
Kini Adel dan Farel sudah berada di kamar, Farel sedang sibuk dengan layar leptopnya, entah apa yang tengah lelaki itu kerjakan.
Sementara itu Adel masih sibuk mengeringkan rambutnya sembari duduk di depan cermin.
"Jadi kita pindah hari ini Om?" tanya Adel. Gadis itu kini masih sibuk mengeringkan rambutnya.
"Jadi." Sahut Farel. Mata Farel masih fokus dengan layar leptopnya.
Adel mendesah pelan, dengan cepat gadis itu mengeringkan rambutnya. Setelah selesai Adel memulai mengemas barang-barang miliknya dan juga milik Farel. Meski lelaki itu tidak menyuruhnya, tapi Adel tau jika Farel masih sibuk dengan pekerjaan kantornya. Tak lupa Adel juga mengemas buku-buku sekolahnya.
Selang beberapa menit Adel telah selesai membereskan perlengkapan sekolahnya. Begitu juga dengan Farel yang telah selesai dengan pekerjaannya.
Kemudian Farel menutup leptopnya dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia mengangkat keduanya tangannya, untuk meregangkan otot-ototnya agar rileks.
Setelah itu Farel bangkit dari duduknya, lelaki itu terkejut saat melihat semua barang telah siap. Bahkan perlengkapan sekolah Adel pun sudah siap.
Padahal dirinya tidak menyuruh Adel untuk membereskan barang miliknya, tapi dengan suka rela Adel melakukan itu.
"Ini semua kamu yang beresin?" tanya Farel seraya menunjuk dua koper dan barang lainnya.
"Ya iya lah, dari tadi Om kan sibuk sendiri," sahut Adel. Gadis itu tengah duduk merapikan tasnya.
Farel tersenyum, lalu melangkah mendekati istri kecilnya itu. "Anak pintar." Tangannya mengacak-acak rambut panjang Adel.
"Ih, Om kebiasaan banget ngacak-acak rambut Adel," Adel menepis tangan Farel. Bibirnya yang mungil sudah mulai maju.
Lagi-lagi Farel hanya tersenyum. Entah kenapa dirinya begitu suka berbuat usil pada istri kecilnya itu.
Farel juga merasa dirinya nyaman jika berada di dekat Adel. Sehari tidak melihatnya, hatinya merasa tidak tenang.
Farel juga tidak rela, jika melihat Adel tersakiti.
30 menit telah berlalu, Adel dan Farel sudah siap untuk berangkat. Mereka sudah berada di bawah, sementara barang-barang sudah berada di bagasi mobil.
Keduanya akan berpamitan terlebih dahulu sebelum pergi. Adel memeluk ibu mertuanya cukup lama, setelah itu gadis itu juga memeluk ayah mertuanya.
"Kalian baik-baik ya di sana," pesan Lidia pada putra dan menantunya itu.
"Iya ma, mama sama papa juga baik-baik ya di sini," sahut Adel.
"Jangan lupa pesenan papa ya," ucap Indra. Lalu mengedipkan matanya pada Farel.
"Pesenan apa pa?" dengan polosnya Adel bertanya pada ayah mertuanya itu.
"Cucu." Lidia dan Indra menjawab secara bersamaan.
"Apa." Begitu juga dengan Adel dan Farel, kedua sama-sama terkejut mendengar jawaban dari orang tuanya.
Seketika Adel dan Farel saling berpandangan, keduanya tersenyum lalu kembali memandang Lidia dan juga Indra.
Perasaan Adel sudah campur aduk, kenapa mertuanya menginginkan sekali seorang cucu, padahal pernikahannya hanya sekedar drama saja. Gadis itu menjadi was-was sendiri.
Tapi berbeda dengan Farel, meski perasaannya juga bingung, tapi lelaki itu tetap bersikap tenang.
Bahkan dalam otaknya terdapat ide untuk menjahili Adel. Lelaki itu tersenyum saat membayangkan wajah Adel yang terlihat gugup.
"Papa sama mama tenang saja, secepatnya kami akan memberikan kalian cucu, iya kan Sayang," Farel langsung memeluk pinggang Adel dan mengedipkan sebelah matanya ke arah gadisnya itu.
