
Farel terkejut melihat wanita itu, begitu juga dengan Adel. Tapi berbeda dengan Raka dan Nadia. Pasangan pengantin itu nampak tenang, dan biasa saja.
Dengan cepat Farel bangkit dan menyeret tangan Raka untuk menjauh.
Setelah cukup jauh, Farel melepas tangan Raka. "Apa hubungan istri kamu dengan wanita itu."
Raka menghela nafas. "Dia Kakak Nadia."
Farel terkejut dengan pernyataan yang sudah Raka ucapkan. "Apa, Raka kamu jangan bercanda deh."
"Aku serius, aku juga baru tau tadi pagi. Aku enggak tau kalau Viona itu Kakaknya Nadia," jelas Raka. Pria itu terlihat gusar.
Setelah itu mereka pun kembali ke meja di mana ketiga wanita itu tengah duduk. Farel menjatuhkan bobot tubuhnya di samping sang istri. Begitu juga dengan Raka. Adel menatap heran ke arah dua pria itu.
"Ada apa Mas," bisik Adel.
"Enggak apa-apa kok," jawab Farel. Pria itu mencoba untuk bersikap seperti biasa.
Mereka pun kembali berbincang layaknya tidak terjadi apa-apa. Tapi meski begitu, Adel merasa tidak nyaman setelah kehadiran wanita itu, yang tak lain adalah Viona. Terlebih tatapan Viona selalu mengarah ke Farel. Mau tidak mau, Adel harus mengeluarkan jurus jitunya.
Tanpa merasa canggung ataupun malu. Adel bergelayut manja pada sang suami. Kali ini Adel tidak peduli dengan tempat, gadis itu ingin membuat Viona merasa kesal, bahkan marah. Farel yang sudah paham, dengan cepat mengimbangi drama sang istri. Raka hanya tersenyum melihat kemesraan yang Adel dan Farel ciptakan.
***
Waktu terasa begitu lebih cepat, pukul 7 malam Adel dan Farel baru tiba di rumah.
Adel bergegas masuk ke kamar, rasa capek membuat wanita itu langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Adel tidak peduli dengan gaun yang masih melekat di tubuhnya.
Selang beberapa menit, Farel masuk, mata pria itu tertuju ke ranjang, di mana istrinya yang mungil itu tengah berbaring. Farel segera melepas jas dan juga kemejanya. Setelah itu pria itu mendekati sang istri, Farel duduk di tepi ranjang.
"Sayang, mandi dulu sana. Baju belum ganti, udah main tidur aja." Farel mengguncangkan tubuh mungil istrinya itu.
Adel hanya menggeliatkan tubuhnya, bukannya bangun, justru Adel menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Adel ngantuk banget Mas, capek, lelah, letih."
Farel hanya menggelengkan kepalanya, setelah itu Farel menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya itu. Raut wajah Adel terlihat kesal saat tau Farel mengambil selimut itu. Bibirnya yang mungil itu sedikit demi sedikit mulai manyun.
"Ih, Mas apa-apaan sih. Sini selimutnya." Adel menarik selimut tersebut. Tapi tenaga Adel tak sebanding dengan tenaga Farel.
Merasa kalah, Adel pun melepaskan selimut tersebut. Bibirnya yang mungil itu sudah manyun. Farel yang melihatnya sangat gemas, seperti magnet yang menarik, dengan cepat Farel mencium benda kenyal itu. Mata Adel melotot, lalu satu bantal ia layangkan ke arah sang suami.
"Mas kebiasaan banget sih, ambil kesempatan dalam kesempitan," ujar Adel kesal.
"Makanya mandi dulu," sahut Farel.
"Adel ngantuk Mas, tidur dulu nanti baru mandi," balas Adel.
"Ok, aku akan buat kamu mau sekarang juga." Farel meletakkan selimut tersebut. Lalu tangannya mulai melepas sabuk yang melilit di pinggangnya itu.
Adel melotot, wanita itu tau apa yang akan Farel lakukan. Dengan cepat Adel bangkit lalu memutar tubuh suaminya itu, tanpa aba-aba Adel naik ke punggung Farel. Pria itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ini adalah salah satu hal yang Farel suka, sikap manja Adel.
