
Tak terasa usia pernikahan Adel dan Farel sudah genap 5 bulan. Srtelah terbongkarnya kejahatan Dewi dan Riana, keadaan rumah tangga Farel dan Adel terlihat lebih tentram. Dan selama mereka menikah Adel dan Farel terlihat fine-fine saja. Adel merasa nyaman dengan statusnya yang sekarang, meski terkadang gadis itu merasa kesal dengan sikap Farel yang selalu terlihat memaksa, tapi dengan senang Adel menurutinya.
Begitu juga dengan Farel, lelaki dewasa itu juga terlihat bahagia mempunyai istri seperti Adel.
Walaupun sikap kekanak-kanakan Adel selalu membuat Farel harus extra sabar.
Begitulah nasib Farel yang menikahi gadis ABG dan polos seperti Adel.
Keduanya sama-sama bahagia, sampai-sampai mereka lupa akan perjanjian yang telah di buat sebelumnya.
Pagi telah menyapa, langit nampak begitu cerah, sang mentari pun mulai menyemburkan cahayanya.
Hembusan angin pagi terasa begitu sejuk, embun pagi pun masih senantiasa menetes.
Namun kedua insan itu masih terlelap dalam mimpi Indahnya.
Selang beberapa menit, Farel mulai menggeliatkan tubuhnya, tapi lelaki itu sangat sulit untuk menggerakkan tubuhnya. Perlahan Farel mengerjap-ngerjapkan matanya, dan setelah matanya terbuka sempurna. Lelaki itu sangat terkejut, saat mendapati sang istri tengah tidur di atas dada bidangnya.
"Astaga Adel. Kalau tiap hari kamu tidurnya kayak gini terus, bisa-bisa aku khilaf," ucap Farel. Lelaki itu nampak memperhatikan wajah mungil sang istri.
Perlahan Farel menyingkirkan rambut panjang Adel yang menutupi wajahnya.
Farel tersenyum melihat wajah Adel yang begitu imut. Dalam keadaan tidur saja terlihat sangat imut, apa lagi jika tersenyum.
"Aku sangat beruntung bisa menikah denganmu, meski kamu selalu bersikap manja dan kekanak-kanakan, meski usia kita terlampau 10 tahun, dan .... " Ucapnya terhenti. Farel kembali teringat tentang perjanjian konyol itu.
Farel mendesah. "Rasanya aku tidak sanggup jika aku melepaskan kamu." Ungkap Farel. Tangannya mengelus lembut rambut Adel.
Farel melirik jam yang berada di atas nakas, dan waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Rasanya Farel sangat malas untuk turun dari ranjang.
Posisi tidur Adel membuat lelaki itu merasa nyaman berada di atas ranjang.
"Adel bangun," perlahan Farel menggoyangkan tubuh mungil istrinya itu.
"Hmmm, bentar lagi Om, tanggung nih," sahut Adel dengan suara yang masih serak.
Farel menghela nafas. "Tanggung apanya, udah siang ini. Kamu mau sekolah apa enggak." Ujarnya.
Perlahan Adel membuka matanya, setelah matanya terbuka sempurna. Seketika mata Adel membulat, gadis itu terkejut dengan posisi tidurnya yang berada di atas tubuh Farel.
Sedangkan ia ingat betul, saat hendak tidur, posisinya saling membelakangi. Dengan cepat Adel bangkit dan duduk.
Farel menyipitkan matanya. "Kenapa." Ujarnya. Heran. "Kaget kenapa posisi tidurnya seperti itu." Lanjutnya.
Adel hanya cengengesan. " Hee, Adel memang seperti itu kalau tidur Om, kayak .... "
"Kayak jarum jam muter-muter, bikin badan orang sakit semua," potong Farel dengan cepat.
Lagi-lagi Adel hanya cengengesan, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya maaf Om." Ujarnya.
Farel hanya menggelengkan kepalanya. Setelah itu keduanya segera membersihkan diri dan bersiap-siap seperti biasanya.
Adel telah siap dengan seragam sekolahnya, begitu juga dengan Farel, lelaki itu juga sudah siap dengan baju kerjanya. Setelah semua siap, keduanya pun bergegas pergi.
