Ahan

Ahan
Ngidam_Atau_Manja_29



Waktu berjalan begitu cepat, hari telah berganti, minggu demi minggu telah berlalu, dan bulan demi bulan terus berjalan. Kabar kehamilan Adel sudah sampai ke telinga orang tua Farel, dan juga keluarga Adel. Kebahagiaan tengah menyelimuti keluarga besar Adel dan juga Farel. Tidak lama lagi malaikat kecil akan hadir di tengah-tengah mereka.


Kini kandungan Adel baru menginjak 4 bulan. Dan selama bulan pertama sampai ke-empat, banyak sekali perubahan yang terjadi pada Adel. Sebagai seorang suami, Farel harus punya banyak stok kesabaran. Pasalnya, selama Adel hamil, wanita itu berubah 180° dari aslinya. Farel sendiri terkadang bingung, Adel itu ngidam atau manja.


Mood orang yang sedang hamil memang sering berubah-ubah, seperti Adel juga. Terkadang setiap yang Adel lakukan selalu bertemu dengan keinginan suaminya. Hal itu membuat Farel harus lebih banyak bersabar. Seperti pagi ini, Farel sudah siap dengan pakaian kerjanya, tetapi saat hendak pergi Adel mencegahnya.


"Mas jangan pergi ya." Adel yang tengah duduk di tepi ranjang, langsung memeluk erat tubuh sang suami. Saking eratnya sampai-sampai Farel sulit untuk bergerak.


"Sayang, kamu jangan gitu dong. Hari ini aku ada meeting ... aku janji, nanti aku pulang cepet." Farel mengelus rambut hitam sang istri.


Tiba-tiba Adel melepas pelukannya dan mendorong tubuh Farel. "Ya udah sana pergi, tapi nanti kalau pulang Adel nggak ada, jangan nyesel."


Detik itu juga Farel tersentak kaget, otak Farel kembali teringat saat Adel kabur atas  kesalahan pahaman yang terjadi di antara mereka berdua. Farel benar-benar tidak bisa kehilangan Adel, wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang kini menjadi pendamping hidupnya, wanita yang telah membuat Farel merasakan cinta lagi.


Sampai langit runtuh, dan bumi berhenti berputar, Farel tidak akan bisa hidup tanpa Adel. Walaupun raga tidak lagi bernyawa, tetapi cintanya untuk sang istri tidak akan berubah. Hanya maut yang dapat memisahkan mereka, tapi cinta Farel ke Adel tidak akan bisa dipisahkan.


Setelah mengatakan itu, Adel bergegas bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Tapi niatnya terhenti saat Adel merasakan kehangatan dan tangan kekar yang melingkar di perutnya. Farel memeluk Adel dari belakang, pria itu juga menyenderkan dagunya di pundak sang istri.


"Jangan pernah bicara seperti itu, aku tidak mau kehilangan kamu, dan calon anak kita." Farel menenggelamkan wajahnya di leher jenjang sang istri.


"Ya sudah, Mas jangan pergi ya," pinta Adel. Sementara Farel masih terdiam, pria itu merasa bimbang, antara pergi dan tidak pergi.


"Bagaimana kalau kamu ikut saja ke kantor," tawar Farel. Pria itu berharap sang istri mau.


"Tapi Mas cuma meeting doang 'kan. Setelah meeting selesai kita pulang." Adel melepas pelukan Farel, lalu menatap mata suaminya itu.


Farel terdiam sejenak. "Iya Sayang, setelah meeting selesai kita pulang."


"Ok, aku ganti baju dulu ya." Adel mencium pipi Farel sekilas, lalu melangkahkan kakinya menuju ruang ganti.


Farel tersenyum melihat tingkah Adel yang selalu membuatnya gemas. "Aku tunggu di bawah ya."


***


Kini Adel dan Farel sudah dalam perjalanan menuju ke kantor. Dalam perjalanan Farel memilih fokus menyetir, sementara Adel tengah asyik menikmati salad buah. Entah kenapa semenjak hamil, wanita itu begitu suka memakan salad buah, dan cemilan lainnya. Padahal sebelumnya Adel tidak begitu suka, tapi sekarang hampir setiap hari, bahkan hampir setiap jam.


