
"Sayang, kamu tidak apa-apa 'kan," ujar Farel yang merasa sangat panik.
"Adel, enggak apa-apa kok, Mas." Adel tersenyum dengan menahan sedikit sakit di pelipisnya.
Setelah itu, dengan segera Farel mengangkat tubuh Adel, dan ia baringkan di atas sofa. Bi Irah segera mengambil kotak P3K, lalu menyerahkannya kepada majikannya itu. Setelah itu bi Irah akan membersihkan pecahan vas bunga tadi, yang masih berserakan di lantai.
Dengan sangat hati-hati Farel mengobati pelipis Adel yang terluka. Adel meringis menahan perih, sementara Farel tetap fokus untuk mengobati istri tercintanya itu. Adel adalah segalanya buat Farel, tidak ada yang bisa menggantikan dirinya di hatinya, Adel ibarat nyawa Farel.
Setelah selesai, Farel menyimpan kembali kotak obat itu. Sementara Adel bangkit dan duduk dengan menyenderkan kepalanya di sandaran sofa. Farel kembali dengan membawa segelas air putih, tak lupa satu butir obat untuk meredakan rasa pusing di kepala istrinya itu.
"Minum ini, nanti pusingnya cepat reda." Farel menyodorkan air minum itu, dan satu butir obat.
"Terima kasih, Mas." Adel menerimanya dan segera meminum obat tersebut.
"Maaf ya, Mas," lirih Adel. Wanita itu pun menundukkan kepalanya.
"Maaf untuk apa, hem?" tanya Farel.
"Gara-gara ... Maya kabur Mas, Adel nggak bisa mencegahnya," ujar Adel. Raut wajahnya menunjukkan bahwa wanita itu merasa bersalah.
"Sudahlah, Sayang. Kita punya rekaman cctv, lagi pula aku sudah lapor polisi. Biar polisi yang akan mengurusnya." Farel menangkup wajah sang istri. Sementara Adel hanya mengangguk dengan tersenyum.
Setelah itu, Farel mengajak istrinya untuk istirahat di kamar. Keduanya berjalan menuju ke anak tangga, tapi langkah Adel terhenti saat Farel membopongnya dan membawanya naik ke lantai atas, untuk menuju ke kamarnya. Adel hanya menurut, karena jika sudah menjadi keinginan Farel maka tidak bisa ditolak.
***
Hari demi hari telah berganti, setelah masalah Maya beres, Adel dan Farel pergi untuk menjemput Aqilla. Saat itu Farel terpaksa menitipkan Qilla di rumah orang tuanya, Farel juga menceritakan masalah apa yang sedang terjadi. Lidia merasa bersalah karena telah membawa masalah dalam rumah tangga putranya.
Namun semua itu tidak seutuhnya kesalahan Lidia, karena niatnya hanya ingin membantu. Hanya saja, Maya yang telah memanfaatkan kebaikan Lidia, atau mungkin semua itu sudah terencanakan oleh Maya. Tapi sekarang Farel sudah merasa lega, karena perempuan ular itu sudah pergi dari rumahnya.
Meski sampai sekarang polisi belum bisa menemukan keberadaan Maya, tapi Farel yakin, cepat atau lambat Maya akan segera tertangkap. Perempuan itu pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal, atas semua perbuatannya selama ini. Akan tetapi Adel masih merasa belum tenang.
Sekarang rumah tangga Adel dan Farel sudah kembali seperti semula. Aqilla juga sudah kembali bersama dengan kedua orang tuanya yang sangat menyayanginya. Suasana rumah sudah kembali seperti dulu, canda dan tawa Adel serta Farel dan juga buah hati mereka telah menghangatkan rumah itu kembali.
Seperti saat ini, Farel yang tengah bermain dengan putrinya, sementara Adel memilih untuk membereskan baju-baju Aqilla yang masih berantakan. Farel begitu bahagia saat tengah bermain dengan Aqilla, senyum dan tawa tak pernah pudar dari pria itu. Adel pun ikut merasa bahagia, melihat mereka bahagia.