***
Kini mobil Farel sudah berhenti di depan gerbang sekolah Adel. Gadis itu bergegas keluar dari mobil suaminya itu. Tak lupa Adel mencium punggung tangan Farel.
Begitu juga dengan Farel yang selalu memberi nasehat pada Adel, agar selalu rajin dalam bersekolah.
Setelah Adel turun dan masuk ke dalam, Farel segera memacu mobilnya menuju ke kantor.
Mobil Farel melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, lantaran pagi ini Farel ada meeting, dan ada pertemuan khusus dengan klien nya yang dari luar negeri.
Tak butuh waktu lama, kini mobil Farel sudah berhenti di pelataran kantor. Lelaki itu bergegas turun dan melangkah masuk ke dalam.
Sapaan demi sapaan terdengar dari para karyawannya, tapi Farel hanya mengangguk dan tersenyum.
Farel segera menuju ke ruangannya yang berada di lantai 10.
Setiba di ruangannya, Farel langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kebesarannya. Lelaki itu segera membuka berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Belum sempat Farel memulai pekerjaannya, tiba-tiba Raka masuk.
Pria itu memang selalu masuk ke ruangan Farel tanpa mengetuk pintu terdahulu. Persahabatan yang sudah terjalin sejak kecil, membuat keduanya sudah seperti saudara.
"Ada apa?" tanya Farel.
Raka pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Farel. "Meeting hari ini di tunda." Ujar Raka.
Farel mengernyitkan keningnya. "Kenapa." Sahut Farel.
"Pak Hendra tidak bisa datang, katanya ada urusan mendadak," balas Raka. Sementara Farel hanya ber-oh ria.
"Lalu untuk pertemuannya?" tanya Farel. Lelaki itu teringat jika nanti akan ada pertemuan khusus dengan klien nya.
"Semuanya sudah aku siapkan, tinggal nunggu orangnya saja," jawab Raka.
"Ok. Thank you brother," sahut Farel.
"Your welcome," balas Raka.
"Oya. Dengar-dengar katanya kamu mau dijodohin ya?" tanya Farel seraya memainkan alisnya.
Seketika raut wajah Raka berubah. "Tau dari mana kamu, perasaan aku enggak buat pengumuman kalau aku mau dijodohin." Ujar Raka.
Farel tersenyum. "Biasalah." Sahut Farel dengan santai.
Raka membuang nafas. "Pasti tuh mulut ember yang udah ngasih tau kamu, iya kan." Tebak Raka.
Seketika Farel tertawa. " Eh. Gitu-gitu juga adik kamu kali, sembarang aja kalau ngomong." Ungkap Farel.
"Adik durhaka itu namanya, yang bisanya ngrecokin urusan orang dewasa," Raka begitu kesal, saat tau jika adiknya sudah membeberkan perihal perjodohannya yang telah orang tuanya buat.
***
Jam pelajaran kedua telah selesai, siswa-siswi semua berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing.
Namun tidak dengan Adel, gadis itu masih duduk di bangkunya, setelah semua teman-temannya keluar, Adel membuka tasnya dan mengambil bekal makanannya.
Saat Adel sedang asyik menikmati makanannya, tiba-tiba pengganggu datang, siapa lagi kalau bukan Revan.
Cowok itu tidak ada capek-capeknya mengganggu Adel.
Tanpa permisi Revan duduk di sebelah Adel, tapi gadis itu sama sekali tidak menghiraukannya, Adel tetap menikmati makanannya.
"Halo Adel Sayang," sapa Revan. Bibirnya tersenyum, sementara matanya menatap lekat wajah gadis itu.
Diam, Adel tetap pada aktivitasnya, yaitu makan. Gadis itu tidak membalas sapaan dari Revan.
Namun Revan sama sekali tidak menyerah, tiba-tiba saja Revan menarik bekal makanan yang sedang Adel makan, sontak gadis itu melotot ke arah Revan.
"Rese banget sih jadi cowok," Adel sewot dan langsung mengambil bekal yang sempat Revan ambil.
