
Pagi hari yang cerah, secerah hati dua insan yang baru saja mengungkapkan isi hatinya. Adel dan Farel kini masih bermalas-malasan di atas tempat tidur. Padahal hari ini Farel ada meeting, sedangkan Adel juga harus sekolah.
Farel masih saja memeluk tubuh mungil istrinya itu. Rasanya sangat enggan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Tetapi berbeda dengan Adel, gadis itu sudah berkali-kali meminta Farel untuk segera bangun, tapi lelaki itu menolaknya.
"Ayo Om bangun udah siang," ajak Adel. Tetapi yang diajak hanya diam, bahkan semakin mempererat pelukannya.
"Sebentar lagi Sayang, rasanya pengen kayak gini terus." Farel mencium pipi mulus Adel.
"Udah jam 6 Om, nanti Adel bisa terlambat ke sekolah," ujar Adel mengingatkan.
"Adel belum mandi, Om juga kan belum mandi," sambungnya.
Farel membuang nafas. "Mandi bareng ya."
"Enggak ah. Nanti yang ada Om macem-macem lagi," tolak Adel.
"Ya udah kalau nggak mau. Sampai siang, sampai sore, sampai malam, bahkan sampai besok. Kita bakalan kayak gini terus," kekeh Farel.
Adel mendengus kesal. "Tapi Om jangan macem-macem."
Farel tersenyum. "Iya Sayang."
Akhirnya Adel pun lebih memilih mengalah. Jika di biarkan, seorang Farel tidak akan pernah main-main dengan ucapannya. Keduanya pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Pukul 06.30 keduanya sudah siap. Adel sudah siap dengan seragam sekolahnya. Begitu juga dengan Farel yang sudah siap dengan baju kerjanya. Kini mereka tengah menikmati sarapan pagi.
Ritual sarapan telah selesai. Keduanya bersiap-siap untuk segera pergi. Seperti biasanya, meski Farel selalu memberinya uang saku. Tapi Adel tak pernah lupa untuk membawa bekal. Menurutnya makanan dari rumah lebih sehat.
***
Mobil Farel berhenti di depan gerbang sekolah Adel. Seperti biasanya, sebelum Adel masuk gadis itu berpamitan kepada suaminya itu. Lalu Farel pun tak pernah lupa untuk memberikan istri kecilnya nasehat.
"Adel sekolah dulu ya Om," pamitnya lalu mencium punggung tangan Farel.
"Iya, sekolah yang bener. Cepat lulus biar cepat buat pesenan mama sama papa," kata Farel. Ia pun mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan sih. Nggak usah itu terus deh yang Om pikirin." Adel memukul lengan kekar suaminya itu.
"Iya, iya. Ya udah sana," sahut Farel.
Adel pun segera keluar dan bergegas masuk ke dalam. Setelah itu Farel segera melajukan mobilnya menuju ke kantor.
Sejarah baru telah Farel dan Adel arungi. Lembaran baru kebahagiaan tengah mereka rasakan.
***
Mobil Farel berhenti di pelataran kantor. Dengan cepat lelaki itu keluar dan melangkah masuk ke dalam. Selang beberapa menit Raka yang melihat Farel sudah tiba di kantor, segera menghampirinya.
"Raka, apa saja jadwal aku hari ini?" tanya Farel. Keduanya pun berjalan menuju ke ruangan Farel.
Raka segera membacakan jadwal Farel hati ini. "Pukul 9 ada pertemuan penting dengan Tuan Robert, pukul 11 meeting, pukul 1 pertemuan dengan klien yang dari Singapura, dan pukul 3 meeting."
Farel mengangguk paham. "Ok, kamu siapkan saja semuanya."
"Semuanya sudah siap," sahut Raka, dan dibalas dengan senyuman oleh Farel.
Farel bergegas masuk ke dalam ruangannya. Sementara Raka kembali ke meja kerjanya. Setibanya di ruangan, Farel langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di kursinya. Senyum tak pernah sirna saat mengingat kejadian semalam.
Sungguh malam yang sangat indah. Meski keduanya belum melakukan penyatuan. Tetapi itu juga tak kalah indah. Ingin rasanya Farel cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, dan bergegas pulang agar bisa bertemu dengan istri kecilnya.
Waktu berjalan begitu cepat, pukul 9 Raka datang ke ruangan Farel. Lelaki itu tidak datang sendiri, melainkan dengan Tuan Robert partner kerja Farel yang berasal dari Amerika Serikat.
"Welcome Mr. Robert," sapa Farel. Ia pun berjabat tangan dengan Tuan Robert.
"Yes." Sahutnya.
"Please sit, sir," ajak Farel. Mereka pun berjalan menuju sofa, dan menjatuhkan bobot tubuhnya.
Tidak membuang waktu lama lagi. Farel dan Tuan Robert segera membicarakan masalah pekerjaan mereka. Tuan Robert terlihat antusias mendengarkan apa yang Farel jelaskan.
