Ahan

Ahan
Pernikahan_Raka_25



Kebahagiaan tidak memiliki tolak ukur yang pasti. Hanya kita sendirilah yang tau, apa yang bisa membuat kita merasakan bahagia. Dan kita juga yang dapat merasakan kebahagiaan seperti apa yang kita rasakan bersama dengan pasangan kita.


Bahagia itu sederhana, bahagia yang sesungguhnya adalah bukan karena harta ataupun kedudukan yang tinggi. Bahagia bisa terwujud cukup dengan orang yang kita sayangi. Melihat pasangan kita tersenyum, rasa bahagia itu akan hadir seketika.


Begitu juga dengan Adel dan Farel, hari demi hari telah mereka lalui bersama, minggu demi minggu, bahkan bulan demi bulan sudah mereka arungi berdua. Susah senang telah mereka rasakan bersama. Kini Adel dan Farel tengah berada dalam zona nyaman, di mana keduanya tengah merasakan kebahagiaan dalam bahtera rumah tangganya.


Pagi ini Adel tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan juga tentunya sang suami. Sejak Adel lulus sekolah, wanita itu memutuskan untuk mengerjakan tugas rumah tangganya sendiri. Adel ingin menjadi istri yang sesungguhnya, walaupun ia tau suaminya mampu membayar pembantu berapapun, tapi Adel kekeh dengan keinginannya itu.


Namun berbeda lagi dengan Farel, semenjak Farel mendapatkan haknya sebagai seorang suami, pria itu semakin hari semakin menunjukkan sikap manjanya. Dulu setiap pergi ke kantor, ia selalu menyiapkan semuanya sendiri, tapi sekarang, Adel harus lebih gesit dalam melayani suaminya itu.


Seperti pagi ini, setelah selesai menyiapkan baju kerja untuk Farel. Wanita mungil itu bergegas menuju ke dapur untuk memulai memasak. Baru saja selesai memasak, tiba-tiba Adel mendengar teriakkan Farel dari dalam kamar.


"Sayang." Teriak Farel dari dalam kamar.


"Iya sebentar," sahut Adel, yang tak kalah keras. Adel bergegas naik ke atas untuk menuju ke kamarnya.


Setibanya di kamar, terlihat Farel tengah duduk di tepi ranjang, sembari memegang dasi. Adel tau, apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Dengan cepat Adel berjalan menghampiri Farel, dan mengambil alih dasi tersebut.


"Mas sekarang manja banget sih jadi orang, dulu juga biasanya masang sendiri," gerutu Adel. Meski begitu tangan mungilnya tetap berkutat pada dasi yang melingkar di leher suaminya itu.


"Enggak apa-apa lah Sayang, begini nikmatnya kalau sudah punya istri." Kedua tangan Farel melingkar di pinggang sang istri.


"Sayang, di sini sudah ada Farel junior apa belum." Tangan Farel kini berpindah ke perut Adel. Di elus perut Adel yang masih rata itu.


"Belum lah Mas," ujar Adel. Tangan mungil masih membenarkan dasi yang ia pasang.


"Kalau begitu, kita harus usaha lagi dong," ujar Farel.


"Udah selesai, sekarang mas Farel sarapan dulu, udah siang," ucap Adel. Wanita itu mengambil arloji yang terletak di atas nakas. Lalu dengan cepat memasangkannya di pergelangan tangan Farel.


Setelah selesai, Adel pun berniat untuk segera keluar dari kamar. Tapi niatnya terhenti saat tangan kekar Farel menarik pinggang ramping Adel. Farel memeluknya dengan posisi masih duduk di tepi ranjang. Pria itu menempelkan kepalanya di perut sang istri.


"Aku nggak usah kerja aja ya. Kita usaha buat .... "


"Sudah siang Mas, kalau mas Farel enggak pergi ke kantor, nanti nggak Adel kasih jatah," potong Adel dengan cepat. Lalu Adel mencium bibir Farel dengan singkat.


Farel tersenyum. "Ok Sayang."


