
Farel benar-benar dibuat bingung oleh istrinya sendiri. Setelah cukup lama Farel terdiam. Akhirnya ia memutuskan untuk menghampirinya. Setibanya di atas Farel segera menuju ke kamarnya.
Perlahan Farel mengetuk pintu kamarnya. Hening, tidak ada sahutan dari dalam, yang terdengar hanya isakan tangis Adel. Farel semakin khawatir, takut terjadi apa-apa dengan istri kecilnya itu.
Sementara di dalam, Adel masih menangis. Gadis itu membenamkan wajahnya di bantal. Adel benar-benar bingung, harus jujur atau tidak. Tiba-tiba saja handphonenya berdering.
Adel segera mengeceknya. Tertera satu pesan masuk dengan nomor yang tidak Adel kenal. Karena penasaran, Adel pun membukanya dan membacanya. Sebuah ancaman yang tak lain dari Revan.
[ Ingat Adel, meskipun kita sudah tidak berada di sekolah lagi, tapi aku akan selalu mengawasimu. Jika kamu berani menceritakannya kepada suami kamu itu, masa detik itu juga rekaman video itu akan langsung aku sebar ]
Adel menutup mulutnya setelah membaca isi pesan itu. Gadis itu melempar handphonenya dan bangkit dari tempat tidur. Adel keluar ke balkon untuk mencari keberadaan Revan.
Adel mengedarkan pandangannya. Tapi hasilnya nihil, Adel tidak menangkap sosok Revan. Hati dan pikiran Adel semakin kacau. Sementara dari luar kamar, Farel terus mengetuk-ngetuk pintu tersebut.
"Adel Sayang, buka pintunya dong." Farel terus mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.
Sementara di dalam Adel tengah mondar-mandir tak jelas. Setelah cukup lama, akhirnya Adel memutuskan untuk membuka pintunya. Tapi sebelum itu Adel menghapus air matanya.
Setelah itu Adel membuka kunci pintu tersebut. Perlahan Adel membuka pintunya, tapi hal tak terduga terjadi. Farel yang sedang menyenderkan tubuhnya di daun tersentak. Alhasil Farel jatuh ke lantai.
"Auh." Ringis Farel. Lelaki itu bergegas bangun dan berdiri.
Adel yang melihatnya langsung menutup mulutnya untuk menahan tawanya.
Adel tidak tau jika Farel tengah berdiri di depan pintu, dan menyenderkan tubuhnya.
"Kalau mau di buka bilang dong Del." Farel berdiri sembari memegangi pinggangnya yang sakit.
Adel tersenyum. "Maaf Om, Adel kan enggak tau."
Farel berdiri menghadap ke arah Adel. Terlihat jika mata istrinya itu sembab. Farel pun mendekati Adel lalu membingkai wajah sang istri.
"Kamu habis nangis? Apa kamu ada masalah. Atau di sekolahan ada yang jahat sama kamu, sekarang kamu cerita sama aku," cecar Farel. Lelaki itu sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Adel.
Adel terdiam sejenak. "Enggak kok Om, Adel cuma lagi kesel aja."
"Kesel kenapa, hem?" tanya Farel.
"Adel bosen di rumah terus." Adel langsung memanyunkan bibirnya.
Farel menghela nafas. "Ya sudah sekarang kamu mandi, nanti kita jalan-jalan."
"Beneran Om." Raut wajah Adel berubah menjadi girang.
"Iya." Sahut Farel.
"Ya sudah Adel mandi dulu ya Om." Adel bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Farel hanya tersenyum. "Aku tau kamu lagi nyembunyiin sesuatu dari aku, tapi aku akan cari tau sendiri. Aku enggak akan maksa kamu untuk cerita."
Sementara di dalam kamar mandi Adel kembali menangis. Adel terpaksa berbohong demi kebaikannya. Adel belum bisa jujur. Setelah cukup tenang gadis itu bergegas membersihkan diri.