"Sudah malam, Mas. Qilla jangan diajak main terus," ujar Adel. Sementara Farel masih asyik bermain dengan putrinya.
"Sebentar, Sayang. Aqilla juga masih betah main," sahut Farel. Adel hanya menghela nafas.
"Sayang, udah ngantuk belum. Bobo ya, udah malam, besok main lagi." Farel menggendong tubuh mungil Aqilla, lalu menimangnya agar mau tertidur.
Dengan sangat telaten, Farel terus menimang putrinya agar mau tertidur. Sementara Adel telah selesai membereskan baju-baju Aqilla, saat ini Adel berada di kamar mandi. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30, mata Aqilla sudah mulai menciut, dan perlahan mata mungil itu terpejam, dengan nafas yang mulai teratur pula.
Setelah benar-benar tertidur dengan pulas, Farel memutuskan untuk membaringkan tubuh mungil putrinya itu di atas ranjang. Tak lupa menyelimutinya, satu kecupan pun tak lupa Farel daratkan di kening Aqilla. Selang beberapa menit Adel keluar dari kamar mandi, wanita itu berjalan menghampiri ranjang Aqilla.
"Sudah tidur, Mas?" tanya Adel dengan suara pelan.
"Sudah, baru saja," sahut Farel.
Adel mencium kening putrinya, setelah itu Adel dan Farel bergegas naik ke atas ranjang. Adel segera merebahkan tubuhnya dan hendak menarik selimut. Tapi niatnya terhenti saat Farel mencekal pergelangan tangan istrinya itu, seketika Adel mengernyit heran. Farel menatap lekat wajah ayu sang istri, wanita itu sudah paham dengan tatapan suaminya itu.
"Sayang, main yuk," ajak Farel, dengan nada menggoda.
Adel hanya tersenyum. "Adel ngantuk, Mas. Kapan .... "
"Ingat, menolak suami itu d-o-s-a," potong Farel dengan cepat.
Adel sudah tidak bisa berkutik lagi, karena sekarang Farel selalu menggunakan embel-embel dosa jika menolak ajakan suami. Ya memang benar, seorang istri akan berdosa jika menolak ajakan suaminya. Tapi terkadang rasa capek dan juga mengantuk yang selalu menjadi alasan paling tepat bagi sebagian seorang istri.
Alhasil, demi menjaga keharmonisan keluarga, Adel menuruti permintaan suaminya itu. Mereka kembali melakukan ibadah halalnya, Farel kembali meneguk madu yang manisnya tidak ada duanya. Keduanya telah bersiap untuk mengarungi bahtera syurga duniawi, meraih dan mencapai kenikmatan bersama.
***
Mentari telah terbit di ufuk timur, segala aktivitas makhluk hidup telah dimulai kembali. Sama halnya dengan Adel dan Farel, saat ini Farel telah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Sementara Adel tengah bermain dengan putri tercintanya, Aqilla. Kini Adel kembali mengurus buah hatinya sendiri lagi.
Memang itu yang Adel inginkan, wanita itu sama sekali tidak ada niat untuk mencari pengasuh untuk anaknya. Karena ia takut jika akan ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi, seperti kemarin. Dan masalah itu bisa menjadi pelajaran untuknya dan juga untuk orang lain. Sejak saat itu juga Lidia merasa bersalah, meski Adel dan Farel tidak menyalahkannya.
"Sayang, pakein dulu dong." Farel menyodorkan dasi kepada istrinya itu.
Adel hanya menghela nafas. "Mas tuh ya, udah punya anak aja masih manja."
"Biarin, manja sama istri sendiri juga. Dari pada manja sama istri orang," sahut Farel, dengan sedikit menggoda istrinya itu.
"Kalau berani manja sama istri orang. Adel sunatin dua kali mau." Mata Adel menatap tajam ke arah suaminya itu.
"Hehe, jangan dong. Nanti habis gimana ... just kidding, Sayang." Farel menoel hidung Adel dengan gemas.
"Sudah selesai," ujar Adel, dengan tersenyum.
"Makasih, Sayang," sahut Farel. "Aku berangkat dulu ya."
