Ahan

Ahan
Ancaman_Riana_6



Pagi telah menyapa, mentari pagi pun sudah menyemburkan sinarnya.


Farel mulai menggeliatkan tubuhnya, ia merasa terganggu dengan cahaya yang masuk ke kamarnya. Perlahan lelaki itu membuka matanya.


Sesekali Farel menguap, setelah kelompok matanya terbuka sempurna, ia mengedarkan pandangannya, tapi Farel tidak menangkap sosok istrinya yang mungil itu, seketika Farel bangkit dan terduduk.


"Kemana tuh bocah," batinnya. Kemudian Farel menyibak selimutnya dan turun dari ranjang.


Farel mencoba mencarinya di kamar mandi, tapi tidak ada, di ruang ganti pun sama. Akhirnya ia putuskan untuk turun ke bawah, berharap Farel bisa menemukan gadisnya itu.


Farel menuruni anak tangga satu persatu, dan benar saja, setibanya di bawah Farel melihat istrinya tengah sibuk di meja makan, entah apa yang tengah dia lakukan. Farel pun bergegas menghampirinya.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Farel. Lalu tiba-tiba menyerobot segelas susu yang berada di hadapan Adel dan meneguknya sampai habis.


Adel melongo melihat lelaki yang baru kemarin sah menjadi suaminya. Ternyata begitu kelakuan yang sebenarnya, dibalik kewibawaannya saat berada di luar.


"Aish, Om jorok banget sih, baru bangun udah main minum aja ... udah itu, susu Adel lagi yang diminum," Adel bergidik melihat Farel yang baru bangun tidur, sudah main minum susu, tanpa cuci muka dan gosok gigi terlebih dahulu.


Farel pun melirik ke arah Adel. "Kenapa." Lalu merebut roti yang tengah Adel olesi dengan selai dan lagi-lagi langsung melahapnya.


"Ih, nyebelin banget sih jadi orang, itu kan punya Adel," merasa geram Adel pun berseru.


"Pelit banget sih, sama suami sendiri juga," ketus Farel. Ia terus melahap roti tersebut.


Adel hanya mendengus kesal, lalu mengambil roti lagi, dan mengolesinya dengan selai. Farel masih asyik mengunyah roti yang ia rebut dari tangan Adel.


"Jam berapa sekarang?" Farel bertanya di sela-sela mengunyahnya.


"Jam 7 Om," jawab Adel. Seketika mata Farel melotot.


"Kok enggak bilang dari tadi sih, enggak dibangunin juga," ujar Farel yang merasa sedikit kesal.


"Salah sendiri tidur kayak kebo, dibangunin enggak bangun-bangun," jawab Adel, yang tak mau kalah.


Dengan buru-buru Farel berlari ke atas menuju ke kamarnya. Farel segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hanya butuh 20 menit, Farel sudah kembali ke bawah. Ia melihat Adel masih sibuk di meja makan, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07.20.


"Buruan berangkat udah siang tau," ajak Farel, sementara Adel masih terlihat sibuk sendiri.


"Bentar Om, Adel lagi nyiapin bekel dulu," sahut Adel. Merasa heran, Farel pun menghampirinya.


"Buat apa sih nyiapin bekel segala, kan bisa beli makanan di kantin," ujar Farel. Tapi Adel sama sekali tidak menghiraukannya.


"Lebih sehat masakan sendiri Om, lagi pula Adel udah biasa bawa bekel," Farel semakin merasa heran dengan istrinya itu.


"Emang tiap hari kamu bawa bekel?" tanya Farel. Sementara Adel hanya mengangguk.


"Adel enggak punya uang cukup untuk beli makanan di kantin, jadi Adel milih bawa sendiri dari rumah, kalaupun ada ... lebih penting buat biaya sekolah," Farel tercengang mendengar ucapan Adel. Begitu banyak hal yang tidak Farel ketahui tentang istrinya itu.


"Sudah selesai, ayok Om," ajak Adel, setelah selesai dengan bekelnya.


"Oya, mama sama papa mana?" Farel bertanya saat baru menyadari jika ia tidak melihat ayah dan ibunya.


"Mereka pergi pagi-pagi sekali, katanya ada urusan," jawab Adel. Sementara Farel hanya ber-oh ria.


Farel segera merogoh saku celananya, dan mengambil dompetnya. Farel mengambil uang lembaran seratus ribuan sebanyak 5 lembar, lalu ia berikan kepada Adel.


Gadis itu sedikit heran dengan suaminya itu.


"Itu uang sakumu untuk satu hari, kalau kurang kamu tinggal bilang saja," kata Farel. Lalu menyimpan dompetnya lagi ke saku celananya.


"Ini terlalu banyak Om, enggak usah deh Om, Adel kan udah bawa bekel," tolak Adel. Ia hendak mengembalikan uang tersebut, tapi Farel menolaknya.


"Ya sudah kamu simpan saja, ayo berangkat," Farel langsung menarik tangan Adel. Mereka pun keluar dan bergegas masuk ke dalam mobil.


***


Tidak butuh waktu lama mereka sudah tiba di depan gerbang sekolah Adel.


Adel segera merapikan rambut dan juga bajunya. Sementara Farel sedari tadi memperhatikan gadis itu. Nampak tas dan sepatu serta seragam yang Adel pakai sudah tidak layak.


Farel merasa miris melihat kehidupan Adel, meski hidup dengan serba kekurangan, tapi semangatnya patut diacungi jempol. Farel benar-benar salut dengan gadis yang baru saja ia kenal, dan sekarang telah menjadi dari bagian hidupnya, meski awalnya hanya untuk berpura-pura.


