Ahan

Ahan
#Kejutan_40



Farel menghela nafas saat ia sadar, jika yang dialaminya itu hanya sebuah mimpi. Tapi rasanya seperti nyata, pria itu begidik ngeri saat mengingat mimpinya. Sungguh membuat pikiran dan hatinya kacau, Farel berdo'a semoga mimpi itu tidak menjadi kenyataan. Karena baginya itu adalah mimpi terburuknya sepanjang sejarah.


Farel bangkit dan duduknya, pria itu berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar. Ia akan mandi dan setelah itu Farel akan memutuskan untuk ke rumah Ibunya, berharap semoga istrinya sudah tidak ngambek lagi. Dunianya terasa hampa saat diacuhkan oleh wanita yang sangat dicintainya.


Ah, Farel memang egois, giliran sudah diacuhkan seperti itu, baru sadar jika istrinya itu  adalah yang terbaik.Tapi kenapa tuh matanya masih suka jilalatan, tolong dikondisikan matanya, jangan sampai kesalahan itu terulang lagi. Bisa-bisa nanti diblokir oleh Adel menjadi suaminya, bisa bahayakan.


Setelah selesai kini Farel sudah siap untuk datang menjemput kedua bidadarinya. Farel begitu bersemangat, ingin rasanya cepat sampai di rumah orang tuanya, tak sabar untuk melihat wajah imut istri dan putrinya. Wajah yang selalu mengisi hati dan benaknya, ah benarkah itu, tapi kenapa matanya masih suka melihat perempuan lain.


Kini mobil Farel sudah melaju meninggalkan halaman rumahnya, dan membelah jalanan ibu kota. Dengan senyum yang mengembang, Farel terus fokus untuk menyetir, rasanya benar-benar tidak sabar ingin melihat wajah kedua bidadarinya. Wajah yang sudah sangat ia rindukan, meski belum ada satu hari, tapi rasanya seperti sudah ada seminggu.


"Aku sangat merindukan kalian," ucap Farel. Senyum tak pernah pudar darinya.


"Ah, kenapa rasanya seperti orang yang lagi jatuh cinta saja." Farel menambah kecepatan laju mobilnya. Benar-benar sudah tidak dabar.


Mobil Farel sudah terparkir di halaman rumah orang tuanya, dengan penuh semangat dan percaya diri pria itu keluar dari mobil, dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Farel masuk ke dalam, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, yang terlihat begitu sepi.


"Assalamualaikum." Farel melangkahkan kakinya menuju ke ruang tengah, dan benar saja mereka tengah berkumpul di sana.


Terlihat mereka tengah bercanda, dan bermain dengan Aqilla, senyum dan tawa tak lepas dari mereka. Farel tersenyum saat melihat wanitanya tertawa lepas seperti itu. Begitu juga gadis ciliknya, Aqilla nampak begitu bahagia, senyum serta tawa menghiasi wajah dan bibir mungilnya itu. Pria itu melangkahkan kakinya menghampiri mereka.


"Halo, Sayang, papa kangen banget sama .... " ucapan Farel terhenti saat Adel mengangkat tubuh mungil Aqilla. Wanita itu berdiri dengan menggendong putrinya itu.


Farel mengernyitkan keningnya. "Sayang, kamu ... apa kamu masih marah."


Farel menatap lekat wajah sang istri, raut wajahnya berubah menjadi sendu. Sementara Adel memilih mengalihkan pandangannya, wanita itu susah payah untuk menahan senyum dan tawanya. Begitu juga dengan kedua orang tuanya, Lidia dan Indra pun sama, keduanya sama-sama menahan senyumnya.


"Sayang." Farel berjalan mendekati istri dan putrinya, tangani terulur untuk meraih tangan wanitanya. Tapi dengan cepat Adel membalikkan badannya.


