Ahan

Ahan
Keberanian_Adel_8



Sementara Adel masih saja manyun, sesekali Farel menggodanya, mencolek hidung serta pipi gadisnya itu.


Setelah tiba di pintu utama, Farel segera membukanya, keduanya terkejut saat melihat seorang wanita sudah berdiri di depan pintu.


Adel dan Farel saling berpandangan, Farel tidak menyangka jika wanita itu nekat datang ke rumah.


Wanita itu adalah Viona, wanita yang sudah tega menghancurkan kebahagiaan sahabatnya sendiri. Farel benar-benar sudah muak melihat wajah Viona.


Melihat Viona, mengingatkan masa lalunya yang begitu menyakitkan.


Masa lalu yang telah menghancurkan segala impian indah Farel, dan kini masa lalu itu kembali berputar di otaknya.


Sudah sekian lama, Farel mencoba mengubur dalam-dalam, tapi dengan hadirnya Viona, ia kembali teringat hal yang sangat menyakitkan di dalam hidupnya.


Viona tersenyum ke arah Farel, tapi lelaki itu sama sekali tidak meresponnya. Justru Adel yang terlihat panik, dengan cepat gadis itu mengapit lengan kekar suaminya itu, seolah-olah Adel tidak ingin kehilangannya.


Farel menoleh ke arah Adel, memberikan isyarat, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Farel tau jika istrinya tengah gelisah.


Meski pikiran Farel sedang kacau, tapi ia sadar, jika sekarang ia tengah bersama istrinya.


"Maaf Viona, kami akan pergi, jika kamu ada perlu, datang kembali besok," ucap Farel. Ia pun melangkah melewati Viona yang masih terdiam. Sementara Adel tetap mengapit erat lengan Farel.


Tanpa di duga, Viona mencekal pergelangan tangan kiri Farel, tapi dengan kasar Farel mengibaskan tangannya.


Viona tersentak kaget, segitu bencinya Farel, sampai-sampai Viona menyentuhya saja dia tidak mau.


Farel pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Viona. Wanita itu nampak tengah menahan amarahnya. Matanya yang memerah serta sorot tatapannya yang begitu tajam.


"Jangan pernah kamu menyentuhku dengan tangan kotormu itu, mengerti," Farel memberikan Viona peringatan, berharap wanita itu sadar atas kesalahan yang pernah diperbuat olehnya.


"Farel, aku mohon, kasih aku kesempatan untuk menjelaskan .... " Belum sempat Viona melanjutkan ucapannya, Farel sudah terlebih dulu memotongnya.


"Stop. Semuanya sudah jelas, dan tidak ada yang perlu kamu jelaskan lagi, lebih baik kamu pergi dari sini, sebelum kesabaran aku habis," Farel berseru. Lelaki itu benar-benar sudah tersulut emosi.


Adel merasa sedikit takut, baru kali ini gadis itu melihat Farel semarah itu.


Sementara Viona menatap Farel tak percaya, jika lelaki itu sangat membenci dirinya.


Setelah itu, Farel merangkul pundak kanan Adel dan melangkah pergi meninggalkan Viona yang masih terdiam mematung.


Mobil Farel melaju meninggalkan halaman rumahnya, lelaki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sesekali Adel melirik ke arah Farel, ingin sekali Adel tau soal Viona, dan tujuannya datang menemui Farel untuk apa. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk mempertanyakan hal itu.


Adel pun memilih diam, membiarkan lelaki yang duduk di sampingnya berada dalam pikirannya sendiri.


Melihat ke luar jendela membuat pikiran Adel sedikit lebih tenang. Sementara Farel terus fokus menyetir, pandangannya lurus menatap jalan di depan.


***


Mobil Farel sudah berhenti di depan resto, Adel dan Farel bergegas turun dan segera melangkah masuk ke dalam.


Di dalam Farel mengedarkan pandangannya untuk mencari meja yang sudah orang tuanya pesan. Tak butuh waktu lama Farel sudah menemukannya.


Namun Farel merasa kurang senang, lantaran di sana ada Riana dan juga kedua orang tuanya.


Farel langsung merangkul pinggang Adel, dan berjalan menghampiri kedua orang tuanya. Lelaki itu terus merapatkan tubuhnya agar terlihat mesra.


