih melihat perubahan Anggia yang sekarang.


Farel meletakkan foto dan berkas-berkas itu kembali ke map. Setelah itu Farel menyimpan map tersebut di lemari.


Setelah itu Farel menyerahkan cek yang bertuliskan nominal uang pada Boby.


"Ini bayaran kamu, terima kasih," ucap Farel.


"Sama-sama bos, saya pergi dulu," balasannya dan beranjak pergi dari ruangan Farel.


Farel menyenderkan kepalanya di senderan kursi. Mencoba memejamkan matanya sejenak. Ingatan masa lalunya datang kembali. Begitu miris saat mengingat masa itu. Bahkan hari Farel lebih miris saat melihat perubahan Anggia.


Andai waktu bisa ia putar kembali. Tidak ingin kejadian itu terjadi padanya. Ada rasa sesal dalam hati Farel. Karena kebodohannya, wanita yang pernah ia cintai jadi berubah. Tapi penyesalan itu tidak ada artinya sekarang.


"Enggak, itu hanya masa lalu. Aku tidak mau menyakiti Adel dengan masa lalu buruk itu. Adel adalah gadis yang baik," ujarnya. Setelah itu Farel bergegas keluar dari ruangannya.


Farel tiba di parkiran, dengan cepat Farel memacu mobilnya meninggalkan kantor. Tujuan Farel saat ini adalah sekolah Adel. Farel ingin mengajak Adel pergi ke suatu tempat.


Mobil Farel melaju dengan kecepatan sedang. Tapi entah kenapa, otaknya sangat tidak fokus menyetir. Bayangan masa lalunya terus saja menari-nari di otaknya. Berkali-kali Farel menepisnya, tapi tetap saja terlihat jelas.


Tiba-tiba saja sebuah mobil pick-up melintas begitu saja. Farel yang kaget dengan cepat membanting setir ke arah kanan. Braaak, mobil Farel menabrak pohon besar yang terletak di pinggir jalan.


"Auh." Farel meringis memegangi kepalanya. Darah segar keluar dari pelipisnya.


Sialnya tidak ada orang di sekitar tempat itu. Mobil yang menabraknya pun kabur entah kemana. Farel berusaha keluar dari mobil, kepulan asap pun keluar dari mobil Farel. Setelah berhasil keluar lelaki itu berjalan tertatih mencari tempat untuk duduk.


Farel segera merogoh saku celananya, dan mengambil benda pipih miliknya. Farel bergegas menghubungi Raka agar segera datang menjemputnya. Setelah itu Farel meletakkan handphonenya dan menunggu kedatangan Raka.


"Adel enggak boleh tau kejadian ini," gumamnya dalam hati.


Selang beberapa menit mobil Raka sampai. Dengan cepat Raka keluar dari mobil dan menghampiri Farel. Lelaki itu nampak khawatir dengan keadaan Farel.


"Rel, kamu enggak apa-apa 'kan?" tanya Raka dengan raut wajah khawatir.


"Enggak apa-apa kok Ka, hanya luka kecil saja," sahut Farel.


"Ya udah aku anterin kamu ke RS ya." Raka segera membantu Farel untuk berdiri. Setelah itu Raka memapah Farel masuk ke mobilnya.


Raka langsung memacu mobilnya menuju ke RS terdekat. Luka Farel memang tidak begitu parah. Tapi tetap saja perlu penanganan dari dokter. Horang kaya.


"Aku kasih tau Adel ya," ujar Raka. Lelaki itu berniat ingin menelfon Adel.


"Jangan Ka, aku takut nanti Adel jadi khawatir. Lagian aku kan enggak apa-apa," cegah Farel. Ia takut jika Adel tau nanti akan menambah beban pikiran istri kecilnya itu.


"Ya sudah," pasrah Raka.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang.


Adel sudah menunggu Farel di luar gerbang sekolah. Teman-temannya sudah berhamburan pulang. Hanya ada beberapa siswa yang masih di sekolah.


"Duluan ya Del," ujar seorang siswa yang lewat di depan Adel.


"Eh iya," sahut Adel.


"Om Farel kemana sih, udah jam segini enggak jemput-jemput," desah Adel. Ia pun memilih duduk di bangku semen.


Selang beberapa menit Revan datang. Pria itu tersenyum melihat Adel yang tengah duduk sendiri. Dengan senyum yang mengembang, Revan segera menghampiri Adel, dan menghentikan motornya di depan gadis itu.


"Halo Del, pulang yuk aku anterin," ajak Revan. Pria itu berharap kali ini Adel tidak menolaknya.


"Maaf Van, aku enggak bisa," tolak Adel.


Revan pun turun dari motornya. Pria itu duduk di sebelah Adel.


"Ayolah Del, ngapain nungguin orang yang tidak pasti datang," ujar Revan.


Adel terdiam, gadis itu merasa heran dengan ucapan Revan. Kenapa tiba-tiba Revan bicara seperti itu. Apa maksud dari ucapan Revan barusan.


Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti. Adel tersenyum, gadis itu berharap jika dia adalah suaminya. Adel bergegas bangkit dari duduknya. Gadis itu berjalan mendekati mobil tersebut.


Namun Adel salah, ternyata Raka yang datang, bukan Farel seperti yang Adel harapkan. Raka membuka kaca mobilnya.


"Ayo pulang, sekarang Farel ada pertemuan penting dengan salah satu klien dari Singapura," ujar Raka.


"Oh, iya." Tanpa memperdulikan Revan, Adel segera masuk ke dalam mobil.


Revan mengepalkan tangannya melihat Adel pergi begitu saja. Terlihat jika pria itu tengah menahan emosi.


"Kamu lihat saja Del, apa yang akan aku lakukan. Aku akan membuat kamu menerima cintaku," ucapnya dengan penuh keyakinan.


Setelah itu Revan memutuskan untuk pulang. Tentunya dengan rasa kecewa.


Sementara itu dalam perjalanan pulang, Adel memilih untuk membuka buku pelajarannya yang baru ia pelajari di sekolah.


Tidak butuh waktu lama mobil yang Adel dan Raka tumpangi sampai di rumah. Adel bergegas turun dari mobil. Sementara itu Raka akan kembali ke kantor.


Farel yang telah menyuruh Raka untuk menjemputnya Adel. Dan Farel yang telah melarang Raka untuk memberitahu Adel jika dirinya mengalami kecelakaan. Farel tidak ingin membuat Adel khawatir.


***


Siang telah berganti malam. Pukul 8 malam Farel baru tiba di rumah. Lelaki itu segera masuk ke dalam. Sementara Adel tengah sibuk belajar di kamar. Farel pun bergegas naik ke atas menuju ke kamar.


Pintu kamar terbuka, nampak Adel tengah sibuk dengan tumpukan buku di hadapannya. Perlahan Farel masuk ke dalam lalu meletakkan jasnya di sofa. Setelah itu Farel memilih untuk masuk ke kamar mandi.


Namun niatnya terhenti, lantaran Adel mencegahnya. "Tunggu Om."


Adel memegang tangan Farel dan membalikkan tubuh kekar suaminya itu. Adel terkejut saat melihat luka di pelipis Farel.


"Itu kenapa Om?" tanya Adel. Tangannya menunjuk ke arah pelipis Farel.


"Oh ini. Enggak apa-apa kok," elak Farel. Ia tidak ingin membuat istri kecilnya khawatir.


"Iya, hanya luka kecil. Farel tersenyum. "Aku mandi dulu ya."


Farel mencium kening Adel. Sementara yang dicium hanya diam mematung. Setelah Farel masuk ke kamar mandi Adel baru sadar. Jika dirinya telah dicium oleh Farel untuk yang kesekian kalinya.


Setelah itu Adel bergegas membereskan meja belajarnya. Setelah beres, Adel segera turun ke bawah untuk mengambil makan malam untuk Farel.


Setelah siap Adel langsung naik ke atas.


Pintu kamar terbuka, terlihat jika Farel sudah duduk di atas ranjang, dengan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. Adel berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang.


"Makan dulu Om." Adel menyodorkan sepiring nasi dengan lauknya.


Farel terdiam. "Suapin dong."


Adel berdecak. "Ih, manja banget sih."


Farel hanya tersenyum. Lalu membuka mulutnya. Tidak ingin berdebat lagi. Adel pun mulai menyuapi suaminya itul. Farel begitu lahap menikmati makanan yang Adel buat.


Setelah selesai Adel segera membereskannya, dan membawanya ke bawah. Farel merasa bahagia melewati hari-hari bersama istri kecilnya itu. Tapi kehadiran masa lalunya membuat pikiran Farel menjadi tidak tenang.


"Aku harus mengatakannya, aku tidak boleh memendamnya terus menerus. Adel adalah milikku seutuhnya," ujar Farel mantap.


Selang beberapa menit Adel kembali. Farel yang melihat Adel masuk ke dalam kamar. Dengan cepat memanggil gadis itu untuk mendekat. Adel pun bergegas mendekat dan duduk di samping Farel.


"Ada apa Om?" tanya Adel.


Farel menatap lekat wajah Adel. Lalu perlahan lelaki itu meraih tangan mungil sang istri. Farel menggenggam erat kedua tangan Adel. Kedua netra mereka saling beradu.


"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu," ucap Adel. Adel hanya mengangguk.


Farel menarik nafasnya dan membuangnya secara perlahan. Debaran jantungnya semakin terasa. Panas dingin yang kini Farel rasakan. Tangannya pun seperti gemetar.


Dengan memejamkan matanya, Farel akan mengungkapkan apa isi hatinya. Farel tidak ingin kejadian masa lalunya terulang kembali. Meski Adel telah menjadi istrinya, tidak ada yang bisa menjamin jika mereka tidak akan berpisah.


"I love you, will you be a part of my life forever," ungkap Farel.


