
Perempuan itu menunjukkan wajah sedihnya, agar Farel mau mengurungkan niatnya untuk mengejar Adel.
Farel benar-benar dalam keadaan bimbang, ia harus mengejar Adel, yang jelas-jelas istrinya, atau menolong Dewi, yang tak lain sahabatnya sendiri.
Farel masih berdiri di tempatnya, hati dan pikirannya saat ini tengah kacau, ingin ia mempercayai sang istri, tapi apa Farel lihat, membuatnya sulit untuk mempercayai istrinya.
"Farel." Dewi kembali memanggil lelaki itu.
Seketika Farel mengalihkan pandangannya. "Dewi, ayo bangun." Ujarnya. Ia pun membantu Dewi untuk bangkit.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Farel. Lelaki itu terlihat khawatir dengan sahabatnya itu. Tapi di lain sisi, ia lebih khawatir dengan istrinya.
"Aku enggak apa-apa kok. Oya, kamu bisa nggak anterin aku pulang, soalnya aku enggak bawa mobil," Dewi berusaha membujuk Farel, agar lelaki itu mau mengantarnya pulang.
Farel terdiam sejenak. "Ya sudah ayo." Putusnya. Farel pun menuntun Dewi untuk keluar dari restoran tersebut.
Dewi tersenyum penuh kemenangan, perempuan itu merasa puas, karena usahanya untuk membuat hubungan Adel dan Farel renggang telah berhasil.
Tinggal satu langkah lagi, Dewi bisa mendapatkan Farel seutuhnya, tanpa memperdulikan Riana.
Riana lah yang telah menyuruh Dewi untuk melancarkan rencananya. Sebab Riana tau, jika Dewi adalah sahabat Farel, dan hubungan persahabatan mereka cukup baik.
Dewi akan membuat hubungan Adel dan Farel renggang, dan akhirnya berpisah.
***
Adel tiba di rumah, gadis itu segera berlari menuju ke kamar.
Hatinya benar-benar sakit, Adel tidak menyangka kalau Farel yang selalu bersikap lembut dengan perempuan, dengan tiba-tiba berubah menjadi kasar.
Adel melempar tasnya ke sofa, setelah itu gadis itu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Adel berdiri di bawah shower dan menyalakannya. Gadis itu membiarkan air dingin itu mengguyur tubuhnya. Seketika tangisan Adel pecah. Rasa tidak sanggup untuk menjalaninya.
Adel akui, dirinya masih terlalu muda untuk menanggung masalah hati dan perasaan, seperti yang ia hadapi sekarang ini.
Ingin rasanya Adel lari dari kenyataan, tapi apa daya, dirinya sudah terlanjur masuk ke dalam lubang yang penuh dengan permasalahan orang dewasa.
Hampir 30 menit Adel berdiri di bawah guyuran air, setelah itu ia memutuskan untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Adel keluar dengan berjalan gontai, matanya merah dan juga sembab. Air matanya hampir habis, demi untuk menangisi laki-laki yang berhasil mengobrak-abrik hatinya.
Adel memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas sofa. Lagi-lagi air matanya luruh, gadis itu kembali menangis. Kali ini Adel merasa benar-benar rapuh, hatinya sakit, pikirannya juga kacau. Adel melirik jam yang bertengger di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi tidak ada tanda-tanda Farel pulang.
Selang beberapa menit Farel tiba di rumah, setelah memarkirkan mobilnya lelaki itu segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam.
Rumah begitu sepi, semua ruangan pun gelap, hanya kamar saja yang terang.
Farel buru-buru masuk ke dalam.
Setibanya di kamar, Farel langsung menangkap sosok istrinya yang meringkuk di sofa. Perlahan Farel berjalan mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Farel melihat mata Adel yang sembab, bahkan ekor matanya masih basah.
Farel merasa menyesal, lantaran dirinya sudah membuat gadisnya menangis. Dengan pelan Farel menghapus air mata Adel. Setelah itu ia pun mengangkat tubuh mungil Adel untuk di baringkan di atas ranjang. Tak lupa Farel menyelimutinya.
"Maafkan aku Sayang, aku tidak bermaksud untuk membentakmu ... hanya saja aku tidak yakin dengan apa yang kamu ucapkan," Farel mencium kening Adel. Setelah itu ia memutuskan untuk masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.