Adel dibuat melongo oleh ucapan Farel, bisa-bisanya Farel berucap seperti itu. Tentu saja Adel terkejut setengah mati. Tanpa persetujuannya lelaki itu memberikan janji pada kedua orang tuanya.
Padahal Farel tau, jika pernikahan mereka karena janji.
"Sayang, kok diem," Farel mengeratkan tubuh Adel, seketika Adel tersentak kaget.
Adel pun terpaksa tersenyum, demi memuluskan drama suaminya itu. "Iya ma, pa, secepatnya kita akan kasih kalian cucu." Lalu melirik ke arah Farel.
Lidia dan Indra tersenyum, keduanya terlihat sangat bahagia saat mendengar jika menantunya bersedia memberikan cucu secepatnya.
Adel jadi merasa bersalah, jika nanti mertuanya tau kalau pernikahan yang Adel dan Farel jalani hanya sebatas satu tahun saja, mereka pasti akan kecewa.
"Gitu dong Sayang, kami akan tunggu kabar baiknya," senyum Lidia mengembang.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang ya ma," Farel dan Adel segera berpamitan, tak lupa keduanya mencium punggung tangan Lidia dan juga Indra.
"Kalian hati-hati di jalan ya," ucap Lidia.
Lidia dan Indra mengantar menantu dan putranya ke teras. Sementara itu Adel dan Farel bergegas masuk ke dalam mobil. Serasa tidak ada yang tertinggal lagi, Farel segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobil Farel pun sudah keluar dari halaman rumah orang tuanya itu.
Mobil Farel membelah jalan raya yang ramai akan kendaraan yang berlalu-lalang. Farel melajukan mobilnya dengan sedikit menambah kecepatan, karena ia ingin segera sampai ke tempat tujuannya.
Sesekali Adel melirik Farel yang terus fokus menyetir.
"Kenapa lirik-lirik, nanti tertarik loh," seketika Adel mengalihkan pandangannya. Farel terkekeh melihat ekspresi wajah Adel.
"Maksud Om tadi apa, pake acara janjiin mama sama papa cucu, kita kan menikah hanya sebatas perjanjian, kalau mama sama papa tau, pasti mereka akan kecewa, Om harus ingat, setelah setahun kita .... " ucapan Adel terpotong, entah kenapa lidah Adel mendadak kelu saat akan mengucapkan kata berpisah.
"Kenapa diem, ayo lanjutin," ujar Farel. Ia ingin mengetes, apakah Adel berani mengatakan hal itu atau tidak.
"Tau ah, Adel sebel sama Om," Adel langsung mengalihkan pandangannya.
Gadis itu lebih memilih memandang ke luar jendela, matanya sudah berkaca-kaca. Adel bingung dengan keadaan hatinya sendiri, yang seolah-olah menolak jika mereka akan berpisah.
Tak terasa bulir bening itu pun menetes, dengan cepat Adel menyekanya, ia tidak mau kalau Farel sampai tau.
Farel melirik Adel yang masih memandang ke luar jendela, ia juga merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Belum ada seminggu mereka menikah, tapi Farel merasa begitu nyaman hidup bersama Adel.
Bahkan Farel lupa akan perjanjian yang telah mereka buat, ia ingin pernikahannya tetap berlanjut.
***
Pukul 7 malam mereka baru sampai, Farel memarkirkan mobilnya di depan rumah mewahnya, rumah dua lantai, dengan halaman yang begitu luas.
Adel mengedarkan pandangannya, gadis itu merasa takjub akan bangunan mewah yang berada di depan mata. Adel tersenyum melihat rumah mewah suaminya itu.
Namun senyuman itu seketika sirna, saat mengingat jika mereka akan hidup bersama hanya selama setahun. Setelah itu keduanya akan berpisah, dan akan menentukan jalan hidupnya masing-masing.
Adel merasa sedih saat mengingat perjanjian konyolnya itu, ada rasa sesal dalam hatinya, kenapa dulu Adel bersedia menerima perjanjian itu.
