Ahan

Ahan
Anggia_Prastika_Wiguna_18



Keesokan harinya, seperti biasa. Farel tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Begitu juga dengan Adel tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Farel merasa lega, karena Adel yang kemarin terlihat murung, kini senyumannya sudah kembali.


Hal itu yang membuat Farel semakin sayang terhadap gadis itu. Meski hari kemarin marah, tetapi hari berikutnya kemarahan itu sirna dengan sendirinya.


Seperti Adel. Kini senyumannya gadis itu sudah menghiasi di pagi hari cerah ini.


Saat Adel tengah menyiapkan perlengkapan sekolahnya. Tiba-tiba Farel melempar dasinya ke arah sang istri. Adel pun sedikit tersentak, lantaran ia tengah fokus dengan kegiatannya sendiri.


"Pasangin dong Sayang," pinta Farel. Lelaki itu berjalan menghampiri sang istri.


"Manja banget sih jadi orang," cibir Adel seraya memanyunkan bibirnya.


Tanpa diduga, Farel mengangkat tubuh Adel. Lalu gadis itu Farel dudukkan di atas meja belajarnya. Farel sengaja melakukan itu agar istrinya dengan mudah memasangkan dasi untuknya.


"Tau aja kalau tangan Adel enggak nyampe," ujar Adel dengan tersenyum.


"Ya tau lah, udah buruan pakein." Farel berdiri di hadapan Adel dan sedikit membungkukkan badannya.


Dengan telaten Adel memasangkan dasi di leher suaminya itu. Sementara itu, Farel tak henti-hentinya memandangi wajah ayu sang istri. Setelah selesai Farel segera bangkit dan Adel pun turun.


"Makasih ya Sayang." Farel menarik pelan kepala Adel, lalu mencium keningnya.


Seketika Adel terdiam. Gadis itu tidak menyangka dengan apa yang Farel lakukan. Adel merasa semakin hari, sikap Farel semakin hangat padanya. Bahkan Adel merasa jika Farel telah mencintainya.


"Buruan berangkat udah siang." Farel memakai jasnya, setelah itu ia mengambil kunci mobilnya.


Lamunan Adel buyar, saat mendengar suara Farel. Dengan segera, gadis itu mengambil tas dan bukunya, lalu berjalan mengikuti langkah sang suami.


Kini mereka dalam perjalanan menuju ke sekolah Adel terlebih dahulu.


***


Di lain tempat, di sebuah rumah terlihat seorang wanita yang tengah mematut dirinya di depan cermin. Wanita itu adalah Anggia Prastika Wiguna. Wanita yang pernah menjadi bagian hidup dari Farel.


Namun setelah kejadian 5 tahun yang lalu, wanita yang selalu berpenampilan syar'i. Kini Anggia telah berubah 180°, aurat yang selalu ia jaga, kini dia biarkan terbuka begitu saja. Jilbab yang selalu menutupi rambutnya, kini ia lepas.


Anggia yang sekarang, bukanlah Anggia yang dulu. Kini kehidupan wanita itu beralih ke dunia malam. Mencari lelaki hidung belang yang haus akan kepuasan dunia. Merelakan tubuhnya untuk menyalurkan hasrat lelaki yang tak pernah merasa puas.


"Sempurna. Aku yakin, lelaki yang melihatku, pasti akan langsung terpesona," puji dirinya sendiri.


Setelah itu Anggia bergegas keluar dari kamarnya. Wanita itu berjalan menuruni anak tangga. Setibanya di bawah Anggia melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Seorang sopir sudah menunggunya.


Setelah Anggia masuk, kini mobil yang ia tumpangi segera melaju meninggalkan halaman rumahnya. Mobil itu membelah jalanan ibu kota yang padat akan kendaraan. Tujuan Anggia kali ini adalah hotel Angkasa.


Mobil yang Anggia tumpangi berhenti di pelataran hotel Angkasa. Dengan segera Anggia turun dari mobil, dan melangkah masuk ke dalam hotel. Wanita itu berjalan menuju lift dan tujuannya adalah lantai 8.