***
Setelah 1 jam Adel dan Farel sudah bersiap untuk pergi. Farel segera mengambil kunci motornya dan berjalan menuju ke garasi. Sementara Adel sudah berada di depan.
"Pake motor aja ya," ujar Farel. Lelaki itu berjalan menuju ke garasi rumahnya.
"Emang Om punya motor?" tanya Adel. Gadis itu belum pernah melihat suaminya menaiki motor.
"Ya punya lah," sahut Farel.
Farel segera mengeluarkan motor gedenya. Adel sedikit tersentak melihat motor milik suaminya itu. Ia pun berjalan menghampirinya.
"Nih kamu pake helmnya dulu." Farel menyodorkan helm pada Adel.
Adel pun segera menerima helm itu dan langsung memakainya. Begitu juga dengan Farel. Setelah semuanya siap Adel segera naik ke motor.
"Jangan ngebut-ngebut ya Om," pinta Adel.
"Iya." Jawab Farel. "Jangan lupa pegangan."
Farel mulai menyalakan mesin motornya. Setelah beberapa saat Farel pun mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sementara Adel memeluk erat pinggang Farel. Rupanya Adel belum pernah naik motor sebelumnya.
Farel membawa Adel mengelilingi indahnya kota Jakarta. Gedung-gedung yang menjulang tinggi serta kendaraan yang berlalu-lalang meramaikan suasana sore hari.
"Bagaimana, kamu suka?" tanya Farel. Dan dibalas dengan anggukan oleh Adel.
Farel terus melajukan motornya. Kini mereka telah keluar dari jalan raya. Farel tengah membawa Adel ke sebuah bukit, yang di atas menampakkan pemandangan yang sangat indah.
Adel sangat menikmati keindahan alam yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Senja telah tiba, menampakkan cahaya kemerah-merahan di langit sana. Mentari perlahan mulai tenggelam di ufuk barat sana. Farel menghentikan laju motornya di atas bukit yang menghadap ke arah barat.
"Udah sampai ya Om," ucap Adel yang baru menyadari jika motornya telah berhenti.
"Iya. Memangnya kamu tidur apa?" tanya Farel. Ia pun melepas helmnya.
Adel yang sudah turun hanya nyengir kuda. Sementara Farel menggelengkan kepalanya. Lelaki itu sangat heran dengan istri kecilnya itu. Enggak di motor, enggak di mobil, pasti tidur.
Adel melepas helmnya. Begitu juga dengan Farel. Gadis itu berjalan ke arah barat, lalu merentangkan kedua tangannya. Menghirup udara secara perlahan. Melihat matahari yang akan kembali ke peraduannya.
Farel berjalan menghampiri sang istri. Lelaki itu berdiri di belakang Adel, lalu kedua tangannya Farel lingkarkan di perut Adel, dan menyenderkan dagunya di bahu gadisnya itu.
"Gimana, kamu suka nggak?" tanya Farel.
"Suka banget Om," sahut Adel penuh dengan semangat.
Adel dan Farel sama-sama menikmati suasana sore yang sejuk itu. Hembusan angin menerpa tubuh keduanya. Adel menggenggam erat kedua tangan Farel. Begitu juga dengan Farel yang memperat pelukannya.
"Maafin Adel ya Om. Adel belum bisa jujur sama Om," gumam Adel dalam hati.
Adel benar-benar bimbang, antara jujur atau tidak. Sebenarnya jika saja Adel mau jujur terhadap Farel. Lelaki itu pasti akan mencari cara agar rekaman video itu tidak sampai tersebar. Tapi entah kenapa lidah Adel begitu sulit untuk menceritakan hal itu.
"Kita pulang sekarang atau nanti?" tanya Farel.
"Sekarang aja Om, Adel capek pengen istirahat," sahut Adel.
Keduanya pun bergegas untuk pulang. Dalam perjalanan pulang lagi-lagi Adel hanya diam. Yang ada di otaknya hanya kata-kata tevan, cowok itu benar-benar sudah membuat Adel merasa bimbang.