"Gendong ya, nanti Adel mandi," ucap Adel.
"Dasar manja." Farel pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
"Biarin, kan manjanya sama suami sendiri. Bukan sama suami orang," ujar Adel.
Farel hanya tersenyum, dengan cepat Farel melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
***
Malam telah berganti pagi, dan pagi ini tidak seperti biasanya, Adel bangun lebih siang dari biasanya. Wanita itu menggeliatkan tubuhnya dan meregangkan otot tubuhnya. Adel melirik jam yang berada di di atas nakas.
Mata Adel melotot saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Adel bergegas bangkit dari tidurnya. Wanita itu terlihat panik, bagaimana tidak panik. Jam 7 baru bangun, padahal biasanya jam segitu Adel sudah selesai mengerjakan tugas rumahnya.
"Mas bangun udah siang." Adel mengguncangkan tubuh suaminya itu.
"Jam berapa Sayang." Matanya masih saja terpejam.
"Jam 7 Mas," ujar Adel. Ia pun bergegas turun dari ranjang.
Seketika Farel bangkit dan terduduk. "Kok kamu nggak bangunin sih."
"Adel juga baru bangun Mas," ujar Adel yang sudah berjalan menuju pintu.
Farel merebahkan tubuhnya kembali, rasa kantuk yang belum hilang, membuatnya merasa sangat malas untuk bangun. Sementara itu, Adel bergegas menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk sang suami.
Tangan mungil Adel mulai berkutat pada alat-alat dapur. Karena sudah siang, Adel pun hanya membuat nasi goreng kesukaan Farel. Telur mata sapi sebagai pelengkap, dan secangkir kopi yang tidak pernah terlupakan. Setelah selesai Adel segera menyajikannya di atas meja makan.
Selang beberapa menit, Farel turun dengan penampilan yang sudah rapi. Pria itu berjalan menuju meja makan. Langkahnya terhenti saat Farel tidak sengaja melihat Adel yang tengah mencuci peralatan dapur yang kotor. Pria itu berjalan menghampiri sang istri.
Adel tersentak saat merasakan tangan kekar melingkar di perutnya. "Mas seneng banget sih, buat Adel kaget."
"Kenapa Sayang, hem." Farel mencium pipi mulus sang istri. Bahkan bukan itu saja, rambut panjang yang sengaja Adel gulung ke atas, membuat Farel leluasa untuk menciumi leher jenjang Adel.
Adel merasa geli dengan perlakuan suaminya itu. "Geli ah Mas."
"Tapi kamu suka 'kan," goda Farel.
"Apaan sih. Sarapan dulu sana," ujar Adel.
"Iya, iya." Farel pun melepas pelukannya. Pria itu berjalan menuju meja makan.
20 menit kemudian, Adel selesai dengan pekerjaan dapurnya, begitu juga dengan Farel. Kini Farel tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Seperti biasa Adel akan mengantar suaminya sampai di depan pintu.
"Aku pergi dulu ya Sayang." Farel mencium kening sang istri.
"Iya Mas, hati-hati ya. Jaga mata dan juga hati." Adel pun mencium punggung tangan Farel.
"Pasti Sayang, assalamualaikum," ujar Farel. Lalu ia mencium benda kenyal milik sang istri.
"Wa'alaikumsalam Mas," sahut Adel.
***
Mobil Farel sudah tiba di pelataran kantor, setelah itu Farel bergegas keluar dari mobil. Lalu pria itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung. Karyawan yang melihat bosnya datang, dengan sopan mereka memberi salam dan sapaan.
Sementara Farel hanya tersenyum dan mengangguk. Pria itu bergegas menuju ke ruangannya. Setelah tiba di ruangannya, Farel langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kebesarannya. Tumpukan pekerjaan sudah menantinya.
Setelah itu Farel mulai membuka tumpukan berkas-berkas tersebut. Belum ada separuh yang Farel kerjakan. Tiba-tiba pintu ruangan di ketuk, Farel pun bersuara. Detik itu juga pintu ruangan terbuka. Terdengar derap kaki yang melangkah mendekatinya.
