Ahan

Ahan
Kelulusan_Adel_23



Hari demi hari telah berlalu, dan minggu demi minggu telah terlewati. Hari yang telah Adel tunggu-tunggu telah tiba. Di mana hari pengumuman kelulusan akan segera tiba. Seminggu lagi hari itu akan tiba.


Setelah Adel sukses menjalankan ujian sekolahnya. Kini gadis itu tengah menunggu hari kelulusannya. Begitu juga dengan Farel. Justru lelaki itu sangat tidak sabar menunggu hari kelulusan istri kecilnya itu.


Senyum tak pernah pudar dari keduanya. Terlebih Farel, pasalnya saat lulus nanti, Farel akan meminta hadiah yang sangat spesial. Bukannya Adel yang dikasih hadiah, justru Farel yang memintanya.


Pagi ini cuaca tidak terlalu bersahabat. Awan gelap bergelayut manja di langit. Waktu baru menunjukkan pukul 6 pagi, tapi suasana seperti sore hari. Sinar matahari enggan menyemburkan cahayanya. Hanya rintikan air hujan yang mulai menetes.


Tetesan itu kini berubah menjadi guyuran air hujan yang cukup deras. Hembusan angin menambah sejuk suasana di pagi ini. Farel dan Adel pun enggan untuk membuka selimut tebal yang menutupi tubuh keduanya.


Farel mendekap tubuh mungil istrinya itu agar tidak kedinginan. Sementara Adel merasa begitu nyaman berada dalam dekapan hangat sang suami. Rasanya ingin tetap dalam posisi seperti itu. Enggan untuk lepas dari dekapan hangat Farel.


"Sayang." Panggil Farel. Sementara Adel hanya berdehem.


"Main yuk," ajak Farel. Lelaki itu berusaha memberikan Adel kode.


"Main apa Om?" tanya Adel.


"Main kuda-kudaan," jawab Farel.


Adel mengernyitkan keningnya. "Emang kita anak kecil apa, masa main kuda-kudaan."


"Main kuda-kudaan kita lebih seru, dan pastinya .... "


Adel mendongak menatap wajah sang suami. "Dan apa Om."


Farel tersenyum. "Dan bikin ketagihan."


"Masa sih Om," ujar Adel yang merasa tidak percaya dengan ucapan Farel.


"Beneran, mau coba." Farel menatap lekat wajah Adel, dengan senyum yang membuat Adel bergidik ngeri.


"Enggak ah Om. Om cuma mau ngerjain Adel kan," tolak Adel.


Farel mendesah. "Huft, ya udah. Tapi setelah lulus nanti kamu harus kasih aku hadiah."


"Kok Om yang minta hadiah, harusnya kan Adel Om." Bibir mungil Adel mengerucut.


Farel begitu gemas saat melihat bibir mungil istrinya itu, dengan cepat Farel menciumnya. Sang empu seketika melotot dengan apa yang telah Farel lakukan. Padahal itu bukan untuk yang pertama kalinya.


"Enggak usah melotot, apa mau yang lebih dari itu, aku siap kok," goda Farel. Seketika wajah Adel bersemu merah.


Adel hanya diam dan segera memeluk tubuh kekar suaminya itu, lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Farel. Sementara Farel hanya terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya itu.


***


Waktu terus bergulir, dan hari yang telah Adel tunggu telah tiba. Di mana hari pengumuman kelulusan hasil ujian yang telah Adel laksanakan. Rasa tak sabar terus gadis itu rasakan, begitu juga dengan Farel.


Pagi ini Adel tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, tapi berbeda dengan Farel, lelaki itu nampak begitu santai. Bahkan sedari tadi Farel hanya duduk dengan memainkan ponselnya.


Setelah selesai Adel langsung menghampiri suaminya itu.


"Kok Om nggak siap-siap sih," ujar Adel yang kini berdiri di hadapan Farel.


Farel melirik sekilas. "Emang mau kemana."


Adel berdecak kesal. "Hari ini 'kan hari kelulusan Adel Om."


Farel bangkit dari duduknya dan meletakkan handphonenya di atas nakas.


Farel berjalan ke arah jendela dan berdiri menghadap ke luar sana. Lelaki itu menyimpan kedua tangannya di saku celananya.


Adel semakin kesal melihat Farel yang seperti itu. Gadis itu menghampiri Farel dengan menghentakkan kakinya.


Bibirnya yang mungil sudah mengerucut. Wajahnya yang imut sudah terlihat kusut.


