Ahan

Ahan
Berpisah_Sementara_27



Farel berlari mengejar Adel, sesekali pria itu juga berteriak memanggil sang istri, tapi wanita itu terus berlari tanpa menghiraukan teriakan sang suami. Setibanya di depan, Adel segera menyetop taksi, dan detik itu juga Adel masuk, lalu taksi itu melaju meninggalkan resto.


Farel mengerang frustasi, pria itu terlihat sangat gusar. Ada rasa penyesalan dalam diri Farel. Andai saja ia menunggu Adel terlebih dahulu, mungkin kejadian itu tidak akan pernah terjadi. Setelah itu Farel berlari masuk ke kantor untuk mengambil kunci mobilnya.


Selang beberapa menit, Farel sudah dalam perjalanan. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Farel tidak peduli lagi dengan keselamatannya, yang ada dalam pikiran Farel adalah Adel. Ia harus bisa meyakinkan sang istri, kalau itu hanya salah paham.


Sesekali Farel menghubungi nomor Adel, tapi hasilnya nihil. Adel sama sekali tidak mengangkat telepon dari suaminya, bahkan dengan sengaja Adel menonaktifkan handphonenya. Farel melempar handphonenya ke jok samping.


"Adel kamu kemana, aku minta maaf sudah membuat kamu marah. Tapi ini semua hanya salah paham." Farel memukul setir mobilnya. Pria itu sangat frustasi, ia benar-benar merasa bersalah atas kejadian itu.


Farel terus menyusuri jalan raya, untuk mencari sang istri. Sementara Raka dan Nadia memutuskan untuk pulang. Viona memilih pulang terlebih dahulu. Dalam perjalanan pulang, Raka dan Nadia saling diam, mereka ikut merasa bersalah atas kejadian yang terjadi di resto.


"Mas harus kasih tau Adel, kalau apa yang dia lihat itu hanya salah paham," ujar Nadia. Sesama perempuan Nadia pasti bisa merasakan apa yang Adel rasakan.


"Iya Sayang, aku tau. Tapi dari tadi aku telfon Adel juga nggak diangkat, malah sekarang enggak aktif," sahut Raka. Pria itu menoleh sekilas pada wanita yang duduk di sampingnya.


Setelah itu, Raka kembali fokus menyetir. Tujuannya saat ini adalah pulang ke rumah. Sementara itu, Farel masih mencari keberadaan istrinya. Ia sudah pulang terlebih dahulu, berharap Adel berada di rumah, tapi nyatanya tidak ada. Setelah itu Farel kembali mencari keberadaan sang istri.


Mulai dari rumah ibunya, mencari ke tempat yang pernah Adel kunjungi, tapi hasilnya tetap nihil. Farel hampir saja putus asa, pria itu sudah menyusuri jalanan ibu kota, bahkan ia juga sudah menyusuri jalan-jalan kecil. Tapi tetap tidak ada hasilnya.


Pukul 11 malam Farel baru tiba di rumah, ia pun bergegas masuk ke dalam, berharap sang istri sudah berada di rumah. Tapi semuanya hanya angan-angan saja, Farel kembali menyusuri setiap sudut dan ruangan di dalam rumahnya. Tapi sosok Adel tetap tidak ada.


Farel menjatuhkan bobot tubuhnya di ranjang. "Sayang, kamu di mana, kenapa kamu pergi."


Farel merebahkan tubuhnya, matanya menatap langit-langit kamarnya. Senyum dan tawa Adel menari-nari di pelupuk matanya. Tingkah dan sikap Adel yang manja, memenuhi memori otaknya. Begitu banyak kenangan indah bersama dengan sang istri.


***


Adel kini tengah berbaring di atas ranjang, wanita itu kini masih berada di rumah ibunya. Mira terpaksa membohongi Farel, lantaran Adel yang memintanya, Adel merasa kecewa dengan suaminya itu, kali ini Adel ingin memberi pelajaran atas kesalahan yang Farel lakukan.


Sejujurnya Mira merasa tidak tega terhadap menantunya itu, melihat Farel yang terlihat sangat putus asa, tapi semua itu Mira lakukan demi putrinya. Wanita paruh baya itu sudah menyarankan Adel agar mau menyelesaikan masalahnya dengan Farel, tapi Adel sudah terlanjur kecewa.


