
Senja telah tiba, cahaya kemerah-merahan menghiasi langit. Burung-burung pun sudah kembali ke sarangnya, malam yang gelap telah menanti. Waktu menunjukkan pukul 17.00, saat ini Adel tengah membersihkan diri di kamar mandi. Masih ada waktu satu jam untuk bersantai, tapi tiba-tiba Adel teringat pesan yang Farel kirimkan tadi pagi.
Selang beberapa menit, mobil Farel sudah terparkir di halaman depan rumah. Dengan penuh semangat 45 Farel keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti saat melihat Maya tengah menggendong Aqilla, perempuan itu baru saja mengajak putrinya jalan-jalan sore.
Farel hanya tersenyum, setelah itu ia bergegas naik ke atas.
Farel membuka pintu kamarnya, dan langsung menguncinya. Pria itu segera melepas jasnya, lalu meletakkannya di atas sofa. Sepersekian menit pintu kamar mandi terbuka, Adel yang baru selesai mandi keluar dengan hanya melilitkan handuk sebatas dada. Farel yang sadar akan kehadiran istrinya, dengan cepat menoleh ke arahnya.
Seketika mata Farel membulat sempurna, hasratnya semakin meronta-ronta, ingin segera dituruti. Tanpa pikir panjang, Farel melepas dasi yang masih melilit di lehernya, setelah terlepas Farel melemparnya begitu saja. Perlahan pria itu berjala mendekati sang istri, sedangkan tangannya berkutat untuk melepas kancing kemejanya.
"Mas sudah pulang, kok tumben lebih awal?" tanya Adel was-was. Sejujurnya Adel sudah tau dengan niat suaminya itu, terlebih melihat gelagat Farel yang seperti itu.
"Sayang, apa kamu lupa pesan dariku tadi pagi. Kalau hari ini aku akan pulang lebih awal. Dan kita akan .... " Farel menggantung ucapannya, dan kini Farel semakin mendekat, bahkan sekarang tubuh mereka sudah sangat dekat, hingga tidak ada jarak lagi.
"Jadi mas Farel serius, aku pikir cuma becanda," gumam Adel. Tangannya semakin mempererat handuk yang melilit tubuhnya.
"Mas mandi dulu sana, Adel mau .... " ucapan dan langkah kakinya terhenti saat Farel mencekal pergelangan tangan Adel.
"Jangan pura-pura lupa, Sayang. Ingat, kamu akan berdosa jika menolak keinginan suami." Farel kembali mengingatkan. Kini pria itu memegang kedua bahu istrinya, sedangkan matanya menatap lekat wajah ayu sang istri.
"Tapi Mas, nanti kalau Qilla .... "
"Sstt, Sayang besok sudah mulai puasa. Jadi aku minta sekarang kamu berikan yang terbaik, dan juga spesial." Farel kembali memotong ucapan Adel. Seketika wanitanya itu terdiam, dan sekarang sudah tidak ada alasan lagi untuk menolak.
Adel menatap lekat wajah suaminya itu, bahkan sekarang Adel baru ingat jika besok mulai puasa. Ya salam, mikirin apa aja sampai Adel lupa jika besok sudah mulai puasa. Wanita itu masih terdiam, dengan terus memikirkan permintaan suaminya itu.
Tapi seakan larut dalam pandangan netra sang suami, perlahan Adel menganggukkan kepalanya.
Farel tersenyum, lalu tanpa menunggu lama lagi Farel membopong tubuh istrinya dan membaringkannya di atas ranjang. Perlahan Farel mulai membelai lembut wajah sang istri, jari telunjuknya mulai menelusuri lekuk tubuh istrinya itu. Setelah membaca do'a pria itu akan memulai ibadah halalnya. Keduanya akan berlabuh di samudera cinta, meraih kenikmatan bersama.
Pukul 18.00 Farel baru saja menyelesaikan tugasnya. Pria itu kini tengah berbaring terlentang, mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. Sementara Adel sudah berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri kembali. Gara-gara ulah suaminya Adel harus mandi dua kali. Tapi semua itu tidak menjadi masalah baginya, karena itu adalah salah satu kewajibannya.
Setelah selesai mandi, Adel keluar dan segera memakai pakaian, sementara Farel bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah keduanya selesai, mereka akan melaksanakan kewajibannya 3 raka'at terlebih dahulu. Setelah itu Adel baru akan mengambil alih putrinya itu, yang seharusnya sedari tadi.
"Aku ke bawah dulu ya Mas," ujar Adel setelah selesai shalat. Sementara Farel hanya mengangguk, dan tersenyum.
Adel bergegas keluar dari kamar dan menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang bermain. Setibanya di sana terlihat jika Qilla masih asyik bermain, Adel pun mendekati keduanya. Nampak Qilla sudah sangat merindukannya, karena saat melihat Adel tangan mungil itu terulur, dan meraih-raih agar Adel menggendongnya.
