
Setibanya di kantor Farel bergegas menuju ke ruangannya, akhir-akhir ini Farel banyak kerjaan. Dan terkadang harus menuntutnya berkerja sampai larut malam, tapi entah kenapa Farel enggan melakukannya. Pria itu selalu ingin pulang lebih awal, dan masalah pekerjaan sering Farel lempar ke para karyawannya.
Seperti hari ini, sejak standby dari pukul 7 pagi, hingga pukul 11 siang. Farel baru bisa menghembuskan nafas lega, pekerjaan berhasil ia selesaikan, tapi tiba-tiba Raka datang dan memberitahukan jika akan ada meeting, setelah meeting juga akan ada pertemuan penting dengan rekan bisnisnya.
Bahkan Farel juga diajak buka bersama oleh rekan kerjanya. Tapi untuk soal itu Farel akan menolaknya, baginya bersama keluarga itu lebih penting dari segalanya, apa lagi ini adalah puasa pertama, jadi Farel akan lebih memilih buka puasa bersama dengan istri tercintanya. Saat ini Farel tengah meeting terlebih dahulu.
Selesai meeting, Farel ada pertemuan penting, dan setelah itu ia akan memutuskan untuk pulang. Rasanya sudah ingin melihat putrinya, bukan itu saja, Farel juga sudah tidak sabar ingin bermain bersama dengan buah hatinya. Tersenyum dan tertawa bersama, tidak ada hal yang lebih menyenangkan dibandingkan bisa bersama dengan orang tercintanya.
Pukul 3 sore Farel kembali disibukkan oleh tumpukan berkas yang harus ia tanda tangani. Alhasil Farel harus standby lagi di kursi kebesarannya, tangannya pun kembali berkutat dengan bolpoin. Tapi saat Farel tengah sibuk dengan pekerjaannya itu, handphonenya berdering, takut ada yang penting, ia pun segera mengambil benda pipih tersebut.
Satu pesan telah diterima, dan di layar handphonenya tertera nama istrinya. Karena penasaran Farel segera membuka pesan tersebut, seketika matanya terbelalak. Sungguh foto yang Adel kirim berhasil menguji iman Farel, entah foto apa yang istrinya kirim, sampai Farel terbelalak seperti itu, dengan cepat Farel membalas pesan istrinya itu.
"Gila, tuh bocah sengaja ya ngirim foto-foto kayak gitu. Enggak tau apa, orang lagi puasa," gerutu Farel. Ia benar-benar gemas dengan kelakuan istrinya itu.
[ Sayang, maksud kamu apa ngirim foto-foto kayak gitu ]
[ Liat aja nanti kalau udah pulang, kamu akan tau akibatnya ]
[ Foto yang kamu kirim, telah menggoda imanku ]
[ Dasar, nanti aku pulang lebih awal dari kemarin ]
Setelah selesai, Farel kembali menyimpan handphonenya itu. Pria itu terus tersenyum saat mengingat kelakuan istrinya itu. Itu alasan Farel begitu sangat mencintai Adel, istrinya itu sering berbuat hal yang bisa membuat orang lain tertawa. Itu sebabnya Farel tidak bisa jauh dari sang istri, kalau sehari saja tidak bertemu rasanya seperti sudah setahun.
***
Pukul 4 sore Farel sudah tiba di rumah, pria itu pulang lebih awal dari hari kemarin. Farel segera keluar dari mobilnya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Nampak rumah sangat sepi, Adel yang biasanya sedang duduk santai di depan televisi, kini wanita itu tidak terlihat dari pandangan mata Farel.
Mata Farel tidak sengaja melihat Maya yang tengah bermain dengan Aqilla. Maya tersenyum saat melihat Farel, sementara pria itu hanya mengangguk pelan dan bergegas naik ke atas menuju ke kamarnya. Setibanya di depan pintu, Farel segera memutar kenop pintu, setelah pintu terbuka mata Farel membulat sempurna.