Adel terdiam sejenak, entah apa yang harus Adel jawab. Jujur Adel sangat bahagia mendengar pernyataan yang Farel ungkapkan. Memang itu yang selama ini Adel tunggu-tunggu.


Adel memejamkan matanya. "I love you too yes i want."


"I want to spend the rest of his life only with you, my little wife," ucap Farel.


"Yes, i want to," sahut Adel.


"Thank you my wife i love you," ujar Farel.


"You're welcome, my beloved husband," balas Adel.


Dengan cepat Farel menarik tubuh mungil Adel ke dalam pelukannya. Tak terasa air mata keduanya menetes. Air mata kebahagiaan.


"Thank you, dear. Thank you for everything," ucap Farel dengan air mata kebahagiaan.


"Yes, you are welcome," sahut Adel.


Setelah cukup lama, Farel melepas pelukannya. Perlahan jari tangan Farel menyeka air mata Adel. Begitu juga sebaliknya. Sungguh ini momen yang sangat bahagia untuk kedua insan itu.


"Lalu, bagaimana dengan perjanjian itu Om?" tanya Adel, yang langsung menundukkan kepalanya.


Farel tersenyum. "Tolong kamu ambilkan map berwarna biru di laci meja riasmu."


Adel segera bangkit dan mengambil map tersebut yang tersimpan di laci meja riasnya. Setelah itu Adel menyerahkan map itu kepada Farel. Lelaki itu menerimanya lalu membukanya.


"Sekarang kamu robek surat perjanjian konyol ini, pernikahan kita adalah pernikahan yang sah. Kamu sudah menjadi milikku seutuhnya, dan aku tidak akan pernah melepaskan kamu." Farel menyerahkan surat itu kepada Adel.


Dengan ragu-ragu Adel menerima surat tersebut. Sebelum Adel merobeknya, terlebih dahulu ia membaca kembali isi surat itu. Setelah itu dengan cepat Adel merobek-robek surat itu menjadi kertas-kertas kecil, lalu melemparnya ke atas.


Adel tersenyum bahagia, lalu gadis itu menghambur ke pelukan hangat suaminya. Adel begitu bahagia, karena apa yang dia takutkan tidak terjadi.


"Terima kasih ya Om, Om sudah mau mempertahankan Adel. Meski usia kita jauh berbeda, tapi Adel tetap cinta kok sama Om" ungkap Adel. Tapi tiba-tiba senyum Farel memudar, saat mendengar pernyataan sang istri.


"Memangnya aku terlalu tua ya untuk kamu," ucap Farel, dengan wajah datar.


Adel mendongak, menatap wajah sang suami dengan tersenyum menampilkan lesung pipinya. "Enggak kok Om."


Farel kembali memeluk istri kecilnya, dan menghujani Adel dengan kecupan di puncak kepalanya. Keduanya larut dalam kebahagiaan. Tak pernah Farel merasa sebahagia ini. Satu beban di hati Farel sudah berhasil ia ungkapkan.


Sementara untuk masalah Anggia, Farel akan menceritakan nanti setelah Adel ujian. Farel takut jika ia cerita sekarang, nanti akan mengganggu pikiran Adel. Tugas Farel sekarang adalah menjaga Adel dari orang-orang yang hendak memisahkan mereka.


Kini keduanya sama-sama berbaring di atas ranjang. Adel berbaring dengan berbantalkan lengan kekar suaminya itu. Sementara tangan Farel tak henti-hentinya membelai lembut kepala Adel.


"Sayang." Panggil Farel.


"Iya." Sahut Adel.


"Jadi sekarang aku boleh minta dong," ucap Farel. Secara Adel sadari Farel telah memberikan kode.


"Minta apa Om,? tanya Adel.


"Minta itu," jawab Farel.


"Iya minta apa," sahut Adel.


"Masa kamu enggak tau sih," balas Farel.


"Makanya ngomong yang jelas Om," ujar Adel.


"Ingat pesanan nama sama papa kan," sahut Farel, seraya mengingat.


Adel terdiam dan mencoba mengingatnya. "Kalau Adel enggak mau."


"Aku akan menghukummu, dengan cara menggelitik perut kamu." Farel langsung merubah posisi tidurnya.


"Hehe. Adel milih dihukum aja Om," ucap Adel dengan tersenyum.


"Ok, jika itu maumu." Dengan cepat Farel mulai menggelitiki perut istrinya itu.


Adel tertawa menahan geli. Sementara Farel terus melancarkan aksinya. Meski Adel sudah meminta ampun tapi Farel tetap saja menggelitikinya.


"Ampun Om. Geli Om," ucap Adel.


"Ini hukuman buat istri kecilku yang bandel ini." Farel membawa Adel dalam dekapannya, dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh keduanya.


Tidak ada yang lebih indah dari dua raga yang saling menjaga. Tidak bertemu tetapi saling menunggu. Tidak berpapasan tetapi saling memantaskan.


Dan dua hati yang terpisah, berusaha untuk menyatukannya.