Farel mendongak. "Santi, ada apa."
"Ada berkas yang harus Bapak tanda tangani." Santi meletakkan berkas tersebut di atas meja.
"Saya permisi dulu ya Pak, nanti kalau sudah selesai saya kembali lagi," sambungnya. Santi bergegas keluar dari ruangan bosnya.
"Ok." Farel pun mengambil berkas tersebut. Dengan segera Farel membukanya, dan tak lupa memeriksa kembali berkas tersebut. Setelah itu Farel menanda tanganinya.
Selang beberapa menit, Farel telah selesai menanda tangani berkas-berkas tersebut. Setelah itu Farel kembali pada pekerjaannya, selang beberapa menit, tiba-tiba benda pipih di sampingnya bergetar, dengan segera Farel mengambilnya. Tertera satu pesan diterima.
'Mas, nanti siang Adel ke kantor, mau nganterin makan siang buat Mas'
Farel tersenyum membaca pesan dari istrinya itu. Dengan cepat Farel membalasnya.
'Ok Sayang, aku tunggu'
Setelah pesan terkirim, Farel kembali melanjutkan pekerjaannya. Bahkan pria itu semakin bersemangat untuk bekerja. Sebelum jam makan siang Farel berharap
pekerjaannya telah selesai.
***
Pukul 11.30 Adel sudah tiba di kantor Farel, wanita itu keluar dari taksi, dan bergegas berjalan masuk ke dalam gedung. Banyak karyawan yang menyapa dan memberinya hormat, sementara Adel hanya tersenyum ramah.
Adel terus melangkah menuju ke ruangan suaminya. Setibanya di depan pintu, Adel memutar knop pintu tersebut. Perlahan Adel membuka pintu ruangan tersebut. Mata Adel tertuju pada kursi kebesaran suaminya itu, tapi nihil. Adel tidak menemukan sosok yang ia cari.
Adel pun masuk ke dalam, lalu meletakkan rantang susun yang ia bawa di atas meja. Adel juga meletakkan tas selempang yang ia bawa, setelah itu ia mencari Farel ke toilet. Ruangan sebelah yang biasa digunakan untuk beristirahat. Tapi hasilnya tetap sama, nihil.
Adel mendengus kesal, bisa-bisanya Farel tidak ada di ruangannya, padahal sebelumnya Adel sudah mengabarinya jika dirinya akan datang. Adel menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa, tangannya mengambil benda pipih di dalam tasnya.
Jari mungil Adel tengah memencet nomor-nomor pada layar ponselnya. Adel mencoba menelpon suaminya itu. Tapi tiba-tiba Adel mendengar deringan ponsel, wanita itu bangkit dari duduknya dan mencari sumber suara tersebut.
Adel menggelengkan kepalanya saat melihat handphone milik Farel berada di atas meja. "Pantesan aja enggak diangkat, orang handphonenya aja di sini."
"Terus mas Farel kemana, handphonenya kok di tinggal begitu aja." Adel mengambil benda pipih milik suaminya itu. Merasa penasaran Adel pun membuka dan memeriksa semua isi di dalam handphone tersebut.
Adel bernafas lega, saat tidak mendapati hal-hal yang aneh pada handphone suaminya itu. Tapi pertanyaannya sekarang di mana Farel berada. Setelah cukup lama terdiam, Adel memutuskan untuk keluar dari ruangan Farel.
Adel berhenti di depan resepsionis. "Maaf Mbak, Pak Farel di mana ya, di ruangannya tidak ada."
"Pak Farel tadi pergi sama Pak Raka Bu," jawabnya.
"Pergi kemana Mbak?" tanya Adel.
"Kalau tidak salah ke resto depan Bu," sahutnya.
Adel hanya manggut-manggut. "Sama pak Raka doang Mbak, apa ada yang lain."
"Sama dua orang perempuan Bu," jawabnya.
Seketika Adel terkejut mendengar hal itu. Pikirannya sudah kemana-mana, bahkan dalam otak Adel, perempuan yang dimaksud pegawai resepsionis adalah Viona. Darah Adel serasa mendidih, bisa-bisanya Farel pergi, tanpa pamit, dan yang paling membuat Adel geram adalah, pergi dengan seorang perempuan.