"Mau apa Mas ke sini. Bukannya senang Adel sama Qilla nggak ada di rumah. Jadi Mas bisa bebas mau ngapain aja di rumah, mau mandangin mantan Mas itu sampai puas ... puas, tapi rasanya Mas nggak akan puas, buktinya sudah tau ada istrinya masih saja sempat-sempatnya memandangi wajah perempuan lain." Perkataan Adel, sangat menusuk hati Farel, bahkan perkataan itu lebih tajam dari sebuah belati.


"Sayang, aku tidak .... "


"Sudahlah, Mas. Adel bosen dengerin itu semua, dari dulu Mas selalu seperti itu. Adel tau, dia memang lebih cantik, dan lebih dewasa dari Adel. Tapi bukan berarti Mas bisa seenaknya seperti itu, Mas harus ingat kalau Mas sudah punya anak dan istri." Adel melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Wanita itu memilih untuk masuk ke dalam kamar.


Farel masih berdiri mematung, mencerna setiap ucapan istrinya itu. Rasanya begitu sakit, hanya karena hal seperti itu, mampu membuat Adel marah. Jangan bicara 'hanya' karena kata 'hanya' selalu menjadi masalah dalam setiap hal. Raut wajah Farel terlihat sangat lesu, ibarat tanaman yang sudah berminggu-minggu tidak disiram dengan air.


Lidia mendekati putranya itu, tangannya mengusap punggung Farel. "Yang sabar ya, Nak. Kasih Adel waktu, mama yakin Adel mau memaafkan kamu, karena mama tau Adel sangat mencintai kamu."


"Farel memang salah ma, Farel ke sini mau minta maaf. Farel juga kangen sama mereka." Farel menundukkan kepalanya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Mama tau, tapi kamu harus lebih sabar." Lidia kembali mengusap punggung putranya itu.


Indra memilih untuk diam, sementara itu di dalam kamar Adel tengah bermain dengan putrinya itu. Wanita itu sangat puas melihat ekspresi wajah suaminya yang menurutnya sangat lucu. Sejujurnya Adel kasihan, tapi sekali-kali memang harus diberi pelajaran, biar kapok, biar bisa menjaga perasaan orang lain.


***


Waktu telah berganti, senja pun telah menghilang. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 waktu berbuka puasa pun tiba. Suasana di meja makan tampak hening, tak ada percakapan yang terjadi, sementara Adel memilih membawa makanannya ke kamar, sembari menemani putrinya yang masih asyik bermain.


Setelah selesai, Farel memutuskan naik ke atas menuju ke kamarnya. Perlahan Farel membuka pintu kamar itu, terlihat jika istri dan anaknya tengah asyik bermain. Senyum dan tawa keduanya membuat pria itu semakin merasa bersalah, ingin sekali Farel masuk dan ikut bermain dengan mereka, tapi langkahnya terasa berat, terlebih saat mengingat perkataan istrinya.


Farel tersenyum saat melihat Aqilla tertawa begitu lepas. "Sayang, papa rindu sama kamu. Papa rindu sama kalian."


Setelah itu Farel memutuskan untuk pergi, pria itu berjalan ke ruang tengah yang ada di lantai atas. Farel duduk di sofa, ia juga menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, matanya menatap langit-langit rumah. Pikirannya terus menerawang, mencoba mencari cara untuk bisa meyakinkan sang istri, agar mau memaafkannya. Memang sangat sakit saat wanita yang sangat dicintainya mengacuhkannya.


Malam semakin larut, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Farel pun sudah memejamkan matanya dengan posisi yang masih sama. Selang beberapa menit Adel keluar dengan membawa selimu, dengan sangat hati-hati Adel menyelimuti tubuh suaminya itu. Ia tersenyum saat melihat wajah suaminya itu yang tengah terlelap. Setelah itu ia memilih kembali ke kamar untuk tidur.


Waktu berjalan lebih cepat, setelah makan sahur, Farel sama sekali tidak bisa memejamkan matanya kembali. Padahal saat di rumah, Farel selalu tidur kembali dengan istri tercintanya. Tapi kali ini, pria itu justru mondar-mandir tak jelas, ingin masuk menemui sang istri, dan juga putrinya, tapi Farel takut jika Adel belum memaafkannya.


