
Waktu terasa cepat berlalu, dan tidak terasa sekarang usia kandungan Adel sudah 9 bulan. Hanya tinggal menunggu hari kapan akan melahirkan. Farel pun memilih cuti bekerja, pria itu akan standby menjaga istrinya itu. Farel tidak mau jika saat lahiran nanti, dirinya tidak berada di sisinya.
Sekarang Adel lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Untuk berjalan saja sudah tidak bisa seperti dulu, dan sekarang juga lebih mudah capek. Itu sebabnya Farel tidak tega jika harus tetap pergi ke kantor. Meski Ibunya, dan juga Ibu mertuanya menawarkan diri untuk menjaga Adel. Tapi Farel menolaknya, karena Adel adalah tanggung jawabnya.
Karena jika seorang anak gadis yang sudah menikah, tanggung jawab orang tua sudah berpindah pada suaminya. Itu sebabnya, kenapa seorang istri harus patuh dan taat kepada sang suami. Karena surga seorang istri ada pada suami, dan ridho Allah juga tergantung ridho suami.
Malam ini, Adel tengah menonton televisi, semenjak Farel tengah berada di dapur. Entah apa yang sedang pria itu lakukan. Setelah beberapa menit, Farel datang dengan membawa segelas susu, pria itu berjalan menghampirinya sang istri. Setelah itu Farel duduk di sebelah Adel.
"Minum dulu susunya." Farel menyodorkan susu tersebut. Dengan segera Adel menerimanya, dan meneguk susu tersebut.
Belum ada setengah, Adel menyerahkan gelas tersebut. "Mas abisin ya, Adel udah kenyang."
Farel terlonjak kaget, ini nggak kebalik. Yang hamil Adel, tapi kenapa Farel yang harus minum susu. Jangan-jangan dunia sudah terbalik, seperti yang ada di televisi. Farel harus memutar otaknya, untuk mencari ide, agar terhindar dari bahaya yang dibuat oleh sang istri. Farel masih diam dengan terus memutar otaknya, tapi naas, hampir 10 menit tidak ada ide yang muncul.
"Sayang, yang hamil 'kan kamu, masa aku yang minum susu. Apa ini enggak kebalik," ujar Farel.
"Apanya yang kebalik, Mas. Mas cuma minum susu, masa kebalik. Udah ayo diminum." Adel menyodorkan gelas tersebut ke tangan suaminya itu.
"Buk .... "
Belum sempat Farel melanjutkan ucapannya, Adel sudah menempelkan gelas tersebut di depan bibir sang suami. Alhasil, dengan sangat-sangat terpaksa, Farel meneguk susu tersebut. Kalau rasa, emang enggak pernah bohong. Tapi Farel sendiri tidak tau rasanya apa, buat ibu hamil pasti taulah rasanya seperti apa.
Setelah meminum susu tersebut, Farel langsung berlari menuju ke dapur untuk mengambil segelas air putih, lalu meneguknya. Setelah itu Farel kembali dan duduk di samping sang istri, pria itu melihat Adel tengah tersenyum. Mungkin Ade tersenyum melihat suaminya menderita, harus meminum susu yang tidak seharusnya Farel minum.
"Gimana Mas, enak nggak?" tanya Adel. Sementara yang ditanya, tengah menahan rasa mual, akibat susu tersebut.
"Enak ... enak banget ya ngerjain suami sendiri." Farel sengaja memasang wajah marah. Seketika Adel memeluk tubuh suaminya itu dengan sangat erat.
"Adel minta maaf ya, Mas. Adel nyesel udah nyuruh mas Farel, habisin susu itu," ungkap Adel penuh penyesalan.
Susah payah Farel menahan tawa, pria itu sengaja berbohong agar bisa melihat reaksi sang istri. Dengan begitu, Farel tau jika Adel memang benar-benar mencintainya. Merasa kasihan, Farel membalas pelukan sang istri, sementara tangan kanannya mengelus lembut perut Adel yang besar itu.
"Iya Sayang, demi kamu dan anak kita apapun akan aku lakukan." Farel mengelus perut besar istrinya itu.
"Lebih baik sekarang kita tidur ya, sudah malam," ajak Farel. Dan dibalas dengan anggukan oleh sang istri.
Setelah itu Farel mematikan televisi terlebih dahulu. Lalu menuntun Adel berjalan menaiki anak tangga, dengan sangat hati-hati Adel melangkahkan kakinya. Setelah tiba di kamar, Adel segera naik ke atas ranjang, dan merebahkan tubuhnya, dan disusul oleh sang suami.