***
Pagi ini Adel bangun lebih awal, gadis itu menggeliatkan tubuhnya untuk meregangkan otot-ototnya agar tidak kaku. Adel merasa heran, kenapa dirinya berada di atas ranjang, padahal semalam ia ingat jika dirinya tidur di sofa.
Adel menoleh ke samping, dilihatnya Farel yang masih terlelap dalam tidurnya.
Adel tersenyum tipis, lantaran lelaki itu masih peduli dengannya, tapi saat mengingat kejadian semalam, rasa kecewa dan sakit hatinya muncul kembali.
Adel memilih untuk bangkit dan bergegas membersihkan diri, setelah itu ia segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolahnya. Setelah semuanya siap Adel bergegas turun ke bawah, ia tidak peduli dengan Farel yang masih tertidur.
Adel segera menyiapkan sarapan pagi dan bekalnya untuk di bawa ke sekolah.
Sementara itu, Farel baru saja terbangun dari alam mimpi, sosok pertama kali yang ia cari adalah Adel. Seketika Farel terduduk saat tidak mendapati istri mungilnya berada di samping.
Farel menyibak selimutnya dan bergegas keluar dari kamar. Saat hendak turun ke bawah, lelaki itu melihat Adel tengah menikmati sarapan paginya.
Farel bisa bernafas lega saat melihat gadisnya masih berada di rumah. "Aku pikir kamu sudah pergi." Ucapnya.
Setelah itu Farel bergegas masuk ke kamar dan segera mandi, lalu bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Tentunya harus mengantarkan Adel ke sekolah terlebih dahulu.
Setelah siap, Farel bergegas turun ke bawah. Tapi sialnya lelaki itu tidak melihat sosok Adel.
"BI, Adel mana?" tanya Farel pada asisten rumah tangganya.
"Non Adel baru saja keluar Tuan," jawabnya.
Dengan cepat Farel menyusul ke luar, setibanya di luar lelaki itu segera mengedarkan pandangannya. Tampak Adel tengah berjalan hendak keluar dari gerbang.
Tanpa butuh waktu lama, Farel berhasil meraih tangan gadisnya itu. Seketika Adel menghentikan langkahnya.
"Ayo masuk ke mobil," titahnya.
Adel terdiam. "Adel mau berangkat sendiri Om." Tolaknya. Ia masih saja memalingkan wajahnya.
Farel menghela nafas. "Ayo masuk, aku akan mengantarmu ke sekolah." Titahnya lagi.
Entah kenapa, tiba-tiba air mata Adel lolos tanpa meminta izin. Dengan cepat Adel menyeka air matanya.
Merasa percuma berdebat dengan Farel, akhirnya Adel menurutinya.
Adel berjalan terlebih dahulu, tanpa menghiraukan suaminya itu.
Farel hanya menggelengkan kepalanya, setelah itu ia bergegas menyusul langkah Adel.
Kini keduanya sudah ada dalam perjalanan, mobil Farel membelah jalan raya yang padat akan kendaraan.
Hening, tak ada suara di antara keduanya, Adel memilih diam, gadis itu masih teringat kejadian semalam. Ia pun memilih untuk melihat ke luar jendela.
Sementara Farel lebih fokus untuk menyetir, matanya memandang lurus ke depan.
Setelah hampir setengah perjalanan, Farel melirik gadis yang duduk di sampingnya, sesekali mengusap matanya. Merasa penasaran, Farel menepikan mobilnya terlebih dahulu.
Adel tersentak saat merasa tiba-tiba mobilnya berhenti. Dengan cepat Adel menghapus air matanya agar lelaki itu tidak tau, jika dirinya menangis.
"Kenapa berhenti Om?" tanya Adel. Ia merasa bingung, kenapa Farel menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.
Farel merubah posisi duduknya menghadap ke Adel. "Aku akan mengantarmu ke sekolah setelah kamu berhenti menangis." Ucapnya.
Adel terkejut, kenapa Farel tau jika dirinya menangis. "Adel enggak nangis." Elaknya.
"Kamu pikir aku nggak tau kalau kamu nangis," Farel menatap lekat wajah mungil Adel.
Lagi-lagi air matanya menetes, dadanya rasanya sesak, hatinya pun terasa sangat sakit. "Ya sudah kalau Om enggak mau nganterin Adel ke sekolah, Adel bisa berangkat sendiri." Serunya. Adel berniat keluar dari mobil.