"How sir, are you interested in working with my company?" tanya Farel.
"Your company is really great, i really like the performance of you and the employees who work at this company," puji Tuan Robert.
Tiba-tiba saja Tuan Robert mengulurkan tangannya. "I am willing to work with Mr. Farel's company."
"Ok, thank you sir." Farel membalas uluran tangan Tuan Robert.
"Yes, you are welcome," sahutnya.
Pertemuan dengan Tuan Robert berjalan dengan lancar. Setelah itu Farel kembali di sibukkan dengan pekerjaannya. Masih banyak berkas-berkas yang harus ia tanda tangani.
***
Di sekolah Adel tengah duduk di perpustakaan. Setelah makan Adel memang selalu datang ke perpus untuk membaca buku. Dan seperti biasa, Revan yang tak kenal pantang menyerah, selalu mengikuti Adel kemana gadis itu pergi.
"Halo Del." Revan menjatuhkan bobot tubuhnya di bangku yang berada di depan Adel.
Adel hanya melirik sekilas. Rasanya sangat malas saat melihat cowok itu. Bukan apa, Adel sangat jengah dengan sikap Revan. Jika Revan bersikap biasa layaknya seorang teman. Tentu Adel akan bisa bersikap lebih baik dan ramah padanya.
"Baca apaan sih, serius banget?" tanya Revan basa-basi.
"Bisa baca judul bukunya kan," sahut Adel.
Revan menghela nafas. "Del, kamu bisa nggak sih bersikap sedikit ramah sama aku, jangan cuek terus kayak gini."
Adel meletakkan buku yang ia pegang. "Aku bisa bersikap ramah sama kamu, asal kamu juga bisa bersikap biasa layaknya seorang teman."
Tiba-tiba saja Revan memegang kedua tangan Adel. Dan itu yang membuat Adel tidak suka dengan Revan. Sikapnya yang keras kepala, dan selalu menuntut apa yang dia inginkan.
"Revan lepas nggak," ucap Adel. Gadis itu berusaha untuk melepaskan tangan, tetapi Revan terlalu kuat.
"Enggak." Tolak Revan. Matanya menatap tajam ke arah Adel.
"Kamu tuh kenapa sih selalu kayak gini sama aku. Kamu pikir aku suka dengan cara kamu yang seperti ini," ungkap Adel.
"Aku kayak gini karena aku suka dan cinta sama kamu. Harus bagaimana lagi aku tunjukin ke kamu, kalau aku benar-benar cinta sama kamu," tutur Revan.
"Aku akan seperti ini terus sampai kamu mau jadi pacar aku," tukas Revan.
"Jangan mimpi kamu." Adel mendengus kesal.
"Kenapa? Apa kamu lebih memilih pria dewasa itu di bandingkan dengan aku," ujar Revan.
Adel tersentak dengan apa yang Revan ucapkan. Gadis itu tidak tau kemana arah bicara Revan. Dan apa maksudnya dengan pria dewasa. Apa yang Revan maksud adalah Farel.
"Maksud kamu?" tanya Adel.
Revan melepas tangan Adel. "Aku sudah tau rahasia kamu."
Adel semakin bingung dengan perkataan Revan. "Aku enggak ngerti kamu ngomong apa."
Adel berniat bangkit dan pergi, tetapi dengan cepat Revan mencegahnya. Cowok itu menyuruh Adel untuk duduk kembali. Setelah itu Revan mengeluarkan handphonenya.
"Kamu lihat ini." Revan menunjukkan sebuah rekaman video Adel dan Farel saat di taman.
Adel menutup mulutnya, lalu menatap Revan tak percaya. "Dari mana kamu dapat rekaman itu."
"Kenapa? Apa kamu takut, karena status kamu yang sebenarnya sudah terbongkar." Revan menyunggingkan senyumnya.
Adel berusaha merebut handphone milik Revan, dan berniat untuk menghapus rekaman video tersebut. Adel takut jika nanti Revan akan menyebarnya.
"Revan halus nggak video itu," pinta Adel.
"Tidak semudah itu Adelku sayang." Revan menyimpan handphonenya lagi.
"Revan mau kamu apa sih!" Bentak Adel.
Revan tersenyum. "Aku cuma mau kamu jadi pacar aku."
"Kamu udah gila ya," ujar Adel penuh dengan emosi.
Revan tertawa. "Aku memang sudah gila Adel, dan aku gila karena kamu."
Mata Adel menatap Revan dengan penuh kebencian. Gadis itu tidak menyangka kalau Revan bisa berbuat selicik itu. Yang Adel khawatirkan adalah, jika nanti Revan menyebar video itu, atau bahkan menunjukkan pada pihak sekolah.
"Revan, aku mohon tolong kamu hapus video itu," ucap Adel. Gadis itu memohon agar Revan mau menghapus rekaman video itu.