"Iya, Mas." Adel mencium punggung tangan suaminya itu.
"Sayang, papa berangkat kerja dulu ya. Jangan nakal ya." Farel mencium kedua pipi chubby putrinya itu.
"Iya papa," sahut Adel dengan suara layaknya anak kecil.
Farel tersenyum, lalu mencium kening istrinya. Setelah itu Farel bergegas keluar dari kamar dengan diikuti oleh Adel, dengan menggendong Aqilla. Setelah di depan pintu utama, Farel bergegas naik ke mobil dan setelah itu perlahan mobil melaju meninggalkan halaman rumah. Setelah mobil yang Farel kendarai hilang dari pandangan mata, Adel segera masuk ke dalam.
Setibanya di dalam, Adel bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk putrinya itu. Hanya butuh waktu 10 menit makanan untuk Aqilla sudah siap, Adel pun membawa putrinya ke halaman belakang dengan menggunakan kereta dorong. Setelah mencari tempat yang nyaman, Adel mulai menyuapi Aqilla dengan bubur.
Adel tersenyum saat melihat putrinya dengan lahap memakan bubur buatannya. Jadi tak heran jika berat badan Aqilla terus bertambah, pipinya pun terlihat sangat chubby. Hampir semua tetangganya yang melihat Aqilla menjadi gemas, apa lagi saat melihat pipinya yang chubby, tak jarang banyak ibu-ibu, dan juga anak kecil yang sering mencubit gemas pipi Aqilla.
"Sayang, makannya lahap banget sih. Enak ya." Adel tersenyum, begitu juga dengan Aqilla. Bahkan tangannya tak henti-hentinya bergerak, memainkan mainan yang sengaja Adel kasih.
"Ok, setelah ini Qilla mandi ya. Abis itu bobo." Adel menggendong Aqilla, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Wanita itu berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. Setibanya di kamar Adel menurunkan Aqilla di karpet yang berada di lantai. Setelah itu Adel bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk memandikan putrinya itu. Setelah siap Adel pun keluar untuk mulai membuka baju Aqilla satu persatu.
Kini Adel tengah sibuk memandikan putrinya itu. Senyum tak pernah pudar dari bibir mungil Adel, begitu juga dengan Aqilla. Gadis cilik itu sangat menikmati ritual mandinya, saking senangnya Aqilla menepuk-nepuk air yang untuk berendam, hingga air itu menciprati baju dan wajah Adel. Wanita itu hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang seperti itu.
20 menit kemudian, Adel sudah selesai memandikan Aqilla. Setelah itu Adel mulai mengeringkan badan putrinya itu, tak lupa mebalurkan minyak telon agar badan mungil Aqilla terasa hangat, lalu Adel mulai memilih baju, dan segera memakaikannya. Setelah itu Adel akan memberinya asi agar lebih mudah tertidur.
***
Pukul 13.00 Lidia datang, siang itu Adel tengah asyik bermain dengan putrinya. Ibu mertuanya datang dengan membawa beberapa paper bag yang isinya Adel tidak tau. Mungkin untuk kali ini Lidia membawakan cucunya itu baju, bukan mainan lagi, karena mainan Aqilla sudah sangat menumpuk. Bisa-bisa nanti Qilla bingung mau main pake yang mana.
Lidia masuk ke dalam rumah, setelah bi Irah membukakan pintu untuknya. Lidia berjalan menuju ke ruang bermain, di mana cucu dan menantunya berada. Setibanya di sana terlihat Adel tengah bermain dengan Aqilla, senyum dan tawa tak lepas dari Adel dan juga putrinya itu. Lidia pun tersenyum melihat kebahagiaan cucu dan menantunya itu.
Perlahan Lidia masuk ke dalam dan meletakkan paper bag itu di bawah, di mana Aqilla tengah bermain. Ruangan yang cukup luas itu penuh dengan berbagai mainan, hampir semua mainan ada, dari yang berukuran kecil, sampai yang berukuran besar. Berbagai boneka pun juga ada, dan juga mainan yang lainnya.