Namun sebuah tangan mampu menahannya. "Jangan pernah lari dari masalah, karena sampai kapanpun masalah itu tidak akan selesai, kalau kita menghindar terus." Ujarnya. Dengan cepat Farel mengunci pintu mobilnya.
Gadis itu kembali terisak, melihat istrinya menangis, dengan cepat Farel menarik tubuhnya dalam pelukannya. Meski gadis itu berusaha menolaknya, tapi tenaga Farel lebih kuat, akhirnya Adel menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
Hal itu yang membuat Adel merasa nyaman, setiap dirinya merasa sedih, Farel selalu memenangkannya.
Tangis Adel pecah, Farel bisa merasakan jika istrinya benar-benar sedih dengan masalah yang ada saat ini.
Farel semakin erat memeluk tubuh mungil Adel.
"Maafkan aku, tidak seharusnya aku membentakmu, tolong maafkan aku," Farel terus meminta maaf, atas kejadian semalam, sesekali lelaki itu juga mencium puncak kepala Adel.
"Adel enggak sanggup Om, Adel masih terlalu muda untuk menghadapi masalah orang dewasa, Adel enggak mau kayak gini," apa yang Adel katakan memang benar, gadis itu masih terlalu muda untuk menghadapi masalah seperti yang sekarang menimpanya.
Farel benar-benar merasa bersalah, tidak seharusnya ia melibatkan gadis belia seperti Adel, dalam masalah orang dewasa.
Farel semakin mempererat pelukannya, rasa bersalah membuat lelaki itu harus bertanggung jawab membuat gadisnya merasa tenang.
"Maafkan aku, ini semua salahku. Sekarang kamu tenang, aku tidak akan membiarkan kamu menghadapi masalah ini sendirian," Farel berusaha untuk menenangkan Adel. Ia tidak mau gadisnya larut dalam kesedihan.
Setelah cukup tenang, Farel mulai melepas pelukannya, lelaki itu menghapus sisa air mata Adel.
Adel mencoba tersenyum, meski hatinya masih terasa sakit.
"Apa Om percaya sama Adel?" tiba-tiba pertanyaan itu Adel lontarkan.
Seketika Farel terdiam. "Iya aku percaya." Farel menganggukkan kepalanya.
Tanpa diduga, Adel menghambur ke pelukan Farel, lelaki itu sedikit terkejut.
Namun dengan cepat Farel membalas pelukan gadisnya.
Terasa sangat nyaman dengan keadaan seperti sekarang. Rasanya ingin seperti itu terus.
"Makasih ya Om," ucap Adel. Gadis itu masih asyik dalam pelukan hangat sang suami.
"Sama-sama," sahut Farel. "Jadi ke sekolah," sambungnya.
Adel melepas pelukannya. "Jadi Om." Adel pun mengangguk dengan senyum manisnya.
"Ya sudah, sekarang jangan sedih lagi, jangan nangis lagi, belajar yang rajin, biar ujian nanti dapat nilai yang bagus," Adel tersenyum saat mendengar nasehat yang Farel berikan.
"Baik Om," balas Adel penuh dengan semangat.
Setelah itu, Farel kembali melajukan mobilnya.
Entah kenapa saat melihat Adel tersenyum, Farel merasa senang. Tapi sebaliknya, saat melihat Adel menangis, ia juga ikut merasa sedih.
Tak butuh waktu lama kini mereka telah tiba di depan gerbang sekolah Adel.
Adel segera bergegas turun dari mobil, tapi tiba-tiba handphone Farel berdering, lelaki itu segera mengangkatnya.
Alhasil Adel mengurungkan niatnya, ia menunggu Farel selesai mengangkat teleponnya.
[ Halo ]
[ Ada apa ]
[ Ya sudah aku ke sana sekarang ]
Setelah selesai, Farel segera menutup sambungan teleponnya. Farel melirik Adel sekilas, setelah menerima telepon tersebut, hatinya mendadak tidak tenang.
"Kenapa Om?" pertanyaan Adel, seketika membuyarkan lamunan Farel.
"Enggak, ini tadi telepon dari kantor," Farel terpaksa berbohong, ia tidak mau Adel kembali sedih, lantaran yang menelponnya tadi adalah Dewi.
