
Setibanya di rumah, Farel menurunkan Adel di ruang tengah. Gadis itu langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa. Sementara Farel berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Farel kembali dengan membawa segelas air mineral, lalu duduk di sebelah sang istri.
"Jorok banget sih, belum mandi juga udah tiduran," Farel menyenggol kaki Adel dengan kakinya.
Adel mendengus kesal, ia pun menatap tajam ke arah Farel. "Biarin. Kayak Om udah mandi aja. Om juga masih bau." Ujarnya yang tak mau kalah.
Seketika Farel tertawa, lalu merangkul bahu istrinya itu. "Ya udah, kita mandi bareng ya." Ujarnya.
"Enggak mau," tolak Adel.
Namun Farel tidak memperdulikan penolakan istrinya itu, dengan cepat Farel bangkit dan mengangkat tubuh Adel. Lalu ia letakkan di pundaknya. Gadis itu berusaha memberontak dengan memukul-mukul punggung Farel, tapi lelaki itu tidak memperdulikannya.
"Lepasin Om, dasar Om-Om mesum. Awas ya, kalau Om macem-macem, nanti Adel laporin ke polisi," Farel sama sekali tidak menghiraukan ocehan Adel.
Farel berjalan menaiki anak tangga, setibanya di kamar, Farel menurunkan istri kecilnya itu di dalam kamar mandi.
Lalu dengan cepat lelaki itu mengunci pintu kamar mandi tersebut.
Kira-kira apa yang terjadi ya?
Setelah selesai mandi, kini Farel sudah rapi dengan celana jeans hitam, dan kaos lengan pendek di padukan dengan blazer berwarna hitam, dan sepatu sneaker berwarna putih. Adel yang baru keluar dari ruang ganti seketika melongo melihat penampilan Farel yang seperti anak ABG itu.
Adel berjalan mengelilingi Farel, dengan memperhatikan penampilannya dari atas sampai ke bawah.
Sementara Farel masih sibuk menata rambutnya di depan cermin.
"Kenapa. Jangan bilang kamu jatuh cinta melihat penampilanku yang seperti ini, ini belum seberapa Sayang," setelah menyombongkan diri, Farel mencolek dagu Adel dan berjalan ke arah almari.
Adel masih terdiam. "Aku enggak nyangka. Ternyata om Farel bisa sekece itu." Batinnya.
"Mau ikut nggak," lamunan Adel buyar saat mendengar suara Farel.
"Ah. Kenapa Om?" tanya Adel. "Jalan-jalan ya Om." Sambungnya.
"Enggak. Nanti kamu juga akan tau," Farel mengambil kunci mobilnya, dan berjalan keluar dari kamar.
Sementara itu, Adel langsung menyambar tas selempangnya dan berlari mengejar Farel. "Tunggu Om." Teriaknya.
Mobil Lamborghini Aventador berwarna merah melaju membelah jalanan ibu kota. Senyum tak pernah pudar dari gadis imut yang duduk di sebelah Farel.
Adel sudah seperti anak TK yang baru saja naik mobil.
"Kita mau kemana sih Om," ujar Adel. Matanya menatap wajah tampan sang suami.
Farel hanya tersenyum. "Nanti kamu juga akan tau." Ujarnya.
"Huft. Mau jalan-jalan ya Om," tebak Adel. Matanya sedikit berbinar, berharap tebakannya benar.
"Memangnya kamu pengen jalan-jalan?" tanya Farel. Sekilas lelaki itu menoleh sang istri.
"Pengen lah Om. Adel bosen di rumah terus," ungkap Adel.
"Ya udah, kita jalan-jalan setelah kamu lulus sekolah ya," ujar Farel. Ia berharap Adel akan setuju.
"Kelamaan dong Om," bibir mungil Adel seketika mengerucut.
Farel tersenyum. "Sekarang tugas kamu adalah belajar, belajar, dan belajar. Sebentar lagi kamu ujian, kamu harus mendapatkan nilai terbaik. Nanti aku ajak kamu jalan-jalan ke luar negeri," Adel tersenyum mendengar perkataan Farel. Ia begitu sangat bangga memiliki suami seperti dia.