"Ish, Om nyebelin banget sih. Ini udah siang Om, malah nyantai kayak gini." Adel menarik-narik tangan Farel.


Farel hanya menolehnya. "Emang kamu udah siap."


"Om enggak lihat apa, Adel udah siap dari tadi." Adel berdecak kesal.


Farel menarik pinggang ramping Adel, dan mengeratkan tubuh mungil Adel. Sementara tangan kanannya membelai wajah imut istrinya itu. Adel sedikit ngeri dengan tatapan mata yang Farel berikan.


"Yakin kamu sudah siap," ujar Farel meyakinkan.


Adel hanya mengangguk. "Iya Om."


"Kamu sudah siap untuk memberikan mama sama papa cucu," ujar Farel. Seketika Adel terlonjak kaget.


"Apa, kok cucu sih Om." Mata Adel seketika melotot.


Farel hanya tersenyum. "Sudah, sudah, kita bahas itu nanti saja, aku siap-siap dulu ya."


"Ish dasar, Om-Om aneh." Adel berjalan keluar dari kamar.


30 menit kemudian, Adel dan Farel sudah siap untuk pergi. Adel sedikit terpesona melihat penampilan Farel yang sudah seperti anak ABG. Adel akui, suaminya itu terlalu tampan, meski usianya sudah hampir kepala 3, tapi soal penampilan tidak kalah dengan anak muda.


Mobil sport hitam telah melesat jauh meninggalkan halaman rumahnya. Mobil Farel membelah jalanan ibu kota yang selalu padat dengan kendaraan. Farel fokus menyetir dengan tatapan mata lurus ke depan.


Sementara Adel memilih melihat pemandangan ke luar jendela. Gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi. Serta bangunan lainnya yang berjejer di seberang jalan. Orang-orang yang berlalu-lalang memenuhi jalanan ibu kota.


***


Kini mobil Farel sudah berhenti di halaman sekolah Adel. Dengan senyum yang terus mengembang, Adel keluar dari mobil dan pastinya diikuti oleh Farel.


Semua mata tertuju pada keduanya. Adel merasa risih dengan tatapan dari teman-temannya.


"Om, Adel duluan masuk ya," ujar Adel.


"Iya." Sahut Farel dengan tersenyum.


Adel berjalan masuk ke kelas terlebih dahulu. Sementara Farel memilih untuk melihat-lihat sekeliling sekolahan tersebut. Farel sama sekali tidak peduli dengan tatapan dari siswa-siswi yang berada di sekolah itu.


Pukul 8 tepat, semua siswa-siswi serta para wali murid sudah berkumpul di aula sekolah. Semuanya sudah duduk tenang di kursi masing-masing. Begitu juga dengan Adel, gadis itu tengah duduk bersebelahan dengan ibunya.


Adel mengedarkan pandangannya, mencari sosok lelaki yang tak lain adalah Farel. Matanya menyapu bersih setiap sudut aula tersebut. Dan pandangannya berhenti pada seorang lelaki yang tengah duduk di depan bersama dengan guru-guru di sekolahan itu.


"Kok Om Farel bisa duduk di situ sih," gumam Adel dalam hati.


Acara telah di mulai, suasana nampak tegang saat pengumuman hasil kelulusan di bagikan, setelah semua siswa-siswi mendapat sebuah amplop. Mereka akan membukanya secara bersamaan, dan saat itu juga mereka akan tahu, siapa yang lulus, dan siapa yang tidak lulus.


Dag-dig-dug jantung mereka berdebar-debar saat akan membuka amplop tersebut. Setelah terbuka dan membaca hasilnya, detik itu juga sorak sorai terdengar begitu ramai. Sujud syukur pun tak luput dari semua siswa-siswi yang berada di aula tersebut.


Farel tersenyum bahagia saat melihat istri kecilnya bersorak gembira. Adel pun tersenyum saat melihat Farel tengah tersenyum padanya. Ingin sekali Farel memeluk Adel saat itu juga, tapi itu tidak mungkin Farel lakukan.


Suasana aula akan heboh jika Farel melakukan itu. Farel hanya mengacungkan jempol pada gadisnya itu. Setelah itu, acara selanjutnya adalah pemberian hadiah serta piala pada 3 siswa-siswi yang mendapatkan nilai terbaik.


"Adel lulus Bu, Adel juga mendapatkan nilai terbaik," ucap Adel. Gadis itu segera memeluk ibunya.