"Belum licin, Rel. Nggak capek apa mondar-mandir kayak setrikaan gitu," seru Lidia. Hal itu mampu membuat Farel terlonjak kaget.


"Ah, mama ngagetin aja." Farel menoleh ke arah Ibunya.


Lidia berjalan menghampiri putranya. "Sudah, tidak usah terlalu dipikirkan. Nanti cepet tua loh, Adel nggak mau lagi sama kamu."


"Makanya, jaga itu mata. Jangan suka melirik yang bukan miliknya, ujung-ujungnya penyesalan yang ada 'kan," timpal Indar. Lidia tersenyum mendengar ucapan suaminya itu.


Sementara Farel hanya diam, pria itu menjatuhkan bobotnya di sofa. Menundukkan kepalanya dan mengusap wajahnya dengan kasar, Farel benar-benar frustasi memikirkan masalah yang ia buat sendiri. Otaknya terus berpikir untuk bisa mencari cara agar sang istri mau memaafkannya, bisa mati penasaran kalau Adel tidak memberinya maaf.


Selang beberapa menit Adel keluar dari kamar dengan menggendong putrinya. Farel tersenyum melihat sang istri keluar, tapi Adel sama sekali tidak menanggapinya. Wanita itu berjalan ke arah Ibu mertuanya, Adel seperti membisikkan sesuatu, entah apa yang tengah mereka bicarakan, Farel benar-benar merasa penasaran bin kepo.


"Adel titip Qilla dulu ya, ma," ucap Adel. Sementara Lidia segera mengambil alih cucunya itu.


"Iya, Sayang. Kamu hati-hati di jalan ya," sahut Lidia dengan tersenyum.


Farel semakin penasaran saat melihat Ibunya mengambil alih Aqilla, dan Adel pergi setelah berpamitan kepada kedua mertuanya tanpa berpamitan padanya. Pria itu tidak tahan lagi dengan sikap acuh isterinya itu, dengan cepat Farel bangkit dari duduknya dan berlari mengejar Adel. Setibanya di bawah Farel berhenti sejenak, lantai bawah masih dalam keadaan gelap.


Ya, karena sekarang waktu baru menunjukkan pukul 05.00 jelas masih gelap. Farel melangkahkan kakinya mencari keberadaan sang istri, jika Adel keluar pasti pintu utama terbuka, tapi ini keadaan pintu masih tertutup rapat. Perlahan Farel berjalan mencari sakelar lampu, untuk menyalakannya agar ruangan menjadi terang, tiba-tiba.


"Surprise." Adel berteriak sembari membawa kue beserta lilin yang sudah menyala, yang terletak di atas kue tersebut.


"Selamat ulang tahun ya, Mas." Adel berjalan menghampiri suaminya itu.


Farel benar-benar terkejut, pria itu tidak menyangka kalau istrinya ingat dengan ulang tahunnya itu. Padahal Farel sendiri tidak mengingatnya, terlebih saat ada masalah yang secara tidak sengaja, karena ulahnya. Farel tersenyum melihat Adel yang tersenyum ke arahnya, ini adalah hari bahagianya, Farel tidak akan lupa dengan kejutan yang Adel buat.


Selang beberapa menit Indra turun bersama dengan Lidia yang menggendong Aqilla. Bahkan beberapa asisten rumah tangga orang tuanya juga ikut hadir. Senyum tak pudar dari bibir Farel, ia merasa terharu. Farel kini berdiri di hadapan Adel, pria itu memejamkan matanya sejenak, setelah itu Farel meniup lilin tersebut.


"Selamat ulang tahun ya, Sayang." Lidia mencium kening putranya dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih ya, ma." Farel memeluk Ibundanya dengan sangat erat.


"Sama-sama, Sayang. Semoga dengan bertambahnya umur, kamu bisa lebih bijak dalam menghadapi apapun." Lidia mengusap punggung putranya dengan lembut.