Bukannya marah, Revan justru tersenyum, cowok itu sangat suka menggoda Adel.
Dia begitu menikmati saat melihat Adel marah-marah, wajahnya yang imut menjadi semakin imut.
Namun bagi Adel, Revan adanya cowok terese yang pernah Adel temui.
"Del, besok kan hari minggu. Jalan-jalan mau nggak, nanti aku traktir deh," ajak Revan, cowok itu berharap, Adel mau menerima ajakannya.
Adel diam, gadis itu mencoba berfikir. "Maaf aku enggak bisa." Tolak Adel.
"Ayolah Del, sekali aja. Mau ya," Revan terus membujuk Adel.
Adel menghela nafas. "Sekali aku bilang tidak, ya tidak." Tegasnya. Setelah itu Adel bangkit dan beranjak pergi meninggalkan Revan.
Revan mendengus kesal, cowok itu benar-benar sudah hilang kesabarannya.
Revan tidak menyangka ternyata untuk mendapatkan Adel begitu sulit, apa semua ini gara-gara Farel, yang pernah bilang jika lelaki itu adalah sepupunya.
"Kamu lihat saja Del, aku enggak akan menyerah begitu saja. Aku akan mendapatkan kamu," Revan menatap punggung Adel yang mulai hilang di balik pintu.
***
Waktu terasa begitu cepat, siang telah berganti malam. Terangnya sinar mentari telah digantikan oleh terangnya rembulan.
Bintang yang berkerlipan menambah indahnya malam, hembusan angin terasa menusuk.
Malam ini Adel tengah sibuk mengerjakan tugas sekolahnya, tapi lain halnya dengan Farel, lelaki itu tengah duduk santai sembari memainkan ponselnya.
Adel nampak kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolahnya, sesekali gadis itu melirik ke arah Farel, tapi lelaki itu matanya tetap fokus ke layar handphonenya.
"Om." Panggil Adel.
"Hm." Farel hanya berdehem.
"Om." Panggilnya lagi, kali ini suara Adel lebih tinggi.
Farel menoleh dan menautkan kedua alisnya. "Kenapa." Ujarnya.
Mata Adel sudah melotot, bibirnya manyun ke depan. Sebelum Adel mengeluarkan suara yang lebih tinggi, buru-buru Farel bangkit dan menghampiri sang istri.
Farel menarik kursi dan duduk di sebelah Adel.
"Kenapa, hem?" tanya Farel. Matanya menatap gadisnya.
Farel tersenyum. "Sini aku lihat." Sahut Farel. Ia pun mengambil buku tersebut dan mulai memeriksanya.
Setelah itu, Farel mulai menjelaskan tentang pelajaran tersebut, pelajaran yang menurut Adel sulit.
Dengan tenang, Adel mendengarkan penjelasan yang Farel berikan, awalnya gadis itu sangat antusias membalas setiap penjelasan pelajaran tersebut.
Namun lama-kelamaan, Adel hanya berdehem untuk meresponnya.
Farel meletakkan buku tersebut, karena menurutnya penjelasan yang dia berikan sudah cukup. Farel pun menoleh sang istri, tapi apa yang Farel dapat. Adel sudah tertidur pulas dengan berbantalkan tangannya sendiri.
Farel menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Kamu pikir aku lagi baca dongeng apa. Bukannya di dengerin malah tidur." Ujarnya.
Setelah itu, Farel mengangkat tubuh Adel dan ia baringkan di atas ranjang.
Tak lupa Farel menyelimutinya, lalu ia kembali ke meja belajar Adel untuk mengerjakan tugas tersebut.
***
Hari ini adalah hari Minggu, dan hari ini Farel dan Adel sudah berencana untuk lari pagi.
Adel nampak sudah siap dengan kaos pendek dan celana selutut, tak lupa rambutnya yang panjang, Adel kuncir.
Adel nampak duduk di tepi ranjang, sembari memainkan ponselnya.
Tak lama kemudian Farel keluar dari kamar mandi. Adel melongo melihat penampilan Farel yang begitu kece. Terlebih kaos yang ia pakai, begitu pas, sehingga membentuk badannya yang atletis.