"Ya sudah, Adel sekolah dulu ya Om," seperti biasa Adel selalu mencium punggung tangan Farel, setelah itu gadis itu pun turun.
Melihat Adel sudah masuk, Farel segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Hati dan pikirannya menjadi tidak tenang, baru saja ia merasakan ketenangan, sekarang Farel harus menghadapi kenyataan yang mungkin di luar dugaannya.
Hanya butuh waktu 40 menit, Farel tiba di kantornya. Ia bergerak turun dari mobilnya dan segera menuju ke ruangannya.
Setibanya di sana, pandangan Farel langsung tertuju pada Dewi yang tengah duduk santai di sofa. Farel pun bergegas masuk ke dalam.
"Ada apa?" tanya Farel. Ia pun menjatuhkan bobot tubuh di sofa.
"Eh, kamu sudah datang," ujar Dewi. "Aku cuma mau mastiin aja kalau kamu baik-baik saja," sambungnya.
Farel memicingkan matanya, keningnya pun berkerut. "Maksud kamu." Ujarnya.
"Kamu yakin, kalau istri kamu setia?" pertanyaan Dewi membuat Farel semakin bingung.
Farel membuang nafas berat. "Katakan apa yang akan kamu katakan, jangan bertele-tele seperti ini, aku tidak suka." Tegasnya.
Dewi tersenyum. "Baik, aku cuma mau ngasih ini." Dewi menyodorkan handphonenya.
Dengan rasa penasaran, Farel menerima handphone tersebut, dan mulai melihat sebuah video yang telah Dewi putar.
Farel tersentak kaget, ia memperhatikan video tersebut dengan seksama.
Perasaannya campur aduk tidak karuan. Ia merasa heran, kenapa tiba-tiba Dewi memperlihatkan video tersebut.
Farel mencoba mengatur nafasnya yang sudah memburu, kali ini ia tidak mau kelepasan.
Meski darahnya sudah mendidih, tapi lelaki itu harus bisa bersikap tenang.
"Maksud kamu apa memperlihatkan video ini?" tanya Farel. Matanya menatap tajam ke arah Dewi.
"Itu istri kamu kan? Lalu pria itu ... kamu tidak curiga, kalau pria muda itu selingkuhannya," Dewi mencoba memancing kemarahan Farel.
Farel memicingkan matanya. "Selingkuhan." Ujarnya. "Dia teman sekolah Adel, bukan selingkuhannya." Sambung Farel. Ia mencoba menepis prasangka buruknya.
Dewi tersenyum. "Kamu yakin, tapi kamu tidak tau kegiatan apa saja yang Adel lakukan di sekolahnya." Dewi kembali memancing amarah Farel.
Farel menjadi gusar memikirkan perkataan Dewi, ia memang tidak tau apa saja yang Adel lakukan selama di sekolahan. Tapi Farel pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika Adel seperti tidak suka dengan pria itu. Farel kembali bimbang dengan keadaan yang sekarang.
"Aku sudah mengirim video ini ke handphone kamu, kamu bisa melihatnya dengan lebih teliti, nanti kamu akan dapat jawabannya. Aku hanya kasihan sama kamu, bisa-bisanya kamu diperdaya oleh ABG labil seperti dia, kamu harus lebih hati-hati sekarang," setelah Dewi mengatakan hal itu, perempuan itu bergegas bangkit dari duduknya, dan beranjak pergi.
Dewi tersenyum puas melihat Farel dalam kebimbangan seperti itu. Tidak lama lagi Dewi bisa mendapatkan lelaki itu.
Sementara Farel masih terdiam, lelaki itu nampak tengah menahan emosinya.
Otaknya kembali terlintas video yang baru saja ia lihat.
Di mana Adel terlihat tengah bercanda dengan Revan, pria yang pernah Farel lihat di sekolahan Adel. Dalam video itu keduanya terlihat sangat bahagia, tawa dan senyum Adel perlihatkan begitu lepas, seperti tidak ada beban sedikitpun.
Farel memang sering melihat Adel tersenyum dan tertawa saat mereka tengah bersama.
Namun Farel merasa seperti ada beban dalam diri Adel. Entah itu hanya perasaan Farel saja, atau memang itu kenyataan.
Farel frustasi memikirkan masalah itu, lelaki itu nampak mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Setelah itu Farel bangkit dan menyambar kunci mobilnya, lalu keluar dari ruangannya.