Rasa lelah dan letih, membuat keduanya langsung memejamkan matanya. Tapi ada yang berbeda dengan Adel, wanita itu tidak bisa tidur dengan nyenyak seperti biasanya. Sudah dua hari setiap tidur, Adel tidak pernah nyenyak. Terkadang sudah miring ke kanan, ke kiri, tapi tetap saja tidak bisa. Seperti malam ini, baru saja memejamkan matanya.
Rasa gelisah mulai menyerang, Adel sudah memiringkan tubuhnya ke samping kiri, tidak bisa tidur. Lalu ke samping kanan, dan hasilnya tetap sama. Sampai tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit, Adel melirik jam yang berada di atas nakas, waktu menunjukkan pukul 11 malam.
Adel sudah tidak bisa menahan rasa sakit di perutnya, terkadang rasa sakit itu datang dengan luar biasa rasanya, tetapi terkadang hilang. Adel mengguncangkan tubuh Farel dengan sangat keras, bahkan kukunya yang panjang, tidak sengaja melukai lengan kekar suaminya itu. Hal itu membuat Farel membuka matanya.
"Mas sakit," rintih Adel. Tangannya mencengkram lengan Farel. Seketika Farel terbangun dari tidurnya.
"Sayang, kamu kenapa." Farel panik mendapati istrinya seperti itu. Raut wajahnya terlihat sangat panik dan juga khawatir.
"Sa-kit, Mas." Adel terus merintih menahan sakit. Tangannya pun tak henti-hentinya mencengangkan apa saja yang ia pegang.
Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, rasa sakit pun kian menjalar. Terkadang terasa amat sakit, lalu menghilang, sementara Farel semakin panik. Kini Farel tengah duduk dengan pikiran yang tidak karuan. Kemudian Farel teringat jika ia harus membawa Adel ke RS, dengan segera Farel membopong tubuh istrinya.
"Kamu tahan, ya. Kita ke RS sekarang," ujar Farel dengan terus melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Adel hanya mengangguk, dengan terus merintih menahan sakit. Kini mereka sudah berada dalam perjalanan ke RS. Adel tak henti-hentinya merintih, Farel yang melihatnya tidak tega, khawatir, dan juga panik. Sesekali Farel mengelus kepala sang istri, berharap wanitanya itu bisa kuat menahan rasa sakitnya.
Hanya butuh 40 menit, mobil Farel sudah berhenti di pelataran RS, dengan segera Farel keluar dari mobil, lalu berjalan mengitari mobilnya, untuk membuka pintu mobil sebelahnya. Farel langsung membopong tubuh Adel, dan bergegas melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam RS.
Adel segera dibawa ke ruang bersalin, Farel tak henti-hentinya menggenggam tangan sang istri. Ia juga tidak berhenti berdo'a supaya persalinan Adel bisa berjalan dengan lancar. Setibanya di dalam, dokter dan perawat mulai memeriksa Adel. Sementara Farel tetap berada di samping sang istri.
"Bagaimana, Dok?" tanya Farel, raut wajahnya masih panik.
"Baru pembukaan 3 Pak, Bu, sabar saja ya," ujar Dokter yang menangani Adel.
"Mas, sakit." Adel terus merintih kesakitan.
"Iya, Sayang. Sabar ya." Farel mengelus rambut Adel, dan terus memberinya kekuatan.
Hampir satu jam Adel merasakan kontraksi yang begitu hebat. Sakit yang Adel rasakan tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Farel benar-benar tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu, demi melahirkan sang buah hati, Adel harus merasakan sakit yang luar biasa, bahkan nyawa sebagai taruhannya.
Setelah beberapa saat, rasa sakit yang Adel rasakan semakin luar biasa. Tubuhnya sudah basah oleh keringat, Dokter pun mulai memeriksa Adel kembali. Setelah diperiksa, Dokter mulai membimbing Adel untuk melakukan apa yang Dokter itu arahkan.
Rintihan, demi rintihan terdengar begitu jelas di telinga Farel.
Andai Farel bisa menggantinya, pasti akan ia lakukan. Rintihan itu kini berubah menjadi erangan, Adel mengerang menahan sakit. Tangan kanannya memegangi pinggiran brangkar, sedangkan tangan kirinya mencengkeram lengan Farel dengan sangat kuat. Bahkan kini cengkeraman itu beralih menjadi cakaran pada lengan dan leher Farel.
