Ahan

Ahan
Menanti_Kehadirannya ( Baby )_30



Hari-hari telah berlalu, Adel semakin manja, sementara Farel semakin pusing dengan sikap Adel yang seperti itu. Meski tidak bisa dipungkiri, Farel juga bahagia karena bisa merasakan momen seperti itu. Karena tidak semua orang bisa merasakan momen seperti yang kini Farel rasakan.


Seperti sore ini, Adel merengek meminta jus asam jawa. Hal itu membuat Farel harus memutar otaknya tujuh kali putaran. Itu juga belum cukup, soalnya untuk mencari asam jawa sangatlah sulit. Tapi demi istri tercintanya, Farel akan mencarinya, meski sampai ke ujung jalan sekalipun.


Farel sudah menelusuri jalanan, berharap bisa menemukan apa yang istrinya minta. Tapi hampir dua jam belum ada hasilnya, kepalanya semakin pusing saat handphonenya berdering. Hampir 50 pesan masuk, 30 panggilan tak terjawab. Farel sengaja, karena ia tidak ingin bertambah pusing saat mendengar ocehan istrinya itu.


Pukul 8 malam Farel baru tiba di rumah, setelah memasukkan mobilnya ke garasi. Pria itu bergegas masuk ke dalam, Farel sudah menyiapkan mentalnya untuk mendengar ocehan istrinya itu. Dan benar saja, baru melangkah masuk Farel sudah melihat Adel tengah berdiri dengan berdecak pinggang.


Matanya menatap tajam ke arah Farel. Sebelum Farel melangkahkan kakinya, pria itu menarik nafasnya terlebih dahulu, dan dengan perlahan membuangnya.


Setelah itu Farel berjalan menghampiri istrinya, dengan membawa satu kresek berukuran sedang. Farel berjalan dengan sedikit pincang, Adel yang melihat itu bergegas menghampirinya.


"Mas kenapa? Kok jalannya seperti itu?" tanya Adel, dengan raut wajah yang panik bin khawatir.


Farel tidak langsung menjawab, pria itu menyodorkan kresek tersebut pada Adel. Dengan segera Adel meraih kresek itu, lalu menaruhnya di atas meja. Sementara Farel berjalan menuju ke sofa, lalu duduk. Perlahan Farel mengangkat kaki kanannya, saat hendak membuka sepatunya, Adel menahannya. Dan dengan segera Adel membukanya.


"Kaki Mas kenapa? Kok bisa kayak gini." Adel semakin khawatir saat melihat pergelangan kaki Farel yang memburu. Seperti bekas terkilir.


"Enggak apa-apa kok. Cuma terkilir, soalnya tadi jatuh waktu manjat pohon." Farel meringis kesakitan, saat Adel memijit pergelangan kaki suaminya dengan pelan.


"Maafin Adel ya, Mas. Gara-gara Adel, Mas jadi kayak gini." Mata Adel berkaca-kaca, wanita itu benar-benar merasa bersalah. Gara-gara permintaannya, suaminya jadi celaka seperti itu.


"Sudah, kamu tidak perlu meminta maaf. Kamu enggak salah kok, ini sudah kewajiban aku sebagai suami." Farel menarik tubuh istrinya itu dalam pelukannya.


Setelah itu, Adel membantu Farel naik ke atas, untuk menuju ke kamar. Setibanya di kamar, Adel memapah Farel untuk naik ke atas ranjang. Setelah itu Adel mengambil minyak untuk mengurut pergelangan kaki suaminya itu. Untuk asam jawanya, terpaksa Adel abaikan dulu, karena suaminya lebih penting dari itu.


Adel sangat telaten, dan juga sangat hati-hati dalam mengurut pergelangan kaki suaminya itu. Sementara Farel susah payah menahan rasa sakit di kakinya, tapi mungkin sakit yang kini Farel rasakan, tidak akan sebanding dengan yang akan Adel rasakan nanti saat melahirkan.


Setelah selesai, Adel bangkit dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangannya. Setelah itu Adel pun keluar, ia berjalan menghampiri suaminya yang tengah duduk di atas ranjang. Adel duduk di sampingnya, wanita itu mengamati wajah suaminya yang terlihat begitu lelah.


"Sayang, tolong bukain celana aku dong," pinta Farel. Seketika mata Adel melotot


"Mas apa-apaan sih, kaki lagi sakit aja mau macam-macam. Enggak ingat apa, Adel lagi hamil," sahut Adel, dengan nada sedikit kesal.