"Sekalian bulan madu," imbuhnya, dengan suara pelan.
"Ke luar negeri jauh banget dong Om," ujar Adel.
"Ya enggak lah. Kamu pengennya kemana, ke Jepang, Jerman, Korea, Singapura, New England, Swiss, Italia, Cina, Vietnam, atau Thailand," Adel terdiam mendengar Farel yang tengah menyebut nama-nama negara tersebut.
"Jangan ke Cina lah Om, nanti kita kenal virus Corona gimana," usul Adel.
Sejenak Farel terdiam. "Benar juga. Virus itu yang lagi viral kan. Saking viralnya sampai ngalahin artis dunia papan atas." Ujarnya. Lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Seketika Adel tertawa. "Om bisa aja." Ungkapnya. "Udah deh, ngomong sama Om lama-lama ngelantur." Sambungnya.
"Bukannya kamu yang sering ngelantur," balas Farel. Keduanya sama-sama tertawa.
Setelah cukup lama dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
Adel terlihat bingung, saat tiba di tempat tersebut. Keduanya pun turun dari mobil, Adel mengedarkan pandangannya.
Mata Adel tertuju pada bangunan rumah minimalis, dan di sebelah terdapat sebuah bangunan toko. Kedua bangunan itu terlihat sangat mewah.
"Ini tempat apa Om?" tanya Adel. Sementara matanya masih menjelajah ke seluruh penjuru.
"Rumah ini untuk ibu kamu, lalu yang sebelah untuk usaha kue ibu kamu," Adel terkejut mendengar pernyataan dari suaminya.
"Serius Om," ujar Adel yang masih belum percaya.
"Kapan aku bohong sama kamu. Sebentar lagi ibu dan adikmu juga akan sampai," seketika Adel memeluk Farel. Gadis itu merasa senang dan juga terharu, ternyata Farel adalah sosok suami idaman.
Farel tersenyum, lalu membalas pelukan sang istri. Adel tidak menyangka kalau Farel mau melakukan hal seperti itu.
Adel pikir setelah Farel menikahinya, lelaki itu hanya akan memikirkan dirinya saja, tapi Adel salah. Farel sangat memperhatikan hidupnya dan juga keluarganya.
Tak lama kemudian, sebuah mobil Toyota Alphard memasuki pelataran dan berhenti tepat di mana Adel dan Farel berdiri. Seketika Adel melepas pelukannya dan berdiri di samping suaminya.
Nampak Raka keluar dari mobil tersebut, lalu tak lama kemudian seorang ibu paruh baya turun, yang tak lain ibunda Adel. Lalu diikuti oleh kedua adiknya, Indra dan Irma. Melihat ibunya datang, Adel langsung menghambur ke pelukan sang ibu.
"Adel kangen banget sama ibu," ungkap Adel, tak terasa air matanya pun menetes.
"Ibu juga kangen sama kamu Nak," balas sang ibu.
Setelah itu, Adel melepas pelukannya. "Maafin Adel ya Bu, Adel jarang mengokin ibu." Ujarnya.
"Iya Nak. Yang penting kamu kan sehat," sahutnya. Mira tersenyum dan mengelus lembut pipi Adel yang sangat dirindukannya.
Setelah itu, Adel juga memeluk kedua adiknya. Mereka terlihat sangat bahagia, sejak Adel menikah, mereka jarang sekali bertemu. Sementara Farel hanya tersenyum, lelaki itu ikut merasa bahagia, melihat istri kecilnya itu bahagia.
Farel berdehem. "Udah dong pelukannya. Kayak Teletubbies aja." Ujarnya.
Farel hanya tersenyum melihat bibir istrinya yang mulai manyun.
Setelah itu Farel berjalan menghampiri ibu mertuanya. Lelaki itu berdiri di samping Mira, dan tak lupa mencium punggung tangan ibu mertuanya itu.