"Akhirnya kalian sampai juga, ayo duduk," Lidia langsung menyambut kedatangan menantu dan putranya itu, lalu menyuruhnya untuk duduk.


Adel dan Farel tersenyum, lalu keduanya pun duduk. Mata Riana menatap tajam ke arah dua insan yang terus saja memperlihatkan kemesraannya.


Riana merasa jengah melihat Farel dan Adel yang terus-menerus bermesraan.


"Jadi ini menantu kamu jeng?" tanya Siska, ibu dari Riana.


"Iya. Adel, kenalkan Tante Siska dan Om Irawan, mereka orang tua Riana, rekan kerja Farel," jelas Lidia. Wanita itu memperkenalkan menantunya itu pada teman sekaligus rekan kerja Farel.


Adel tersenyum, lalu mencium punggung tangan Siska dan juga Irawan, tapi saat hendak mengulurkan tangan pada Riana, wanita itu diam. Adel pun mengurungkan niatnya, ia merasa jika Riana sangat membencinya.


"Adel cantik ya, Farel pinter juga cari istri," puji Siska. Wanita itu terus saja memuji Adel, dan hal itu membuat Riana semakin naik darah.


Setelah itu, mereka segera menikmati makanan yang sudah tersedia. Farel dan Adel terus-terusan memamerkan kemesraannya di depan Riana.


Farel ingin membuat wanita itu terbakar api cemburu. Karena ia ingin Riana itu sadar, jika Farel sama sekali tidak pernah menaruh rasa terhadapnya.


"Ch, menjijikkan sekali, di depan umum saja seperti itu," batin Riana. Wanita itu terus menatap tajam ke arah Adel dan juga Farel.


Setelah acara makan malam selesai, mereka segera membahas masalah pekerjaan, Farel baru tau jika kehadiran Riana dan orang tuanya ada maksud tertentu. Yaitu menginginkan kerja sama.


Selama Farel membahas masalah pekerjaan, Adel disibukkan dengan menyantap berbagai dessert dan makanan penutup lainnya.


"Kecil-kecil tapi rakus ya," sindir Riana. Matanya menatap Adel dengan sinis.


Adel melirik Riana. "Enggak masalah, yang penting suamiku tetap cinta, iya kan Sayang." Lalu menyuapi Farel lagi.


Farel tersenyum. "Iya dong."


Kedua orang tua Farel dan Riana hanya tersenyum, tetapi tidak dengan Riana.


Wanita itu terlihat sangat geram, matanya menatap tajam ke arah Adel, dadanya kembang kempis menahan amarahnya.


Sementara Adel dan Farel tetap memperlihatkan kemesraannya.


Selang beberapa menit, Adel berpamitan untuk pergi ke toilet terlebih dahulu. Gadis itu pun beranjak pergi menuju ke toilet.


Riana yang melihat Adel pergi, dengan segera menyusulnya. Farel tidak sadar jika Riana juga pergi ke toilet.


Setibanya di toilet, Riana langsung mendobrak pintu toilet. Adel terkejut melihat Riana datang dengan cara seperti itu.


Sementara Riana menatap Adel dengan tatapan yang mematikan, bagaikan harimau hendak memangsa mangsanya.


"Heh, apa maksud kamu tadi hah! Kamu pikir kamu itu pantas menjadi istri Farel iya! Kamu itu hanya anak kecil yang tidak tau apa-apa, kamu sudah merebut Farel dari aku. Kamu itu tidak lebih dari seorang jal*ng!" Riana membentak dan memaki Adel, wanita itu benar-benar sudah terbawa emosi.


Riana pun mendorong Adel hingga gadis itu tersender ke dinding.


Namun Adel hanya diam, ia ingin melihat sampai mana Riana akan menyakitinya.


Bukannya tidak berani, tetapi Adel ingin tau, apa yang akan Riana lakukan selanjutnya.


"Kenapa kamu diam, atau jangan-jangan kamu sedang berpikir, kenapa aku bisa tau semuanya iya. Kamu menikah dengan Farel pasti hanya menginginkan hartanya saja iya kan. Kamu sama sekali tidak mencintainya iya kan. Ck, gadis yang terlihat polos, tapi hatinya busuk!" Riana terus memaki Adel, bahkan Riana hendak melayangkan tamparannya di pipi Adel, tapi dengan sigap Adel mencekal tangan Riana.