Farel juga terkadang heran dengan perubahan yang terjadi pada istrinya itu. Tapi meski begitu, cinta Farel tidak akan berubah, justru cinta Farel semakin bertambah. Jadi jangan heran jika kini berat badan Adel semakin hari bertambah, pipinya sudah mulai chubby,  dan bagian lainnya juga mulai berisi.


Namun semua itu tidak menjadi masalah buat Farel, walaupun terkadang setiap malam ia harus begadang demi menemani sang istri mencari makanan yang dimintanya. Farel tetap senang dan sabar menjalani semua itu, meski terkadang stok kesabarannya hampir habis, dan dinding pertahanan emosinya hampir jebol. Tapi sebisa mungkin Farel harus bisa menahannya.


Setelah hampir satu jam perjalanan, kini mobil Farel sudah terparkir di pelataran kantornya. Adel dan Farel bergegas keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung. Keduanya berjalan dengan Adel mengapit lengan kekar suaminya itu. Entah kenapa sikap manja Adel begitu sangat terlihat, bahkan dia tunjukkan di depan umum.


Keduanya tak lepas dari pandangan semua karyawan Farel, sementara pria itu hanya tersenyum tipis, entah apa yang sekarang Farel rasakan. Tapi berbeda dengan Adel, wanita itu tetap menunjukkan senyum termanisnya, tanpa memperdulikan pandangan mereka, Adel tetap acuh.


Kini mereka sudah berada di depan pintu ruangan Farel. "Sekarang kamu tunggu saja di dalam ya, aku mau ke ruangan meeting dulu."


"Enggak lama 'kan Mas." Adel masih bergelayut manja di lengan suaminya itu.


"Enggak kok, setelah meeting selesai, aku langsung ke sini." Farel mencium kening Adel.


Setelah itu Farel melangkahkan kakinya menuju ke ruang meeting, lalu Adel bergegas masuk ke dalam ruangan suaminya itu. Adel berjalan menuju ke sofa, lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa tersebut. Wanita itu mengambil majalah untuk dibacanya agar tidak merasa bosan.


Sementara di ruang meeting, Farel tengah menjelaskan tentang kerja sama yang Farel tawarkan ke perusahaan Alexander Group. Perusahaan itu berada di Amerika, dan yang dipimpin oleh pak Alex, teman dari orang tua Farel. Jika pak Alex mau menerima tawaran kerja sama dari Farel, sudah dapat dipastikan perusahaan Farel akan semakin berkembang.


Hampir satu jam Farel belum keluar dari ruang meeting, sementara Adel mulai merasa bosan. Wanita hamil memang seperti itu, moodnya sering mudah berubah. Merasa tidak tahan lagi, Adel mengambil handphone-nya dan menelpon suaminya. Wanita itu tidak peduli, apakah Farel sudah selesai atau belum.


Adel mendengus kesal saat tidak ada jawaban dari sang suami. Hampir 20 menit Adel mencoba menghubungi Farel, tapi hasilnya tetap sama. Adel sudah tidak sabar lagi, wanita itu bangkit dan hendak keluar dari ruangan, tapi niatnya terhenti saat pintu ruangan terbuka, terlihat seorang perempuan masuk, yang tak lain adalah Anggia.


Adel terkejut saat melihat perempuan itu datang, berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Untuk apa dia datang kembali, ada urusan apa dia datang ke kantor Farel. Lalu, apa mungkin Anggia berniat untuk membujuk Farel, agar pria itu mau kembali lagi dengannya. Ah, sungguh hal ini membuat pikiran Adel kacau.


"Adel, apa mas Farel ada." Anggia berjalan mendekati Adel.


"Mas Farel sedang meeting, ada urusan apa cari mas Farel," ujar Adel penuh selidik.


"Oh, aku hanya mau kasih ini." Anggia menyodorkan sebuah undangan. "Tolong kasih mas Farel ya."


