
Kini Farel dan Adel sudah berada di rumah, setelah cukup lama berdebat, akhirnya Farel bisa memboyong istrinya yang unik itu kembali ke rumah mereka. Rumah di mana keduanya saling menghabiskan waktu bersama. Di mana mereka saling memadu kasih.
Jika sudah berjodoh, sejuta rintangan sekalipun yang menghalangi. Pasti mereka akan dipersatukan kembali. Meski banyak ujian yang datang menghampiri, dengan mudah mereka akan bisa menghadapinya. Kekuatan cinta lebih kuat dari apapun.
Pagi ini setelah subuh Adel sudah mulai mengerjakan tugas rumahnya, mulai dari menyapu, mengepel lantai, mencuci piring, mencuci baju, bahakn memasak. Entah kenapa Adel sangat tidak suka melihat rumah yang berantakan, Farel juga heran, kenapa baju-baju miliknya, Adel keluarkan semua dari almari, lalu merendamnya dengan detergen.
Farel yang sudah selesai mandi, seketika pria itu melongo, saat ia tidak menemukan kemeja yang biasa ia gunakan untuk ke kantor. Yang ada hanya kemeja lengan pendek, sama kaos itu juga hanya beberapa. Celana pun hanya tersisa celana jens itu juga hanya 2 .
"Astaga. Kok lemarinya kosong sih, pada kemana tuh baju. Masa iya pindah sendiri." Farel melipat kedua tangannya di depan dada. Lalu tangan kanannya terangkat untuk menopang dagunya, dengan jari telunjuknya mengarah ke atas. Otaknya tengah berputar, memikirkan keanehan yang sering terjadi.
Setelah itu Farel memutuskan turun ke bawah untuk menghampiri istri uniknya itu. Dari pada Farel harus berteriak, menghabiskan suara saja. Farel berjalan menuruni anak tangga, ia pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Matanya tiba-tiba tertuju pada seorang wanita yang tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi.
Dengan cepat Farel menghampiri sang istri. Adel yang melihat suaminya tengah berjalan menghampirinya hanya diam. Tapi yang membuat Adel heran adalah, kenapa Farel masih mengenakan handuk, kenapa belum berpakaian. Apa sekarang suaminya mulai manja, mau pake pakaian saja harus dipakein. Aish, Adel geleng-geleng kepala memikirkan hal itu.
"Sayang, kemeja aku kemana, jangan-jangan kamu umpetin ya." Farel berjalan mendekati sang istri.
Sejenak Adel berfikir. "Oh kemeja mas Farel Adel cuci semua. Soalnya Adel bingung mau ngapain, makanya hampir semua baju mas Farel Adel cuci semua, biar ada kegiatan."
Farel menarik kursi laju menjatuhkan bobot tubuhnya, pria itu nampak mengusap wajahnya dengan kasar. Farel benar-benar heran dengan istrinya itu. Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba berubah seperti itu. Ck, udah kayak Kamen rider ada bisa berubah.
"Terus sekarang aku pake apa, hari ini aku harus ke kantor, ada meeting penting Sayang." Farel merampas roti yang sedang Adel olesi dengan selai, lalu melahapnya. Tapi mulutnya tidak berhenti mengomel.
Adel kembali mengambil selembar roti tawar, lalu ia olesi lagi dengan selai. Setelah itu Adel ikut duduk di samping suaminya itu. Adel masih asyik mengolesi selai ke roti yang ia pegang, tanpa memperpedulikan suaminya yang dari tadi ngomel-ngomel. Udah kayak cewek PMS aja.
Farel sudah selesai melahap roti tersebut, setelah itu Farel meneguk habis segelas susu yang sudah Adel buat. Saat Farel akan mulai mengomel lagi, dengan tiba-tiba Adel menyuapinya dengan sepotong roti. Seketika Farel terdiam dan segera mengunyahnya, dan lagi-lagi Adel menyuapinya setelah Farel menelan roti tersebut.
Saat Adel akan menyuapinya lagi, dengan cepat Farel memegang tangan istrinya itu. Lalu mengambil potongan roti tersebut dan menyuapkan ke mulut Adel. Awalnya Adel menolak, tapi Farel terus memaksanya. Alhasil Adel tidak bisa menolaknya lagi, ia pun memakannya hingga habis.
