
Setelah jam pelajaran selesai, Adel bergegas pergi ke kantin, tentunya dengan Riska, sahabat dekatnya.
Keduanya segera memesan makanan dan juga minuman, setelah itu mereka pun mencari meja yang kosong.
Saat keduanya tengah asyik menyantap semangkuk bakso, tiba-tiba Revan datang.
"Halo Sayang, lagi makan ya," Revan langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di samping Adel.
"Lagi nyuci piring ... udah tau lagi makan, ngapain ditanya," sahut Adel. Gadis itu tetap cuek, dan menikmati makanannya.
"Gitu aja ngambek, nanti cantiknya ilang loh," goda Revan. Tangannya pun berniat ingin mencolek dagu Adel, tapi dengan cepat Adel menepisnya.
"Jangan colek-colek, mahal tau," seru Adel. Bukannya marah, Revan justru tersenyum melihat tingkah Adel seperti itu.
"Nanti siang pulang bareng ya," ajak Revan. Ia sangat berharap kali ini Adel tidak menolaknya.
"Maaf Van, enggak bisa," tolak Adel. Ia pun bangkit dari duduknya, nafsu makannya mendadak hilang.
"Ayolah Del, sekali ini saja, mau yah," Revan terus merengek agar Adel menerima ajakannya.
"Udahan Del, kan belum habis," ujar Riska. Sementara dirinya masih asyik menikmati makanannya.
"Udah kenyang, duluan ya," tanpa menjawab pertanyaan dari Revan. Adel beranjak pergi.
Revan hanya mendengus kesal. Lelaki itu menatap punggung Adel yang mulai menghilang dari pandangan matanya.
Sudah sejak lama Revan memang memiliki rasa terhadap Adel, tapi gadis itu selalu ada alasan untuk menolaknya.
***
Sejak pagi Farel tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya, di otaknya yang ada hanya bayangan Adel dengan pria itu.
Entah kenapa Farel terus memikirkan hal itu, apa mungkin dirinya cemburu melihat Adel bersama dengan pria lain.
Farel mengacak-acak rambutnya, ia benar-benar frustasi dengan dengan perasaannya sendiri.
Ia tidak tau, apakah dirinya telah menyukai dan mencintai Adel. Tapi Farel tidak berani mengakuinya, egonya terlalu tinggi.
"Aku enggak bisa kayak gini terus," dengan gusar Farel membereskan mejanya.
Farel melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, dan waktu baru menunjukkan pukul 1 siang. Farel berniat untuk ke sekolah Adel, pikirannya tidak tenang sebelum Adel bersamanya.
Setelah beres, Farel bergegas keluar dari ruangannya.
Di depan pintu, Farel berpapasan dengan Raka. Lelaki nampak bingung melihat bosnya yang seperti terburu-buru.
"Mau kemana?" tanya Raka. Matanya menatap heran.
"Ada urusan sebentar," sahut Farel. Ia terus melangkah pergi, tanpa memperdulikan Raka.
"Lalu ini?" Raka kembali bertanya, seraya menunjuk berkas yang ia pegang.
"Nanti saja," Farel berseru, lantaran jarak mereka yang sudah agak jauh.
Raka hanya menghela nafas, lalu lelaki itu memutuskan untuk kembali ke meja kerjanya.
Sementara itu, Farel segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar cepat sampai di sekolahan Adel.
Dalam perjalanan, Farel tidak bisa tenang, sesekali ia mengumpat saat mendapati lampu merah.
***
Jam pelajaran telah selesai, semua siswa-siswi telah berhamburan keluar, begitu juga dengan Adel.
Kini Adel dan Riska tengah berjalan menyusuri koridor sekolah.
Tiba-tiba saja Revan datang, dan sudah dapat ditebak, pria itu kembali membujuk Adel agar mau pulang bareng dengan dirinya.
"Pulang yuk Del," tanpa merasa canggung, Revan merangkul pundak Adel.
Adel langsung melepas rangkulan Revan. "Aku enggak mau." Tolaknya.
"Ayolah Del, sekali ini saja ya," tanpa merasa lelah, Revan terus membujuk Adel.
Tidak ingin berurusan dengan kedua temannya itu, Riska memilih untuk pulang terlebih dahulu. "Duluan ya Del." Katanya, Riska segera berlari menuju ke luar gerbang sekolah.
Setelah Riska pergi, Adel pun kembali melangkahkan kakinya, gadis itu tidak peduli dengan Revan yang terus mengikutinya.