"Iya Sayang. Selamat ya, kamu memang anak ibu yang paling hebat." Mira tersenyum bahagia. Rasa syukur pun tak lepas dari perempuan paruh baya itu.


Acara demi acara telah terselesaikan dengan baik. Semuanya berjalan dengan lancar. Kini para siswa-siswi telah berhamburan keluar dari aula. Mereka akan merayakan hari kelulusannya. Suasana sekolah begitu sangat ramai.


Kini Adel dan ibunya tengah berjalan menuju ke parkiran, ada beberapa bunga yang Adel terima dari beberapa temannya. Langkah Adel terhenti saat melihat Farel tengah berjalan keluar dari aula bersama dengan Bapak kepala sekolah.


Setelah Farel mengakhiri pembicaraannya dengan Bapak kepala sekolah. Mereka saling berjabat tangan, dan setelah itu Farel berjalan menghampiri Adel dan juga ibu mertuanya. Senyum tak pernah lepas dari keduanya.


"Selamat ya Sayang, kamu memang hebat." Farel mencium kening Adel.


"Makasih ya O ... Mas," ucap Adel yang hampir saja keceplosan.


Farel tersenyum. "Sama-sama."


"Ya sudah, kita pulang sekarang," sambung Farel.


"Ya sudah, ayo. Ayo Bu," sahut Adel.


Mereka pun berjalan menuju ke parkiran. Langkah mereka terhenti saat Adel melihat Riska teman dekatnya tengah berjalan menghampirinya.


"Selamat ya Del, kamu memang sahabatku yang paling hebat." Riska memeluk sahabatnya itu.


"Makasih ya Ris." Adel membalas pelukan sahabatnya itu.


"Kok kamu bisa sama dia Del." Riska menyenggol lengan Adel, seraya melirik ke arah Farel.


Adel terlihat bingung saat Riska mempertanyakan kenapa dirinya bisa bersama dengan Farel. Gadis itu hanya tersenyum tidak jelas. Apa mungkin sekarang saatnya temannya itu tau jika dirinya sudah menikah.


Tiba-tiba saja Farel mengulurkan tangannya kepada Riska. "Aku Farel suami Adel."


Riska terkejut mendengar hal itu. Gadis itu hampir saja berteriak jika saja Adel tidak membekap mulutnya. Riska masih belum percaya jika Adel telah menikah.


"Seriusan Del. Kok kamu enggak bilang-bilang kalau udah married. Sama cowok ganteng lagi." Riska menyenggol lengan Adel beberapa kali.


"Ish, apaan sih. Emang aku harus kasih pengumuman ya Ris," ujar Adel yang sedikit kesal.


"Ya nggak juga sih." Riska tersenyum lalu memeluk sahabatnya itu.


"Ya sudah, aku duluan ya. Mama sama papa udah nungguin. Sekali lagi selamat ya." Riska menjabat tangan Adel, ibunya, dan juga Farel. Setelah itu gadis itu pergi.


Setelah Riska pergi, Adel dan ibunya serta Farel segera naik ke mobil. Farel pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobil Farel membelah jalanan yang terlihat sepi. Adel dan Farel tak henti-hentinya tersenyum.


***


Pukul 5 sore Adel dan Farel baru tiba di rumah, setelah mengantarkan Ibunda Adel pulang, dan merayakan kelulusan Adel bersama dengan kedua adiknya. Kini Adel dan Farel sudah tiba di rumah.


Adel bergegas naik ke atas dan tentunya diikuti oleh Farel. Adel segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Farel memilih duduk di sofa untuk menunggu istrinya selesai mandi.


Selang beberapa menit Adel keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk kimono. Adel berjalan mendekati Farel yang masih duduk santai di sofa dengan memainkan handphonenya.


"Udah selesai mandinya?" tanya Farel, saat menyadari jika Adel sudah berdiri di sampingnya.


"Udah Om. Sekarang giliran Om mandi sana, bau tau." Adel berjalan menuju ke ruang ganti. Tapi dengan cepat Farel meraih tangan Adel, dan detik itu juga tubuh Adel jatuh dipangkuan Farel.


"Kalau udah mandi mau ngapain." Farel melingkarkan tangannya di perut Adel, dan menenggelamkan kepalanya di ceeuk leher Adel.


"Enggak ngapa-ngapain lah Om," ujar Adel yang merasa geli dengan tingkah suaminya itu.


"Ya udah, kayak gini aja ya." Farel semakin mempererat lingkarkan tangannya.