"Untuk apa. Justru aku akan menyebarnya, dan aku akan menunjukkan video ini pada teman-teman di sekolah ini." Revan bangkit dari duduknya.
"Kecuali kamu mau menjadi pacar aku. Ingat, kalau kamu menceritakan hal ini kepada orang lain, termasuk juga su-a-mi kamu itu. Aku enggak segan-segan untuk ngasih video ini pada pihak sekolah," sambungnya dan beranjak pergi.
Adel masih terdiam, pikiran Adel benar-benar kacau. Ia tidak mau kalau Revan benar-benar menyebar video itu. Tapi Adel juga tidak mungkin menerima Revan menjadi pacarnya.
"Apa yang harus aku lakukan. Kalau pihak sekolah sampai tau, aku bisa dikeluarin dari sekolah ini. Dan aku tidak bisa ikut ujian," batin Adel.
Setelah itu Adel memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Adel berjalan dengan tatapan kosong. Pikirannya benar-benar kacau. Rasa takut dan khawatir yang kini Adel rasakan.
Riska yang melihat Adel tengah berjalan menuju ke kelas. Dengan cepat gadis itu menyusul sahabatnya itu.
"Hay Del, kenapa tuh muka. Kok cemberut gitu," ujar Riska.
"Eh kamu Ris, aku enggak apa-apa kok," elak Adel. Gadis itu belum siap jika sahabatnya tau tentang dirinya.
"Beneran enggak apa-apa." Riska menatap Adel untuk meyakinkan.
Adel menatap Riska dengan penuh tanda tanya. "Ris aku."
Karena suasana sangat ramai. Akhirnya Riska membawa Adel ke taman. Di taman terlihat sepi, hanya ada beberapa siswa saja di sana.
"Ada apa Del, kamu cerita sama aku." Riska menggenggam tangan Adel dengan erat.
Adel bingung, apakah dia harus cerita atau tidak. Adel belum siap untuk jujur dengan sahabatnya itu. Mata Adel mulai berkaca-kaca, dan tanpa di minta cairan bening itu menetes.
"Riska aku .... " ucapnya yang terpotong.
"Iya kenapa? Kamu jangan bikin aku panik dong." Riska menghapus air mata Adel.
Tiba-tiba saja Adel menghambur ke pelukan sahabatnya itu. Ingin sekali Adel menceritakannya, tapi entah kenapa lidahnya terasa kelu. Ancaman Revan masih saja melintas di otaknya.
Riska hanya bisa menghela nafas. "Kamu tenang ya, kalau kamu belum bisa bercerita sekarang enggak masalah kok."
Setelah cukup tenang, Adel pun melepas pelukannya. "Makasih ya Ris."
Riska tersenyum. "Sama-sama Del."
Setelah itu, keduanya bergegas pergi dari taman. Mereka segera kembali ke kelas. Lantaran pelajaran terakhir akan segera di mulai. Entah kenapa, tiba-tiba Adel berfikir jika semua itu terjadi gara Farel.
Jika saja Farel tidak melakukan itu saat di taman. Mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. Mungkin status Adel yang sudah bersuami masih tersimpan rapat.
***
Pukul 3 sore Adel sudah tiba di rumah, tentunya bersama dengan Farel. Tetapi lelaki itu benar-benar merasa heran dengan sikap istri kecilnya itu. Sejak dalam perjalanan pulang, Adel hanya diam.
Jika di tanya tidak menjawab. Farel menoleh, Adel memalingkan wajahnya. Farel berusaha meraih tangan Adel. Dengan cepat gadis itu menepisnya. Sampai di rumah Adel masih diam.
"Adel kamu kenapa? Dari tadi diem terus. Apa kamu ada masalah?" tanya Farel. Sementara yang di tanya hanya diam.
Farel berhasil meraih tangan Adel. Gadis itu berusaha memalingkan wajahnya. Tapi Farel berhasil menatap mata Adel. Farel terkejut saat melihat gadisnya tengah menangis.
"Adel kamu kenapa? Siapa yang sudah memburu kamu menangis." Farel berniat ingin menghapus air mata Adel, tapi dengan cepat gadis itu menepisnya.
"Ini semua gara-gara Om. Adel benci sama Om." Adel berlari naik ke atas menuju ke kamar.
Sementara Farel masih terdiam mematung. Ia tidak tau apa masalah yang menimpa Adel. Tetapi kenapa tiba-tiba Adel menyalahkannya. Farel masih menatap punggung Adel yang terus berlari menaiki anak tangga.
Jangan menuntut kebahagiaan hanya dari kebersamaan.
Karena di dalam kebersamaan masih banyak perjuangan. Dan perjuangan itu tidak berhenti sampai pada pernikahan.
Justru setelah pernikahan perjuangan itu akan terasa lebih berat.