"Adel itu anti nyontek Om," ujar Adel yang tak terima, jika dirinya suka menyontek.


"Iya, iya, iya. Oya nanti kamu tinggal telepon saja kalau mau pulang, biar aku jemput," kata Farel. Seketika Adel terdiam.


"Adel enggak punya handphone Om," Farel kembali tercengang. Lalu menghela nafas, begitu banyak hal yang belum Farel ketahui tentang istrinya itu.


"Ya sudah nanti kamu pulang jam berapa?" tanya Farel. Ia pun menatap manik gadisnya itu.


"Jam 2 Om," jawab Adel. Farel hanya mengangguk.


"Ya sudah, Adel masuk kelas dulu ya Om," Sambungnya, dan bergegas untuk segera turun, tapi Farel mencegahnya.


"Salim dulu," pinta Farel. Adel hanya nyengir, lalu mencium punggung tangan lelaki itu.


"Anak pinter," puji Farel. Lalu tangannya terangkat dan mengacak-acak rambut panjang Adel.


"Aish, jadi berantakan Om," bibir mungil Adel seketika mengerucut, lalu ia segera merapikan rambutnya, semenjak Farel hanya tersenyum.


Setelah itu Adel bergegas keluar dari mobil dan berlari menuju ke teman-temannya.


Melihat Adel sudah masuk, Farel kembali melajukan mobilnya menuju ke kantor.


***


Mobil yang Farel naiki telah terparkir di pelataran kantor, ia pun bergegas turun dan melangkah masuk ke dalam. Semua karyawan memberinya hormat saat melihat Farel melintas. Sementara Farel hanya tersenyum dan mengangguk.


Kini Farel sudah tiba di depan ruangan, seorang perempuan yang tak lain adalah sekretarisnya, tiba-tiba datang menghampirinya.


Ia terlihat sangat buru-buru sekali.


"Maaf pak, tadi ada tamu yang ingin bertemu dengan Bapak," ucapnya dengan sopan.


"Siapa?" tanya Farel.


"Mbak Riana Pak, dan sekarang tengah menunggu Bapak di ruangan, saya sudah melarangnya, tapi .... "


"Ya sudah kamu boleh pergi," potong Farel dengan cepat. Ia pun segera melangkah masuk ke dalam.


"Baik Pak, permisi," sekretaris itu pun beranjak pergi.


Dengan cepat Farel membuka pintu ruangannya, dan saat ia melangkah ke dalam, terlihat seorang wanita tengah duduk santai di sofa. Wanita itu adalah Riana, teman sekaligus rekan kerja Farel, dan sudah sejak lama Riana menaruh hati pada Farel.


Namun sayang, Farel sama sekali tidak pernah tertarik pada wanita itu. Riana selalu berusaha untuk membuat Farel menyukainya, tapi sayang, sampai detik ini wanita itu tidak dapat menaklukkan hati Farel.


Farel berjalan mendekatinya, ia pun berdehem hingga membuat wanita itu menoleh.


Melihat Farel datang Riana bergegas bangkit dan hendak menghambur ke pelukan Farel, tapi dengan cepat ia menolaknya.


"Jaga batasanmu," tegas Farel. Seketika mimik wajah wanita itu berubah.


Farel pun duduk di sofa, dan lagi-lagi Riana berusaha untuk mendekati Farel, ia duduk di samping lelaki itu, dan hendak menyenderkan kepalanya di bahu Farel. Dengan geram Farel mendorong tubuh Riana hingga menjauh.


"Sekali lagi kamu seperti ini, aku tidak segan-segan menyeret kamu keluar dari sini!" Farel berseru. Hal itu membuat wajah Riana seketika memerah karena menahan emosinya.


"Farel, kamu bisa enggak sih bersikap lembut sedikit sama perempuan, jangan kasar seperti ini," ujar Riana. Wanita itu mencoba merayu Farel dengan sifat liciknya.


"Aku bisa sopan, kalau kamu sopan, dan aku bisa lembut, kalau kamu tidak keterlaluan seperti ini," tegas Farel. Ia benar-benar merasa geram dan jijik dengan sikap Riana.


"Sekarang katakan apa tujuan kamu ke sini," sambungnya dengan tegas.


"Aku ke sini cuma mau ngasih ini," ujar Riana. Wanita itu pun menyodorkan sebuah amplop.


Dengan ragu Farel menerima amplop tersebut. "Apa ini." Keningnya pun berkerut.


"Kamu buka aja sendiri," kata Riana. Wanita itu tersenyum melihat raut wajah Farel yang terlihat bingung.


Farel pun segera membuka amplop tersebut, di dalam terdapat beberapa lembar foto. Mata Farel melotot saat melihat foto-foto tersebut. Ia tidak menyangka kalau Riana akan berbuat licik seperti itu.


"Aku tau kalau kamu baru saja menikah, dan aku ingin lihat seperti apa reaksi istrimu jika melihat foto-foto itu ... kalau kamu mau menikah denganku, aku pastikan foto itu tidak sampai ke tangan istrimu," ancam Riana. Dari dulu sampai sekarang wanita itu selalu mengancam agar bisa mendapatkan Farel.


Farel benar-benar jengah dengan sikap dan perilaku Riana. Mata elang Farel menatap tajam ke arah wanita itu. Rahangnya pun mengeras, tangannya juga mengepal, andai Riana bukan seorang wanita, sudah Farel pastikan dia akan habis di tangannya sendiri.