Dengan cepat Farel menutup pintu kamarnya, pria itu memandangi tubuh istrinya dari ujung kaki sampai dengan ujung kepala. Tak sadar Farel menelan salivanya sendiri, sementara Adel sama sekali tidak menyadari jika suaminya sudah berada di belakangnya. Wanita itu masih sibuk dengan aktivitasnya sendiri.
"Ih, masa iya aku pake baju kayak gini sih ... tapi enggak ada salahnya juga sih, terlebih Maya sepertinya ... entahlah." Adel berniat ingin melepas lingerie yang baru ia coba, tapi niatnya terhenti saat melihat suaminya tengah memandang dirinya tanpa berkedip.
Seketika Adel menutupi bagian dadanya dengan kedua telapak tangannya. Sementara Farel masih diam tak bergeming, mata Adel mencoba mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya. Tapi sayang Adel tidak menemukan apa-apa yang bisa Adel gunakan untuk menutupi tubuhnya.
"Mas Farel sudah pulang," lirih Adel. Ia tidak berani menatap mata elang suaminya.
Farel mencoba mengontrol hasrat dan nafsunya, benar-benar Adel tengah menggoda iman Farel. Andai sekarang tidak sedang puasa, sudah dapat dipastikan Farel pasti akan langsung menerkam Adel. Tak peduli dengan apapun, tapi pria itu masih bisa menahannya. Tapi jika dibiarkan saja bisa runtuh dinding pertahanannya.
"Kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba berpakaian seperti itu?" tanya Farel.
"Eng-enggak kenapa-kenapa kok, Mas. Memangnya Adel enggak boleh berpakaian seperti ini. Adel takut Mas kepincut sama Maya." Adel melenggang pergi masuk ke dalam kamar mandi.
Farel melongo mendengar apa yang Adel ucapkan, sudah dapat ditebak jika istrinya itu punya selera cemburu yang tinggi. TapiĀ Farel senang jika istrinya seperti itu, karena itu tandanya Adel sangat mencintainya. Pria itu tersenyum saat mengingat kejadian tadi, di mana ia melihat istrinya tengah mencoba lingerie super seksi itu.
Selang beberapa menit Adel keluar dengan memakai pakaian santai seperti biasanya. Wanita itu segera membereskan barang-barang yang masih berserakan, sementara Farel saat ini memilih untuk merebahkan tubuhnya di sofa. Menghilangkan sedikit rasa lelah di tubuhnya. Setelah selesai Adel menghampiri suaminya, dan duduk di sampingnya.
"Kamu sudah kasih seragam baru buat Maya?" tanya Farel, dengan memejamkan matanya.
"Sudah Mas, memangnya kenapa," sahut Adel.
"Kalau sudah, kenapa tadi pakaiannya masih sama. Bilang sama dia, kalau mau masih bekerja di sini, dia harus menuruti aturan yang aku buat." Farel bangkit dan melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Adel terdiam. "Mas Farel kenapa sih, kayak orang lagi PMS aja."
Setelah itu Adel memutuskan untuk keluar dari kamar. Adel ingin menemui Maya, apa yang Farel katakan benar atau tidak. Jika yang Farel katakan salah, siap-siap saja akan dapat hukuman dari Adel. Wanita itu berjalan menuruni anak tangga, setibanya di bawah Adel segera melangkahkan kakinya menuju ruang bermain.
Setibanya di ruang bermain mata Adel lalu tertuju pada perempuan yang tengah bermain dengan putrinya itu. Adel menggelengkan kepalanya, seperti apa yang Farel lihat itu salah. Tanpa pikir panjang Adel membalikkan badannya dan meninggalkan ruang bermain, Adel naik ke atas untuk menuju ke kamarnya.
"Sepertinya mas Farel harus beli kacamata deh, jelas-jelas Maya pake baju yang aku kasih tadi." Adel bermonolog sendiri. Wanita itu terus melangkahkan kakinya menuju ke kamar.
Setibanya di kamar, terlihat Farel yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tanpa basa-basi Adel menghampirinya dan menarik tangan Farel. Pria itu merasa bingung dengan istrinya itu, ada apa, dan kenapa. Farel semakin heran saat Adel membawanya turun ke bawah, sedangkan dirinya belum memakai baju, hanya handuk yang melilit di pinggangnya.