Anggia telah tiba di lantai 8. Wanita itu berjalan menuju ke kamar nomor 085. Setibanya di sana, Anggia bergegas masuk ke dalam, di dalam seorang pria telah menunggunya. Dia adalah Deni, salah satu pelanggan Anggia.


"Selamat datang Sayang," sapa pria itu.


"Hay Om. Maaf ya, Anggia terlambat," sahutnya.


Keduanya pun saling cipika-cipiki. Setelah itu Deni mengajak Anggia untuk duduk di sofa. Tangan nakalnya mulai menelusuri paha Anggia yang mulus itu. Bukan itu saja, perlahan Deni menciumi leher jenjang Anggia.


"Kamu sangat seksi Sayang," ucapnya. Nafasnya menyapu halus kulit mulus Anggia.


"Om bisa saja, apakah Om sudah tidak sabar." Perlahan tangan Anggia menelusuri dada bidang Deni.


"Tentu saja Sayang, kau sangat menggoda." Deni langsung mengangkat tubuh Anggia, lalu ia baringkan di atas ranjang.


Setelah itu, keduanya memulai aktivitas yang sudah biasa mereka lakukan.


Anggia sangat menikmati kehidupan dirinya yang sekarang. Wanita itu benar-benar sudah lupa akan dosa.


Setelah hampir setengah hari bersenang-senang, kini Deni menyudahinya. Pria itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Anggia masih duduk di atas ranjang dengan menutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal.


Selang beberapa menit, Deni keluar dari kamar mandi. Pria itu berjalan mendekati ranjang, lalu memberikan sebuah cek, dengan tertulis nominal angka yang cukup besar. Anggia menerima cek tersebut dengan tersenyum.


"Apa ini tidak terlalu banyak Om," ujar Anggia setelah melihat isi cek tersebut.


"Tidak Sayang. Jumlah ini sebanding dengan apa yang kamu berikan kepada saya," sahut Deni. Pria itu mendekati Anggia dan mencium bibirnya.


"Terima kasih Om," balas Anggia dengan tersenyum.


Deni pun beranjak menuju ke almari untuk mengambil pakaian. Sementara Anggia masih malas-malasan di atas ranjang. Wanita itu menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. Anggia terus tersenyum dengan memegangi cek tersebut.


***


Malam harinya, selesai belajar Adel nampak sibuk menonton televisi. Sementara Farel duduk di sebelah sang istri, dengan memangku leptopnya. Jarinya berkutat di papan keyboard. Entah apa yang sedang Farel kerjakan.


Sedari tadi Farel begitu fokus dengan layar leptopnya. Sementara Adel fokus dengan layar televisi. Tersenyum, tertawa, bahkan ngomong enggak jelas, itu yang Adel lakukan. Bahkan gadis itu tertawa sampai terpingkal-pingkal.


Entah tontonan apa yang tengah Adel lihat. Lama-lama Farel merasa penasaran dengan apa yang Adel tonton. Setelah pekerjaannya selesai, Farel menutup leptopnya, dan meletakkannya di atas meja.


Adel masih saja tertawa, sehingga Farel mengalihkan pandangannya melihat tontonan yang tengah sang istri lihat. Seketika Farel melongo, ternyata itu yang membuat Adel tertawa terus menerus. Toom and Jerry, itulah yang Adel tonton.


"Astaga Adel, Adel. Kirain nonton apaan, malah tontonan anak kecil," ujar Farel dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sekilas Farel melirik jam yang bertengger di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi Adel masih begitu semangat menonton televisi. Dengan terpaksa Farel merebut remote control yang Adel pegang.


"Ih. Om apa-apaan sih, sini balikin." Adel berusaha mengambil kembali remote tersebut.


"Udah malam sekarang tidur." Farel segera mematikan lampu kamarnya.


