Ahan

Ahan
Dikadalin_37



Hari telah berganti. Pagi-pagi sekali Adel dan Farel kembali berdrama. Terdengar dari lantai bawah jika pasangan suami istri itu tengah berdebat lagi. Bahkan bukan itu saja, sesekali terdengar barang-barang yang pecah, dan juga ada yang terlempar dari atas sampai ke bawah.


Bi Irah benar-benar takut melihat majikannya seperti itu. Perempuan paruh baya itu takut jika pertengkaran Adel dan Farel akan berakibat fatal. Dia juga takut jika semua itu akan menjadi dampak buruk buat Aqilla. Tapi bukan Farel namanya, jika tidak bisa melindungi orang yang sangat berharga.


Semalam setelah pukul 11 Farel turun untuk mengambil alih Aqilla. Farel memang tidak banyak bicara, pria itu hanya berbicara seperlunya saja. Setelah Aqilla bersamanya, Farel bergegas kembali ke kamarnya, pria itu langsung membaringkan tubuh mungil putrinya itu di ranjang, lantaran Aqilla sudah tertidur.


Setelah itu keduanya kembali berdiskusi untuk rencana selanjutnya. Setelah semua rencana tersusun dengan rapi, Adel dan Farel mulai memejamkan matanya, belum ada 20 menit keduanya sudah mulai memejamkan matanya, dan masuk ke dalam alam mimpi yang begitu indah.


"Mas, katakan di mana Aqilla. Mas bawa kemana putri kita," cecar Adel. Wanita itu mengikuti langkah Farel yang keluar dari kamar.


"Kamu tidak perlu tau Aqilla di mana, selama kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan ... jangan bermimpi bisa bertemu dengan Aqilla." Farel melangkahkan kakinya keluar dari rumah.


"Mas jahat, Mas tega misahin Adel dengan Aqilla ... tolong katakan di mana Aqilla, Mas Farel." Tubuh Adel luruh ke lantai, wanita itu menangis. Tapi Farel sama sekali tidak menghiraukannya, pria itu terus berjalan meninggalkan rumah.


Maya yang melihatnya benar-benar sangat puas, perempuan itu mengira jika pertengkaran yang terjadi antara Adel dan Farel adalah pertengkaran yang nyata. Tapi semua itu hanya rekayasa semata, dan tiba saatnya nanti. Adel dan Farel akan membongkar kejahatan Maya.


"****** kamu Adel. Tidak butuh waktu lama, kalian pasti akan berpisah. Dan setelah ini tugasku akan selesai," ujar Maya, dengan senyum liciknya.


Setelah itu, Maya berjalan menghampiri Adel. Perempuan itu memasang raut wajahnya yang terlihat khawatir. Tapi Adel tau, semua itu hanya kepura-puraan Maya saja, Adel sangat paham dengan model perencanaan ular seperti Maya. Meski belum mengenal lama, tapi dari sorot mata dan tingkah lakunya, sudah dapat ditebak.


"Ibu, tidak apa-apa 'kan." Maya duduk di sebelah Adel. Raut wajahnya menunjukkan rasa simpati.


Adel hanya diam, dan terus menangis. Dalam hati Adel tertawa terbahak-bahak, tidak begitu sulit untuk ngerjain Maya. Sementara Maya semakin memperlihatkan rasa khawatir dan simpatinya, bi Irah hanya bisa melihat dari ambang pintu dapur. Perempuan paruh baya itu tidak berani mendekat, ia tidak tega melihat majikannya seperti itu.


"Non Qilla di mana, Bu. Sejak pagi saya belum melihat Non Qilla," ujar Maya berbasa-basi.


Adel menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tau, sejak aku bangun Qilla sudah tidak ada. Aku nggak tau kemana Mas Farel membawa Qilla pergi."


"Sabar ya, Bu. Saya yakin, pak Farel akan kena karma karena sudah berani memisahkan anak dari ibunya," ujar Maya.


"Helo, yang akan kena karma tuh kamu, bukan suamiku," batin Adel.


"Hiks, hiks." Adel hanya bisa menangis.


"Saya pikir pak Farel suami yang baik, tapi ternyata saya salah. Saya pernah melihat pak Farel, kalau dia .... " Maya menggantungkan ucapannya.


"Hiks, hiks, mas Farel kenapa," seru Adel.


"Maaf ya, Bu. Pak Farel vidio call dengan perempuan, mereka terlihat sangat mesra." Maya memelankan suaranya.


"Dasar kampret. Kalau lagi nggak akting, udah aku simpel tuh mulut pakek cobek. Dasar perempuan ular," batin Adel yang merasa geram dengan ucapan Maya.