Setelah selesai Farel beranjak bangkit dari duduknya, tapi tiba-tiba Adel menahannya. Hal ini membuat pria itu mengerutkan keningnya, heran. Sikap istrinya benar-benar membuat Farel sering memijit pelipisnya karena pusing. Bukan pusing sakit, tetapi pusing memikirkan perubahan yang terjadi pada Adel.
"Mas mau kemana." Adel mengapit lengan kekar suaminya itu, lalu dengan manja wanita itu menyenderkan kepalanya di lengan Farel.
Farel menghela nafas. "Mau joging, mau ikut nggak."
Seketika Adel melepas lengan suaminya itu, lalu memandangi pria yang kini berdiri di hadapannya. "Mas nggak malu apa, masa joging cuma pake handuk."
Farel mengusap wajahnya dengan kasar. Darahnya serasa sudah mendidih, dadanya naik-turun seperti roller coaster. Otaknya terasa mau pecah, memikirkan semua perubahan yang terjadi pada istrinya yang unik itu. Andai Adel bukan wanita yang sangat Farel cintai, pasti pria itu sudah melahapnya hidup-hidup.
"Adel kamu kenapa sih, akhir-akhir ini sikap kamu berubah. Kamu enggak salah makan 'kan, kepala kamu juga enggak habis kejedod 'kan. Atau otak kamu geser." Farel memegangi kepala istrinya itu, seolah-olah tengah memeriksanya.
Karena kesal Adel menepis tangan suaminya itu, bibirnya yang mungil sudah mengerucut. "Aish, Mas pikir Adel Lupin ranger apa bisa berubah. Otak Adel juga masih waras kok, enggak geser."
Farel membuang nafas, lalu berjalan menaiki anak tangga. "Ya udah, aku mau pake baju dulu.
"Jangan lama-la .... " ucapan Adel terpotong lantaran perutnya tiba-tiba terasa sangat mual.
Merasa tidak tahan lagi, Adel berlari ke dapur, lalu memuntahkan semua isi perutnya di wastafel. Roti yang Adel makan keluar semua. Dan sisanya hanya cairan bening. Kepalanya terasa sangat pusing. Selang beberapa menit Farel turun, pria itu mengedarkan pandangannya untuk menangkap sosok sang istri. Tapi nihil, Farel tidak melihat istrinya yang mungil itu.
"Sayang kamu di mana." Farel melangkah kakinya menuju meja makan, pria itu melihat sang istri tengah berada di dapur, merasa heran Farel bergegas menghampirinya.
"Adel kamu kenapa." Farel mendekati Adel, lalu memijit tengkuk sang istri.
Adel membersihkan mulutnya dengan air, setelah itu Adel mendongak dan mengelap mulutnya dengan tisu. Wajahnya terlihat pucat, Farel baru menyadari itu. Pria itu merasa khawatir takut terjadi apa-apa dengan wanita yang sangat ia cintai.
"Kamu enggak apa-apa 'kan Sayang." Farel membingkai wajah Adel dengan kedua telapak tangannya.
Adel menggelengkan kepalanya. "Enggak kok Mas, tapi akhir-akhir ini Adel sering muntah kalau pagi-pagi."
Farel mengernyitkan keningnya. "Jangan-jangan."
"Jangan-jangan apa Mas." Kedua kening Adel ikut berkerut.
Farel tersenyum lalu memegang perut Adel yang masih rata. Pria itu juga mengelusnya dengan lembut. Sementara Adel masih terlihat bingung, otaknya mencoba mencerna apa yang suaminya isyaratkan. Tiba-tiba Adel teringat jika dirinya bulan ini belum datang bulan, mata Adel beralih menatap manik hitam milik sang suami.
"Adel baru ingat Mas, kalau bulan ini Adel belum datang bulan," ucap Adel. Hal itu membuat mata Farel berbinar, itu tandanya Farel junior sudah ada dalam perut sang istri.
Tiba-tiba Farel berjongkok dan memegangi perut rata Adel, lalu menciumnya dengan lembut. "Itu tandanya Farel junior sudah ada di sini."