"Adel belum ngantuk Om," rengek Adel. Gadis itu menghentakkan kakinya ke lantai.


Farel sama sekali tidak peduli dengan tingkah Adel yang sudah seperti anak kecil itu. Lelaki itu bergegas naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya. Sementara Adel masih saja merengek agar Farel mau mengembalikan remote tersebut.


Adel masih saja mondar-mandir mengelilingi ranjang, berharap Farel merasa kasihan padanya. Tapi ternyata Farel tidak menghiraukannya, justru lelaki itu menarik selimut dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Gadis itu semakin kesal karenanya. Tapi tiba-tiba suara petir menyambar dan terdengar sangat nyaring. Karena kaget Adel menjerit dan dengan cepat gadis itu loncat ke atas ranjang, dan masuk ke dalam selimut.


"Makanya kalau di suruh tidur, ya tidur, ngeyel sih," ucap Farel dengan mata yang terpejam.


"Adel takut petir Om." Adel memeluk erat tubuh suaminya itu.


"Ya udah sekarang tidur," ujar Farel. Lelaki itu membalas pelukan Adel tak kalah erat.


Hujan turun begitu deras, desiran angin menambah suasana semakin dingin. Adel yang hanya mengenakan kaos pendek serta celana sepaha, merasa sangat kedinginan. Alhasil gadis itu semakin menyembunyikan tubuh mungilnya di dada bidang Farel.


***


Malam telah berakhir, sinar mentari telah memberikan kehangatannya di pagi hari. Tetesan embun pagi masih membasahi dedaunan. Perlahan Adel menggeliatkan tubuhnya di dalam selimut. Sementara Farel masih belum sadar dari alam mimpinya.


Adel menyibakkan selimutnya, ia melihat jam yang berada di atas nakas. Waktu sudah menunjukkan pukul 6. Dengan cepat Adel bangkit dan beranjak dari tempat tidur. Gadis itu segera masuk ke dalam kamar mandi.


Pukul 7 Farel dan Adel sudah selesai bersiap-siap. Kini keduanya tengah menikmati sarapan pagi mereka.


Tak ada percakapan antara Farel dan Adel, yang ada hanya suara dentingan sendok dan garpu yang saling bertemu.


Setelah selesai sarapan, Adel dan Farel bergegas pergi. Kini mereka sudah ada dalam perjalanan. Mobil yang Farel dan Adel melaju dengan kecepatan sedang.


Keadaan jalan tidak begitu ramai, lantaran Farel memilih jalan pintas, agar cepat sampai ke sekolah Adel.


Adel memilih melihat ke luar jendela, sementara Farel fokus menyetir. Tapi tiba-tiba mata Farel tidak sengaja menangkap sosok perempuan di seberang sana. Perempuan itu tengah berjalan dengan seorang pria yang umumnya sekitar 40 tahun.


Mata Farel terus saja melihat ke arah perempuan itu. Farel merasa jika dirinya sangat mengenalnya, tapi la belum begitu yakin. Lantaran dari segi berpakaian sangat jauh berbeda. Tapi saat melihat wajahnya, Farel sangat terkejut, sampai-sampai ia menghentikan mobilnya dengan mendadak.


Adel kaget dan hampir saja kepalanya membentur dasbor. Sementara mata Farel masih tertuju pada perempuan yang berada di seberang sana. Dadanya terasa bergemuruh, antara yakin dan tidak yakin.


"Om mau cari mati ya, main berhenti aja," ujar Adel yang merasa kesal.


Diam, Farel sama sekali tidak mendengar apa yang Adel ucapkan. Adel merasa heran dengan sikap Farel yang tiba-tiba berubah. Gadis itu menoleh ke arah Farel, dan terlihat jika suaminya itu tengah memandang lurus ke seberang sana. Entah apa yang sedang Farel lihat.


"Om." Panggil Adel. Tak ada sahutan dari Farel.


"Om." Panggilnya lagi dengan suara yang lebih keras.