Bukan itu saja, Adel juga menjambak rambut Farel, dengan sangat kust saat wanita itu tengah berjuang untuk melahirkan buah hatinya. Dan detik itu juga tangisan seorang bayi menggema di ruangan, Farel langsung menghujani Adel dengan kecupan, rasa syukur pun tak pernah lepas dari keduanya. Air mata kebahagiaan kini menjadi saksi atas lahirnya anggota baru di keluarga Farel dan Adel.
"Selamat ya Pak, Bu. Bayinya perempuan," ucap Dokter tersebut. Setelah itu perawatan akan membersihkan baby girl itu terlebih dahulu.
"Iya Dok, terima kasih," sahut Farel.
"Terima kasih ya, Sayang. Terima kasih atas perjuangan kamu." Farel mencium pipi dan kening Adel. "Anak kita perempuan, dia sangat cantik seperti kamu."
Adel tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya mengangguk dan tersenyum. Rasa bahagia yang tidak ada duanya. Setelah satu jam berlalu, kini Adel sudah dipindahkan ke ruang rawat, baby girl pun sudah selesai diberdirikan. Kini baby girl itu tengah menjadi rebutan oleh kedua orang tua Farel, dan juga Ibunda Adel.
Sementara Adel dan Farel memilih untuk melihat mereka yang tengah berebut untuk menggendong cucu pertamanya. Senyum tak pernah pudar dari pasangan ini, lengkap sudah kebahagiaan Adel dan Farel. Semoga kehadiran baby girl bisa membuat hubungan Adel dan Farel semakin erat. Bahtera rumah tangga yang mereka bina semoga langgeng sampai ajal menjemput.
"Iya, kita tanya dulu sama Adel dan Farel," timpal Mira.
"Kalian si, ribut sendiri sampai lupa enggak nanya nama," sambung Indra.
"Enak aja, papa juga ikutan 'kan," sahut Lidia.
Setelah itu mereka menghampiri Adel dan Farel, untuk mempertanyakan siapa nama cucu pertama mereka. Sementara Adel dan Farel justru sibuk bermesraan, hal itu membuat para orang tua geleng-geleng kepala. Baru saja melahirkan tapi Farel sudah tidak sabar, enggak kasihan apa sama istrinya.
Indra dan Lidia berdehem, dan itu sukses membuat Adel dan Farel menoleh.
Memang anak muda jaman sekarang tidak perduli dengan tempat, sesuka hati mereka. Adel dan Farel hanya tersenyum untuk menanggung semua itu. Lagi-lagi para orang tua hanya geleng-geleng kepala, melihat kelakuan anak mereka.
"Heh, ingat Adel baru saja melahirkan, kamu jangan dulu macem-macem," tegur Lidia. Perempuan itu juga memukul lengan putranya itu.
"Ya ampun ma, Farel enggak macem-macem kok. Cuma satu macem, iya 'kan Sayang." Farel mencium benda kenyal milik istrinya itu.
Seketika mata Adel melotot, lalu wanita itu mencubit lengan kekar suaminya itu. Sungguh tidak tau malu, di depan umum bisa-bisanya Farel seperti itu. Sementara Farel bersikap biasa saja, lama-kelamaan pria itu bertambah mesum. Adel harus lebih waspada, takutnya Farel kebablasan.
"Cukup kamu menyakitiku. Lihat nih, lengan dan leher aku sudah menjadi korban kuku kamu yang panjang itu, rambutku juga." Farel berdramatis dengan menunjukkan lengan dan lehernya yang penuh dengan cakaran.
"Heh, rasa sakit itu belum ada apa-apanya, dibandingkan dengan yang Adel rasakan." Lagi-lagi Lidia memukul lengan putranya itu.
"Iya, mamaku Sayang." Farel memeluk tubuh Ibunya dari samping, lalu mencium pipinya.
"Eh, salah. Nanti dimarahin papa lagi," canda Farel, yang langsung mendapat pukulan dari Ibundanya. Sementara yang lain hanya tersenyum melihat tingkah Farel.
"Ngomong-ngomong kalian mau kasih nama siapa, sama anak kalian?" tanya Mira.
Farel dan Adel saling lirik, setelah itu Farel pun bersuara. "Namanya Diandra Aqilla Adiathama."
"Ok, terus panggilannya yang enak siapa," ujar Lidia.
"Aqilla aja ma," jawab Adel, dan semua mengangguk setuju.
"Halo Aqilla, nanti kalau sudah besar Kakek beliin mainan yang banyak. Semua yang Qilla minta, pasti kakek turuti," ungkap Indra. "Tidak seperti Nenek kamu, pelit."