"Maya, jangan bohong kamu, nggak mungkin Mas Farel seperti itu," geram Adel.


"Sa-saya enggak bohong, Bu." Maya menundukkan kepalanya. Justru hal itu membuat Adel semakin muak.


"Lebih baik sekarang Ibu istirahat saja, ya. Nanti saya buatkan minum, agar Ibu bisa lebih tenang." Maya membantu Adel bangkit, setelah itu Maya mengantar Adel ke kamarnya.


Setibanya di kamar Adel memilih duduk di ranjang dengan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. Sementara itu Maya kembali turun, entah apa yang akan perempuan itu lakukan. Tapi seperginya Maya, Adel bangkit untuk membuka leptopnya yang sudah terhubung ke kamera cctv.


Adel akan melihat rekaman cctv tersebut, ia akan memantau apa yang akan Maya lakukan. Terlihat perempuan itu berada di dapur, tangannya bergerak mengambil segelas air putih, lalu dengan celingukan Maya merogoh saku bajunya, terlihat sebush botol kecil ada di tangannya.


Maya membuka tutup botol tersebut, lalu meneteskan isinya ke dalam gelas yang berisi air minum itu. Sudah dapat ditebak, kalau itu semacam obat tidur, atau mungkin racun. Adel tidak tau, karena botol itu botol bening, tidak ada tulisannya. Ada rasa khawatir menyelimuti hatinya, tapi Adel yakin suaminya tidak akan tinggal diam.


Selang beberapa menit, pintu kamar terbuka, dengan cepat Adel menutup leptopnya. Maya berjalan dengan membawa segelas air putih. Perempuan itu mendekat dan duduk di sebelah Adel. Maya tersenyum, begitu juga dengan Adel, wanita itu terpaksa tersenyum demi melancarkan rencananya. Hari ini juga masalah Maya harus sudah kelar.


"Ibu minum dulu ya, biar perasaan ibu lebih tenang." Maya menyodorkannya gelas tersebut.


Adel sedikit ragu untuk menerima gelas tersebut, tapi sebisa mungkin ia menetralkan perasaannya. Adel menerimanya tapi saat Maya melepas tangannya, Adel juga ikut melepas tangannya juga. Alhasil gelas itu jatuh, sudah dapat dipastikan airnya pun tumpah. Terlihat wajah Maya berubah, perempuan itu merasa geram karena rencananya gagal.


Adel ingin sekali tertawa melihat ekspresi wajah Maya yang tengah menahan kesal. Tapi sebisa mungkin Adel menahan tawanya. "Maya, aku minta maaf. Aku nggak sengaja."


"Ah, iya nggak apa-apa kok," ujar Maya. "Sebentar ya, Bu. Saya bereskan dulu."


Setelah itu Maya bergegas keluar dari kamar Adel, perempuan itu benar-benar kesal karena usaha untuk menyingkirkan Adel gagal. Sementara Adel tersenyum karena bisa menggagalkan rencana jahat Maya. Setelah itu Adel kembali melihat rekaman cctv itu lagi. Ia akan melihat apa yang akan Maya lakukan.


***


Matahari sudah condong ke barat, saat ini Adel tengah duduk termenung di sofa ruang tengah. Maya sedari tadi terus memperhatikan Adel, entah apa yang ada dalam pikiran Maya saat ini. Mungkinkah Maya tengah merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan Adel, hanya perempuan itu yang tau.


Gara-gara harus akting, hari ini Adel terpaksa tidak puasa, tapi lain dengan Farel. Pria itu tetap menjalankan ibadah puasa seperti biasa. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, Adel sudah merasa kangen dengan putrinya, tapi untuk sementara ini Adel harus menahannya, sampai masalah Maya selesai.


Bi Irah sedari pagi terus memperhatikan Adel, rasanya ingin sekali perempuan paruh baya itu mendekat. Tapi bi Irah takut, kalau nanti akan membuat majikannya bertambah pikiran, karena memang bi Irah tidak tau dengan drama yang Adel dan Farel lakukan. Hanya mereka berdua saja yang tau.


"Maaf, Nyonya. Apa Nyonya sedang tidak puasa?" tanya bi Irah hati-hati.


Adel mendongak. "Enggak Bi."


"Kalau begitu, Bibi buatkan makanan dulu ya," ujar bi Irah.


"Boleh, Bi. Nasi goreng saja ya Bi, seperti biasa," sahut Adel.


"Baik Nyonya, permisi." Bi Irah melangkahkan kakinya menuju ke dapur.