"Ayo turun," Farel pun mengajak Adel untuk turun. Gadis itu hanya mengangguk.
Keduanya pun turun dari mobil, Adel berjalan mengedarkan pandangannya, melihat sekeliling rumah tersebut.
Sementara Farel bergegas mengambil koper dan barang-barang lainnya.
Farel segera membuka pintu rumahnya, dan membawa barang bawaannya masuk ke dalam, Adel hanya mengekor di belakang Farel.
Adel sangat takjub melihat isi rumah tersebut, gadis itupun mengedarkan pandangannya, melihat setiap sudut rumah suaminya itu. Langkah Adel terhenti saat melihat sebuah bingkai foto berukuran 5R yang bertengger di atas meja. Adel merasa penasaran dengan foto itu, ia pun berniat ingin melihatnya lebih dekat.
Di ambillah bingkai foto tersebut, terdapat foto Farel dan seorang perempuan, dalam hati Adel bertanya-tanya siapa perempuan itu.
Terlihat Farel tengah tersenyum, begitu juga dengan perempuan yang berada di foto itu. Senyum keduanya memperlihatkan senyuman kebahagiaan. Posenya pun terlihat sangat mesra, Farel berdiri di belakang, sementara perempuan itu berdiri di depan, Farel melingkarkan tangannya di perut perempuan itu dan menyenderkan dagunya di bahu perempuan tersebut.
Adel tersentak saat bahunya disentuh oleh Farel. Dengan cepat Adel meletakkan bingkai itu kembali.
Ingin rasanya Adel mempertanyakan foto itu, tapi mungkin sekarang bukan waktu yang tepat, Adel juga merasa sudah sangat lelah, gadis itu ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ada apa?" tanya Farel. Lelaki itu merasa heran dengan sikap Adel.
"Enggak apa-apa. Oya, kamar Adel di mana Om," Adel mengelak, dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kamar kita ada di atas," jawab Farel. Ia pun berjalan mendahului Adel.
Gadis itu mendengus kesal. "Adel tanya kamar Adel di mana, bukan kamar kita." Ia pun berjalan mengikuti Farel.
Keduanya sampai di kamar, Adel ternganga melihat kamar yang akan mereka tempati. Kamarnya sangat luas, ranjangnya pun lebih besar, dari yang ada di rumah orang tua Farel.
Adel berjalan melihat-lihat seisi kamar tersebut, terdapat meja belajar di pojok kanan, ada sofa dan meja kecil, dan TV LED berukuran 55 inci yang bertengger di dinding.
Farel meletakkan dua koper miliknya dan juga milik Adel. Sementara gadis itu masih asyik melihat-lihat isi kamar tersebut.
Semuanya lengkap, ruang ganti dan kamar mandi yang tidak kalah luas, bahkan lebih luas.
"Kamu masukkan baju-bajunya ke almari, aku ke bawah dulu ambil barang-barang kamu," Farel melangkah keluar, setelah berucap yang Adel balas dengan anggukan.
Namun bukannya membereskan isi koper, justru Adel menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang. Rasa penat dan juga lelah, membuat gadis itu seketika memejamkan matanya.
Sementara Farel telah tiba di bawah, sebelum mengambil barang milik Adel. Lelaki itu berjalan menghampiri bingkai yang Adel pegang tadi.
Farel mengambil bingkai foto tersebut, dan memandanginya, ia pun menghembuskan nafasnya. "Lebih baik aku simpan foto ini di gudang saja, akan terasa menyakitkan jika tetap berada di sini." Lalu berjalan menuju ke gudang.
Setelah itu Farel kembali lagi ke kamar, dengan membawa barang-barang milik Adel.
Farel menggelengkan kepalanya saat melihat kopernya masih berada di tempatnya, sementara yang di suruh sudah tertidur pulas di atas ranjang. Setelah meletakkan barang tersebut, Farel berjalan menghampiri istri kecilnya itu.
Farel duduk samping Adel, lalu menarik selimut dan menutupi tubuh mungil istrinya itu.