Lisan memang bisa berkata tidak, tetapi hati mana ada yang bisa. Meski Adel berusaha untuk menutupinya, seorang Farel tidak akan diam saja. Lelaki itu sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidikinya.
***
Setelah cukup lama dalam perjalanan, kini mereka telah tiba di rumah. Adel bergegas turun dan diikuti oleh Farel. Keduanya segera masuk ke dalam. Saat Adel hendak naik ke atas tiba-tiba handphonenya berdering.
Gadis itu segera merogoh tasnya dan mengambil benda pipih itu. Satu panggilan dari nomor tak dikenal masuk. Adel bingung, harus mengangkatnya atau tidak. Farel yang merasa heran segera menghampirinya.
"Ada apa? Kok nggak diangkat," ujar Farel. Lelaki itu menatap Adel.
Adel menjadi gugup. "Enggak usah lah Om, lagi pula dari nomor nggak dikenal."
"Siapa tau aja penting." Farel merebut handphone milik Adel, dan menggeser tombol berwarna hijau.
"Halo, halo," ucap Farel.
Diam, tidak ada sahutan dari seberang sana. Bahkan detik itu juga sambungan terputus. Farel mengerutkan keningnya, lalu menatap wajah istrinya yang terlihat gelisah. Farel tau ada sesuatu yang telah Adel sembunyi-sembunyi.
"Orang iseng." Farel mengembalikan handphone milik Adel, dan berjalan menaiki anak tangga.
Pikiran Adel benar-benar kacau. Ia juga sudah merasa kalau Farel sudah mulai curiga terhadapnya. Adel terdiam cukup lama. Hingga akhirnya Adel memutuskan naik ke atas menuju ke kamar. Setibanya di kamar Adel segera masuk ke dalam kamar mandi.
Adel ingin merilekskan tubuh dan pikirannya. Gadis itu berdiri di bawah shower dan menyalakannya. Adel membiarkan air dingin itu mengguyur tubuhnya. Sementara di luar Farel nampak duduk di sofa dengan memainkan ponselnya.
Selang 30 menit, Adel keluar dengan mengenakan handuk kimono. Tangan mungilnya berkutat mengeringkan rambutnya yang masih basah. Adel berjalan menghampiri Farel. Tekadnya sudah bulat, jika dirinya akan berkata jujur.
Adel tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi nanti. Adel yakin setelah Farel tau, suaminya itu pasti tidak akan tinggal diam. Farel pasti akan mencari cara untuk membantunya.
"Lagi ngapain Om?" tanya Adel yang kini sudah berdiri di samping Farel.
"Eh, enggak. Sudah selesai mandinya." Farel menoleh ke arah Adel.
"Sudah Om." Adel menjatuhkan bobot tubuhnya di samping Farel.
Farel merubah posisi duduknya. Kini lelaki itu duduk menghadap sang istri. Sementara Adel masih terdiam, ia tidak tau harus mulai dari mana. Setelah cukup lama akhirnya Adel bersuara.
"Om, ada yang mau Adel bicarakan," ujar Adel. Matanya menatap manik hitam milik suaminya itu.
"Bicara saja, aku dengerin kok." Farel memainkan rambut Adel yang masih sedikit basah.
Adel menarik nafasnya dan membuangnya secara perlahan. Saat Adel hendak mengeluarkan suaranya, tiba-tiba terdengar suara kaca yang pecah. Seketika Adel dan Farel menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Farel bergegas bangkit dari duduknya, begitu juga dengan Adel. Farel berjalan ke arah jendela kamarnya, dan di sana Farel menemukan batu sebesar kepalan tangan. Kaca jendelanya pun sudah pecah. Farel mengedarkan pandangannya ke luar jendela, tapi hasilnya nihil.
Sementara Adel yang merasa takut, dengan cepat merangkul lengan suaminya itu. Adel berfikir jika itu adalah perbuatan Revan. Gadis itu semakin merasa takut. Tubuhnya terasa bergetar, dan keringat dingin membasahinya.
"Adel, kamu kenapa?" tanya Farel yang merasakan tubuh istrinya gemetar.