Adel ikut tersenyum, terlebih saat melihat perlakuan sang suami. Wanita itu merasa jika dirinya adalah istri yang paling bahagia dan paling beruntung memiliki suami seperti Farel. Serasa dunia hanya milik berdua, Adel tidak bisa membayangkan jika nanti Farel junior sudah hadir di tengah-tengah mereka, akan seperti apa suasana rumah Adel dan Farel.
***
Kini Adel dan Farel masih dalam perjalanan pulang, tapi tiba-tiba Adel menyuruh Farel untuk menepi dan menghentikan laju mobilnya.
"Berhenti dulu Mas," pinta Adel. Matanya tertuju pada pedagang buah yang berada di pinggiran jalan.
"Mau ngapain." Farel pun segera menepikan mobilnya. Setelah mobil berhenti, Adel buru-buru keluar dari mobil.
"Sebentar Mas." Adel keluar dari mobil dan berlari menghampiri pedagang buah tersebut.
Farel terus memperhatikan Adel dari dalam mobil. Nampak sang istri tengah memilih-milih buah yang hendak dia beli. Farel baru menyadari ternyata ini jawaban dari perubahan sikap sang istri. Pria itu tersenyum sendiri saat mengingat semua sikap Adel selama lebih dari sepekan ini. Dirinya hampir saja kehilangan kesabaran gara-gara menghadapi sikap Adel yang begitu aneh.
Selang beberapa menit Adel kembali dengan menenteng satu kresek penuh. Entah itu isinya apa saja, Farel tidak tau. Setelah Adel masuk ke mobil, Farel kembali melanjukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali Farel melirik wanita yang duduk di sebelahnya, Adel nampak fokus melihat ke luar jendela. Bibirnya yang mungil terus saja tersenyum, dan itu membuat Farel ingin terus melihatnya.
Hampir dua jam perjalanan, kini mobil Farel sudah berhenti di pelataran rumahnya. Adel bergegas keluar tak lupa tangannya menentang kresek tersebut. Wanita itu segera masuk ke dalam rumah dan tentunya diikuti oleh sang suami.
Adel meletakkan tas selempangnya di sofa depan televisi, dan kini ia tengah berjalan menuju ke dapur. Sementara Farel langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa.
"Sayang, buatin minum dong," teriak Farel. Tangan kanannya bergerak mengambil remote televisi, lalu menyalakan televisi tersebut.
"Iya sebentar," sahut Adel. Wanita itu sedang sibuk mengupas mangga muda.
10 menit kemudian, Adel datang dengan sepiring penuh potongan buah-buahan yang sudah dilumuri bumbu rujak. Tak lupa segelas juice jeruk kesukaan suaminya itu. Adel meletakkan juice tersebut, lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di samping suaminya itu. Detik itu juga Adel mulai memakan rujak buatannya sendiri yang pedasnya bikin ketagihan.
"Mas mau," tawar Adel. Tangan kanannya menyodorkan satu sendok potongan buah tersebut.
"Enggak, buat kamu aja." Mendadak gigi Farel ngilu melihat potongan buah mangga muda, belimbing, dan juga kedondong.
Farel tidak bisa membayangkan jika dirinya memakan rujak tersebut, akan seperti apa rasanya. Mangga muda yang rasanya asam, kedondong, dan juga belimbing yang sangat terkenal akan rasa asamnya pula. Tercampur menjadi satu, ditambah dengan pedasnya cabai, dan manisnya gula, tak lupa sedikit garam. Bisa-bisa giginya rontok setelah makan rujak tersebut.
"Enak rujaknya?" tanya Farel. Matanya menatap sang istri yang tengah asyik melahap rujak tersebut.
Adel manggut-manggut dengan terus memasukkan potongan buah tersebut ke dalam mulutnya. "Banget."
Belum ada separuh Adel sudah meletakkan piring tersebut, lalu mengambil juice yang belum sempat Farel habiskan. Adel meneguk habis juice tersebut, setelah itu ia meletakkan gelas kosong itu di meja. Farel hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya itu.
"Kok udahan makan rujaknya?" tanya Farel. Matanya fokus pada layar televisi.
"Udah kenyang, Mas abisin ya." Adel menyodorkan piring yang berisi rujak tersebut pada Farel.