Revan tak ada henti-hentinya membujuk Adel, meski jawaban yang Adel berikan tetap sama, tapi pria itu tidak pantang menyerah.
Adel sudah tiba di halaman sekolah, saat ia akan melangkah menuju ke gerbang, Revan menarik tangannya.
Dengan terpaksa, Adel menghentikan langkahnya.
"Ayo dong Del, emang kamu enggak kasihan apa, dari sejak kita kelas 1 SMA sampai sekarang, kamu nggak pernah menerima ajakan aku," bujuk Revan. Pria itu terus berusaha membujuk Adel.
Diam-diam Farel memperhatikan dua insan itu dari balik gerbang. Tak tahan lagi, Farel melangkahkan kakinya menghampiri sang istri.
Kali ini ia tidak peduli lagi, rasa tak rela gadisnya berdekatan dengan pria lain. Membuatnya untuk memaksakan diri menghampiri Adel.
Setibanya di sana Farel langsung menarik tangan Adel. "Ayo pulang." Titahnya.
Adel terkejut saat melihat Farel sudah menjemputnya, bahkan tak seperti biasanya, lelaki itu menghampiri Adel langsung, karena biasanya Farel menunggu Adel di depan gerbang.
Adel tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, gadis itu pun menurut.
Namun tiba-tiba sebuah tangan menghentikan langkah Adel dan Farel.
Revan mencekal pergelangan Adel, membuat gadis itu menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Farel, lelaki itu menatap tajam ke arah Revan. Pria yang sudah berani mengganggu gadisnya.
"Lepaskan tanganmu," titah Farel. Ia menatap tajam ke arah Revan.
"Maaf, anda siapa, saya hanya ingin mengantar Adel pulang," ujar Revan. Ia pun tak kalah tajam tatapannya.
Seketika darah Farel terasa mendidih saat Revan berniat untuk mengantar Adel pulang. Dadanya naik-turun menahan amarahnya.
Namun sebisa mungkin Farel harus menahan emosinya, ia harus ingat, bahwa sekarang dirinya berada di sekolahan Adel.
"Saya su ... sepupu Adel, dan saya tidak mengizinkan kamu mengantarnya pulang, karena Adel akan pulang dengan saya," hampir saja Farel keceplosan, untuk ia bisa mengontrolnya. Farel juga menegaskan, bahwa dirinya melarang Adel pulang dengan Revan.
Belum sempat Revan menjawab, Farel lebih cepat menarik tangan Adel dan melangkah meninggalkan pria itu.
Revan mendengus kesal, pria itu benar-benar kesal dengan lelaki yang membawa Adel pergi.
Namun Revan tidak akan menyerah begitu saja.
Adel dan Farel sudah berada di dalam mobil, lelaki itu segera memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Farel tidak tau dengan perasaannya sendiri, tetapi ia benar-benar tidak rela, saat melihat Adel dekat dengan pria lain. Farel terlihat sangat frustasi, sesekali ia memukul setir mobilnya. Lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
Adel merasa bingung melihat sikap Farel yang tiba-tiba berubah seperti itu. Tidak seperti biasanya Farel seperti itu.
Adel yang sedari tadi diam, kini gadis itu memberanikan diri untuk bersuara, Adel takut jika nanti Farel akan berbuat yang tidak-tidak, apa lagi lelaki itu tengah mengemudi.
"Om kenapa?" tanya Adel. Ia pun menatap mata Farel yang memerah.
Seketika Farel menoleh ke arah Adel, tatapan matanya begitu tajam.
Namun detik itu juga Farel menarik tubuh mungil Adel dan mendekapnya dengan sangat erat.
Lelaki itu juga menghujani puncak kepala Adel dengan kecupan, entah berapa kali Farel melakukannya. Adel hanya diam, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu, ia tidak tau kenapa tiba-tiba Farel seperti itu.
"Jangan pernah tinggalkan aku," hanya itu yang mampu Farel ucapkan. Lagi-lagi Farel mencium puncak kepala Adel.
Adel hanya diam, gadis itu dapat merasakan detak jantung Farel yang tidak beraturan. Farel semakin mempererat dekapannya, lelaki itu tidak memberikan Adel ruang untuk bergerak.
Akhirnya, Adel tetap diam, dan membiarkan Farel berlaku semaunya.
***
Kini mobil Farel sudah terparkir di pelataran kantor, dan posisi Adel masih sama, gadis itu masih berada di dekapan farel.
Setelah mobil berhenti, Adel mendongakkan kepalanya, ia merasa terkejut, lantaran kini dirinya sudah berada di depan kantor farel.