"Bagaimana Bu. Ibu sudah tau kan, Kenapa Farel mengajak ibu dan kedua adik Adel ke sini," ujar Farer dengan lembut.
Mira mengangguk. "Iya Nak Farel. Tapi apa ini tidak berlebihan." Sahutnya.
"Tidak Bu, ibu pantas mendapatkan ini semua. Bahkan menurut Farel, apa yang Farel kasih belum seberapa," tukas Farel.
"Sekali lagi terima kasih Nak Farel, ibu tidak tau harus bagaimana lagi," balas Mira.
"Sama-sama Bu, sekarang Farel kan juga anak ibu," Mira tersenyum mendengar perkataan menantunya itu.
Adel pun tertegun mendengar apa yang suaminya katakan itu. Gadis itu benar-benar tidak menyangka, kalau lelaki yang menikahinya, begitu sangat sayang dirinya dan juga keluarganya.
"Rel, cabut dulu ya," ucap Raka berpamitan.
"Ok. Thanks ya," sahut Farel. Raka hanya tersenyum dan beranjak pergi.
Setelah itu Farel mengajak ibu mertuanya dan kedua adik iparnya untuk masuk ke dalam. Mereka pun masuk ke dalam, setibanya di dalam, semua mengedarkan pandangannya, tapi tidak dengan Farel, lelaki itu berjalan menuju ke sofa dan duduk.
Setelah puas menjelajahi setiap ruangan di dalam rumah tersebut. Adel dan ibunya serta kedua adiknya kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa di mana Farel tengah duduk. Setelah semuanya sudah duduk, Farel segera memulai pembicaraannya.
"Mulai sekarang, ibu, Indra dan Irma tinggal di rumah ini. Nanti ibu bisa memulai usaha ibu di tempat yang sudah Farel sediakan. Dan ibu tidak perlu repot-repot membuat kuenya, karena nanti Farel akan mengirim karyawan untuk bekerja dengan ibu," Mira tersenyum mendengar penjelasan dari menantunya itu.
Begitu juga dengan Adel. Gadis itu sangat bahagia dan tidak menyangka dengan apa yang suaminya lakukan.
Namun di lain sisi, Adel teringat dengan perjanjian pernikahannya. Bagaimana nasibnya nanti, setelah usia pernikahannya genap setahun.
***
Kini Farel dan Adel sudah dalam perjalanan pulang. Setelah hampir setengah hari mereka menghabiskan waktu bersama ibu dan kedua adiknya.
Setelah menikah Farel memang menyewa tempat untuk digunakan ibu mertuanya berjualan.
Namun Adel tidak pernah menyangka jika selama ini Farel telah membangun rumah dan tempat usaha untuk ibundanya.
Farel memang tidak memberitahu Adel tentang hal itu, lelaki itu ingin memberikan kejutan untuk keluarga Adel.
"Kita mau kemana Om?" tanya Adel.
"Ke rumah mama, sudah lama kita enggak ke sana," terang Farel. Adel hanya tersenyum.
Tak butuh waktu lama, kini mobil yang Farel dan Adel tumpangi sudah berhenti di halaman luas milik orang tua Farel.
Keduanya segera turun dari mobil, lalu Farel menggandeng tangan Adel untuk masuk ke dalam.
Kedatangan Adel dan Farel disambut oleh kedua orang tua Farel. Terlebih ibunda Farel, perempuan itu langsung menarik menantunya untuk di ajaknya masuk, tanpa memperdulikan putranya sendiri.
"Ah. Mama kebiasaan, kalau Adel ke sini, lupa sama anak sendiri," Farel berjalan menuju ke ruang tengah. Lelaki itu segera melepas blazer yang menempel di tubuhnya lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa.
Sementara itu, Lidia dan Adel tengah berbincang di taman samping rumah.
Indra yang melihat putrinya tengah duduk sendiri. Pria itu pun berjalan menghampiri Farel dan duduk berhadapan.
"Mama kamu mana, kok nggak kelihatan," ujar Indra yang tidak melihat sosok istri dan menantunya.