Seketika Lidia mencubit pinggang suaminya itu. "Papa ngomong apa barusan, ngatain mama pelit iya. Nanti malam papa jangan minta jatah."
Mira hanya tersenyum melihat pasangan suami istri itu. Begitu juga dengan Adel dan Farel, sudah berumur saja masih suka ribut seperti itu. Kini Lidia dan Indra justru sibuk adu mulut, hingga kedatangan Raka dan Nadia tidak mereka sadari. Pasangan yang baru saja datang dibuat heran dengan tingkah kedua orang tua Farel.
Raka dan Nadia berjalan menghampiri Adel dan juga Farel. Nadia meletakkan sebuah bingkisan di atas meja yang berada di samping brangkar. Sementara Raka berjalan menghampiri Farel, dan saling berpelukan ala mereka. Begitu juga dengan Nadia dan Adel, mereka juga saling cipika-cipiki.
"Sorry ya, kita baru bisa datang. Selamat ya, sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah," ujar Raka.
"Iya enggak masalah, enggak datang juga nggak papa," canda Farel.
"Selamat ya Del, sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu," ucap Nadia.
"Iya, makasih ya, sebentar lagi kamu juga akan nyusul," balas Adel. Keduanya wanita itu pun tersenyum.
Kini Raka sudah berdiri di samping istrinya, begitu juga dengan Farel yang selalu berada di dekat sang istri. Kebahagiaan Farel dan Adel sudah sempurna, kehadiran putri mereka telah menyempurnakan pernikahan mereka. Dan tidak lama lagi, kebahagiaan Raka dan Nadia juga akan sempurna, setelah buah hati mereka lahir nanti.
"Oya, anak kalian cowok apa cewek?" tanya Raka.
"Cewek, Ka," jawab Farel.
"Namanya siapa?" tanya Nadia.
"Diandra Aqilla Adiathama, panggil saja Qilla," sahut Adel, dan dibalas dengan anggukan oleh Nadia.
Tiba-tiba saja handphone Nadia berdering, dengan terpaksa wanita itu menjauh untuk mengangkatnya terlebih dahulu. Raut wajah Nadia berubah setelah mendapat telepon, setelah sambungan telepon itu terputus, Nadia kembali mendekat, dan kembali berdiri di samping suaminya. Dan memberi kode untuk segera pulang.
"Kita pulang dulu ya, nanti kapan-kapan kita datang lagi," ujar Raka. Lalu berpamitan dengan Adel dan juga Farel, tak lupa dengan Ibunya Adel.
"Ya sudah, kalian hati-hati ya," sahut Farel.
Setelah berpamitan, Raka dan Nadia bergegas keluar dari ruang rawat Adel. Farel dan Adel merasa heran dengan sikap Raka dan istrinya yang tiba-tiba berubah. Tapi Farel tidak ambil pusing, karena itu bukan urusannya. Kini Farel kembali duduk di samping sang istri,pria itu rasanya tidak ingin jauh-jauh dari istrinya itu.
"Sayang, masih sakit nggak?" tanya Farel, tangannya kanannya mengelus lembut kepala Adel.
"Apanya Mas." Adel mengerutkan keningnya, heran.
"Itunya Sayang." Mata Farel mengarah ke bagian bawah perut Adel. Seketika Adel memukul dada bidang suaminya itu.
"Aduh, sakit Sayang. Kalau udah sembuh kita .... "
"Enggak usah macem-macem deh Mas, nanti Adel aduin sama mama sama papa. Biar telinga Mas dijewer." Adel memotong cepat ucapan suaminya itu.
"Iya, iya, Sayang." Farel merengkuh tubuh istrinya itu, lalu mencium pucuk kepala Adel.
Adel menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Sungguh nyaman dalam posisi seperti itu. Adel benar-benar beruntung memiliki suami seperti Farel. Karena Farel adalah sosok suami idaman. Begitu juga dengan Farel, pria itu juga merasa beruntung memiliki istri seperti Adel. Meski terkadang membuatnya jengkel, tapi tidak bisa dipungkiri jika Adel adalah sumber kebahagiaannya.
Cinta sejati tidak pernah mempermasalahkan kasta dan juga derajat. Karena cinta sejati selalu menerima setiap kekurangan dan kelebihan dari pasangan kita. Dalam membina bahtera rumah tangga, tidak cukup hanya dengan kata cinta saja. Tapi kesetiaan, dan kejujuran, harus ikut menyertainya. Sebuah hubungan akan hancur jika tidak aja kejujuran.