"What. No," tolak Farel. Pria itu menggelengkan kepalanya berkali-kali. Sungguh ancaman terberat jika harus menghabiskan rujak yang rasanya asam itu.
"Mubazir loh Mas kalau enggak dihabisin." Bibir mungilnya mulai mengerucut. Wajahnya pun sudah berubah sedih, layaknya anak kecil yang sedih lantaran balonnya meletus.
"Kamu simpan di kulkas aja dulu, nanti dimakan lagi," saran Farel. Berharap istrinya tidak memaksa lagi untuk memakan rujak tersebut.
"Enggak enak lah Mas. Udah ya Mas abisin, nggak kasihan apa sama .... " ucapan Adel terpotong lantaran tangannya bergerak mengelus-elus perutnya yang masih rata. Tak lupa dengan wajah yang memelas.
Farel terdiam, matanya menatap ngeri pada rujak yang masih ada setengah lebih di piring tersebut. Farel tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya jika potongan buah tersebut sampai masuk ke dalam mulutnya. Uh, sungguh kenikmatan yang tidak pernah terduga. Kenikmatan yang bisa membuat trauma.
"Aku ke atas dulu ya, tadi handphone aku bunyi." Farel hendak bangkit dari duduknya. Tapi dengan cepat Adel menarik tangan suaminya itu, hingga Farel kembali duduk.
Adel tau, itu pasti alasan Farel untuk menghindar. Tanpa menunggu lama, Adel bangkit dan duduk di pangkuan sang suami. Kali ini Farel tidak bisa menolaknya lagi, tangan kiri Adel sudah menegang piring yang berisi rujak, sementara tangan kanannya sudah bersiap untuk menyuapi suaminya itu dengan potongan buah yang sudah bercampur bumbu rujak.
"Aaaa, buka mulutnya Mas." Adel menyodorkan sesendok rujak tepat di depan mulut Farel.
Farel menggelengkan kepalanya, mulutnya pun tertutup rapat. Pria itu benar-benar tidak ingin menyentuh apa lagi memakan makanan yang ia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya. Asam, asam, asam, dan asam, itu adalah rasa makanan yang paling tidak Farel sukai.
"Ayo dong Mas, buka mulutnya. Kalau Mas enggak mau makan nanti Adel .... " ucapan Adel terpotong saat jari telunjuk Farel menempel di bibirnya yang mungil itu.
"Ok, aku mau makan. Itu demi kamu dan calon anak kita," potong Farel dengan cepat. Pria itu tidak ingin Adel berbuat yang tidak-tidak, meski itu hanya ancaman. Tetapi Farel tidak ingin mengambil resiko.
"Tapi sedikit saja ya," sambung Farel. Sementara Adel hanya tersenyum dan mengangguk.
Adel mulai menyuapi Farel dengan rujak tersebut, rasa asam, pedas, dan manis menjadi satu. Sungguh nano-nano rasanya, sampai-sampai mata Farel merem melek saat mengunyahnya. Adel tersenyum saat melihat ekspresi wajah Farel saat sedang mengunyah rujak yang dia suapkan. Tapi tidak dengan Farel, rasanya ia tengah mendapat siksaan, tetapi demi istri tercinta dan calon anaknya, Farel mau.
Farel berhasil menghabiskan rujak tersebut, setelah itu Farel menggeser tubuh Adel untuk turun, lalu berlari ke dapur untuk mengambil minum. Adel pun ikut bangkit dan menyusul sang suami. Hampir dua botol air mineral Farel teguk, agar bisa menghilangkan rasa pedas dan juga asam. Matanya memerah dan berair, sebenarnya Adel merasa kasihan, tapi entah kenapa wanita itu ingin sekali Farel menghabiskan rujak yang ia buat.
Cinta yang membuat Farel mau melakukan apa saja demi Adel, wanita yang sangat berharga dalam hidupnya setelah sang ibu. Demi Adel, Farel mau menghabiskan rujak yang rasanya sangat asam itu, demi Adel juga Farel rela tidak pergi ke kantor. Padahal hari ini Farel ada meeting, tapi bagi pria itu, keluarga itu lebih penting. Lebih baik Farel kehilangan kontrak dengan perusahaan lain, dari pada harus kehilangan istri. Hanya gara-gara tidak mau menuruti keinginannya.