Bi Irah telah selesai, ia pun segera menyiapkannya dalam piring. Tapi saat bi Irah hendak membawanya ke depan, tiba-tiba perutnya terasa sakit. Karena tidak tahan lagi, akhirnya bi Irah memutuskan untuk ke toilet terlebih dahulu. Maya yang melihat itu tersenyum licik, perlahan perempuan itu berjalan mendekati dapur.


Maya merogoh saku bajunya, lalu mengambil botol kecil, dengan tersenyum licik Maya membuka tutup botol itu, dan menuangkan semua isi botol itu ke atas nasi goreng. Selang beberapa menit terdengar langkah kaki bi Irah, Maya gugup dan dengan cepat perempuan itu bersembunyi di bawah kolong meja.


Namun sial, botol itu jatuh dan menggelinding dan berhenti di depan kaki bi Irah. Merasa penasaran, bi Irah pun menundukkan kepalanya ke bawah, perempuan itu melihat botol kecil di depan kaki. Awalnya dia acuh, tapi karena penasaran bi Irah pun jongkok lalu mengambil botol itu. Mata Maya melotot saat melihat bi Irah mengambilnya botol itu.


"Gawat, kalau sampai itu perempuan tua ngasih botol itu ke Adel. Bisa-bisa rencana aku ketahuan," batin Maya. Perempuan itu benar-benar khawatir.


Bi Irah berjalan keluar dari dapur dengan membawa nampan yang berisi satu piring nasi goreng dan segelas air putih. Perempuan paruh baya itu berjalan ke arah Adel, setibanya di sana bi Irah meletakkan nampan tersebut. Tapi sebelum itu bi Irah akan mempertanyakan tentang botol yang ia temukan tadi.


"Maaf Nyonya, Bibi tadi menemukan botol ini." Bi Irah menyodorkan botol tersebut.


Adel menerima botol tersebut, wanita itu meneliti botol kecil itu. Tidak ada tulisan, atau apapun dalam botol itu. Tapi rasa curiga menari-nari di benaknya, setelah itu Adel teringat seperti yang ada di rekaman cctv. Iya, botol itu sama persis seperti yang Maya pegang tadi pagi. Dan sudah dapat ditebak jika itu pasti perbuatan Maya.


"Bibi nemu botol ini di mana?" tanya Adel.


"Di dapur Nya, tadi Bibi kebelet ... jadi ke toilet sebentar, pas mau ke sini sudah ada botol itu," jelas bi Irah.


Adel terdiam sejenak. "Maaf Bi, demi kebaikan bersama, saya mau mengecek makanan ini dulu," ujar Adel, dan dibalas dengan anggukan oleh bi Irah.


Setelah itu Adel membawa piring yang berisi nasi goreng tersebut ke belakang. Adel tengah mencari sesuatu untuk bisa mengecek makanan itu aman atau tidak. Tiba-tiba Adel melihat seorang kucing, tanpa menunggu lama Adel mendekat kucing tersebut lalu memberikannya satu sendok nasi goreng itu.


Kucing itu memakan nasi goreng itu dengan lahap. Tapi setelah 20 menit tampak kucing muntah, Adel terkejut dengan reaksi kucing itu. Karena bukan hanya muntah, tapi kejang juga, dan keluar busa dari mulutnya. Adel dan bi Irah saling pandang. Sepersekian detik kemudian kucing malang itu menghembuskan nafas terakhirnya.


Inalillahi wa ina ilahi roji'un, kucing itu telah mati. Adel dan bi Irah hendak menguburnya, tapi tiba-tiba suara tetangganya terdengar begitu nyaring di telinganya. Dan benar saja, ibu Susi pemilik kucing itu datang, entah tau dari mana ibu Susi datang langsung marah-marah. Hal itu membuat Adel menutup kedua telinganya.


"Kamu tau nggak, kucing ini saya beli jauh-jauh di luar negeri. Tapi sekarang sudah mati, past kamu yang sudah meracuninya, iya 'kan," bentak Bu Susi.


"Ops, dari mana Ibu tau ... maksud Adel, mungkin kucing ibu saja yang sedang sakit, atau mungkin ini takdirnya," ujar Adel dengan suara pelan.


"Kucing saya sehat, pasti kamu yang sudah meracuninya, iya 'kan. Kamu kamu harus tanggung jawab," seru ibu Susi.


"Ya udah, nanti suami Adel yang akan ganti. Yang lebih mahal harganya. Sekarang ibu bawa aja tuh bangkai pulang," ujar Adel. Lalu menyodorkan bangkai kucing itu.