"Aku kecewa sama kamu Mas, aku pikir kamu benar-benar mencintai aku, tapi nyatanya, kamu tega melakukan itu. Aku sudah salah menilai kamu, semoga dengan ini, kamu sadar, akan perbuatan yang sudah kamu lakukan." Adel menyeka air matanya, sejujurnya Adel tidak ingin menangis, tapi air mata itu lolos begitu saja.


"Adel." Mira membuka pintu kamar putrinya itu. Wanita paruh baya itu berjalan menghampiri Adel, lalu duduk di sampingnya.


"Lebih baik kamu pulang ya, Ibu tidak mau masalah kamu semakin larut, tidak baik menimbun masalah Nak. Lebih cepat diselesaikan itu lebih baik, ibu tidak mau kamu menyesal gara-gara masalah ini," tutur Mira. Ia takut jika masalah dalam rumah tangga Adel akan semakin memburuk.


"Adel ngantuk Bu, Adel mau tidur." Adel menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Wanita itu mencoba melupakan sejenak masalah rumah tangganya.


"Ibu tau, kamu pasti merasa kecewa dengan suami kamu. Tapi setiap masalah, pasti ada penyebabnya, dan pasti ada jalan keluarnya. Ibu tidak mau kamu sampai mengalami apa yang Ibu alami, kamu masih muda Nak. Sebelum masalah kamu semakin memburuk, alangkah baiknya, kamu cepat menyelesaikannya," tutur Mira. Setelah itu wanita itu bangkit dan berjalan keluar dari kamar putrinya itu.


Adel masih terdiam, ia mencoba mencerna setiap nasehat yang ibunya berikan. Mungkin ada benarnya jika masalah itu cepat selesai akan lebih baik. Tapi saat Adel mengingat kejadian siang itu, hatinya kembali sakit. Rasa kecewa tidak dapat Adel pungkiri.


Malam telah larut, hembusan angin malam menembus kulit. Malam yang begitu sunyi, Adel teringat saat malam dingin seperti ini. Pasti tubuh kekar suaminya yang menjadi selimut malamnya. Menghangatkan tubuh mungilnya, begitu hangat dan juga nyaman. Tapi malam ini meski tubuhnya sudah ditutupi selimut yang tebal, rasa dingin itu tetap terasa.


Begitu juga dengan Farel, pria itu juga nampak tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan sang istri selalu menari-nari di pelupuk matanya, tawa dan senyumnya selalu hadir. Farel benar-benar sangat merindukan istrinya yang unik itu. Belum ada sehari, tapi rasanya seperti sudah ada setahun.


***


Saat ini Farel sudah berada di kantor, banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Meski pikirannya tengah kacau, tapi ia tidak boleh lupa akan kewajibannya sebagai seorang bos. Pekerjaan harus tetap ia utamakan, hari ini Farel akan menyelesaikan pekerjaannya lebih awal. Karena setelah itu Farel akan kembali mencari sang istri.


Tangannya kini tengah berkutat di papan keyboard, matanya pun fokus pada layar leptopnya. Tapi tiba-tiba konsentrasinya terganggu lantaran Raka datang. Pria itu terpaksa pergi ke kantor, lantaran ia ikut merasa bersalah atas masalah yang Farel hadapi.


"Ada apa," ujar Farel. Matanya tetap fokus pada layar leptopnya.


"Apa kamu sudah menemukan Adel?" tanya Raka.


Farel menghentikan aktivitasnya. "Belum."


Farel kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Raka membuang nafas panjang. Pria itu merasa sangat bersalah, tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Andai saja kemarin Raka tidak mengajak Farel pergi bersama, mungkin kejadiannya tidak seperti ini.


"Aku minta maaf ya Rel, gara-gara aku, Adel sama kamu jadi kena masalah," ucap Raka yang penuh penyesalan.


"Sudahlah Ka, semua juga sudah terjadi." Farel tetap fokus pada layar leptopnya.


Raka hanya bisa pasrah, pria itu nampak mendesah. Sementara Farel terus fokus pada layar leptopnya, sesekali Farel memijit pelipisnya yang mungkin terasa pusing. Raka merasa kasihan pada sahabatnya itu, secepatnya Raka akan mencari tau di mana Adel berada.