"Kalau begitu, aku permisi." Anggia berjalan keluar dari ruangan Farel.


Sementara itu, Adel masih berdiri tak bergeming. Tangan kanannya masih menggenggam undangan tersebut. Selang beberapa menit, setelah Anggia keluar, Farel masuk dan bergegas menghampiri sang istri. Adel tersentak saat Farel memegang bahunya.


"Ada apa, Sayang." Farel berdiri di belakang Adel.


"Ah, eng-enggak kok Mas," ujar Adel gugup.


"Oh iya, ini." Adel menyodorkan undangan tersebut. Farel pun menerimanya.


Setelah itu, Farel membuka undangan tersebut, lalu membacanya. Raut wajah Farel berubah, entah apa yang kini ia rasakan. Setelah itu Farel meletakkan undangan tersebut, lalu duduk di samping Adel dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Farel memejamkan matanya sejenak, pikirannya tiba-tiba kacau.


Seketika Farel membuka matanya, lalu bangkit dan menatap lekat wajah sang istri. Mata mereka saling beradu, Adel dapat melihat dari sorot mata Farel, jika suaminya itu tengah menyimpan kebohongan, entah itu spa. Sementara Farel tidak tau kenapa setelah membaca undangan tersebut, pikirannya tiba-tiba seperti itu.


"Sayang, kok kamu ngomong seperti itu sih." Farel menatap lekat wajah Adel.


"Mas pikir Adel tidak bisa melihat apa, sikap Mas berubah setelah baca undangan itu. Raut wajah Mas juga berubah ... ayo ngaku," cecar Adel.


"Ini enggak ada hubungannya dengan itu, Sayang. Kamu tau kan, hampir dua bulan aku jarang masuk kantor, pekerjaan menumpuk, satupun belum ada yang beres." Farel menangkup wajah sang istri.


Adel melepas tangan Farel. "Jadi Mas nggak ikhlas gitu, selama ini nurutin kemauan Ade, iya. Hiks, hiks, Mas jahat."


"Ya salam, kok malah jadi begini sih. Sayang, maksud aku tidak seperti itu." Farel mencoba menenangkan Adel yang kini tengah menangis.


Adel benar-benar berubah dari sifat aslinya, sering tiba-tiba menangis tanpa alasan, mudah marah, mudah tersinggung, cemburu tanpa sebab. Farel sendiri bingung, setiap kali menghadapi istrinya jika sedang marah. Melebihi anak kecil, mungkin itu yang membuat Farel sering merasa pusing.


Farel merengkuh tubuh sang istri, pria itu mengelus lembut rambut panjangnya. Lalu menghujani pucuk kepala Adel dengan kecupan, bukan itu saja, Farel juga mengelus perut sang istri yang mulai membuncit. Entah apa yang kini Farel rasakan, pikirannya benar-benar kacau.


"Menangislah jika itu bisa membuatmu merasa tenang, tapi perlu kamu ketahui, aku tidak pernah merasa bosan, ataupun menyesal dengan apa yang sudah kulakukan. Aku ikhlas dan aku merasa beruntung bisa merasakan momen seperti ini." Farel mencium pucuk kepala Adel dengan sangat lembut.


Adel bisa merasakan ketulusan yang Farel berikan, wanita itu benar-benar beruntung bisa mendapatkan cinta Farel. Tidak bisa dipungkiri jika Adel merasa menjadi wanita paling beruntung dari sekian banyak wanita yang ada. Banyak kaum hawa yang menginginkan Farel menjadi suaminya, dan keberuntungan itu berpihak pada Adel.


"Mas." Adel bersuara setelah merasa tenang.


"Iya, Sayang," sahut Farel.


"Adel laper," ucapnya. Yang membuat Farel tersenyum, dan itu adalah salah satu kebiasaan Adel. Hampir setiap kali menangis, pasti ujung-ujungnya laper, setelah cukup lama menangis.