Farel melepas pelukannya, lalu mencium kedua pipi Aqilla yang masih dalam gendongan Neneknya. Setelah itu Farel juga memeluk Ayahnya, dan yang terakhir adalah memeluk tubuh mungil wanita yang sangat ia cintai. Farel memeluk Adel dengan sangat erat, seakan tidak ingin melepaskannya, pria itu juga mengecup kening istrinya dengan sangat lembut.


"I love you my wife, tolong maafkan segala kesalahanku ... aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Farel menatap lekat wajah sang istri. Adel hanya mengangguk dengan tersenyum, lalu Adel kembali memeluk tubuh suaminya itu.


"Tapi ada syaratnya, Mas." Seketika Farel melepas pelukannya, dan menatap wajah sang istri dengan mimik wajah yang penasaran.


"Syaratnya apa." Farel menatap wajah Adel dengan intens.


"Selama sebulan Mas nggak boleh ngegolin bola." Seketika Farel terkejut mendengar pernyataan istrinya itu. Sementara orang yang berada disekitarnya terkekeh menahan tawanya.


"Apa nggak ada syarat yang lain," tawar Farel. "Seperti jalan-jalan ke luar negeri, atau apa gitu."


Adel terdiam sejenak. "Enggak, Mas. Kalau Mas nggak mau ya nggak apa-apa. Nanti selama sebulan Adel akan tinggal di sini atau di rumah Ibu."


Farel nampak gusar. "Ok deh, tapi masih bisa tidur bareng 'kan."


Adel hanya tersenyum dan mengangguk. Seketika Farel menarik tubuh mungil istrinya itu dalam dekapan. Dua serasa milik berdua, yang lain semua hanya ngontrak. Farel merasa sangat bahagia karena istrinya masih mau memaafkannya, meski ada syaratnya. Tapi semua itu tidak menjadi masalah, asalkan pintu maaf masih terbuka, Farel sudah sangat bahagia.


"Ehem, sepertinya kita nggak dianggap." Deheman Indra membuat Adel dan Farel seketika menoleh, dengan tersenyum.


"Jangan ngiri deh pa. Papa tinggal meluk mama aja," ujar Farel, yang membuat Adel tersenyum, sementara Indra hanya menghela nafasnya.


"Sini, Sayang. Sama papa ya, papa kangen banget sama pipi Qilla yang embem ini." Farel mengambil alih putrinya, lalu mencium kedua pipi chubby Aqilla.


Setelah itu Farel mengajak putrinya keluar menuju ke halaman depan rumah, sementara Adel menyimpan kue tersebut, karena tidak mungkin di makan. Setelah menyimpan kue itu, Adel memutuskan pergi ke kamar untuk membereskan baju dan mainan Aqilla yang masih berserakan.


Adel mulai membereskannya satu persatu, dari mulai mainan, setelah itu baju-baju Aqilla. Karena hari ini Adel akan membawa pulang putrinya itu. Sejujurnya Adel masih betah, selain mertuanya yang baik, Adel juga merasa ada teman. Sementara jika di rumah, Adel hanya ditemani oleh Aqilla dan bi Irah, itu pun jika bi Irah sudah menyelesaikan pekerjaannya.


Adel sudah selesai membereskan mainan Qilla, dengan segera ia akan menyimpannya kembali ditempatnya. Tapi saat Adel membuka almari tempat untuk menyimpan mainan tiba-tiba sebuah amplop berwarna coklat terjatuh. Karena penasaran Adel mengambil amplop tersebut, rasa penasaran semakin tinggi.


Dengan perlahan Adel mulai membukanya, dan saat sudah terbuka terdapat beberapa lembar foto dan sepucuk surat. Adel pun semakin penasaran, dengan cepat ia mengambil foto tersebut, seketika matanya membulat sempurna saat melihat foto-foto tersebut. Dadanya terasa sesak, dan nafasnya naik turun layaknya roller coaster.


"Mas Farel." Adel berteriak dengan suara 7 oktafnya. Seketika Farel yang mendengarnya terlonjak kaget, begitu juga dengan yang lain.