Farel pun bangkit dari duduknya. Ibarat tanaman layu yang tersiram air, seketika segar kembali. Dengan senyum yang mengembang, Farel merangkul pundak istrinya lalu berjalan keluar dari kamar, dan bergegas menuju ke meja makan.


Kini Adel dan Farel sudah berada di meja makan. Dengan sigap Adel meladeni sang suami. Farel benar-benar beruntung memiliki istri seperti Adel. Begitu unik di mata Farel. Meski usianya masih muda, tapi pemikirannya tidak bisa di remehkan.


"Mas nanti Adel mau ke rumah Ibu, udah lama Adel nggak ke sana," ujar Adel. Tangannya masih sibuk mengambil lauk untuk sang suami.


"Boleh, sama siapa," sahut Farel. Tangannya terulur untuk menerima piring yang Adel sodorkan.


"Kan bisa naik taksi Mas," balas Adel.


"Nggak boleh, nanti aku antar sekalian ke kantor. Lalu aku jemput setelah dari kantor," tolak Farel. "Jangan protes."


Adel hanya bisa menghela nafas. Memang benar, sekarang Farel begitu khawatir jika Adel bepergian tanpa didampingi oleh dirinya. Adel hanya bisa menurut. Sebab jika tidak, Adel akan berdosa.


"Ya sudah, terserah mas Farel saja." Adel tersenyum, hal itu membuat Farel semakin cinta.


Setelah itu keduanya kembali melanjutkan ritual sarapan paginya. Setelah selesai, Adel segera membereskan meja makan, dan mencuci piring dan gelas yang kotor.


***


Mobil Farel sudah berhenti di halaman rumah ibu mertuanya. Sebelum Adel turun, wanita itu mencium punggung tangan suaminya. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya, sejak pertama kali mereka menikah.


"Ingat, sebelum aku jemput jangan dulu pulang." Farel mencium kening Adel, dan juga benda kenyal milik istrinya itu.


Itu adalah salah satu kebiasaan Farel yang sekarang. Benda kenyal milik istrinya itu sudah seperti candu. Sehari saja Farel tidak menyentuhnya, serasa ada yang kurang. Mungkin hal itu dulu jarang sekali Farel lakukan, tapi sekarang jangan ditanya lagi.


"Iya, ya udah aku keluar dulu ya." Adel mencium pipi Farel. Setelah itu Adel pun keluar dari mobil.


Farel tersenyum, dengan perlahan Farel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah mobil Farel menghilang dari pandangan mata, Adel bergegas masuk ke dalam.


"Assalamualaikum, Ibu," ucap Adel. Wanita itu berdiri di depan pintu, dan dengan perlahan Adel membuka pintu rumah tersebut.


"Wa'alaikumsalam." Mira berjalan menghampiri putrinya yang sudah lama tidak berkunjung.


Adel menghambur ke pelukan ibunya. "Adel kangen banget sama Ibu."


"Ibu juga kangen Nak. Kamu ke sini sendirian." Mira mengedarkan pandangannya.


"Tadi dianterin sama mas Farel Bu, terus mas Farel langsung ke kantor," tukas Adel. Wanita itu masih asyik dalam pelukan sang Ibu.


"Oh, ya sudah ayo," ajak Mira. Keduanya pun berjalan menuju ruang tengah.


"Kamu enggak kuliah?" tanya Mira. Wanita paruh baya itu tengah membuat minum udah putrinya itu.


"Seminggu lagi Adel baru berangkat Bu," jawab Adel, yang kini tengah duduk di sofa ruang tengah.


Mira berjalan dengan secangkir teh manis hangat. Wanita itu meletakkan minuman tersebut di meja dan ikut menjatuhkan bobot tubuh di samping Adel.


"Toko kue ibu gimana?" tanya Adel.


"Alhamdulillah lancar, bahkan sekarang sedang banyak pesanan," terang Mira.


"Syukur deh kalau gitu. Jadi Adel ganggu dong Bu." Adel tersenyum.