"Terima kasih ya Mbak." Adel pun bergegas pergi, tujuannya adalah resto yang berada di depan kantor suaminya itu.
Hanya butuh 10 menit Adel sudah tiba di resto tersebut. Adel mengedarkan pandangannya, ke seluruh penjuru resto tersebut. Dan detik itu juga mata Adel menangkap sosok yang ia cari, ialah Farel. Terlihat sang suami tengah duduk di meja paling pojok.
Memang tidak sendiri, Farel tengah duduk bersama dengan Raka, Nadia, dan satu lagi, dia adalah Viona. Mata Adel langsung memanas melihat semua itu. Mereka terlihat sangat menikmatinya, tersenyum dan juga tertawa. Adel sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Dasar pembohong," umpat Adel dalam hati.
Dengan cepat Adel berjalan menghampiri meja mereka, matanya menatap tajam ke arah empat orang tersebut. Setibanya di sana Adel mengambil segelas juice, lalu ia siram ke wajah Viona dengan kasar. Adel terpaksa melakukan itu, lantaran Viona terlihat tengah mengambil kesempatan berdekatan dengan sang suami.
Sontak keempat orang itu terkejut dengan apa yang Adel lakukan. Farel pun seketika bangkit dari duduknya, terlebih saat melihat tatapan Adel yang begitu tajam, raut wajahnya menunjukkan rasa kebencian yang amat dalam.
"Jadi begini ya, kelakuan Mas di luar. Lebih mentingin Tante-Tante genit ini, dari pada istri sendiri." Adel menumpahkan sambal ke baju Viona.
Seketika Viona bangkit dari duduknya, tapi ada hal yang berbeda, perempuan itu tidak marah, justru Viona mendekati Farel dan mengadu atas perbuatan yang Adel lakukan padanya. Adel begitu jijik melihat akting yang Viona ciptakan.
"Farel, lihat tuh kelakuan istri kamu. Mau-maunya kamu menikah sama anak kecil seperti dia," adu Viona dengan menunjukkan wajah memelasnya.
Sementara Farel masih terdiam, pria itu tidak menyangka kalau Adel akan berbuat senekat itu. Yang Adel lihat hanya salah paham, tapi jika hati sudah dikuasai oleh cemburu. Semua yang dilihat itulah yang ia percaya. Adel hendak menyiram Viona dengan juice lagi, tapi niatnya terhenti, lantaran Farel mencegahnya.
"Adel sabar, kamu hanya salah paham. Aku bisa jelasin semuanya." Dengan cepat Farel memegang tangan Adel.
Adel mengibaskan tangan Farel dengan kasar. "Mas bilang salah paham, apa Mas pikir mata Adel sudah buta, telinga Adel sudah tuli."
Farel mencoba menahan emosinya. "Sayang, kamu tenang dulu ya, aku bisa jelasin semuanya, apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan."
Adel benar-benar sudah tidak bisa menahan air matanya. Seketika air matanya mengalir membasahi kedua pipinya. Rasa sakit hati dan kecewa, ternyata firasat yang Adel rasakan sedari kemarin, telah menjadi kenyataan. Sementara Raka dan Nadia merasa tidak enak atas kejadian itu.
"Adel, kamu sabar ya, yang dikatakan oleh Farel memang benar, ini hanya salah paham," timpal Raka. Pria itu benar-benar ikut merasa bersalah.
Adel menatap mereka secara bergantian. "Kalian semua memang sama saja, aku kecewa dengan kalian."
Adel berlari keluar dari resto, ini adalah hari terburuk baginya. Adel tidak pernah menyangka kalau rumah tangganya akan kembali lagi diuji. Farel bergegas menyusul sang istri, tapi tiba-tiba Viona mencegahnya, perempuan itu mencekal tangan Farel, ia pun melirik sekilas dengan tatapan yang begitu tajam.
"Lepas!" Bentak Farel, seraya mengibaskan tangan Viona.
Detik itu juga Farel berlari mengejar sang istri. Pria itu benar-benar khawatir jika nanti Adel akan berbuat yang tidak-tidak.