"Sayang, kita mau kemana sih. Lihat aku belum pake baju," ujar Farel. Tapi Adel sama sekali tidak menghiraukannya.
Setibanya di bawah, Adel menuntun suaminya itu menuju ke ruang bermain. Wanita itu menunjuk ke arah perempuan yang tengah asyik bermain dengan putri mereka. Seketika mata Farel membulat, seakan tidak percaya, Farel mengucek matanya. Tapi apa yang ia lihat sekarang nyata, lalu yang ia liat tadi nyata, atau.
"Mas liat 'kan, Maya memakai seragam yang Adel kasih ... keliatannya Mas perlu periksa mata deh, sekalian beli kacamata." Adel melenggang pergi setelah mengatakan hal itu.
Sementara Farel masih terdiam tak bergeming. "Masa aku salah liat sih."
***
Tepat pukul 18.00 Farel dan Adel sudah berada di meja makan, keduanya tengah menikmati buka bersama dengan orang yang sangat dicintainya. Tapi ada yang kurang menurut Farel, kenapa menu makanannya tidak sama dengan yang berada di foto, yang tadi sore Adel kirim ke handphonenya. Farel masih terdiam dan tengah memikirkan hal itu.
Sementara Adel tengah mengambil semangkuk kolak sebagai makanan pembuka. Setelah selesai Adel menaruhnya di depan Farel, tapi pria itu masih saja tak bergeming. Adel merasa heran dengan sikap suaminya itu, apa menu yang Adel buat kurang menarik, atau tidak enak. Eh, tapi 'kan belum dicoba, jadi tidak tau enak atau tidak.
"Mas, kenapa?" tanya Adel.
"Kenapa menu makanannya tidak sama seperti yang ada di foto?" Farel balik bertanya.
Adel tersenyum. "Oh, kirain ada apa. Itu 'kan Adel ambil di internet Mas. Niat mau bikin yang seperti itu, tapi hari ini Adel belum belanja ... ya sebagai inspirasi dulu Mas."
Farel menggelengkan kepalanya. "Dasar, kamu tau nggak, gara-gara foto itu .... "
"Stop, kita makan saja Mas, nanti keburu dingin. Besok Adel masakin yang seperti itu," potong Adel dengan cepat.
Farel hanya menghela nafas. "Oya, bi Irah puasa apa nggak, terus si Maya."
"Bi Irah puasa Mas, Adel ajakin buat buka bareng tapi tidak mau. Kalau Maya katanya lagi lampu merah," jelas Adel. Sementara Farel hanya ber-oh ria.
Setelah itu, keduanya segera menikmati makanan yang ada di hadapannya.
Tidak ada percakapan di antara Adel dan juga Farel, yang ada hanya dentingan sendok dan juga garpu. Setelah selesai Adel segera membereskan meja makan, membawa semua piring dan gelas yang kotor.
Sementara Farel memilih untuk duduk santai di depan televisi. Rasanya Farel sudah ingin menemui Aqilla, tapi mengingat pakaian Maya yang seperti itu, Farel jadi enggan untuk menemuinya. Setelah Adel selesai dengan pekerjaannya di dapur, wanita itu segera menuju ke ruang bermain, untuk mengambil alih putrinya itu.
"Sini, Sayang. Sama mama ya." Adel mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil alih Aqilla.
"Sekarang kamu boleh istrirahat, jangan lupa makan ya," lanjut Adel.
"Iya, Bu. Saya permisi dulu." Maya bergegas keluar dari ruang bermain.
Setelah itu, Adel pun keluar dari ruang bermain, dan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Adel akan membawa Aqilla ke kamar, untuk menidurkannya. Sementara Maya bergegas ke kamarnya sendiri, yang berada di ruang belakang. Saat melewati ruang tengah, Maya melihat Farel yang tengah menonton televisi.