"Tapi Om kan belum mandi. Mandi dulu sana." Adel mencoba untuk bangkit, tapi tenaga Farel lebih kuat.


"Cium dulu, baru mau mandi," ucap Farel, yang membuat Adel sedikit bergidik ngeri.


"Om lama-lama mesum juga ya," ujar Adel.


"Mesum sama istri sendiri kan nggak papa," sahut Farel. "Gimana."


"Kalau enggak mau ya nggak papa. Tapi kita akan kayak gini terus sampai kamu mau nyium aku," ancam Farel.


Adel terdiam sejenak. "Tapi cuma cium doang kan Om," ujar Adel memastikan.


"Iya." Jawab Farel.


Adel melepas tangan Farel yang melingkar di perutnya. Perlahan Adel merubah posisi duduknya. Setelah itu dengan perasaan yang entah bagaimana. Adel mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Farel. Dengan memejamkan matanya Adel mencium pipi kiri Farel.


Farel tersenyum, lalu ia juga mencium bibir Adel dengan begitu lembut. "Makasih ya Sayang."


Adel melongo saat merasa benda kenyal itu bersentuhan. Farel mendudukkan Adel di sofa yang masih tak bergeming, sementara Farel berjalan masuk ke kamar mandi dengan senyum yang mengembang.


Pukul 8 malam Adel nampak sibuk di kamar. Gadis itu tengah duduk di atas ranjang, Adel sedang sibuk membuka beberapa hadiah dari teman-temannya.


Selang beberapa menit Farel masuk ke dalam dan berjalan mendekati sang istri.


"Sayang, ikut aku sebentar ya." Farel menarik tangan Adel yang tengah sibuk membuka hadiah tersebut.


"Mau kemana Om." Adel keteteran mengikuti langkah Farel.


"Udah ikut aja, nanti juga tau." Farel masih menarik tangan Adel hingga tiba di lantai bawah.


Setelah tiba di pintu samping rumah, Farel berdiri di belakang Adel dan kedua tangannya menutup kedua mata Adel. Gadis itu terlihat sangat bingung, tapi ia pasrah, karena Adel juga merasa penasaran. Mereka terus berjalan keluar dari rumah dan menuju ke taman di samping.


Setelah tiba di tengah taman, Farel menghentikan langkahnya. "Jangan di buka dulu matanya ya."


Adel hanya menurut. Perlahan Farel melepaskan tangannya dan berdiri di samping Adel. "Sekarang kamu boleh buka mata."


Perlahan Adel membuka matanya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Adel ternganga melihat sekelilingnya. Suasana yang gelap, tapi begitu romantis, dengan berbagai hiasan yang ada, hanya ada lilin yang menerangi taman itu.


Adel menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Rasa tak percaya dengan apa yang Adel lihat. Bahkan saat Farel menyalakan kembang api yang meluncur ke atas dengan bertuliskan 'i love you Adelia' seketika air mata Adel meluncur.


Rasa bahagia yang belum pernah Adel rasakan. Dan sekarang Adel bisa merasakannya bersama dengan lelaki yang sangat Adel cintai. Meski bukan di tempat mewah, tapi hal itu sudah cukup bagi Adel.


Farel mendekati Adel dan membingkai wajah sang istri.


"Kenapa menangis, hem?" tanya Farel dengan lembut.


Perlahan Farel menghapus air mata Adel yang terus mengalir. Dan detik itu juga Adel menghambur ke pelukan suaminya itu. Adel kembali terisak, sementara Farel semakin mempererat pelukannya. Gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.


"Terima kasih ya Om. Adel belum pernah merasakan sebahagia ini," ucap Adel dengan air mata yang terus mengalir.


Farel melepas pelukannya dan menangkup wajah Adel dengan kedua telapak tangannya. "Apapun akan aku lakukan, untuk bisa membuat kamu tersenyum bahagia."


Adel kembali memeluk tubuh kekar suaminya itu. "Terima kasih ya Om. Adel Sayang banget sama Om. Adel nggak mau kehilangan Om."


"Iya Sayang, aku juga tidak mau kehilangan istri yang unik seperti kamu." Farel mencium puncak kepala Adel. Setelah itu Farel kembali mempererat pelukannya.


Hari ini adalah hari bahagia bagi Adel dan juga Farel. Kebahagiaan itu bisa terjadi kapan saja. Bahkan hal sederhana seperti itu pun sudah bisa membuat hati


seseorang yang kita sayangi dan cintai merasakan kebahagiaan.