"Awas ya, kalau bohong. Saya tuntut kamu." Ibu Susi mengambil bangkai kucing itu, dan membawanya pulang.


Setelah itu, Adel bernafas dengan lega. Adel benar-benar cerobih, pake kucing tetangga ia jadikan kelinci percobaan. Eits, kucing percobaan lebih tepatnya, Adel kembali terpikir dengan botol itu. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam, dan diikuti oleh bi Irah. Perempuan paruh baya itu merasa khawatir, jika nanti Adel akan memarahinya, bahkan memecatnya.


"Maaf Nya, Bibi tidak tau soal .... "


"Iya Bi, ini bukan salah Bibi. Adel udah tau siapa pelakunya," potong Adel dengan cepat.


Sementara itu, Maya semakin panik saat melihat Adel dan bi Irah masuk ke dalam. Perempuan itu kini berada dalam kamarnya, ia berniat untuk kabur. Tapi mungkin itu sulit, karena Adel dan bi Irah sudah berada di dalam rumah. Dengan sangat hati-hati Maya keluar dari kamarnya, ia berjalan menuju pintu samping.


Maya akan keluar lewat pintu samping, karena posisi Adel dan bi Irah ada di ruang tengah. Kini Adel tengah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya itu. Bi Irah sekarang sudah paham, dan perempuan itu salut dengan majikannya itu. Karena Adel dan Farel bisa menghadapi masalah dengan kepala dingin.


"Lalu sekarang apa yang akan Nyonya lakukan?" tanya bi Irah.


"Saya akan membongkar kejahatan Maya hari ini juga Bi. Tapi sebelum itu saya akan memeriksa rekaman cctv terlebih dahulu," ujar Adel. Wanita itu bergegas bangkit. Tapi saat hendak melangkah, tiba-tiba terdengar suara vas bunga yang jatuh.


Adel dan bi Irah sama-sama menoleh ke arah sumber suara tersebut. Karena penasaran keduanya berjalan menghampiri arah suara itu. Seketika mata Adel membulat saat melihat Maya yang tengah mengendap-endap keluar melalui pintu samping. Dengan cepat Adel menarik tangan Maya.


"Mau kabur kemana kamu," seru Adel. Seketika Maya terlonjak kaget.


"Lepas." Maya mencoba melepaskan diri dari Adel, tapi wanita itu dengan kuat mencekal tangannya.


"Kamu harus mempertanggung jawabkan semua kejahatan yang sudah kamu lakukan." Adel mencoba menarik tangan Maya, untuk masuk ke dalam.


"Bi, cepat telfon mas Farel. Suruh pulang sekarang," teriak Adel. Dengan segera perempuan paruh baya itu berjalan mendekati telepon. Dan langsung menelepon majikannya itu.


Setelah itu bi Irah kembali mendekat, dengan cepat Adel menyuruh bi Irah untuk membantu mencekal tangan Maya. Hari ini tamat sudah riwayat Maya, kejahatannya sudah terbongkar. Dan sebentar lagi perempuan itu akan mendapatkan balasan yang setimpal atas segala perbuatannya.


"Kamu akan menyesal Maya. Semua kejahatanmu sudah aku rekam," ujar Adel.


"Heh, bukan aku yang menyesal. Tapi kamu," seru Maya. Tatapan matanya sangat tajam.


"Kamu yang akan menyesal, karena kamu sudah berani merusak rumah tangga orang," ujar Adel, yang tak kalah geram.


"Ch, meski sekarang aku gagal, tapi aku yakin suatu saat nanti aku pasti bisa menghancurkan keluarga kamu itu." Maya menatap tajam ke arah Adel.


Selang beberapa menit terdengar deru mobil yang masuk dan berhenti di halaman rumah.


Maya panik, karena sudah dapat ditebak jika itu pasti Farel. Perempuan itu semakin panik saat mendengar derap langkah kaki yang mulai mendekat. Sementara Adel tersenyum karena sebentar lagi riwayat Maya akan tamat.


Namun tanpa diduga, dengan liciknya Maya menginjak kaki Adel, lalu setelah tangan terlepas, perempuan itu mengambil pecahan vas bunga yang pecah tadi. Dan menghantamkannya ke pelipis Adel, reflek Adel memegang pelipisnya yang mulai mengeluarkan cairan merah. Setelah itu Maya mendorong tubuh Adel, dan perempuan itu berlari agar bisa kabur.


"Ya Allah, Nyonya." Bi Irah duduk di sebelah Adel, dengan raut wajah yang panik.


"Adel." Farel berlari saat melihat istrinya sudah tergeletak di lantai. Raut wajah Farel terlihat sangat panik dan juga khawatir.