Maya berhenti sejenak, perempuan itu memperhatikan Farel dari arah belakang. Maya menyunggingkan senyumnya, sorot matanya pun terlihat berbeda, entah itu suka, benci, atau apa. Hanya Maya yang tau, setelah itu ia memutuskan untuk bergegas ke kamarnya. Farel sama sekali tidak menyadari jika Maya telah memperhatikannya.
Malam semakin larut, Adel dan Aqilla sudah masuk ke dalam alam mimpi. Sementara Farel masih standby di ruang kerjanya, Farel masih memeriksa beberapa email yang masuk, dan beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan. Rasa kantuk mulai menyerang, pria itu melirik jam yang bertengger di dinding, dan waktu menunjukkan pukul 11 malam.
Pantas saja Farel sudah merasa ngantuk, setelah itu ia memutuskan untuk mensudahinya. Farel akan menyelesaikan besok di kantor, setelah ia menutup leptopnya. Dengan segera Farel bangkit dan keluar dari ruang kerjanya. Tapi saat hendak masuk ke dalam kamar, tenggorokannya terasa kering, alhasil Farel memutuskan untuk turun, dan mengambil minum.
Farel melangkahkan kakinya menuju ke dapur, hampir seluruh ruangan sudah gelap. Pria itu berjalan dengan hati-hati. Tak disangka Maya baru saja keluar dari kamar mandi belakang, dengan hanya melilitkan handuk di tubuhnya. Melihat Farel ada di dapur, ide gila muncul di otaknya. Ia akan berpura-pura jatuh, untuk mengundang perhatian dari Farel.
"Auh." Maya merintih, sembari memegangi pergelangan kakinya.
Secara reflek Farel menoleh ke sumber suara tersebut. Seketika mata Farel terbelalak, ia tidak menyangka kalau akan disuguhi pemandangan yang sangat terlarang untuk dilihat, dan pastinya akan menggoda imannya. Dengan cepat Farel memalingkan wajahnya, ia memilih untuk memandang ke arah lain.
"Maya, kamu kenapa?" tanya Farel, dengan posisi tetap membelakanginya.
"Saya kepeleset Pak," jawab Maya.
"Ya sudah bangun, dan kembali ke kamar," titah Farel.
"Saya tidak bisa bangun, Pak. Sepertinya kaki saya terkilir," sahut Maya.
"Ya sudah, saya panggilin bi Irah untuk membantumu," putus Farel.
"Em, jangan Pak, bi Irah sudah tidur. Sepertinya dia sangat kelelahan." Maya mencegah niat Farel, saat hendak memanggil bi Irah.
"Bapak bisa tolongin saya 'kan. Bantu saya berdiri, nanti saya akan ke kamar sendiri," ujar Maya, dengan ragu-ragu.
Farel terdiam sejenak. "Baik, kamu pegang tangan saya saja. Saya tidak mau melihat apa yang seharusnya tidak saya lihat."
Farel memundurkan langkahnya, sementara Maya tersenyum licik. Sepertinya usahanya akan berhasil, dengan ragu Farel mengulurkan tangannya, dengan posisi tetap membelakanginya. Perlahan Maya meraih tangan Farel, perempuan itu memegang erat tangan majikannya itu. Dengan hati-hati Maya mulai berdiri.
Namun saat sudah mengangkat sebagian tubuhnya, dengan sangat sengaja Maya menjatuhkan bobotnya. Alhasil Farel yang kurang siap tertarik oleh tubuh Maya, dan bruk. Farel jatuh menimpa tubuh Maya, seketika mata Farel membulat sempurna saat secara tidak sengaja melihat sebagian aset berharga milik Maya.
Farel sangat terkejut dengan apa yang ia lihat. Hari ini Farel benar-benar tengah diuji imannya, kejadian yang ia alami sejak di kantor berhasil menggoda imannya. Dengan cepat Farel bangkit, dan beristighfar, tapi dalam hatinya ia mengumpat. Kejadian ini sungguh di luar dugaan, tanpa memperdulikan Maya, pria itu bergegas pergi meninggalkan perempuan itu yang masih dalam posisinya seperti tadi.