"Aduh anak mama udah kangen ya. Sini Sayang." Adel segera menggendong putrinya itu. Tak lupa menciumi pipi chubby Aqilla.
"Maya, sekarang kamu boleh istrirahat. Jangan lupa makan ya," titahnya, dengan tersenyum.
"Iya Bu, permisi." Maya pun beranjak pergi meninggalkan majikannya yang masih asyik dengan putrinya.
Setelah itu Adel pun keluar dan bergegas naik ke atas menuju ke kamarnya. Wanita itu akan menidurkan putrinya terlebih dahulu, setelahnya ia akan menyiapkan makan malam. Karena jika bukan Adel yang menyiapkan Farel sama sekali tidak mau makan. Entah itu manja atau apalah, Adel sendiri suka bingung dengan suaminya itu.
Setibanya di kamar terlihat suaminya tengah duduk santai di sofa, sembari memainkan benda pipihnya. Melihat dua princessnya masuk, dengan segera Farel meletakkan handphonenya dan beranjak dari duduknya. Pria itu langsung menghampiri istri dan anaknya, tak lupa menciumi pipi chubby Aqilla.
"Sama papa ya, Sayang." Farel mengulurkan kedua tangannya, dan segera mengambil alih putrinya itu.
"Jangan lama-lama ya Mas, udah malam Qilla pasti udah capek," ujar Adel, dan dibalas dengan anggukan oleh sang suami.
Farel mengajak putrinya bermain di atas ranjang, sementara Adel memilih untuk membereskan baju-baju milik putrinya itu.
Adel tersenyum melihat kedekatan Farel dan Qilla, suaminya itu nampak begitu bahagia saat bermain dengan putrinya itu. Walaupun raganya sudah lelah karena pekerjaan di kantornya, tapi Farel masih bersemangat saat bersama dengan Aqilla.
***
Pukul 03.00 Adel sudah bangun, ia segera menyibakkan selimutnya dan beranjak dari tempat tidur. Tapi sebelum Adel keluar dari kamar, ia akan melihat putrinya terlebih dahulu, memastikan jika Aqilla belum terbangun dari tidurnya. Adel tersenyum saat melihat wajah damai putrinya yang masih terlelap. Setelah itu ia memutuskan untuk segera keluar dari kamar.
Adel berjalan menuruni anak tangga untuk segera menuju ke dapur. Tampak bi Irah sudah berada di dapur, perempuan paruh baya itu sedang menyiapkan bahan makanan. Lumayan, nanti Adel tinggal membuatnya, seperti diketahui jika Farel tidak suka masakan orang lain, pria itu memilih tidak makan jika ketahuan bukan istrinya yang memasak.
Selang beberapa menit, Farel mulai menggeliatkan tubuhnya. Aroma masakan sang istri sudah masuk ke dalam indra penciumannya. Perlahan Farel membuka matanya, setelah kelopak matanya terbuka sempurna, Farel bergegas bangkit dari tempat tidurnya. Pria itu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh muka dan gosok gigi.
5 menit kemudian Farel keluar, ia segera melihat putrinya, pria itu tersenyum saat melihat Qilla masih terlelap dalam mimpi indahnya. Setelah itu Farel putuskan untuk segera turun, setibanya di bawah ia melihat sang istri tengah menata makanan di atas meja. Farel pun segera menghampirinya, pria itu menarik kursi untuk duduk.
"Wow, kelihatannya enak nih," puji Farel, saat melihat hidangan yang Adel siapkan.
"Iya dong, makanya aku sudah paham dengan masakan kamu." Farel mulai menyantap makanan yang sudah istrinya sajikan.
"Oya, Qilla belum bangun 'kan Mas?" tanya Adel.
"Belum, masih pules banget tadi tidurnya," jawab Farel.
Keduanya pun segera menyelesaikan ritual makan sahurnya. Setelah selesai Adel bergegas membereskan meja makan, tentunya dengan dibantu oleh bi Irah. Sementara Farel memilih naik ke atas lagi, untuk melihat putrinya. Setibanya di kamar mata Farel langsung menuju ke ranjang tempat Qilla tidur.
Pria itu bergegas menghampiri putrinya itu, lantaran Aqilla sudah terbangun. Gadis cilik itu posisinya sudah tengkurap, dan sedang bermain mainan yang sengaja diletakkan di sisinya. Farel tersenyum saat melihat putrinya tersenyum ke arahnya, meski belum tumbuh gigi tapi senyumnya juga manis, semanis Adel, mamanya.
"Duh, anak papa udah bangun ya." Farel menggendong putrinya itu, dan berjalan ke arah jendela.
Tangan mungil Aqilla menepuk-nepuk pipi Farel, dengan senyum yang terukir di wajah mungilnya itu. Dan hal itu membuat Farel merasa sangat bahagia, dan juga gemas dengan pipi chubby Aqilla. Tidak pernah terbayangkan jika dirinya akan dikaruniai anak seperti Aqilla. Wajahnya begitu mirip dengan Adel, apa lagi senyumnya, tetapi tidak dengan matanya.