"Enggak lah, ibu sudah percayakan kepada para karyawan yang bekerja," sahut Mira.


"Terima kasih ya Sayang," lanjut Mira.


Adel menautkan kedua alisnya. "Untuk apa Bu."


"Kamu beruntung mempunyai suami seperti nak Farel. Dia pria yang sangat baik, dia telah merubah kehidupan keluarga kita. Jangan sia-siakan suami seperti dia, menurut apa kata suami, karena ridho Allah ada karena ridho suami," jelas Mira.


Adel mengangguk, lalu memeluk tubuh ibunya. "Iya Bu."


***


Sementara itu, di kantor Farel nampak begitu sibuk dengan tumpukan berkas di depannya. Berkas-berkas itu harus segera Farel selesaikan sebelum jam makan siang. Karena pukul 1 nanti ada pertemuan penting dengan kliennya yang berada Jerman.


Bukan itu saja, sore nanti juga ada meeting khusus untuk membahas masalah yang terjadi di perusahaannya yang berada di Amerika. Mungkin hari ini akan menjadi hari terlelah Farel. Belum lagi besok, yang harus menghadiri acara pernikahan Raka, teman sekaligus asisten pribadinya.


Farel membuang nafas, lalu menyenderkan kepalanya di punggung kursi. Memejamkan matanya sejenak, untuk merilekskan pikirannya. Tiba-tiba Farel teringat jika dirinya belum sempat mencari gaun untuk Adel, yang akan digunakan untuk menghadiri acara besok.


"Astaga, kenapa sampai lupa sih, padahal sudah aku pikirkan dari kemarin. Huft, mana pekerjaan masih numpuk lagi." Farel mengusap wajahnya, lalu melonggarkan dasinya yang terasa seperti mencekik lehernya.


Kemudian Farel mengambil handphonenya yang berada di sampingnya. Dengan cepat Farel mengetik pesan di layar handphonenya, entah pesan apa dan untuk siapa. Setelah selesai, Farel kembali meletakkan handphonenya dan melanjutkan kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Tidak butuh waktu lama, mobil yang Farel kendarai sudah terparkir di halaman rumah minimalis milik Ibu mertuanya itu. Farel bergegas keluar dari mobil, dan melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah tersebut. Setibanya di depan pintu, Farel segera mengetuk pintu tersebut.


"Assalamualaikum." Tangan kanan Farel mengetuk pintu rumah tersebut.


"Wa'alaikumsalam." Mira membuka pintu rumahnya, dan tersenyum saat melihat menantunya sudah berdiri di depan pintu.


"Mari masuk Nak," ajak Mira. Keduanya pun segera masuk ke dalam.


Rumah nampak sepi, Farel pun mencari sosok istrinya. Tapi nihil, istri kecilnya itu tidak tertangkap oleh pandangan mata Farel. Pria itu hanya melihat kedua adik iparnya yang tengah belajar di ruang tengah.


"Adel mana ya Bu?" tanya Farel.


"Adel ada di kamar, kamu masuk aja sana," sahut Mira.


"Iya Bu." Farel berjalan menuju ke kamar.


Setibanya di kamar, terlihat istrinya tengah baringan di atas ranjang. Mendengar pintu terbuka, Adel mendongak dan kembali merebahkan tubuhnya saat tau siapa yang datang. Farel berjalan menghampiri sang istri, pria itu ikut merebahkan tubuhnya di samping Adel.


Adel masih saja diam, mungkin Adel marah, karena Farel datang terlambat. Hal itu kini menjadi tantangan terbesar Farel, dirinya harus benar-benar sabar saat mendapati istrinya yang mungil itu tengah merajuk. Farel menggeser posisi tubuhnya, dan mengangkat sebagian, dengan tangan kanannya sebagai tumpuan.


Farel mencium pipi mulus Adel dengan sangat lembut. Tetapi Adel masih juga diam. Tidak habis akal, Farel kembali mencium Adel, tapi kali ini, benda kenyal itu yang menjadi obyeknya. Tentunya hal itu berhasil membuat Adel bersuara. Wanita itu memukul lengan kekar Farel.