Farel tersentak kaget mendengar teriakkan dari Adel. "Astaga Adel, berisik tau."


"Salah sendiri di panggil-panggil enggak nyaut." Adel memanyunkan bibirnya yang mungil itu.


"Maaf, tadi aku .... " Ucapnya terpotong, lantaran perempuan yang sedari tadi Farel lihat sudah tidak ada.


"Tadi apa," seru Adel. Tangannya memukul bahu Farel.


"Enggak, enggak, cuma salah liat," sahut Farel. Matanya terus saja memandang ke luar sana.


Adel melihat gelagat aneh dari suaminya itu. Tidak seperti biasanya Farel bersikap seperti itu. Entah apa yang Farel lihat sampai-sampai tidak fokus menyetir. Pandangannya pun selalu tertuju ke seberang sana.


"Liat tuh Om." Adel menepuk bahu Farel, dan menunjuk ke arah belakang.


Seketika Farel menoleh, dan ternyata antrian kendaraan memenuhi jalan. Mobil Farel sudah membuat kendaraan lain menjadi macet. Dengan cepat Farel melajukan mobilnya kembali. Tapi pikirannya belum bisa tenang, masih terbayang dengan perempuan itu.


"Siapa perempuan itu, kenapa wajahnya begitu mirip dengan ... enggak mungkin, aku pasti hanya salah lihat," gumam Farel dalam hati.


Sesekali Farel menggelengkan kepalanya, lelaki itu berusaha untuk membuang pikiran buruk itu. Farel berharap jika apa yang ia lihat hanya kesalahan saja. Bukan kenyataan. Adel semakin heran dengan lelaki yang duduk di sampingnya itu.


"Nih Om-Om kenapa sih, aneh banget," batin Adel. Matanya terus menatap wajah Farel yang terlihat begitu aneh.


Mobil Farel sudah berhenti di depan gerbang sekolah Adel. Gadis itu segera berpamitan dengan sang suami. Tak lupa Adel mencium punggung tangan Farel. Setelah itu Adel bergegas keluar, dan segera masuk ke dalam.


Meski Adel merasa ada yang aneh dengan Farel. Tapi sebisa mungkin gadis itu berfikir positif. Adel tidak mau berfikir yang tidak-tidak terhadap suaminya itu. Mungkin saja Farel tengah banyak pikiran dengan pekerjaan kantornya.


Setelah itu, Farel langsung memacu mobilnya menuju ke kantornya. Pikirannya masih saja belum bisa tenang. Farel benar-benar merasa penasaran dengan perempuan yang ia lihat.


Mobil Farel berhenti di pelataran supermarket. Ada sesuatu yang hendak Farel beli terlebih dahulu sebelum sampai ke kantor. Farel keluar dan berjalan masuk ke dalam. Farel berjalan sembari memegang handphonenya, lantaran ada beberapa pesan email yang masuk.


Farel berjalan tanpa melihat ke depan. Tiba-tiba saja Farel tidak sengaja menabrak seseorang perempuan. Farel pun mendongak dan menatap orang yang ia tabrak. Farel terkejut saat melihat perempuan yang tidak sengaja ia tabrak.


Perempuan itu sekilas menatap wajah Farel, setelah itu pria yang bersamanya segera menarik perempuan itu untuk bergegas pergi. Sementara Farel masih saja menatap kepergian perempuan tersebut.


Dada Farel terasa bergemuruh, aliran darahnya mengalir lebih cepat. Kali ini Farel benar-benar yakin dengan apa yang ia lihat. Tapi di lain sisi Farel belum 100% yakin. Lantaran melihat caranya berpakaian sangat jauh berbeda.


Hadirnya kembali masa lalu yang buruk dalam hidup kita, terkadang akan memicu terjadinya masalah.


Bertengkar karena masa lalu itu sering terjadi. Bahkan hingga menimbulkan perpisahan.


Jadikan masa lalu sebagai pelajaran dalam hidup kita. Dan belajarlah meniti masa depan dengan berbagai harapan.