Farel pun mulai merenggangkan dekapannya, dan akhirnya lelaki itu melepas tubuh mungil Adel.
"Kok kita ke sini sih Om," ujar Adel. Gadis itu masih belum tau apa tujuan Farel mengajaknya ke kantor.
"Aku masih ada pekerjaan, enggak apa-apa ya," sahut Farel dengan tersenyum.
Adel hanya mengangguk, setelah itu keduanya turun dari mobil.
Adel dan Farel berjalan masuk ke dalam, dan tanpa diduga, Farel kembali merangkul pundak Adel.
Adel berfikir jika itu adalah bagian dari dramanya, tapi cara yang Farel lakukan, seolah-olah lelaki itu tidak mau kehilangan Adel.
Keduanya kini menjadi pusat perhatian para karyawan yang bekerja di kantor Farel.
Berbagai tatapan dan pandangan yang berbeda-beda, ada yang terlihat senang, dan banyak pula yang terlihat tidak suka.
Adel sama sekali tidak menghiraukan mereka, meski dalam hatinya merasa malu.
Mungkin sekarang mereka bertanya-tanya, siapakah gadis yang di bawa oleh bosnya, dan untuk apa bosnya membawa gadis ABG ke kantor.
Karena setau mereka, Farel tidak pernah membawa seorang perempuan ke dalam kantor. Terkecuali saudara, itupun seperti tidak pernah Farel lakukan.
Farel dan Adel sudah tiba di ruangan, Adel merasa kagum dengan ruangan Farel yang begitu luas.
Gadis itupun mengedarkan pandangannya untuk melihat setiap sudut ruangan tersebut.
"Adel, kalau kamu capek, kamu bisa istirahat di sana," Farel menunjuk sebuah ruangan di samping.
Adel hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah itu Adel kembali melihat-lihat isi ruangan itu.
Sementara Farel bergegas duduk di kursi untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Pikirannya sudah mulai tenang, lantaran Adel sudah bersamanya.
Tangan Farel mulai berkutat untuk memeriksa, dan menanda tangani berkas-berkas yang masih menumpuk.
Selang beberapa menit, terdengar suara ketukan pintu, dengan segera Farel bersuara dan menyuruhnya untuk masuk.
Perlahan pintu terbuka, dan ternyata Riana yang datang. Tanpa rasa malu wanita itu masuk dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Farel.
Lelaki itu mendongak dan menatap jengah wanita yang sudah duduk di hadapannya.
Farel membuang nafas berat. "Ada urusan apa kamu ke sini." Ujarnya sinis.
"Aku ke sini untuk meminta maaf atas kejadian waktu di restoran, dan aku mohon tolong jangan batalkan kerja sama kita," jelas Riana. Wanita itu sangat berharap jika Farel mau memaafkan dan melanjutkan kerja sama itu.
Farel mengerutkan keningnya. "Maaf, aku tidak bisa." Sahutnya.
"Tapi Rel ... aku mohon, jangan batalkan kerja sama kita ya. Kalau bukan kamu, lalu siapa lagi," Riana terus memohon. Wanita itu tidak ingin kehilangan kesempatan emas itu.
"Aku udah bilang, aku tidak bisa bekerja sama dengan perusahaan kamu, jadi aku minta, tolong jangan memaksa," tegas Farel. Hal itu membuat Riana terperanjat kaget.
Sementara dari ruangan sebelah, Adel mendengar perdebatan Farel dengan seorang wanita. Karena penasaran, Adel pun membuka pintu ruangan itu, seketika matanya melotot saat melihat Riana berada di ruangan Farel.
Detik itu juga, muncul ide dari otak Adel, dengan segera, Adel mengacak-acak rambutnya, dan membuka dua kancing seragam sekolahnya.
Setelah itu Adel keluar dan berjalan menghampiri Farel. Aksi gila Adel akan segera ia mulai.
Tanpa merasa canggung, Adel memeluk Farel dari belakang yang masih terduduk, lalu dengan manja, Adel menyenderkan kepalanya di bahu lelaki itu.
"Sayang, kok lama banget sih, aku udah nungguin dari tadi loh," ucap Adel dengan manja, tangannya sembari memainkan dasi yang melilit leher Farel.
Farel sedikit tersentak dengan perlakuan Adel. "Iya Sayang, sebentar lagi juga selesai kok." Secepat mungkin Farel mengimbangi drama gadisnya itu.
Seketika mata Riana melotot, wanita itu benar-benar sudah dibuat cemburu tingkat tinggi. Bukan itu saja, Riana juga terkejut saat tau jika Adel masih berstatus pelajar. Riana tidak menyangka jika Farel lebih menyukai gadis ABG yang masih polos seperti Adel.