"Stop, kamu sudah selesai ceramahnya iya, kan ... minggir," ucap Adel. Lalu mendorong Riana, setelah itu Adel beranjak pergi meninggalkan Riana yang masih terdiam.


Adel bergegas pergi, tanpa membalas setiap makian yang Riana lakukan.


Adel berlari menghampiri Farel, sadar akan kedatangan istrinya, lelaki itu pun menoleh, lalu bangkit saat melihat Adel menangis. Gadis itu seketika menghambur ke pelukan Farel, Adel menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya, tangisnya pun pecah.


Adel telah membuat Farel dan ke-empat orang tua itu bingung.


Dengan pelan, Farel mengelus kepala istri kecilnya itu. Farel masih membiarkan Adel untuk menumpahkan kesedihannya, meski lelaki itu tidak tau, apa penyebab Adel tiba-tiba menangis. Setelah cukup tenang, Farel melepaskan pelukannya dan menangkap kedua tangannya di pipi Adel.


"Ada apa Sayang, hem?" Farel bertanya dengan lembut, meski hatinya terasa sakit saat melihat gadisnya itu menangis.


Perlahan Farel menghapus air mata Adel, berharap gadisnya itu mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Adel mendongakkan kepalanya menatap wajah Farel, lalu tiba-tiba Riana datang, wanita itu pun terlihat bingung saat melihat Adel menangis. Tanpa di duga Adel menunjuk ke arah Riana. Seketika semuanya menoleh ke arah wanita itu.


Seketika mata Farel memerah, tatapannya tajam mengarah ke Riana yang baru saja datang. Rahangnya pun mengeras. Tanpa di duga Farel hendak melayangkan tamparan ke pipi Riana, tapi dengan sigap Adel mencegahnya, lalu Adel kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang Farel.


"Apa yang kamu lakukan, sampai-sampai Adel menangis," suara Farel meninggi dan penuh penekanan.


Riana gelagapan, wajah wanita itu seketika pucat pasi. Emosi Farel benar-benar sudah diujung tanduk.


Riana pun tidak berani menatap wajah lelaki itu, Riana tidak tau, jika Adel yang ia anggap hanya bocah, bisa membuat dirinya mati berdiri seperti sekarang ini.


"Dia nuduh Adel, katanya Adel udah ngerebut mas Farel dari dia, katanya Adel enggak pantas buat mas Farel, dia juga bilang kalau Adel hanya menginginkan harta mas Farel saja, dia membentak dan memaki-maki Adel, dia juga ... bilang Adel wanita jal*ng," Adel menjelaskan semua yang Riana tuduhkan padanya.


Mata Farel memerah, lelaki itu menatap Riana dengan penuh kebencian. Andai Riana bukan seorang wanita, pasti Farel sudah menghajarnya.


Entah ini bagian dari drama pernikahannya atau bukan, tapi Farel merasa sakit saat melihat Adel menangis, Farel juga merasa geram, saat ada yang menuduh yang tidak-tidak pada gadisnya itu.


Adel masih dalam dekapan Farel, tanpa diduga Adel tersenyum ke arah Riana, dan menjulurkan lidahnya, membuat wanita itu naik pitam.


Riana hendak memukul Adel, dengan sigap Farel menghempaskan tangan Riana. Sementara ke-empat orang tua itu hanya bisa terdiam, dan melihat.


"Jangan sentuh istriku!" Bentak Farel. Lelaki itu tidak akan pernah mengijinkan Riana untuk menyentuh gadisnya itu.


"Farel, lebih baik kamu ajak Adel pulang ya," sela Lidia. Ia takut jika putranya akan hilang kendali, seperti 3 tahun silam.


Farel mulai bisa mengontrol emosinya, ia pun segera mengajak istrinya untuk pulang. "Sayang, kita pulang ya." Sementara Adel hanya mengangguk.


Sebelum Farel melangkah pergi, Farel menatap Riana dengan tajam, dan beralih kepada ke dua orang tua Riana. "Kerja sama kita batal." Lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


Semuanya terkejut mendengar keputusan yang Farel ucapkan. Mereka tidak menyangka jika Farel akan memutuskan kerja sama yang baru saja dibicarakan.


Siapakah Viona itu? Sampai-sampai Farel sangat membencinya.


Adel pinter juga ya.


Wah, ada apa dengan Farel, masa lalu seperti apa yang Farel alami.