"Halo, Sayang. Nih Nenek bawain baju buat Qilla." Lidia duduk di sebelah Aqilla.
"Halo juga Nenek ... makasih ya Nek, baju Qilla jadi banyak." Adel menirukan suara anak kecil. Kayaknya Aqilla yang menjawab sapaan dari Neneknya itu.
Adel dan Lidia tersenyum. Hubungan mertua dan menantu yang satu ini memang sangat akrab. Bahkan Lidia tidak menganggap Adel sebagai menantunya, melainkan sebagai putrinya sendiri. Kini Lidia akan mengajak cucunya untuk bermain, sementara Adel akan pergi ke dapur terlebih dahulu. Entah mau ngapain Adel ke dapur, hanya dia yang tau.
Sudah hampir satu jam Lidia bermain dengan cucunya itu. Tapi rasa capek seakan tak terasa, perempuan itu tetap semangat dalam menemani cucunya bermain. Bahkan Lidia berniat ingin mengajak Aqilla ke rumahnya, setelah hampir dua bulan Aqilla belum pernah berkunjung ke rumah Nenek dan Kakeknya itu.
Setelah mendapat persetujuan dari Adel, Lidia bergegas pulang dengan membawa cucunya itu. Lidia begitu bahagia karena Aqilla akan berkunjung lagi ke rumahnya, Indra pasti akan kaget saat melihat cucunya datang, lantaran Lidia belum memberitahu suaminya jika dirinya akan mengajak Aqilla datang ke rumahnya.
Waktu terasa lebih cepat berlalu, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Adel sudah selesai dengan pekerjaannya di dapur, saat ini Adel akan bergeras mandi karena setelah Farel pulang ia akn mengajaknya untuk menjemput putrinya. Selang beberapa menit terdengar suara deru mobil masuk dan berhenti di pelataran rumah.
Sudah dapat dipastikan jika itu adalah Farel, dan benar saja saat Adel keluar dari kamar mandi terlihat suaminya baru masuk. Farel tengah melepas dasinya dan meletakkannya di atas sofa, setelah itu dia merebahkan tubuhnya di ranjang, kedua tangannya dia rentangkan. Matanya menatap langit-langit kamar, melepas penatnya yang sudah menguasai tubuhnya.
"Sayang, Qilla di mana kok nggak kelihatan?" tanya Farel, dengan posisi yang masih sama.
"Qilla ada di rumah mama. Tadi siang mama ke sini terus ngajak Qilla ke sana," jelas Adel. Saat ini wanita itu tengah sibuk memakai pakaiannya.
"Mas buruan mandi gih, nanti kita jemput Qilla sebelum malam," perintahnya kemudian.
Farel bangkit dan berjalan mendekati istrinya itu. "Kita jemputnya nanti saja, soalnya nanti aku mau ketemu sama rekan bisnis aku, sekalian buka bersama. Nanti kamu ikut sekalian, Raka juga ikut dengan Nadia."
"Dandan yang cantik, ya." Farel mengacak rambut Adel, dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Adel hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, setelah itu Adel segera menyiapkan pakaian untuk suaminya itu. Selang beberapa menit Farel keluar dengan handuk yang melilit di pinggang. Pria itu berjalan ke arah ranjang untuk mengambil pakaian yang sudah Adel siapkan. Dengan segera Farel memakainya.
***
Senja telah berlalu, kini Adel dan Farel baru tiba di resto tempat di mana Farel akan mengadakan pertemuan dengan rekan bisnisnya. Farel berjalan dengan menggandeng tangan istrinya itu, terlihat jika Raka dan Nadia sudah ada di sana , dan seorang pria yang seumuran dengan Farel. Setibanya di sana Farel segera menarik kursi untuk istrinya duduk.
Begitu juga dengan Farel, ia duduk di sebelah istrinya itu. "Maaf, ya telat."
"Iya, tidak apa-apa," ujar Firman, rekan kerja Farel.
"Qilla nggak ikut Del?" tanya Nadia.
"Enggak, soalnya ada di rumah mama," jawab Adel.