"Ada tamu ya Sayang, aku kira tadi kamu sendirian," ujar Adel berpura-pura. Padahal gadis itu sudah melihat Riana sejak tadi.
"Iya nih Sayang, tamu tidak diundang," Farel tidak segan-segan menyindir Riana. Lelaki itu tidak peduli dengan perasaan wanita itu.
Emosi Riana benar-benar sedang diuji, dadanya sudah naik-turun menahan amarahnya. "Jadi sejak tadi kamu enggak anggap aku ada, gitu." Seru Riana.
Farel hanya melirik sekilas, tiba-tiba saja Riana merogoh tasnya dan mengambil sebuah amplop berwarna coklat.
Dengan kasar, Riana melempar amplop itu ke atas meja.
Farel mengambil amplop tersebut dan membukanya, lelaki itu tidak merasa curiga ataupun takut, sementara Riana tersenyum licik.
Terdapat beberapa lembar foto dalam amplop tersebut, Farel mengeluarkan foto-foto tersebut dan melihatnya satu persatu.
Adel tetap tenang melihat itu semua, lantaran sebelumnya Farel pernah menceritakan tentang foto itu.
Bahkan hal tak terduga Adel lakukan.
Tiba-tiba saja Adel duduk di pangkuan Farel, lalu melingkarkan tangannya di leher Farel.
Farel terkejut dengan aksi yang Adel lakukan, terlebih saat melihat kancing seragam sekolahnya yang terbuka itu. Menunjukkan pemandangan indah yang jarang Farel lihat. Sampai-sampai lelaki itu menelan salivanya sendiri.
Riana pun sama terkejut dengan apa yang Adel lakukan. Ia juga merasa heran kenapa gadis itu tidak terpengaruh dengan foto-foto yang ia bawa.
Padahal dalam foto itu, terdapat gambar Riana dan Farel saat berada di Singapura.
Wanita itu merasa jijik dengan pemandangan yang Adel dan Farel ciptakan.
"Tante, foto-foto itu udah basi, lebih baik Tante bawa balik aja sana," Adel melempar amplop itu ke hadapan Riana.
Farel hampir saja tertawa saat mendengar Adel memanggil Riana dengan panggilan 'Tante'. Sementara Riana menganga tak percaya dengan apa yang Adel ucapkan.
Dengan hati yang dongkol, Riana mengambil amplop itu dan bergegas keluar dari ruangan Farel. Wanita itu membanting pintu ruangan Farel dengan keras.
Setelah Riana keluar, Adel berniat bangkit dari pangkuan Farel, tapi lelaki itu menahannya. "Lepas Om, Adel mau rapiin baju Adel dulu." Ujarnya.
"Kamu harus tanggung jawab," tiba-tiba saja Farel mengangkat tubuh mungil Adel.
Farel membawanya masuk ke ruangan sebelah, yang sengaja Farel gunakan untuk istirahat.
Di ruangan itu terdapat ranjang dan juga almari. Farel merebahkan tubuh Adel di atas ranjang, tatapan matanya membuat Adel ngeri.
"Om mau ngapain, Om jangan macam-macam ya," Adel langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
Farel adalah laki-laki normal, jadi wajar saja jika hasratnya muncul saat melihat seorang wanita menunjukkan kelemahan seorang pria.
Farel langsung melepas dasinya dan melempar ke sembarang arah, ia juga membuka sebagian kancing kemejanya.
Adel semakin takut dengan apa yang Farel lakukan.
Adel langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut saat Farel mulai mendekati dirinya. Tanpa hitungan detik Farel sudah berhasil meraih tubuh mungil Adel, sangat mudah menaklukkan gadis cilik seperti dia.
Farel telah mengunci tangan dan kaki Adel, gadis itu benar-benar tidak bisa bergerak. Adel pasrah dengan apa yang Farel lakukan, tok memberontak percuma, tenaga Farel lebih kuat.
Perlahan Farel menyibak selimut yang menjadi pertahanan Adel. Terlihat gadis itu menutup matanya.
Farel sudah tidak bisa mengontrol hasratnya lagi, dengan pelan lelaki itu mulai mendekatkan wajahnya, hingga tidak aja jarak lagi antara keduanya. Adel dapat merasakan hembusan nafas Farel yang menderu, menyapu wajah mungil gadis itu.
Saat benda kenyal itu akan bersentuhan, tiba-tiba terdengar suara Raka yang memanggil-manggil Farel.