Farel menautkan alisnya. "Emang kamu pikir aku mau ngapain ... ngeres nih otak kamu. Aku nyuruh kamu bukain celana aku, soalnya aku mau ganti celana, Sayang."


"Hehehe." Adel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Adel bangkit dan berjalan menuju almari, untuk mengambil celana ganti dulu. Setelah itu Adel mulai membantu Farel untuk mengganti celananya, bukan itu saja Adel juga mengganti kemeja suaminya, dengan kaos oblong. Setelah itu Adel turun ke bawah untuk mengambil makanan, ia yakin pasti suaminya itu belum makan.


Selang beberapa menit Adel kembali dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya, dan segelas air putih. Tau banget kalau Farel belum makan, ya iyalah 'kan istri pengertian. Adel duduk di samping suaminya lalu meletakkan gelas tersebut. Farel tersenyum melihat istrinya yang begitu sangat perhatian bin pengertian.


"Mas makan dulu ya ... pasti Mas belum makan 'kan." Adel menyendok makanan tersebut, lalu menyuapkan pada suaminya itu.


Farel hanya tersenyum dan mengangguk, lalu menerima suapan dari istrinya itu. Suapan demi suapan Farel terima dengan senyum yang mengembang. Sungguh kenikmatan seorang pria yang sudah beristri memang seperti ini. Ada yang memperhatikan, dan juga mengurusnya.


***


Hari telah berganti, dan minggu telah berlalu. Pagi ini Farel sudah siap dengan pakaian kerjanya, sementara Adel tengah menyiapkan sarapan pagi, untuk dirinya dan juga sang suami. Selang beberapa menit Farel turun dan bergega menghampiri sang istri. Adel tersentak saat merasakan tangan kekar melingkar di perutnya yang buncit itu.


Bukan itu saja, tangan itu pun bergerak mengelus-elus perut Adel. Siapa lagi kalau bukan suaminya, bahkan Farel menciumi leher jenjang istrinya itu yang putih dan mulus. Adel hanya diam, memang itu sudah menjadi kebiasaannya. Kini Farel membungkukkan badannya, lalu meletakkan dagunya di bahu Adel.


"Masak apa Sayang?" tanya Farel, tangannya semakin erat memeluk perut buncit sang istri.


"Omelette, sama nasi goreng kesukaan Mas," jawab Adel. Tangannya masih sibuk menata piring.


"Hm, jadi semakin lapar," sahut Farel.


"Ya udah sekarang Mas duduk. Kalau kayak gini terus, kapan mulai makannya," ujar Adel.


"Iya, iya." Farel mencium pipi istrinya itu, lalu menarik kursi untuk duduk.


Setelah itu, Adel mulai meladeni sang suami. Farel begitu lahap menikmati sarapan paginya, memang tidak bisa dipungkiri jika masakan istri uniknya itu sangat enak. Bahkan sekarang Farel lebih suka makan di rumah, ketimbang di luar. Untuk makan siang saja, Farel sering menyempatkan diri untuk pulang terlebih dahulu jika ia tengah masuk kantor.


Selesai sarapan, Farel segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Tak lupa Adel mengantarkan sang suami sampai di depan pintu. Sebelum berangkat, Farel selalu mencium dan mengelus perut istrinya itu. Terlebih sekarang, perut Adel yang sudah membuncit, membuat Farel ingin mengelusnya terus menerus. Adel pun merasa sangat nyaman dengan perlakuan suaminya itu.


Tak lupa Adel mencium punggung tangan suaminya itu, lalu Farel pun mencium kening sang istri. Setelah itu Farel bergegas masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah mobil yang Farel naiki tak terlihat lagi oleh pandangan matanya, Adel segera masuk ke dalam.


Wanita itu segera membereskan meja makan.


"Oh ya, besok Anggia 'kan menikah. Kira-kira mas Farel mau datang nggak ya." Adel tengah menerka-nerka. Wanita itu sedang memikirkan, apakah suaminya mau datang ke pernikahan sang mantan, atau tidak.


Sekarang Adel tengah membereskan kamar yang masih berantakan. Sebenarnya sih enggak terlalu berantakan, tapi Adel sangat suka dengan kamar yang rapi. Saat Adel tengah mengambil pakaian kotor milik Farel, tiba-tiba matanya tidak sengaja melihat ke tempat sampah yang berada di dekat meja rias. Matanya tertuju pada sampah yang berada di dalamnya.