Meski usianya sudah 28 tahun, tapi masih terlihat seperti ABG.
"Biasa aja kali liatnya, baru sadar ya kalau aku ini cowok paling tampan," seketika lamunan Adel buyar, saat mendengar suara Farel.
"Ih apaan sih, geer banget jadi orang," Adel melongos pergi mendahului Farel.
Farel hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Setelah itu ia pun mengikuti langkah istri mungilnya itu.
Adel dan Farel berlari mengelilingi taman yang tidak jauh dari rumah.
Nampak keduanya terlihat sangat bahagia, terlebih saat sifat jail dan manja Adel kambuh.
Hanya ada senyum dan tawa di antara keduanya. Setelah Adel merasa tidak kuat lagi, Farel mengajak istrinya itu untuk istirahat dan duduk di bangku taman.
Taman itu di penuhi oleh pasangan muda-mudi serta orang tua, bahkan anak-anak. Ada yang berolahraga, tapi ada juga yang hanya sekedar untuk berjalan-jalan saja.
Adel duduk di bangku dengan meluruskan kedua kalinya agar tidak kram. Farel melihat jika istrinya sangat lelah. Akhirnya Farel memutuskan untuk membelikan Adel minuman.
"Tunggu di sini sebentar ya," ucap Farel. Ia pun melangkah pergi.
Adel hanya mengangguk, dan menoleh ke arah suaminya itu. Adel tersenyum saat melihat Farel berjalan menghampiri penjual minuman. Ternyata Farel begitu perhatian pada dirinya.
Selang beberapa menit Farel kembali dengan dua botol minuman.
Farel menyodorkan satu botol minuman tersebut pada Adel. "Nih." Ucapnya.
Adel tersenyum dan menerima minuman itu. "Makasih ya Om, tau banget kalau Adel lagi haus." Sahutnya.
"Ya tau lah, muka kamu kan udah kayak tanaman yang setahun enggak di siram air. Layu," balas Farel.
"Aish, enggak lucu," Adel merengut.
"Lah kamu pikir aku lagi ngelawak apa," Adel semakin kesal dengan sikap Farel yang seperti itu.
"Tau ah," Adel kembali meneguk minumannya.
Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil Farel, seketika Adel dan Farel menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Adel melongo melihat seseorang perempuan yang tengah berlari menuju ke arahnya.
Terlebih Farel, dengan perlahan lelaki itu berdiri dan bersembunyi di belakang tubuh Adel.
"Mas Farel. Eneng datang," perempuan itu merentangkan kedua tangannya, dan mencoba memeluk Farel.
Perempuan bertubuh gemuk itu terus saja mengejar-ngejar Farel untuk ia peluk, sementara Farel terus bersembunyi di belakang tubuh istrinya itu.
"Heh, kamu siapa sih. Jangan halangin Eneng buat meluk mas Farel," perempuan itu merasa terganggu dengan adanya Adel.
Adel terdiam, sekilas melirik ke arah suaminya. Sementara Farel mengangkat kedua bahunya.
Adel menatap tajam ke arah perempuan gemuk itu, gadis itu tidak habis pikir, kenapa perempuan itu ngejar-ngejar Farel. Apa urusannya.
"Kamu siapa sih, jangan ganggu suami saya ya," perempuan itu nampak terkejut saat mendengar pertanyaan Adel.
"Apa, suami," ujar perempuan itu. Dan dibalas dengan anggukan oleh Farel.
Sejenak perempuan itu terdiam. "Mana mungkin mas Farel menikah sama bocah seperti kamu." Ujarnya. "Udah pendek, dada sama pantat rata." Sambungnya.
Seketika Adel melongo, gadis itu memperhatikan tubuhnya sendiri. Sementara Farel masih terdiam di belakang Adel.
"Dari pada kamu, badan melar udah kayak gentong air. Haa," ucap Adel sembari tertawa.
Farel tersenyum melihat kedua perempuan itu saling adu mulut.
Namun tidak dengan Eneng yang nampak kesal dengan ucapan Adel.
"Mas Farel, benar dia .... " Ucapnya yang terpotong. Telunjuknya mengarah ke Adel.