Tatapan matanya tajam seperti Farel. Selang beberapa menit Adel masuk ke dalam kamar setelah selesai dengan pekerjaannya di dapur. Wanita itu segera menghampiri suami dan putranya, senyum pun tak pernah pudar dari keduanya. Rasanya seperti mimpi, tapi semua itu adalah kenyataan, kenyataan atas kebahagiaan yang mereka raih bersama.
***
Pukul 06.00 Aqilla sudah beralih pada pengasuhnya, yaitu Maya. Sedangkan Farel tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, sementara Adel tengah memasang dasi di leher suaminya itu. Farel memang seperti itu, meski sudah memiliki anak tapi pekerjaan sepele seperti itu saja tidak bisa. Eh bukan tidak bisa, tapi tidak mau.
Terkadang Adel sampai heran sendiri dengan sikap manja suaminya itu, benar-benar enggak ketulungan. Farel rela menunggu, asalkan apa yang dia minta Adel kerjakan, seperti memasang dasi, bahkan untuk sarapan pun begitu. Itu sebabnya Adel sering merasa sangat lelah, karena selain mengurus suami, ia juga mengurus buah hatinya.
Namun Adel tidak pernah mengeluh sedikitpun, wanita yang kini usianya 19 tahun, tidak pernah mengeluh dengan keadaannya yang sekarang. Adel adalah wanita yang tegar dan juga kuat, Farel benar-benar bangga bisa memiliki istri seperti Adel. Meski usianya masih muda tapi bisa bersikap dewasa.
"Sudah selesai Mas," ujar Adel, setelah selesai dengan pekerjaannya.
"Terima kasih ya, Sayang," sahut Farel. Adel hanya tersenyum.
Setelah itu Adel mengambil tas kerja Farel, dan kini keduanya bergegas keluar dari kamar, dan segera turun ke bawah. Setibanya di bawah, Farel langsung mengedarkan pandangannya, pria itu tengah mencari sosok putrinya. Karena sebelum berangkat ke kantor Farel sudah terbiasa berpamitan dengan Aqilla.
"Sayang, Qilla mana?" tanya Farel.
"Sama Maya Mas, tadi lagi jalan-jalan di halaman belakang," jawab Adel. Dan selang beberapa menit Maya muncul dengan mendorong kereta dorong milik Aqilla.
"Itu dia Mas." Adel menunjuk ke arah Maya.
Farel pun menoleh, tapi detik itu juga Farel mengalihkan pandangannya. Pria itu menggelengkan kepalanya perlahan, ia benar-benar tidak suka melihat penampilan Maya yang seperti itu. Seperti orang yang tidak punya baju saja, kalau Adel yang berpakaian seperti itu, pasti sudah Farel seret dan menggantinya secara paksa.
"Ajak Aqilla ke sini," titah Farel.
"Iya Mas," sahut Adel. Ia pun segera menghampiri Maya, dan segera mengambil alih putrinya itu untuk sementara.
Adel kembali berjalan menghampirinya sang suami. Farel tersenyum saat melihat Adel berjalan menghampirinya bersama dengan putri tercintanya. Farel segera mencium kedua pipi tembem Aqilla, rasanya gemas saat melihat putrinya tersenyum. Terlebih tangan mungilnya yang selalu menepuk ataupun menekan-nekan wajahnya dengan jarinya yang mungil itu.
"Hem, anak papa udah wangi. Udah mandi ya," ucap Farel, saat mencium aroma shampoo dan bedak khusus bayi.
"Udah dong papa," sahut Adel, dengan suara layaknya anak kecil.
Farel tersenyum lalu kembali mencium pipi Aqilla. "Papa pergi dulu ya, baik-baik di rumah. Jangan nakal ya, Sayang."
"Ok, papa." Adel mengarahkan tangan mungil Aqilla, untuk memberi hormat pada Ayahnya. Hal itu membuat Farel tersenyum gemas.
"Ya sudah aku pergi dulu ya, assalamualaikum," ucap Farel berpamitan.
"Wa'alaikumsalam." Adel mencium punggung tangan Farel, setelahnya pria itu pun melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Seperti biasa, Adel selalu mengantar Farel setiap kali akan berangkat ke kantor. Setiap di depan pintu, Farel berhenti sejenak dan hal itu merupakan Adel sedikit merasa heran.
Adel pikir ada yang ketinggalan, tapi tiba-tiba Farel membisikkan sesuatu di telinga Adel.
Wanita itu mengangguk paham, setelah itu Farel berjalan menuju ke mobilnya.
Perlahan mobil yang Farel naiki melaju meninggalkan halaman rumahnya. Adel melambaikan tangannya, tentunya dengan menuntun putrinya agar melakukan apa yang Adel lakukan. Setelah mobil Farel hilang dari pandangan matanya, Adel berniat hendak masuk ke dalam, tapi tiba-tiba ia teringat pesan dari suaminya.