Selang beberapa menit, terdengar suara ketukan pintu, dengan malas Farel bersuara. Detik itu juga perlahan pintu ruangannya terbuka, seorang perempuan masuk dengan membawa beberapa hasil laporan untuk minggu ini. Farel pun menghentikan aktivitasnya.


"Permisi Pak, saya mau mengantarkan hasil laporan untuk minggu ini." Perempuan itu meletakkan hasil laporan tersebut.


"Ok, kamu boleh pergi." Farel menerima laporan tersebut.


"Baik Pak, permisi." Perempuan itu bergegas keluar dari ruangan bosnya.


Farel segera membuka hasil laporan tersebut, bahkan ia juga memeriksanya. Tiba-tiba raut wajah Farel berubah, matanya membulat, pria itu juga mengusap wajahnya dengan kasar. Terlihat jelas raut wajah yang begitu kecewa, Raka yang melihatnya merasa penasaran.


"Ada apa Rel?" tanya Raka.


Farel melempar hasil laporan tersebut ke arah Raka. "Kamu lihat sendiri Ka."


Raka mengambil hasil laporan tersebut, lalu memeriksanya. Pria itu juga terkejut setelah melihat hasilnya. Pantas saja Farel marah, semua hasil laporan yang karyawannya kasih tidak ada yang benar. Benar-benar gawat, melihat reaksi Farel, para karyawannya bisa-bisa bakalan terkena imbasnya.


Tiba-tiba Farel bangkit dari duduknya, dan menyambar hasil laporan yang masih berada dalam genggaman tangan Raka. Pria itu terlihat bingung dengan sikap Farel yang seperti itu. Tanpa berucap Farel melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya. Takut terjadi apa-apa Raka pun ikut bangkit dan mengikuti langkah Farel.


Kini Farel sudah berada di ruangan di mana karyawannya bekerja, semua karyawan yang melihat kedatangan bosnya itu, segera menunduk dan memberinya salam. Tapi tidak ada respon sedikitpun dari Farel, pria itu berjalan ke arah Lina, karyawan yang bertugas untuk membuat laporan.


Farel menjatuhkan hasil laporan itu ke atas meja dengan begitu keras. "Kamu di sini saya bayar buat kerja, bukan buat main-main seperti ini."


Semua karyawan yang berada di ruangan itu seketika menundukkan kepalanya. Mereka benar-benar merasa takut melihat bosnya marah seperti itu. Baru kali ini mereka melihat bosnya marah hingga tidak terkendali seperti itu. Mereka teringat kembali atas kejadian 5 tahun silam, di mana Farel menghukum para karyawannya.


"Maaf! Maaf! Sebagai hukumannya, hari ini kalian lembur sampai besok pagi. Mengerti!" Bentak Farel. Ia benar-benar sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.


Seketika semua karyawan yang berada di ruangan itu menjadi panik dan juga takut. Namun mereka sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun. Jika itu terjadi, maka kemarahannya bosnya akan semakin memuncak. Raka yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Heran.


"Gila kamu Rel, tega banget sama karyawan sendiri, parah." Raka pun berlalu meninggalkan tempat tersebut. Begitu juga dengan Farel, pria itu kembali ke ruangannya.


Setibanya di ruangan, Farel kembali menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi. Pria itu benar-benar merasa frustasi, sesekali Farel menjambak rambutnya dan juga mengusap wajahnya dengan kasar. Bahkan tiba-tiba Farel melempar setumpukan berkas yang belum ia selesaikan. Bekas-bekas tersebut berserakan di lantai.


***


Sore ini Adel tengah duduk santai di halaman belakang rumah ibunya. Sudah berkali-kali ibunya menyuruh Adel untuk segera pulang, dan menyelesaikan masalahnya dengan sang suami. Tapi wanita itu tetap kekeh dengan pendiriannya. Adel ingin menenangkan diri terlebih dahulu.


Selang beberapa menit, sebuah mobil berhenti di pelataran rumah Mira. Mira yang saat itu berada di teras, bergegas menghampirinya. 5 menit kemudian, seorang pria dan wanita turun dari dalam mobil. Mereka adalah Raka dan istrinya, Nadia. Keduanya berjalan menghampiri Mira.


"Selamat sore Bu." Raka dan Nadia mencium punggung tangan Mira.


"Sore, mar silahkan masuk." Mira berjalan terlebih dahulu, dan diikuti oleh Raka dan juga Nadia.