Farel memandangi wajah Adel yang terlihat imut meski dalam keadaan tidur sekalipun. Perlahan tangan Farel menyingkirkan rambut panjang Adel yang menutupi sebagian wajahnya.
"Cantik." Gumam Farel. Ia pun tersenyum.
"Apa yang kamu katakan memang benar, tidak seharusnya aku menjanjikan mama sama papa cucu. Tapi jika tidak seperti itu, mereka pasti akan merasa sedih, aku ingin melihat mereka bahagia. Mama sama papa memang akan merasa kecewa setelah nanti tau, atas dasar apa kita menikah. Aku tidak tau, perasaan apa yang aku miliki terhadap kamu, cinta, sayang atau apa, aku tidak tau. Yang jelas, aku tidak ingin kehilangan orang yang begitu berarti dalam hidup aku untuk kedua kalinya," Farel mencium kening Adel dengan begitu lembut.
Setelah itu, Farel memutuskan untuk membereskan baju-baju miliknya dan juga milik Adel. Selesai dengan baju, Farel berpindah menata barang-barang milik istrinya itu.
Ia juga meletakkan perlengkapan kerjanya di ruang kerja miliknya.
Setelah semuanya selesai, Farel bergegas mandi karena badannya terasa sangat lengket.
***
Mentari pagi telah menyapa, sinarnya pun menyeruak masuk ke dalam melalui celah-celah jendela. Hembusan angin yang menerpa pepohonan, dan menggugurkan daun-daun keringnya, serta embun pagi yang masih basah.
Burung-burung yang berkicau, dan bunga-bunga yang bermekaran, menambah suasana pagi lebih indah.
Adel menggeliatkan tubuhnya yang masih berada di bawah selimut, tidur malam yang sangat nyenyak. Perlahan gadis itu membuka matanya dengan sempurna.
Adel menoleh ke arah samping, dilihatlah Farel yang masih tertidur pulas. Wajahnya begitu damai, sampai-sampai Adel tidak ingin melewatkan momen seperti sekarang.
Setelah puas memandangi wajah suaminya itu, Adel menyibakkan selimutnya dan bergegas bangkit dari tempat tidur. Gadis itu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hanya butuh waktu 20 menit Adel sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Nih Om-Om kok enggak bangun-bangun sih, emang nggak kerja apa," Adel menggoyangkan tubuh Farel, agar lelaki itu cepat bangun.
"Bangun Om udah siang," Adel terus mengguncangkan tubuh suaminya itu.
Perlahan Farel menggeliatkan tubuhnya. "Bentar lagi ya masih ngantuk nih." Lalu menenggelamkan wajahnya di bawah bantal.
Adel berdecak. "Ih, nanti Adel terlambat ke sekolah Om." Dengan terpaksa Adel menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Farel.
Seketika Adel menjerit dan memalingkan wajahnya. Adel terkejut saat melihat Farel tidur dengan bertelanjang dada.
Merasa terusik, akhirnya Farel bangun dan duduk. Lelaki tampak memegangi tengkuknya, lalu meregangkan otot-ototnya agar rileks.
"Kamu bisa enggak sih, kalau teriak volumenya di kecilin dikit, berisik tau," ujar Farel yang merasa terganggu dengan teriakan Adel.
"Salah Om sendiri, ngapain tidur nggak pake baju," sahut Adel. Ia masih memalingkan wajahnya.
Farel menghembuskan nafasnya. "Semalam gerah." Lalu bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah Farel masuk ke kamar mandi, Adel bergegas membereskan tempat tidurnya yang masih berantakan.
Selesai dengan itu, Adel menuju ke meja belajarnya dan menata buku apa saja yang akan ia bawa.
Selang beberapa menit Farel keluar dari ruang ganti.
"Adel bantuin dong," pinta Farel. Ia melemparkan dasi ke arah Adel, sedangkan dirinya masih sibuk mengancingi kemejanya.
Adel menangkap kain panjang tersebut, lalu berjalan ke arah Farel.
Adel hendak melingkarkan kain tersebut, tapi karena tubuhnya terlalu pendek, gadis itu kesulitan untuk menjangkau leher suaminya itu.