"Mas tuh kebiasaan yah," sungut Adel. Bibirnya yang mungil itu sudah mengerucut.


"Kenapa? Suka kan. Atau mau yang lebih," goda Farel. Seketika pipi Adel bersemu merah.


"Apaan sih." Adel memiringkan tubuhnya, membelakangi Farel.


Farel tersenyum, lalu merapatkan tubuhnya ke tubuh mungil Adel. Farel menciumi bahu Adel, lalu melingkarkan tangannya di perut sang istri. Farel juga menempelkan pipinya di pipi Adel.


"Maaf ya Sayang. Hari ini pekerjaan aku numpuk, terlebih Raka tidak berangkat. Itu sebabnya aku terlambat jemput kamu." Farel mencium pipi Adel.


Adel terdiam sejenak. "Emang Raka kemana Mas."


"Besok 'kan mau married. Tadi aku juga sekalian ambil gaun buat kamu, makanya lama," jelas Farel. "Kita pulang sekarang ya, aku capek banget nih."


Adel membalikkan badannya, lalu tersenyum. "Ya sudah."


Adel dan Farel bergegas bangkit dan keluar dari kamar. Keduanya segera berpamitan kepada ibunda Adel, dan tak lupa kepada dua adiknya. Setelah berpamitan, Adel dan Farel segera masuk ke mobil. Setelah itu Farel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


***


Pukul 10 malam mereka baru sampai di rumah. Setelah memasukkan mobil di garasi. Adel dan Farel bergegas masuk ke dalam rumah. Mereka pun segera menuju ke kamar, setibanya di kamar Farel bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara Adel merapikan ranjang, dan memunguti baju kotor milik Farel. Setelah beberapa menit Farel keluar dengan hanya menggunakan handuk kimono. Tangannya tengah menggosok rambutnya dengan handuk kecil.


Pandangan Farel teralihkan pada Adel yang tengah berdiri di depan cermin, dengan rambut yang ia gulung ke atas. Menampakkan leher jenjangnya yang putih dan juga mulus. Seketika hasrat Farel meronta-ronta ingin dipenuhi. Farel melempar handuk kecil tersebut.


Pria itu berjalan mendekati sang istri, lalu memeluknya dari belakang. Menciumi aroma tubuh Adel yang begitu wangi. Adel sedikit tersentak, Farel semakin mempererat pelukannya, sementara Adel hanya diam. Farel mengangkat tubuh Adel dan membaringkannya di atas ranjang.


"Katanya Mas capek," ujar Adel, yang sudah tau gelagat suaminya itu.


"Dengan melihat kamu, capeknya seketika hilang Sayang," sahut Farel.


Tanpa berucap lagi, Farel memulai ibadah halalnya lagi, dan ini untuk yang kesekian kalinya.


***


Keesokan harinya, Adel bangun lebih awal, ia pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan. Sementara itu, Farel masih terlelap dalam tidurnya, mungkin pria itu sangat lelah.


Setelah selesai mandi, Adel segera turun ke bawah untuk memulai pekerjaan rumahnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, semua pekerjaan sudah hampir Adel selesaikan. Sarapan sudah tersedia di meja makan, menyapu, mengepel, sudah Adel kerjakan lebih awal. Kini tinggal membangunkan Farel. Adel bergegas menuju ke kamar.


Adel memutar knop pintu, mata Adel tertuju ke arah ranjang. Terlihat Farel masih tertidur pulas di balik selimut. Adel berjalan mendekat ke ranjang, dan duduk di sebelah sang suami. Adel memandangi wajah tampan suaminya yang masih menikmati alam mimpinya.


"Bangun Mas udah siang." Adel mengguncangkan tubuh Farel.


Perlahan Farel menggeliatkan tubuhnya. "Bentar ya Sayang, masih ngantuk banget nih, lima menit lagi."