Kini mereka sudah berada di dalam, mereka tengah duduk di ruang tamu. Setelah itu tak lupa Mira membuatkan minuman untuk Raka dan juga Nadia. Perempuan paruh baya itu bergegas menuju ke dapur. Hanya 10 menit Mira sudah kembali dengan nampan yang berisi 2 cangkir teh manis.


"Silahkan minumannya," ucap Mira.


"Terima kasih Bu, sudah merepotkan," ujar Raka dan Nadia. Sementara Mira hanya tersenyum.


"Begini Bu, kedatangan kami ke sini ingin meluruskan masalah yang menimpa Adel dan juga Farel. Sekarang Adel ada di sini kan Bu, kalau bisa tolong panggilkan Adel Bu," jelas Raka. Pria itu tau jika Adel berada di rumah ibunya. Karena pria itu sempat menanyakannya kepada dua adik Adel.


"A-Adel, tap-tapi .... "


"Saya mohon Bu. Kami sangat merasa bersalah dengan masalah ini, karena memang itu terjadi gara-gara suami saya," potong Nadia dengan cepat. Wanita itu berusaha meyakinkan Mira.


Mira terdiam sejenak, perempuan itu pun mendesah pelan. "Baiklah, tunggu sebentar ya."


Nadia tersenyum saat melihat Mira bangkit dan beranjak pergi, untuk memanggil putrinya. Semoga usahanya bersama sang suami bisa berjalan dengan lancar. Nadia tau bagaimana perasaan Adel, karena dia juga seorang wanita. Selang beberapa menit Adel datang, awalnya wanita itu menolaknya, tapi jujur rasa penasaran yang membuat Adel mau menemui Raka dan Nadia.


Adel duduk menghadap kedua pasangan suami istri itu. Ada yang berbeda dengan Adel, Nadia pun merasa jika wanita yang duduk berhadapan dengannya sedikit berbeda. Wajah Adel terlihat pucat, mungkinkah dia sakit. Nadia sendiri juga tidak tau.


"Ok, langsung saja ya Del, kami akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ujar Raka, dan dibalas dengan anggukan oleh Adel.


Raka membuang nafas, setelah itu pria itu mulai menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Siang itu Raka dan Nadia memang datang ke kantor, keduanya berniat untuk mengajak makan siang bersama, tapi niatnya terpaksa tertunda, lantaran Farel sudah ada janji untuk makan siang bersama sang istri.


Raka dan Nadia pun tidak mempermasalahkan hal itu. Saat itu Farel juga berniat pergi ke resto, untuk membeli salad buah dan juga minuman kesukaan sang istri. Sebenarnya bukan kesukaan sih, hanya saja sudah dua hari ini Adel sering menyuruh Farel untuk membuat jus belimbing. Entah kenapa wanita itu tiba-tiba suka dengan jus itu.


Farel membayangkannya saja sudah ngilu, apa lagi meminumnya. Karena tujuan mereka sama, akhirnya mereka putuskan untuk pergi ke resto bersama-sama. Tapi tiba-tiba saja Viona muncul, perempuan itu kekeh untuk ikut bersama dengan mereka. Farel sama sekali tidak merespon keberadaan Viona. Tujuannya ke resto adalah untuk membeli makanan yang sang istri minta, tidak ada hal lain.


Karena harus menunggu pesanan, dengan terpaksa Farel duduk satu meja dengan Raka, Nadia, dan juga Viona. Memang Raka dan Farel tidak menyalakan jika Adel marah, karena siapa saja pasti akan seperti itu, jika melihat suaminya duduk satu meja dengan perempuan yang sudah jelas sang perempuan menaruh rasa. Seperti yang Farel alami, tapi semua itu hanya salah paham.


Mereka tersenyum dan bahkan tertawa bukan karena keberadaan Viona, melainkan Raka dan Farel terlalu menikmati obrolan yang jarang sekali terjadi. Bahkan Raka menceritakan kepada sang istri, awal bagaimana Farel dan Adel menikah. Tapi mereka tidak menyadari, jika semua itu akan menjadi masalah yang sampai saat ini belum terselesaikan.


Raka menghela nafas setelah selesai menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ada guratan penyesalan dalam diri Adel. Andai saja waktu itu Adel mau mendengarkan penjelasan yang akan Farel jelaskan, mungkin kejadian itu tidak akan berlangsung lama, tapi semua itu sudah terlanjur. Penyesalan selalu datang terlambat.