Selang beberapa menit, seorang perempuan berhijab datang, perempuan itu adalah istri Firman. Farel mendadak terkejut saat melihat perempuan itu, begitu juga dengan Adel dan juga Raka. Hanya Nadia yang nampak biasa, perempuan cantik itu tersenyum lalu duduk di sebelah Firman. Sementara Farel masih menatap tak percaya dengan istri tekan bisnisnya itu.
"Kenalin, dia Anggia. Istriku." Firman memperkenalkan Anggia kepada Raka dan juga Farel, begitu juga dengan istri mereka.
"Jadi Anggia sudah menikah," batin Farel.
Adel melirik ke arah Farel yang terus saja menatap Anggia, mantan kekasihnya. Tatapannya begitu sangat lekat, membuat hati Adel menjadi panas, mungkin lebih tepatnya cemburu. Ya, istri mana yang tidak cemburu saat melihat suaminya terus-menerus menatap perempuan lain di depan matanya. Merasa kesal, dengan sengaja Adel menginjak kaki Farel dengan high heelsnya.
"Auh, Sayang kenapa." Farel meringis kesakitan.
"Natapnya biasa saja, ingat ada hati yang harus dijaga." Adel menatap tajam ke arah suaminya itu.
Raka dan Nadia hanya terkekeh melihat sikap Adel. Begitu juga dengan Firman dan juga Anggia. Mereka semua bisa maklum, istri mana yang tahan melihat suaminya terus menatap perempuan lain. Terlebih perempuan itu adalah mantan kekasihnya, pasti ada rasa takut jika nanti sang suami akan berpaling. Meski sang mantan sudah bersuami.
"Iya, Sayang." Farel menggenggam erat tangan istrinya itu.
Setelah itu, Raka, Farel, dan Firman memulai membicarakan tentang masalah pekerjaannya. Sementara Adel, Nadia, dan Anggia memilih untuk diam. Mereka sama-sama merasa canggung, terlebih Adel. Bahkan wanita itu ingin sekali rasanya cepat pulang, tapi apa daya. Tapi Adel berfikir jika dia tidak ikut, pasti suaminya akan lebih leluasa menatap mantan kekasihnya itu.
Setelah urusan pekerjaan selesai, kini waktu yang telah ditunggu telah tiba. Yaitu waktu berbuka puasa, setelah semua pesanan datang, mereka pun segera memulai membatalkan puasanya. Tak ada suara di antara mereka, hanya ada suara dentingan sendok dan juga garpu. Lagi-lagi Farel selalu mencuri pandang kepada mantan kekasihnya itu.
Adel yang menyadarinya benar-benar merasa kesal. Makan pun menjadi tidak berselera, ingin rasanya Adel menyiram wajah Farel dengan air. Merasa tidak tahan lagi Adel
mencari ide untuk memberi pelajaran terhadap suaminya itu. Wanita itu tersenyum saat otaknya mendapatkan ide, untuk mengerjai suaminya itu.
"Sayang, kok nggak habis makanannya?" tanya Farel, saat melihat makanan yang Adel makan masih ada separuh.
"Adel nggak selera makan, Mas. Kepala Adel pusing Mas." Adel memijit-mijit pelipisnya.
"Kamu sakit." Farel menempelkan punggung tangannya di kening istrinya itu.
"Sakit hati Mas," batin Adel.
"Kita pulang sekarang ya, Mas. Adel nggak tahan lagi," ujar Adel dengan nada pelan.
"Ya sudah, ayo. Maaf ya, kita pulang dulu." Farel membantu Adel untuk berdiri.
"Ok, hati-hati ya," sahut Raka, dan juga Firman.
Farel memapah Adel dan segera keluar dari resto tersebut, tapi belum sampai ke parkiran, tiba-tiba saja Adel jatuh pingsan, seketika raut wajah Farel panik dan juga khawatir. Farel mencoba untuk membangunkannya, tapi nihil Adel sama sekali tidak memberikan respon. Dengan perasaan yang panik Farel segera membopong tubuh Adel dan berlari menuju ke parkiran.