"Om nunduk dong, Adel nggak sampai nih," Adel menggerutu dengan bibir yang mulai maju.
"Makanya, tumbuh itu ke atas, jangan ke sam .... "
"Adel enggak tumbuh ke samping, emang dasarnya tinggi Adel segini, Om tuh yang ketinggian, kayak tiang listrik," dengan cepat Adel memotong ucapan Farel.
Farel hanya tersenyum, lalu memilih duduk di tepi ranjang, agar Adel dengan mudah memasangkan dasi untuknya.
Farel tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan lekat Farel memandangi wajah imut Adel. Senyumannya membuat lelaki itu meleleh, di tambah lesung pipinya yang membuat manis saat tersenyum.
Setelah semua selesai, Adel dan Farel bergegas turun ke bawah. Setibanya di bawah Adel terlihat celingukan, entah apa yang sedang ia cari.
"Di sini enggak ada pembantu ya Om?" tanya Adel. Gadis itu masih mengedarkan pandangannya.
"Ada, sebentar lagi paling datang. Dia ke sini hanya untuk masak, bersih-bersih sama nyuci, setelah selesai dia pulang, dan kembali lagi besok," jelas Farel, dan dibalas dengan anggukan oleh Adel.
"Kamu sarapan di sekolah aja ya, soalnya pagi ini aku ada meeting," sambung Farel. Lelaki itu melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Iya Om," sahut Adel. Ia paham, jika suaminya itu memang orang sibuk.
Farel menyerahkan lima lembar uang kertas yang berwarna merah. "Ini buat jajan kamu di sekolah." Adel pun menerimanya.
"Ini kebanyakan Om, yang kemarin aja masih," protes Adel. Menurutnya uang yang Farel kasih terlalu banyak.
"Yang kemarin kamu simpan aja. Itu tuh paling sedikit, anak-anak lain yang seusia kamu kalau megang uang lebih banyak dari itu," ujar Farel. Ia merasa heran dengan istrinya yang begitu irit dengan duit.
"Mereka kan beda sama Adel Om," tuturnya. Lalu menyimpan uang tersebut dalam tasnya.
"Kamu memang beda dengan yang lain, itu sebabnya aku merasa beruntung bisa dipertemukan dengan kamu," Adel terdiam mendengar ucapan suaminya itu.
"Masih pagi enggak usah gombal, buruan berangkat nanti Adel terlambat," ujar Adel. Gadis itu berjalan mendahului Farel.
Farel tersenyum melihat ekspresi wajah Adel yang terlihat malu itu. Lalu ia berjalan mengikuti langkah Adel.
Tak lama kemudian mobil Farel melesat meninggalkan halaman rumahnya. Mobil itu membelah jalanan yang ramai dengan kendaraan.
Adel memilih melihat ke luar jendela, sementara Farel lebih fokus untuk menyetir.
Tak lama kemudian mobil Farel berhenti di depan gerbang sekolah Adel. Seperti biasa Adel mencium punggung tangan Farel. Lalu bergegas keluar dari mobil.
"Belajar yang bener ... ingat, sebentar lagi ujian," Farel selalu mengingatkan Adel, agar belajar dengan benar.
"Ok." Sahut Adel dengan penuh semangat, setelah itu Adel bergegas masuk ke dalam.
Farel terus memperhatikan Adel, sampai gadis itu berhambur ke teman-temannya. Tapi tiba-tiba Farel memicingkan matanya, saat melihat Adel bersama dengan seorang pria, Adel terlihat tengah tertawa dan sesekali memukul pria itu dengan buku yang ia bawa. Keduanya terlihat sangat akrab.
"Siap pria itu, kenapa mereka terlihat sangat akrab," Farel membatin. Tak terasa tangannya mengepal, ingin rasanya ia menghampiri Adel, dan menanyakan siapa pria yang bersamanya, tapi sekarang bukan waktu yang tepat.
Akhirnya Farel mengurungkan niatnya, ia segera melajukan mobilnya menuju ke kantor.
Cemburu, mungkin saja. Tapi Farel tidak mau mengakuinya. Egonya masih terlalu tinggi untuk mengakui perasaan yang sebenarnya.