"Adel, sekarang kamu percaya dengan apa yang mas Raka jelaskan?" tanya Nadia. Wanita itu kini duduk di samping Adel. Sementara Adel hanya mengangguk.


"Jadi sekarang kamu sudah memaafkan Farel. Karena di sini Farel sama sekali tidak bersalah, justru kami yang bersalah." Nadia menggenggam erat tangan Adel. Lagi-lagi Adel hanya mengangguk.


"Nah gitu dong. Kamu tau nggak, gara-gara kamu enggak pulang, semua karyawan yang bekerja di kantor Farel yang menjadi sasarannya. Sudah hampir tiga hari Farel menyuruh karyawannya untuk lembur sampai pagi," jelas Raka. Seketika Adel melongo.


"Ya sudah, sebentar lagi malam, kami pulang dulu ya. Untuk selanjutnya, kamu bisa memikirkan sendiri." Raka dan Nadia pun bangkit dari duduknya. Setelah berpamitan keduanya bergegas keluar.


***


Tak terasa malam telah datang, sepulangnya dari rumah Adel, Raka dan Nadia langsung menuju ke rumah Farel. Di sana Raka menceritakan semuanya, Farel merasa lega, lantaran Adel sudah mau memaafkannya. Dan malam ini Farel akan pergi ke rumah ibu mertuanya untuk menemui sang istri.


Pukul 8 malam Farel sudah tiba di rumah mertuanya. Setelah berbincang cukup lama dengan mertuanya, kini Farel akan segera menemui wanita yang sangat ia cintai dan juga rindukan. Belum ada seminggu berpisah, rasanya seperti sudah ada satu tahun. Perlahan Farel membuka pintu kamar Adel. Matanya tertuju pada ranjang, di mana Adel tengah berbaring.


Farel menutup pintu tersebut dengan pelan, lalu melangkahkan kakinya dengan sangat hati-hati untuk menghampiri sang istri. Kini Farel sudah berada di samping Adel, pria itu berjongkok di belakang Adel. Perlahan Farel mendekatkan wajahnya ke telinga Adel. Wanita itu tidak menyadari kedatangan sang suami, lantaran Adel sudah terlelap dalam tidurnya.


"I miss you Sayang," bisik Farel tepat di telinga Adel. Seketika Adel membuka matanya. Wanita itu sangat kenal dengan suara yang membisikinya.


Adel sangat rindu dengan suara itu, perlahan Adel membalikkan badannya, dan saat itu juga sebuah kecupan mesra mendarat tepat di bibir mungilnya. Lagi-lagi benda kenyal itu bersentuhan. Seketika mata Adel membulat, tapi tidak dapat ia pungkiri, jika Adel sangat merindukan sosok sang suami. Terlebih saat mereka berdua bermesraan menghabiskan waktu bersama.


Adel pun bangkit dan terduduk. Wanita itu terus memandangi wajah Farel yang sudah hampir seminggu tidak ia lihat. Tapi selalu hadir dalam setiap langkah dan juga pikirannya, bahkan mimpinya. Begitu juga dengan Farel, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Farel langsung memeluk tubuh mungil sang istri dengan begitu erat.


Tapi hal tak terduga terjadi, tiba-tiba Adel melepas pelukannya dan mendorong tubuh Farel untuk menjauh. Seketika Farel terkejut dengan apa yang Adel lakukan. Pria itu menunjukkan wajah cengonya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Farel.


"Mas bau apa sih, Adel nggak kuat nahan baunya." Adel menutup mulut dan juga hidungnya dengan telapak tangannya.


Sementara Farel menciumi kemeja yang ia pake. "Aku wangi kok Yang. Ini kan parfum yang biasa aku pake, kamu juga sangat suka dengan wanginya."


"Wangi apanya, buruan mandi sana," ujar Adel, wanita itu masih menutup hidungnya.


"Ya Allah Sayang, aku sudah mandi." Farel benar-benar bingung dengan istrinya itu.


"Buruan mandi, kalau enggak, Adel nggak mau deket-deket sama Mas." Adel melayangkan bantal, dan bersiap untuk melemparnya ke arah Farel.


"Tapi Yang ... iya, iya," Farel berlari masuk ke dalam kamar mandi, saat Adel melempar bantal ke arahnya.