Karena penasaran, Adel mengambilnya. Dan ternyata, itu adalah undangan pernikahan Anggia, yang Farel terima satu minggu yang lalu, dan besok adalah hari pernikahannya. Segitu bencinya kah Farel, sampai-sampai undangan itu ia buang ke tempat sampah. Setelah itu Adel memutuskan untuk membicarakan hal itu setelah Farel pulang nanti.


***


Farel melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, setelah tiba di atas tujuan utamanya adalah kamar. Dan benar saja, Adel berada di kamar, dan baru saja selesai mandi. Adel hanya melilitkan handuk sampai ke dada, Farel yang melihat itu, seketika menelan salivanya. Tubuh itu terlihat sangat seksi dan menggoda.


Terlebih perutnya yang sudah membuncit, Farel berjalan mendekati sang istri yang kini tengah berdiri di depan meja rias, sembari mengeringkan rambutnya. Pria itu melempar jasnya ke sofa, lalu melipat lengan bajunya sampai ke siku. Tak lupa Farel segera melepas dasinya, yang terasa mencekik lehernya.


Setelah melempar dasi itu ke atas ranjang, Farel mendekati sang istri, dan memeluknya dari belakang, Adel tersentak saat menyadari jika suaminya sudah berada di belakangnya. Bahkan wanita itu bisa merasakan deru nafas Farel yang begitu memburu. Adel sangat


paham dengan suaminya itu.


"Mas udah pulang, kok Adel nggak denger sih," ujar Adel. Sementara Farel masih sibuk menciumi leher jenjang sang istri.


"Aku baru nyampe, Sayang." Farel mencium punggung mulus istrinya itu.


"Ya sudah, Adel pake baju dulu ya. Setelah itu kita makan, Adel udah masakin makanan kesukaan, Mas." Adel melepas pelukan Farel. Dan berniat untuk menuju ke almari. Tapi dengan cepat Farel mencekal pergelangan tangan Adel.


"Nanti saja, Sayang. Aku tidak bisa menunggu lagi." Farel memiringkan wajahnya, dan hendak meraih benda kenyal tersebut. Tapi dengan cepat Adel mencegahnya.


"Tenang saja, Sayang ... pelan-pelan kok." Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya. Farel langsung membopong tubuh istrinya, dan membaringkan tubuhnya secara perlahan di atas ranjang.


Adel tidak bisa menolaknya lagi, selain berdosa, ia juga tidak ingin mengecewakan suaminya itu. Adel sudah sangat paham dengan gelagat suaminya itu, jika sedang lapar. Bukan lapar perutnya yah. Melainkan lapar itu, tu. Kalian pasti tau lah. Apa yang dimaksud dengan 'lapar'.


Setelah satu jam berlalu, kini Farel tengah mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. Sementara Adel masih menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut, dengan berbantalkan lengan kekar suaminya. Adel menenggelamkan wajahnya di dada bidang Farel. Saat hamil seperti ini, tubuhnya mudah sekali merasa lelah.


"Terima kasih ya, Sayang," ucap Farel, dan dibalas dengan anggukan oleh sang istri.


Farel mengeratkan pelukannya, begitu bahagianya bisa memiliki istri seperti Adel. Meski terkadang membuatnya jengkel, tapi Farel tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang, membuat mata mereka lama-lama terpejam. Dan masuk ke dalam alam mimpinya yang begitu indah.


***


Keesokan paginya, Adel sudah selesai mandi. Begitu juga dengan Farel, pria itu justru sudah siap dengan pakaian kerjanya. Adel yang melihat itu dengan segera berjalan mendekati sang suami. Adel membantu Farel untuk memasang dasi di lehernya. Tak lupa arloji di pergelangan tangan suaminya itu.


Setelah selesai, Adel mengambil jas yang tergantung di gantungan baju. "Mas, sekarang 'kan hari ... apa Mas lupa."


Farel hanya diam, pria itu tau apa yang dimaksud oleh istrinya itu. "Aku tau, apa yang kamu maksud. Tapi maaf, hari ini jadwal aku di kantor sangat padat ... mungkin aku juga akan pulang malam."


Farel segera memakai jasanya, setelah itu ia meraih tas kerjanya. "Aku pergi dulu ya. Pagi ini ada meeting."


"Oya, nanti tolong antar makanan ke kantor ya." Farel mencium kening Adel, lalu jongkok, dan mengelus perut buncit istrinya, tak lupa Farel menciumnya.