"Biasa lah pa, kalau udah ketemu Adel. Anak sendiri di lupain," terang Farel. Lelaki itu tengah sibuk dengan gawainya.
Indra hanya tersenyum. Selang beberapa menit, Adel dan Lidia datang dan duduk bersama dengan Farel dan juga Indra.
Adel duduk di sebelah Farel, sementara Lidia duduk di sebelah suaminya.
"Bagaimana pesanan papa, apa kalian sudah .... " Ucapnya terpotong, lantaran sang istri tiba-tiba menyenggolnya.
"Pesanan apa pa?" tanya Farel dengan santai. Sementara jari tangannya masih sibuk dengan benda pipih tersebut.
Indra membuang nafas. "Cucu." Ujarnya.
Seketika Adel dan Farel terkejut. Kedua insan itu saling berpandangan. Seketika Adel terdiam, gadis itu tidak tau harus menjawab apa. Sementara Farel tengah memutar otaknya, untuk mencari akal.
"Adel kan masih sekolah pa. Masa iya, Farel bikin Adel hamil sedangkan dia masih harus sekolah," Farel berharap orang tuanya akan mengerti apa yang dirinya maksud.
"Sebentar lagi Adel kan ujian. Jadi setelah lulus kalian harus kasih kami cucu. Iya kan pa," timpal Lidia. Suaminya tersenyum mendengar perkataan sang istri.
"Ok. Kalian tenang saja, setelah Adel lulus, kami pasti akan kasih kalian cucu. Iya kan Sayang," Farel merangkul pundak sang istri, dan menarik tubuh mungil Adel agar lebih mendekat.
Adel melotot ke arah Farel, lalu tersenyum ke arah mertuanya. "Iya pa, ma." Ucapnya.
Indra dan Lidia tersenyum bahagia mendengar pertanyaan yang Adel katakan. Tapi bagi Adel hal itu sangat mengganggu pikirannya. Bagaimana tidak, mereka tidak tau tentang perjanjian itu. Sementara Farel seperti lupa akan hal itu.
***
Waktu terasa begitu cepat, siang telah berganti malam. Sekarang Farel dan Adel sudah dalam perjalanan pulang. Tapi Farel merasa heran dengan sikap Adel yang sedari tadi hanya diam. Padahal biasa gadis itu sangat cerewet.
Farel juga merasa jika Adel sangat terganggu dengan permintaan kedua orang tuanya. Tapi kali ini Adel memilih diam, tidak seperti yang lalu. Saat mendengar jika mertuanya meminta cucu, dan Farel menyanggupinya, gadis itu pasti akan protes dengan sang suami.
"Aku tau, kamu pasti terganggu dengan permintaan kedua orang tuaku. Tapi kamu juga tidak bisa membohongi diri kamu sendiri. Jika kamu tidak ingin mengakhiri pernikahan ini. Sama halnya denganku, aku juga tidak mau kita berpisah," batin Farel. Ia melirik sekilas ke arah gadisnya.
Adel semakin larut dalam lamunannya. Sampai akhirnya, gadis itu tertarik ke dalam alam mimpi. Mata Adel terpejam, dan mulai menyusuri alam bawah sadar.
Farel melirik sang istri, dan ternyata Adel sudah tertidur.
Perlahan Farel meraih tubuh mungil sang istri. Ia menyenderkan kepala Adel di bahunya. Sesekali Farel mencium puncak kepala sang istri. Tangannya mendekap tubuh mungil Adel, menyalurkan kehangatan. Sementara tangan sebelahnya tetap fokus menyetir.
"Kamu adalah milikku seutuhnya. Aku tidak akan melepasmu begitu saja. Kamu akan tetap akan menjadi milikku," Farel kembali mencium puncak kepala Adel setelah mengucapkan hal itu.
Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tetapi cinta itu mau menerima
pasangan kita dengan sempurna.
Bukan pula mencari kelebihannya, tetapi harus mampu menerima segala kekurangannya. Saling melengkapi adalah kunci pasangan yang bahagia.