"A-Adel takut Om." Adel memeluk erat lengan Farel, dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
Farel segera memeluk erat tubuh mungil istrinya itu. "Jangan takut, ini hanya kerjaan orang iseng."
"Ya sudah, sekarang kita tidur saja ya." Farel menuntun Adel menuju ke ranjang.
Belum sempat Adel naik ke atas ranjang. Tiba-tiba handphonenya berdering, dan lagi-lagi nomor yang tidak dikenal. Farel hendak mengangkatnya, tapi Adel melarangnya. Adel mematikan handphonenya agar tidak menggangu.
"Adel mau pake baju dulu Om." Adel berjalan masuk ke ruang ganti.
"Enggak usah Del. Kayak gitu aja biar mudah," ucap Farel yang langsung mendapat tatapan mematikan dari istrinya.
Farel hanya tersenyum. "Ya udah, sana buruan."
Adel segera memakai pakaiannya. Setelah selesai gadis itu keluar dan segera naik ke atas ranjang. Gadis itu merebahkan tubuhnya. Farel menarik selimut untuk menutupi tubuh Adel. Farel berniat untuk ke kamar mandi, tetapi Adel mencegahnya.
"Om mau kemana." Adel memegangi tangan Farel dengan kuat.
"Mau mandi dulu, lengket semua nih badan," sahut Farel.
"Adel takut Om. Om temenin Adel tidur ya." Adel menarik tangan Farel agar mau menemaninya tidur.
"Tapi aku kan .... "
"Pokoknya temenin Adel tidur," potong Adel dengan cepat.
Dengan terpaksa Farel menuruti keinginan istrinya itu. Farel merebahkan tubuhnya di samping Adel. Dengan cepat gadis itu memeluk tubuh suaminya itu, dan tidur dengan berbantalkan lengan kekar Farel.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Adel sudah siap dengan seragam sekolahnya. Pagi ini Adel berangkat lebih awal, lantaran ada pelajaran tambahan di pagi hari. Farel pun terpaksa mengantarkan Adel lebih awal.
Seperti biasa sebelum Adel masuk ke kelas. Adel selalu mencium punggung tangan suaminya itu. Farel pun tak pernah lupa memberikan nasehat agar istrinya itu belajar dengan benar. Setelah berpamitan Farel segera pulang, dan setelah itu dirinya baru akan berangkat ke kantor.
Adel berjalan memasuki halaman sekolahnya. Suasana sekolah sudah ramai, banyak siswa-siswi yang berlalu-lalang. Tapi ada yang berbeda, Adel merasa ada kejanggalan yang terjadi. Mulai dari tatapan mereka yang aneh, dan bisikan-bisikan yang membuat telinga Adel panas.
"Enggak nyangka ya, Adel yang terlihat polos bisa seperti itu," ucap salah satu siswi.
"Iya, ganteng sih suaminya. Tapi kalau dilihat dari segi umur, sangat jauh berbeda," sahut salah satu siswi lainnya.
"Iya, kalau pihak sekolah tau. Adel bisa dikeluarin. Bahkan kalau sekolah lain tau, nama baik sekolah kita bisa tercemar," timpal salah seorang siswa.
Adel tidak kuat mendengar itu semua. Dengan cepat gadis itu berjalan menuju ke kelasnya. Setibanya di depan kelas, keadaan kelas sudah ramai. Dan lagi-lagi hanya kata-kata menyakitkan itu yang Adel dengar.
Perlahan Adel masuk ke dalam dan. menutupi telinganya dengan kedua telapak tangannya. Semua mata tertuju pada Adel, dan tatapan mereka sangat menakutkan. Kata-kata itu terdengar semakin jelas dan terasa menusuk.
Adel tidak tahan lagi mendengar itu semua. Adel berharap jika itu adalah mimpi buruknya. Tapi semua itu terlihat sangat nyata. Adel pun berteriak sekeras mungkin, berharap kata-kata buruk itu tidak terdengar lagi.