Adel hanya diam dan tersenyum, setelah itu Adel meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya. Setelah berpamitan Farel bergegas turun ke bawah, tak lupa Adel mengantarkannya sampai di depan pintu. Meski ia sedikit kecewa, tapi Adel tau. Semua keputusan suaminya, itu adalah yang terbaik.


***


Farel benar-benar sibuk, setelah selesai meeting Farel kembali disibukkan dengan berkas-berkas yang harus ia selesaikan. Bahkan, siang nanti Farel ada pertemuan penting dengan rekan-rekan kerjanya. Dan pukul 1 siang nanti, Farel ada kunjungan kerja ke Bandung. Jadi sebelum makan siang, semua pekerjaannya harus sudah selesai.


Pukul 11.30 Adel sudah tiba di kantor. Wanita itu bergegas menuju ke ruangan suaminya. Setibanya di sana, Adel segera masuk ke dalam, terlihat Farel masih berkutat pada layar komputernya, dan berkas-berkas yang masih menumpuk di depannya. Adel berjalan menghampiri suaminya itu.


Sebelumnya Adel meletakkan ratang yang ia bawa, di atas meja. Setelah itu Adel berjalan menghampiri sang suami, dan berjalan diri di belakangnya. Wanita itu tengah memperhatikan suaminya yang masih fokus dengan pekerjaannya, Adel sangat tau, jika Farel begitu sibuk. Mungkin itu alasannya menghindari pertanyaannya waktu pagi tadi.


"Istirahat dulu, Mas." Adel memegang kedua bahu suaminya. Seketika Farel menghentikan aktivitasnya.


Farel menyenderkan punggungnya di sandaran kursi, pria itu mengendurkan dasinya, dan memejamkan matanya sejenak. Rasanya sangat lelah, ingin sekali Farel menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang.


Adel yang melihat itu, dengan pelan memijit kepala Farel, agar lebih merasa enak.


Setelah Farel bangkit dari duduknya. "Makan yuk, aku sudah sangat lapar."


Adel hanya tersenyum, setelah itu Adel berjalan menuju ke sofa, dan diikuti oleh Farel. Adel membuka wadah makanan yang ia bawa, dan dengan segera menyiapkannya untuk sang suami. Sementara Farel duduk, sembari menunggu sang istri menyiapkan makanan untuknya.


Setelah siap, keduanya segera menyantap makan siang bersama. Farel sangat menikmati masakan istrinya itu, begitu juga dengan Adel. Ritual makan siang telah selesai, setelah Adel membereskannya, wanita itu duduk di samping suaminya. Bahkan Adel menyenderkan kepalanya di bahu Farel.


Seketika Farel mencium kening istrinya, lalu tangannya mengelus lembut perut buncit Adel. " Sayang, kok nggak gerak sih."


"Ya enggak lah, Mas. Baru aja 4 bulan. Kalau sudah 7 bulan, baru gerak," jelas Adel.


Setelah itu Farel bangkit dan mengubah posisi duduknya. Kini Farel duduk di lantai, sementara Adel tetap duduk di sofa. Perlahan Farel mengelus perut buncit istrinya, Adel tersenyum mendapat perlakuan seperti itu. Bahkan bukan itu saja, Farel menempelkan telinganya tepat pada perut Adel.


Kedua tangan Farel melingkar di pinggang istrinya itu. Setelah itu Farel melepasnya, dan kembali mengelus perut Adel. Bahkan sesekali Farel mencium perut buncit istrinya itu. Adel hanya bisa tersenyum, sungguh bahagia yang tidak pernah terduga. Senyum pun tak pernah luntur dari keduanya.


"Sayang, kamu baik-baik di dalam ya. Kami sudah tidak sabar, kehadiran kamu sudah kami nantikan." Farel mengelus perut Adel, lalu menciumnya.


"Jangan nakal, ya di dalam." Farel mendongak dan menatap wajah sang istri. "Satu lagi, jangan biarkan Bunda kamu ngidam yang aneh-aneh lagi."


Mendengar itu, seketika raut wajah Adel berubah. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajah ayunya, kini berubah menjadi tatapan mata yang tajam. Bahkan Adel tidak segan-segan menjewer telinga Farel, wanita itu benar-benar kesal dengan sikap sang suami. Sementara Farel meringis kesakitan, meski pria itu sudah meminta maaf, tapi Adel enggan untuk melepas jewerannya itu.