"Iya, dia istri aku," Farel merangkul bahu Adel.
"Eneng enggak percaya, mana buktinya kalau dia istri mas Farel," Eneng tidak percaya dengan pernyataan yang Farel berikan.
Adel menunjukkan cincin pernikahannya. "Ini buktinya." Ujarnya.
"Eneng enggak percaya, bisa saja itu cincin punya emak kamu kan," lagi-lagi Eneng tidak percaya dengan bukti yang Adel berikan.
"Ok, aku akan buktikan kalau Adel adalah istriku," Farel melepaskan rangkulannya.
Lelaki itu berdiri di depan Adel. Sementara Adel mendongakkan kepalanya menatap wajah sang suami.
Farel memberikan kode untuk tetap diam.
Perlahan Farel membungkukkan badannya, sementara Adel memejamkan matanya saat wajah keduanya tidak ada jarak lagi.
Tanpa menunggu lama, Farel mencium bibir ranum Adel. Cukup lama kedua benda kenyal itu bersentuhan. Mata Adel melotot saat sadar jika Farel menciumnya.
Begitu juga dengan Eneng, perempuan gemuk itu terkejut dengan apa yang ia lihat.
Setelah itu Farel melepaskan bibirnya. "Gimana, masih belum percaya." Ujarnya.
"Hiks, hiks, mas Farel jahat. Kenapa menikah dengan dia, kenapa enggak sama Eneng," ungkapnya dengan raut wajah sedih.
Farel hanya diam, sementara Adel masih tidak percaya, bibirnya kini sudah tidak suci lagi. Farel telah mengambil first kiss nya.
"Om jahat banget sih, main cium-cium bibir Adel," Adel berbisik tepat di telinga Farel.
"Sorry, kalau enggak kayak gitu. Tuh perempuan nggak akan percaya," Farel pun ikut berbisik.
Ternyata dari kejauhan ada sepasang mata dan telinga yang telah merekam semua yang terjadi.
Orang itu tidak percaya dengan kenyataan yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Serta mendengar dengan telinganya sendiri.
Eneng pun memutuskan untuk pulang dengan hati yang kecewa. Perempuan itu memang sudah lama mengejar-ngejar Farel.
Setelah itu Adel dan Farel pun ikut pulang, dalam perjalanan, tiba-tiba Adel merengek yang katanya capek, kaki pegel, haus dan lapar.
Adel duduk selonjoran di trotoar. Tangannya melempar-lempar kerikil kecil, sementara bibirnya yang mungil itu sudah mengerucut.
Farel berhenti dan ikut duduk di sebelah Adel.
"Kenapa?" tanya Farel.
"Capek, kaki Adel pegel, haus, laper, udah pengen rebahan," rengek Adel.
Farel bangkit dan berjongkok di depan Adel. Gadis itu sudah paham dengan apa yang Farel maksud.
"Beneran Om," ujarnya dengan antusias.
"Iya, dari pada kamu pingsan di jalan. Aku juga yang repot," sahut Farel.
"Om kuat gendong Adel sampai ke rumah," Adel kembali meyakinkan.
"Jangankan ke rumah, ke ujung dunia aku juga kuat," gombalnya.
"Waahh, ok. Nanti setelah sampai rumah, kita ke ujung dunia ya Om," dengan cepat Adel naik ke punggung Farel.
Farel mulai melangkahkan kakinya menyusuri jalanan. Keduanya nampak terlihat bahagia, senyum dan tawa menghiasi langkah mereka.
Sesekali Adel memainkan rambut Farel, yang sudah basah oleh keringat, bahkan
gadis itu juga menelusuri wajah Farel dengan jari telunjuknya.
Farel hanya tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari istri kecilnya. Sementara Adel terlihat sangat bahagia dengan sikap Farel yang selalu lembut padanya.
Kebahagiaan adalah suatu keadaan pikiran dan perasaan yang di tandai dengan rasa kesenangan dan juga kenikmatan.
Dan kebahagiaan itu tercipta jika di antara kita saling menerima kelebihan dan kekurangan serta, saling mendukung dan melengkapi satu sama lain.