Farel melepas rengkuhannya, lalu menangkup wajah mungil istrinya. Satu kecupan mendarat di kening Adel. Tak lupa menghapus sisa air mata yang membasahi kedua pipi mulusnya. Adel tersenyum, lalu tanpa diduga Farel menempelkan benda kenyal itu, yang membuat Adel sedikit tersentak.


"Mau makan apa, hem?" tanya Farel.


"Adel pengen siomay, Mas," sahut Adel.


Farel mengernyitkan keningnya. "Sejak kapan kamu suka siomay."


"Enggak tau, tapi Adel pengen Mas, ayo." Adel bangkit dari duduknya, lalu menarik tangan Farel.


"Iya, iya." Farel pun bergegas bangkit, dan mengikuti langkah istrinya itu.


Kini keduanya sudah berada di pelataran kantor. Adel tengah mengedarkan pandangannya, untuk menemukan apa yang ia cari. Sementara Farel berdiri di sebelah sang istri.


"Mau cari siomay di mana?" tanya Farel.


"Itu Mas." Adel menunjuk ke arah tukang siomay yang berada di seberang jalan. "Ayo."


Lagi-lagi Adel menarik tangan suaminya itu, semenjak Farel hanya menurut. Setelah tiba di sana, Adel segera memesan siomay tersebut. Tapi yang membuat Farel heran, dan geleng-geleng kepala adalah, Adel memesan 5 porsi sekaligus. Memang Farel akui, semenjak Adel hamil, nafsu makannya bertambah. Jadi jangan heran, seperti apa tubuh Adel sekarang, tapi meski begitu, cinta Farel tidak akan berubah.


Farel melirik arloji di pergelangan tangannya, dan waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Padahal siang nanti mereka harus ke Dokter untuk cek kehamilan Adel. Dengan terpaksa Farel menyuruh istrinya agar siomay yang dipesannya untuk dibungkus. Dan memakannya di kantor, lantaran ada beberapa berkas yang harus Farel selesaikan dengan segera.


Setelah pesanan selesai, Farel segera membayarnya, dan keduanya pun bergegas kembali ke kantor.


Tak butuh waktu lama kini keduanya sudah berada di ruangan, Farel segera duduk di kursi kebesarannya, sementara Adel duduk di sofa, dan segera menyantap siomay tersebut.


Farel kini tengah sibuk dengan beberapa berkas yang ada dihadapannya. Sesekali Farel mencuri pandang terhadap istrinya yang tengah sibuk menikmati siomay tersebut, sembari menonton video kesukaannya, yaitu toom and jerry.


Farel hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang seperti itu.


Hanya butuh 30 menit, Farel sudah dapat menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu segera membereskan meja kerjanya, setelah itu Farel bangkit dan berjalan menghampiri sang istri. Farel duduk di sebelah Adel, sembari melonggarkan dasinya, Adel tersenyum saat menyadari jika Farel sudah duduk di sampingnya.


"Mas mau," tawar Adel.


"Enggak usah, buat kamu aja," tolak Farel.


"Sudah gede juga makan masih belepotan seperti anak kecil," sambungnya, lalu mengelap area bibir istrinya yang terkena bumbu siomay tersebut.


"Hehe, soalnya enak, Mas." Adel hanya tersenyum, dengan terus menikmati siomaynya.


"Buruan dihabisin, setelah ini kita pulang. Ingat nanti ada jadwal ke Dokter, buat cek kandungan kamu," ujar Farel.


"Iya, iya," sahutnya. Adel segera menghabiskan siomay tersebut.


Setelah selesai, Adel dan Farel segera bangkit, dan keduanya bergegas keluar dari ruangan. Adel dan Farel kini tengah berjalan menyusuri koridor kantor, tak lupa Adel yang selalu mengapit lengan kekar suaminya itu, ketika jalan berdua.


Entah kenapa sifat manja Adel sekarang sangat berlebihan, begitu juga dengan rasa cemburunya. Sampai-sampai Adel melarang Farel untuk berkomunikasi dengan karyawan perempuan. Memang terdengar sangat berlebihan, tapi bagi Farel, kebahagiaan Adel lebih utama.