"Aish, udah siang Mas, katanya mau pergi." Adel menarik selimut yang menutupi tubuh Farel.


"Iya, iya." Farel mengulurkan tangannya. Dengan cepat Adel menarik tangan Farel hingga terduduk.


Namun tidak sampai di situ, Farel menunjuk pipi kanannya pada Adel. Wanita itu mengernyitkan keningnya, entah apa lagi yang Farel mau.


"Kenapa nunjuk-nunjuk gitu," ujar Adel. Heran.


"Morning kiss Sayang," ucap Farel, dengan suara khas bangun tidur.


Adel hanya menghela nafa, lalu mencium pipi Farel. "Udah sekarang sana mandi."


Farel tersenyum dan matanya terbuka lebar, pria itu segera beranjak dari tempat tidur, dan tak lupa mencium benda kenyal milik sang istri dengan sangat lembut. Setelah itu Farel melenggang pergi menuju ke kamar mandi. Adel hanya menggelengkan kepalanya.


Setelah Farel masuk ke dalam kamar mandi, Adel segera merapikan tempat tidurnya yang berantakan. Tak lupa Adel juga akan menyiapkan pakaian yang akan Farel kenakan. Setelah semuanya selesai, Adel bergegas turun ke bawah, dan akan menunggu Farel di meja makan.


***


Pukul 10 tepat, Adel dan Farel sudah tiba di gedung yang telah Raka sewa, untuk acara ijab qobul, dan juga resepsi pernikahannya. Semua mata tertuju pada Adel dan juga Farel, terlebih para wanita, yang tidak mau lepas dari pandangan matanya yang mengarah ke Farel.


Balutan setelan jas berwarna hitam, serta kemeja putih di dalamnya, dengan membiarkan kancing teratas terbuka. Sementara Adel yang mengenakan gaun panjang berwarna putih, rambut panjangnya ia biarkan tergerai indah. Sungguh pasangan yang sangat serasi.


Adel berjalan dengan mengapit lengan kekar suaminya. Keduanya berjalan menuju tempat terlaksananya acara ijab qobul. Bibir Adel sedikit cemberut saat melihat Farel di goda aleh beberapa wanita genit yang melihatnya. Meski Farel acuh, tapi tetap saja Adel kesal.


"Repot juga ya, kalau punya suami tampan," batin Adel.


Pukul 2 siang, acara ijab qobul dan resepsi telah selesai. Kini mereka tengah menikmati hidangan yang telah Raka siapkan. Begitu juga dengan Adel dan Farel. Raka pun ikut duduk satu meja dengan mereka. Saat mereka tengah asyik mengobrol, tiba-tiba seorang wanita datang, yang tak lain adalah Nadia istri Raka.


"Eh Sayang, kenalin. Temen aku, dia Farel, dan dia istrinya, Adel." Raka menunjuk ke arah Farel dan juga Adel.


Nadia tersenyum ramah ke arah Adel dan juga Fare. Lalu wanita itu mengulurkan tangannya. Adel dan Farel pun membalas uluran tangan Nadia. Setelah berkenalan, Nadia pun ikut duduk di samping suaminya. Mereka mengobrol tanpa ada rasa canggung sedikitpun.


"Udah nih Om, Adel nggak enak makan terus." Adel menyodorkan piring yang telah kosong ke hadapan Raka.


"Ck, kamu pikir aku Om kamu apa. Dasar bocah," ujar Raka.


Raka pun melihat piring yang Adel sodorkan. "Bilangnya aja enggak enak, orang piring udah kosong."


Adel hanya tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. Begitu juga dengan yang lain. Saat mereka tengah asyik tertawa, tiba-tiba seorang wanita datang dan memanggil nama Nadia. Sontak Nadia dan yang lainnya menoleh ke arah sumber suara tersebut.


Farel terkejut melihat wanita itu, begitu juga dengan Adel. Tapi berbeda dengan Raka dan Nadia. Pasangan pengantin itu nampak tenang, dan biasa saja.